Sebuah kerajaan di Tanah Alas pada zaman dahulu. Sang Raja memerintah dengan sifat adil dan bijaksana. Rakyat pun hidup dalam kedamaian, keamanan, serta kesejahteraan. Sang raja mempunyai seorang penasihat. Tande Wakil namanya. Apa pun juga yang disebutkan Tande Wakil, Sang Raja akan menurutinya. Dalam kehidupannya, Sang Raja belum juga dikaruniai seorang anak pun meski telah lama berumah tangga. Kenyataan itu membuatnya kerap bersedih hati. Begitu pula dengan Sang Permaisuri. Keduanya tak putus-putusnya berdoa dan memohon agar dikaruniai anak. Hingga suatu hari Sang Raja bermimpi. Dalam impiannya itu seorang kakek datang kepadanya dan memberitahunya, hendaklah Sang Permaisuri meminum ramuan yang dibuat oleh seorang tabib yang tinggal di sebuah hutan di ujung wilayah kerajaan. Keesokan paginya Sang Raja lantas memerintahkan para prajurit untuk mencari keberadaan Si tabib dan mengajaknya untuk datang ke istana kerajaan. Tak berapa lama kemudian tabib yang dimaksud telah datan...
Aceh Lon Sayang Daerah Aceh, tanoh lon sayang nibak tempat nyan, lon udep matee Tanoh keuneubak, indatu moyang lampoh deungon blang, luah bukeon lee Tanoh keuneubak, indatu moyang lampoh deungon blang, luah bukeon lee Keureuja udep, na so peutimang na so peuseunang, keureuja matee Hate nyang susah, lon rasa seunang aceh lon sayang, sampo'an matee Hate nyang susah, lon rasa seunang aceh lon sayang, sampo'an matee Sumber: www.lagu-daerah.com/2015/06/lirik-lagu-daerah-dari-di-aceh.html #SBJ
Melindungi hiu paus yang memiliki nama latin ‘rhincodon typus’ sudah menjadi tradisi Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya). Hal itu masih terjaga hingga kini, karena ikan raksasa tersebut diyakini membawa rahmat untuk nelayan. Hal itu dikatakan Panglima Laot (lembaga adat laut) Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Hasanuddin, di Blangpidie, belum lama ini Jauh sebelum Indonesia merdeka, sambungnya, nenek moyang zaman dulu sudah duluan melarang menangkap hiu paus tersebut. Kenapa demikian, karena ikan tersebut diyakini bisa mendatangkan rezeki untuk para nelayan saat melaut. Dalam bahasa Aceh hiu paus dikenal dengan sebutan “yee bintang” atau “hiu bintang”. Nelayan, sambungnya, biasanya memantau keberadaan hiu bintang di laut. Ketika muncul, perahunya langsung dirapatkan ke kawasan hiu paus untuk menangkap ikan-ikan kecil. “Ikan tongkol dan tuna sangat mudah ditangkap nelayan saat berada di sekeliling hiu besar itu,” ujarnya....
Aceh tediri dari masyarakat mulikultural dengan berbagai ragam budaya yang unik dan variatif, meskipun secara umum budaya aceh hampir sama disetiap daerahnya namun ada beberapa bagian tertentu disetiap daerah terdapat keunikan tersendiri sehingga menjadi keanekaragaman yang mencitrakan identitas daerah tertentu, salahsatunya adalah tradisi peutroen aneuk (turun mandi). Sebelum prosesi berlansung, bayi akan di peusunteng (ditepung tawar) oleh pihak keluarga. Masyarakat adat yang masih kental dengan tradisi, akan terus melestarikan budaya dengan cara melaksanakan setiap tradisi dengan sentuhan budaya yang diwariskan turun temurun dari generasi ke generasi. Begitu juga dalam melaksanakan acara “Peutron Aneuk U Tanoh” atau dikenal dengan turun mandi yang biasaya dilakukan setelah umur 44 hari si bayi. Rangkaian tradisi turun mandi diawali dengan acara peucicap, dimana tokoh agama setempat akan mengoles madu, makanan dan buah-buahan pada bibir...
Manoe pucok (Mandi Air Tujuh Rupa) merupakan tradisi ketiga yang dilakukan setelah malam berinai dan khatam Alquran pada adat perkawinan seorang calon mempelai perempuan di Aceh Barat Daya (Abdya) dan Aceh pada umumnya. Kegiatan memandikan ini diyakini untuk menyucikan si gadis sebelum melepas keperawanan.Berbagai simbol keperawanan dalam acara manoe pucok seperti pelepah pinang yang belum pecah diletakkan di dalam talam, untaian boh jeruju dari pucuk daun kelapa dihiasi burung murai beserta umpannya. Pucuk daun kelapa ini lah yang disebut pucok .Dewasa ini, prosesi adat itu mulai jarang dilakukan secara lengkap. Tidak semua orang tua pengantin setuju dengan adat Tari Pho yang membangkitkan kesedihan dengan syair Cahi yang memilukan dengan para penari yang terdiri dari delapan hingga 12 perempuan dan kini digantikan dengan penari anak-anak. Pergantian itu disebut-sebut sebagai upaya menyesuaikan diri dengan syariat Islam saat ini. Jika...
Upacara Troen Bak Tanoeh disebut juga upacara turun tanah merupakan pacara adat aceh yang menyimbolkan kesucian ibu bayi yang baru saja meliwati masa persalinan. Upacara ini berlangsung dengan melibatkan sang bayi yang baru lahir dan membawanya keluar rumah. Sedangkan sang ibu tidak diperkenankan ikut karena masih dalam keadaan tidak suci, yaitu dalam masa wiladah. Dan puncak upacara ini adalah saat mulai turun tanah sebagai simbol telah bebas dari darah kotor dan penyakit. Sebagai mana biasanya, bayi yang berumur kurang dari bulan masih dikhawatirkan terjangkit penyakit. Oleh karena itu upacara ini dilaksanankan dengan mempertimbangkan faktor tersebut. Namun, jika tidak dikhawatirkan, maka upacara ini dilaksanankan. Inti dari ajaran ini adalah simbol turun tanah terhadap bayi sebagai gambaran perkenalan bayi terhadap dunia luar. Sedangkan prinsip di dunia luar agar kelak mendapatkan kebahagiaan adalah dengan cara melakukan sesuatu hal dengan giat dan bersungguh-sungguh da...
Syarwani duduk di sebatang kayu yang tumbang. Mulut pria berpeci putih itu terus komat kamit merapalkan doa. Beberapa pria lain duduk berjongkok di hadapannya. Mereka melingkari api yang sedang melahap ranting-ranting kayu. Setelah api menyala, mereka kemudian menaburkan kemenyan di antara susunan ranting kayu. Secara bersamaan, sang pawang harimau berasal dari Meulaboh, Aceh Barat itu terus melanjutkan rapalan doanya. "Setelah bakar kemenyan, kemudian dirapalkan doa-doa," kata Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Sapto Aji Prabowo kepada Rappler, Senin 31 Juli 2017. Ia menjelaskan ritual pengusiran harimau yang dilakukan pihaknya di Desa Suka Makmur, Kecamatan Lembah Seulawah, Aceh Besar, Aceh, pada Sabtu, 29 Juli 2017. Pengusiran itu melibatkan tim BKSDA Aceh dan Flora Fauna International (FFI), serta pawang harimau Syarwani. Tim bergerak ke lokasi setelah menerima laporan masyarakat tentang keberadaan harimau di sekitar permukiman pada Kamis, 2...
Nagasari juga merupakan nama lain bagi dewaru, sejenis pohon. Nagasari adalah sejenis kue yang terbuat dari tepung beras, tepung sagu, santan, dan gula yang diisi pisang. Kue ini biasanya dibalut dengan daun pisang lalu dikukus. Selain bahan yang tersebut di atas, nagasari juga sering dikukus dengan balutan daun pandan sehingga menimbulkan aroma yang khas Jepara. Walau orisinal kue ini terdapat pisang di tengahnya.. Rasanya lembut, lumer di mulut dan wangi daun pisangnya sangat kentara. Tak hanya itu, nagasari pun dihidang dalam keadaan dingin. Harganya? Hanya seribu dua ratus rupiah perpotong. kue nagasari yang diproduksi di Bireuen juga menjadi oleh-oleh khas dari kabupaten ini. Karena itu, tak heran bila di setiap tempat penjualan pasti juga dijual nagasari. Kue nagasari Bireuen sudah terkenal sejak belasan tahun lalu. Kue itu dibuat oleh salah satu keluarga, dan kemudian usaha tersebut diteruskan secara turun temurun. Sekarang, sudah banyak tempat...
asar Penganan berbuka puasa di Bireuen, depan Meunasah Bandar Bireuen, pasar Sabtu jalan Pengadilan lama dan beberapa lokasi dalam kota Bireuen Kamis (17/5/2018) petang pukul 16.00 WIB, mulai ramai dikunjungi pembeli. Pantauan Kabar Bireuen para pedagang mulai membuka lapak menjual berbagai jenis kue penganan berbuka puasa dan makanan lainnya, antara lain boh rom-rom, adee, bingkang ambon Bireuen, lemang, pecal, gado-gado, minuman segar air tebu, air kelapa muda dan es Bandung produksi Bireuen. Di lapak penjual es Bandung Bireuen depan Bank BNI, dulu jalan kereta api namanya ramai diserbu pembeli. Konon lagi cuaca di Bireuen Ramadhan pertama sangat terik, membuat masyarakat kota Bireuen dan sekitarnya ramai membeli minman segar es Bandung Bireuen. Zainuddin, penjual es Bandung dalam keterangannya kepada Kabar Bireuen, mengaku. dia adalah cucu dari Wak Bandung (almarhum) yang pindah ke Bireuen pada tahun 1950-an. Dulu kakeknya Wak Bandung memproduksi es Bandung pe...