RASI atau beras Singkong adalah makanan khas kampung Cireundeu, Cimahi. Rasi adalah pengganti nasi bagi masyarakat Cireundeu, rasi menjadi makanan pokok mereka. Rata rata setiap kepala keluarga di kampung Cireundeu memiliki kebun singkong sendiri. Singkong yang mereka tanam berbeda dengan singkong lainnya. Singkong di kampung Cireundeu harus diolah dengan cara yang berbeda. Singkong umur 12 bulan siap di panen, kemudian singkong di kupas sebelum di cuci bersih, lalu di giling sampai halus, setelah itu di peras dan diambil sari ampasnya, lalu di keringkan. Hasil dari sarinya diendapkan 1 hari kemudian bisa digunakan menjadi aci. Cara memasaknya juga berbeda, tidak bisa dimasak menggunakan magic com. Rasi dikukus selama kurang lebih 15 menit. Mengapa cara pengolahan dan memasaknya berbeda? Karena, singkongnya memiliki racun sianida yang tinggi, meyebabkan rasa yang pahit. Selain itu singkong di kampung ini juga tidak boleh diberikan kepada hewan ternak langsung, karena bisa keracu...
Klenteng Tiao Kak Sie atau biasa dikenal dengan sebutan Klenteng Dewi Welas Asih terletak di Jl. Kantor No.2, Kampung Kamiran, Cirebon. Klenteng Dewi Welas Asih merupakan salah satu kelenteng tertua di Cirebon, selain Klenteng Talang dan Vihara Pemancar Keselamatan. Klenteng ini dibangun di atas tanah seluas 1.857 m2 dengan luas bangunan sekitar 1.600 m2. Di depan pinggir jalan terdapat penanda Benda Cagar Budaya Kelenteng Dewi Welas Asih Cirebon dengan tahun berdiri 1595. Tahun itu tertulis pada dua buah papan kecil “paai” namanya yang berisi pepatah atau peribasa pendek-pendek akan jadi kehormatan bagi dewa dewa. Semula nama Kelenteng Dewi Welas Asih adalah Tiau Kak Sie. “Sie” artinya rumah orang beribadat (tempat bertapa). “Tio” berarti air pasang (air naik), dan “Kak” berarti bangun dari tidur atau membangunkan atau membawa kepada akal yang benar. Bangunan Kelenteng Dewi Welas Asih yang simetris dengan ornamen naga dalam posi...
Bagi masyarakat yang tinggal di kawasan Buahbatu dan sering melewati Pasar Kordon, pasti mengenal Curug Ece atau Air terjun kecil Ece. Berlokasi tepat dibawah Pasar Kordon dan saat ini bersebelahan dengan Masjid Agung, Curug Ece memiliki kondisi yang mengkhawatirkan. Warna air yang hitam dan sampah yang menumpuk menjadi pemandangan para masyarakat Kordon. Namun, apakah kalian tahu asal usul penamaan Curug Ece? sejauh ini saya menemukan 3 versi yang berbeda dari asal usul curug ini, cerita ini saya dapatkan dari website, literasi, dan narasumber terkait. baiklah mari kita telaah bersama.. Pertama, seorang laki-laki yang biasa dipanggil Mang Ece -penduduk asli sekitar pasar kordon, seringkali melintasi daerah/curug ini bersama kerbau miliknya setelah selesai membajak sawah. suatu ketika Mang Ece bersama kerbaunya mandi di curug tersebut, entah mengapa Mang Ece terpeleset jatuh dan terhimpit diantara batu besar hingga meninggal. konon katanya jasad dari Mang Ece tidak perna...
Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Sedangkan Herskovits memandang bahwa kebudayaan merupakan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain yang kemudian disebut sebagai superorganik. Dari kedua pernyataan 2 ahli diatas dapat disimpulkan bahwa adalah sesuatu hal yang dilakukan atau dipikirkan oleh sekelompok masyarakat yang memiliki sebuah persamaan dan dilakukan secara turun temurun. Di Indonesia terdapat sangat banyak budaya karena keanekaragaman suku ytang ada di Indonesia. Masing-masing suku bangsa memiliki kebudayaan yang berbeda satu sama lain. Suku bangsa ada yang asli dari Indonesia ada juga yang memiliki campuran dari luar. Menurut sensus BPS tahun 2010 Indonesia memiliki lebih dari 300 kelompok suku bangsa. Suku Jawa...
Dari Sabang sampai Merauke, budaya di tiap provinsi, bahkan di setiap kota berbeda-beda. Salah satu budaya tersebut adalah makanan. Emping jengkol merupakan makanan khas Kota Bogor, Jawa Barat . Masih banyak masyarakat Indonesia yang belum mengetahui makanan ini. Berikut ini adalah cara membuat emping jengkol: Alat: Baskom Wajan Kompor Ulekan 2 lembar plastik Karung ÃÂ Bahan: Jengkol Minyak goreng ÃÂ Cara membuat: Rendam jengkol selama kurang lebih 1 malam. Setelah itu, buang kulitnya dan cuci sampai bersih. Siapkan wajan. Kemudian goreng jengkol sampai berwarna kecoklatan. Angkat dan tiriskan. 4.Oles 2 lembar plastik dengan minyak goreng. Letakkan jengkol yang sudah digoreng di atas selembar plastik yang sudah diolesi minyak. Kemudian selembar plastik lainnya ditaruh di atas jengkol tersebut. Hancurkan jengkol dengan ulekan sampai berbentuk...
Nasi cikur adalah makanan khas Sunda yang berasal dari kota Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Cikur berarti kencur dalam bahasa Sunda. Tanaman obat ini menjadi salah satu bumbu yang sedap untuk dicampurkan ke makanan. Masyarakat Tasikmalaya mengolahnya menjadi nasi kencur atau yang disebut nasi cikur. Hidangan ini memakai kencur yang masih muda atau kencur bertunas yang umbinya masih berwarna putih. Bumbu lain yang ditambahkan yaitu bawang merah, bawang putih, garam dan terasi goreng. Adapun bahan lainnya yaitu nasi putih, minyak dan cabai yang diiriskan. Bagi Anda yang baru pertama kali merasakan atau mencoba hidangan ini, Anda akan merasakan suatu cita rasa yang berbeda dari suatu makanan. Rasa kencur yang khas dan gurih akan memanjakan lidah Anda. Terlebih lagi dengan sambal yang ada, akan menambah cita rasa yang unik. Pada dasarnya, hidangan ini hampir mirip dengan nasi uduk, yaitu ada ayam goreng, tempe goreng dan tahu gorengnya. Hal yang mem...
Angklung adalah alat musik multitonal atau bernada ganda yang secara tradisional berkembang dalam masyarakat di Pulau Jawa bagian barat. Alat musik ini dibuat dari bambu , dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil. Cara memainkan angklung dengan memegang rangkanya pada salah satu tangan (biasanya tangan kiri) sehingga angklung tergantung bebas, sementara tangan lainnya (biasanya tangan kanan) menggoyangnya hingga berbunyi (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar. Akan tetapi untuk membuat suatu melodi yang baik cara dibunyikannya di bagi menjadi beberapa teknik dasar, yaitu: Kurulung (getar), merupakan teknik paling umum dipakai, di mana tangan kanan memegang tabung dasar dan menggetarkan ke kiri-kanan berkali-kali selama nada ingin dimainkan. Centok (sentak), adalah teknik di mana tabung dasar ditarik dengan cepa...
permainan bekles atau sering juga disebut beklen acap kali dimainkan oleh anak anak perempuan. permainan ini berasal dari belanda namun di adopsi menjadi permainan tradisional. Permainan bekles terbilang cukup mudah untuk dimainkan, alat yang dibutuhkan untuk memainkan permainan ini hanyalah cangkang kerang hingga yang dikenal dengan sebutan kewuk dan bola karet yang bisa memantul. biji kewuk memiliki besar bervariatif antara 2-5 cm. biji kewuk banyak dijual di pasar pasar tradisional dengan harga cukup terjangkau (kurang dari Rp.10.000 satu kantungnya) aturan permainan ini di antaranya : 1. terdiri dari empat babak atau tahap 2. tahap pertama ; dengan satu tangan, mengambil kewuk sambil memantulkan bola, berurut dari satu satu, dua-dua hingga seluruh kewuk dalam sekali ambil sebelum bola itu memantul untuk kedua kalinya. 3. tahap kedua disebut "kar" berasal dari bahasa sunda "nangkarak" yang artinya terlentang ; sama seperti tahap pertama, namun sebelum...
Alat & Bahan: - Parutan - Panci kukus - Pisau - Wadah - Sendok - 1 kg singkong - 1/2 kg kelapa - 1/2 kg gula merah Cara Membuat: 1. Pertama, kupas singkong dan cuci sampai bersih, lalu parut dan sisihkan. 2. Setelah itu, parut kelapa dan sisihkan. 3. Iris gula merah sampai halus. 4. Gabungkan parutan singkong, parutan kelapa, dan irisan gula merah ke dalam wadah. Aduk sampai ketiga bahan tercampur rata. 5. Kemudian, ambil 3-4 sendok adonan tersebut untuk ditaruh di atas daun pisang. Atur sedemikian rupa sehingga berbentuk seperti tabung kecil memanjang yang padat. Setelah itu, bungkuslah dengan daun pisang tersebut. 6. Setelah terbungkus rapi, kukuslah sampai matang selama kurang lebih 30 menit. 7. Katimus siap diangkat dan dihidangkan. Narasumber: N. Erie Sitti F. #OSKMITB2018