RAKYATKU.COM, SINJAI - Tradisi budaya Marrimpa Salo alias memeriahkan sungai, kembali digelar oleh Warga di Desa Sanjai Kecamatan SInjai Timur Kabupaten Sinjai, Selasa (10/10/2017) kemarin. Kegiatan yang digelar setiap 10 November ini menampilkan parade perahu nelayan penangkap ikan di daerah tersebut yang mengelilingi sungai muara laut Takkalala-Batang yang luasnya sekitar 100 meter, dengan panjang rute sekitar 200 meter. Puluhan perahu warga yang telah dihiasi beragam kertas dan bendera memuat pengunjung mengelilingi sungai tersebut, dan diiringi suara musik tradisi warga setempat. Muhammad Basri Patongai, budayawan setempat menyebut, Marrimpa Salo adalah wujud keceriaan dan kesyukuran nelayan dan petani kepada sang pencipta yang telah melimpahkan rezekinya di darat dan di laut, sehingga manusia bisa menjaganya. "Dahulu, tradisi ini sangat bertentangan dengan agama dan aturan, karena pada saat dahulu, tradisi warga menyembah dengan mem...
Sebagai negara agraris, kehidupan masyarakat Indonesia sudah tentu bergantung pada hasil pertanian. Oleh karena itu banyak penduduk Indonesia yang berprofesi sebagai petani. Mereka ini tak kenal lelah menanam dan memanen padi agar bisa dikonsumsi diri sendiri dan orang lain. Maka nggak berlebihan dong kalau setelah panen mereka bersuka cita dengan menggelar sebuah perayaan. Sebut saja salah satunya yaitu perayaan Mappalanca. Baru dengar? Perayaan ini diselenggarakan oleh masyarakat Bone, Sulawesi Selatan. Mappalanca adalah salah satu tradisi unik sekaligus ekstrim yang ada di Indonesia. Nama lain dari tradisi ini adalah adu betis. Nah sudah tahu kan mengapa disebut ekstrim. Tradisi ini dilakukan setiap tahun setelah masa panen. Bagaimanakah jelasnya tradisi Mappalanca ini? Simak terus artikel menarik ini. Adu Betis Setelah Panen Mappalanca atau juga biasa disebut Mallanca sebenarnya adalah permainan tradisional Bone. Permainan ini dilakukan masyarakat Bone setelah...
BONE, KOMPAS.com - Ada tradisi menarik yang dilakukan warga Dusun Tengnga-tengnga, Desa Pongka, Kecamatan Tellu Siattingnge, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, dalam memperingati leluhur mereka. Mereka menggelar tradisi perang api atau dikenal dengan "Serawu Sulo". Tradisi ini hanya digelar setiap tiga tahun sekali oleh masyarakat setempat. Dalam tradisi ini, puluhan warga saling lempar api dengan menggunakan obor berbahan daun kelapa kering yang diikat menyerupai lembing, tak ayal tradisi ini banyak memakan korban luka bakar. Uniknya, meski tradisi ini terkesan ekstrim dan konyol, namun malah menjadi ajang silaturrahmi warga setempat. Seperti yang terlihat Minggu (7/10/2012) kemarin, sebelum memulai ritual ini terlebih dahulu dua pemuka adat atau "Sandro" yang terdiri dari pria dan wanita melakukan ritual berserah diri atau "Mappangolo". Sementara warga yang akan menjadi peserta perang api membasuh sekujur tubuhnya dengan minyak kelapa muda yang diserahkan oleh toko...
Liputan6.com, Luwu: Sinar Sang Surya sangat terik ketika enam pendeta Bissu berkumpul di suatu hari di Dusun Cerekang, Luwu, Sulawesi Selatan. Bissu adalah sebutan bagi pendeta tradisional dalam masyarakat adat di Sulawesi Selatan, terutama Suku Bone dan Bugis. Dalam bahasa Bugis, Bussi berasal dari kata "Bessi" yang berarti bersih. Mereka adalah para lelaki yang berpenampilan seperti wanita, namun memiliki kekuatan gaib yang jarang dimiliki sembarang orang. Sikap kewanita-wanitaan yang mereka perlihatkan adalah suatu kesengajaan dan bagian dari tuntutan adat yang mereka yakini sesuai Kitab La Galigo. Aktivitas para Bissu yang dipimpin Puang Toa Saidi di Cerekang itu adalah bagian dari suatu prosesi besar yang tengah digelar oleh Kedatuan Luwu Raya di Tanah Bugis. Mereka sedang menyambut utusan Datu Luwu yang berniat mengambil air suci Pisimeuni dari rumah Puak Cerekang. Pada hari itu dan beberapa hari berikutnya, seluruh warga Kedatuan Luwu memang tenga...
SABBANG — – Warga Desa Pompaniki Kecamatan Sabbang Kabupaten Luwu Utara (Lutra), Sulsel, punya tradisi tersendiri sebelum turun sawah. Sebelum turun sawah, mereka melakukan tradisi bakar peong dan minum kapurung bersama (makanan khas warga Luwu Raya). Namun, tradisi tersebut mulai memudar seiring waktu. Untuk itu, Kepala Desa Pompaniki Drs Jayadi, berupaya menghidupkan tradisi tersebut dengan memberikannya contoh. Minggu 2 Juli 2017, sebelum turun sawah, Kades Jayadi membakar peong dan makan kapurung bersama di persawaannya, di Jl Ne’simbolong, Sabbang. Jayadi mengatakan, tradisi ini biasanya memang dilakukan sembelum petani turun mengarap sawahnya. “Tradisi ini sempat hilang, makanya kita lestarikan kembali, mengajak masyarakat melastarikan tradisi nenek moyang kita,” ujarnya. Di samping dijadikan ajang sirahturrahmi, kata dia, juga bentuk syukuran kepada Allah SWT, karena hasil panen yang memuaskan. ...
Kisah La Tongko- Tongko berasal dari cerita rakyat Sulawesi Selatan. Ada orang yang sangat bodoh. Namanya La Tongko-Tongko . Dia tinggal bersama ibunya. Suatu hari, La Tongko-Tongko mengatakan kepada ibunya bahwa dia ingin menikah. “Jika Anda ingin menikah, Anda harus mencari gadis terlebih dahulu. Kemudian mintalah dia untuk menikah dengan Anda.” La Tongko-Tongko mendengarkan ibunya. Jadi, dia mulai mencari gadis. Dan saat dia melihat sekeliling, dia bertemu dengan seorang gadis. Dia membawa kentang di tasnya. “Hei, gadis aku ingin menikah, apakah kamu mau jadi istriku?” Gadis itu marah! Dia pikir La Tongko-Tongko mengejeknya. Dia melemparkan kentang ke arahnya. La Tongko-Tongko kabur! Di rumah, La Tongko-Tongko memberitahu ibunya tentang gadis yang ditemuinya hari ini. “Oh, kamu sangat bodoh La Tongko-Tongko kamu bisa meminta gadis untuk menikah seperti itu kamu dan dia harus saling mencintai, maka kamu bisa menikah,” je...
Seputarsulawesi.com, Sengkang - Pesantren As'adiyah menggelar Simaa'an Akbar di Masjid Jami', Jalan KH. Muh. As'ad Kota Sengkang. Simaa'an Akbar ini berlangsung pada Jum'at-Sabtu (15-16/7). Sima'an adalah kegiatan khatam Al-Quran. Kegiatan ini dilaksanakan oleh alumni Tahfidz Al-Quran Pesantren As'adiyah, di buka oleh AG.Prof. Rafi'i Yunus Martan, MA dan dihadiri Imam Masjid Istiqlal Jakarta, Haji Martomo. Samaa'an Akbar ini juga diikuti kalangan santri, penghafal Al-Qur'an Masjid Jami', alumni yang berasal dari berbagai propinsi dan jamaah Masjid Jami' Sengkang. "Sekitar 200 orang peserta yang mengikuti simaa'akbar ini," kata Riank salah seorang hafidz Masjid Jami' menghadiri kegiatan khatam Al-Qur'a. Menariknya pada sima'an tahun ini, juz 30 dibacakan oleh Ustadz Khumaidi Ali Al-Hafidz beliau adalah Imam besar Masjid 45 Makassar. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan "b...
Kue Te’re tidak kalah lezat dengan kue lainnya. Kue Te’re atau bisa disebut juga kue jaring, karena tekstur kue nya yang mirip dengan jaring-jaring. Kue ini berwarna agak kecoklatan dan memiliki rasa yang manis. Warna cokelat dan rasa yang manis ini berasal dari gula merah yang dicairkan. Kue Te’re ini sudah ada sejak jaman kerajaan, ketika itu kue ini disajikan untuk para raja. Namun saat ini semua orang bisa mencicipinya dan dijadikan makanan dalam adat pernikahan kepulauan selayar. Proses pembuatannya pun cukup sederhana, pertam-tama siapkan bahannya terlebih dahulu seperti minyak sayur, gula pasir, gula merah dan tepung beras. Setelah semua bahannya siap saatnya kita buat kuenya. Pertama kita ambil air gula terlebih dahulu setelah air gula matang, campurkan air gula yang kita masak tadi dengan tepung beras sambil diaduk hingga merata. Selanjutnya kita menggoreng adonan kue te’re ini menggunakan cetakan yang dinamakan kada’ro. Kada’ro m...
Haje Ban’ah merupakan kue yang mirip seperti wajik namun bahan yang digunakan berbeda. Jika biasanya wajik dibuat menggunakan tepung beras ketan namun haje ban’ah dibuat dari bahan dasar ban’ah dalam bahasa selayar atau disebut juga jawawud yang merupakan jenis tumbuhan padi namun daunnya agak sedikit lebar dan memiliki biji yang cukup banyak. Biji inilah yang akan dibuat untuk kue ban’ah. Kue hitam dengan corak bintik-bintik hitam ini bercita rasa manis karena adanya kandungan gula merah, untuk membuat haje ban’ah pun tak terlalu sulit. Kita persiapkan terlebih dahulu bahan – bahannya seperti ban’ah, air, gula merah dan tak lupa gula pasir. Setelah semua bahan siap sekarang saatnya untuk membuat kue bertekstur kenyal ini. Pertama kita masak air hingga mendidih, masukkan ban’ah lalu masak hingga ban’ah mengental, Dan air dalam panci menyusut lalu sisipkan. Selanjutnya kita masak gula merah hingga mencair lalu masukkan gul...