Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Aceh Aceh
Kisah Si Layar
- 23 November 2018

Sebuah kerajaan di Tanah Alas pada zaman dahulu. Sang Raja memerintah dengan sifat adil dan bijaksana. Rakyat pun hidup dalam kedamaian, keamanan, serta kesejahteraan. Sang raja mempunyai seorang penasihat. Tande Wakil namanya. Apa pun juga yang disebutkan Tande Wakil, Sang Raja akan menurutinya.

Dalam kehidupannya, Sang Raja belum juga dikaruniai seorang anak pun meski telah lama berumah tangga. Kenyataan itu membuatnya kerap bersedih hati. Begitu pula dengan Sang Permaisuri. Keduanya tak putus-putusnya berdoa dan memohon agar dikaruniai anak. Hingga suatu hari Sang Raja bermimpi. Dalam impiannya itu seorang kakek datang kepadanya dan memberitahunya, hendaklah Sang Permaisuri meminum ramuan yang dibuat oleh seorang tabib yang tinggal di sebuah hutan di ujung wilayah kerajaan.

Keesokan paginya Sang Raja lantas memerintahkan para prajurit untuk mencari keberadaan Si tabib dan mengajaknya untuk datang ke istana kerajaan. Tak berapa lama kemudian tabib yang dimaksud telah datang ke istana kerajaan. Si tabib segera membuatkan ramuan setelah Sang Raja memintanya. Benar pesan Si kakek dalam impian Sang Raja, tak berapa lama setelah meminum ramuan buatan Si tabib, Permaisuri pun mengandung. Sembilan bulan kemudian Permaisuri melahirkan bayi lelaki. Sang Raja memberi nama Layar untuk anak lelakinya itu.

Begitu gembiranya hati Sang Raja dan Permaisuri setelah dikaruniai seorang anak. Namun, kegembiraan itu tidak berlangsung lama. Belum juga genap sebulan usia Layar, Tande Wakil menghadap Sang Raja dan menjelaskan perihal impiannya. Kata Tande Wakil, “Hamba bermimpi, bahwa kelahiran putra Paduka itu adalah petaka sekaligus bencana besar bagi segenap rakyat! Putra Paduka itu hendaklah dibuang ke hutan agar bencana itu tidak mewujud dalam kenyataan.”

“Apakah tidak ada cara lain selain membuang putraku itu ke hutan agar bencana itu tidak mewujud?” tanya Sang Raja.

“Ampun Yang Mulia,” kata Tande Wakil. “Menurut impian hamba, satu-satunya cara untuk mencegah datangnya bencana dan petaka yang akan melanda negeri kita ini hanyalah dengan membuang putra Paduka ke hutan.”

Sang Raja pun menurut. Betapa pun ia sangat mencintai anak lelakinya itu, namun jika kehadirannya akan membawa petaka dan bencana bagi segenap rakyat yang dipimpinnya, ia pun berketetapan hati untuk membuang Layar ke hutan.

Layar yang masih bayi itu lantas dibuang ke hutan. Seekor kera sakti merawat Layar. Dalam asuhan Si kera sakti, Layar pun tumbuh membesar. Beberapa tahun kemudian Layar telah berubah menjadi seorang pemuda. Wajahnya sangat tampan. Tubuhnya kuat dan kekar. Si kera sakti mengajarinya sopan santun dan tata krama hingga Layar tumbuh menjadi pemuda yang baik hati dan mengenal sopan santun.

Pada suatu hari Layar keluar hutan. Di pinggir hutan ia berjumpa dengan seorang kakek. Setelah saling bertegur sapa, sang kakek akhirnya mengetahui siapa sesungguhnya Layar. Si kakek lantas mengajak Layar untuk kembali ke istana kerajaan.

“Ayahanda Paduka telah wafat,” kata Si kakek dalam perjalanannya menuju istana kerajaan. “Kini yang memerintah kerajaan adalah Paman Paduka. Sangat jauh pemerintahannya jika dibandingkan Ayahanda Paduka. Paman Paduka itu memerintah dengan kejam dan sewenang-wenang. Sangat mudah ia menjatuhkan hukuman, bahkan terhadap orang yang sesungguhnya tidak bersalah. Beberapa orang harus menemui kematiannya setelah dianggap berani menentang kehendak Raja. Rakyat pun hidup dalam kecemasan dan ketakutan. Raja sama sekali tidak memperhatikan kesejahteraan rakyat dan kejahatan pun tumbuh subur laksana jamur di musim penghujan.”

Layar sangat sedih mendengar cerita Si kakek. “Lantas, bagaimana dengan nasib Ibu?” tanyanya.

“Ibu Paduka masih hidup dan tinggal di sebuah gubug di luar istana. Setiap hari Ibu Paduka dipaksa untuk bekerja keras layaknya seorang pembantu. Kerap Ibu Paduka tidak diberi makanan karena dianggap pekerjaannya tidak baik. Bahkan, makanan untuknya pun kadang makanan yang telah basi.”

Layar kian merasa sedih. Ia berniat kuat untuk menemui pamannya dan meminta agar pamannya tidak sewenang-wenang dalam memerintah dan tidak berlaku aniaya terhadap ibunya.

Layar pun tiba di istana kerajaan. Pamannya sangat tidak suka mendapati kedatangannya. Ia khawatir, Layar meminta takhta yang seharusnya memang menjadi haknya. Raja lantas memperlakukan Layar dengan cara buruk. Layar dipaksanya untuk bekerja keras, melebihi kerja yang dilakukan pembantu. Jika Layar tidak bekerja, Layar tidak diberi makanan. Layar juga dilarang untuk bertemu dengan ibunya. Para prajurit juga diberi kewenangan oleh Sang Raja untuk memukul Layar jika Layar dianggap tidak baik dalam bekerja. Layar terpaksa menerima perlakuan buruk terhadapnya itu. Ia tidak berani melawan karena para prajurit itu kuat-kuat dan juga bersenjata.

Sang Raja telah berulangkali berusaha untuk mencelakai Layar. Secara diam-diam ia telah memerintahkan orang-orang kepercayaannya untuk membunuh Layar. Namun, hingga sejauh itu Layar tetap selamat.

Suatu hari Sang Raja memerintahkan seorang kepercayaannya bernama Penghulu Mude untuk membunuh Layar. Penghulu Mude lantas mengajak Layar untuk membeli kerbau. Di tengah jalan, Layar didorongnya hingga terjatuh ke jurang. Penghulu Mude lantas kembali ke istana kerajaan dan menghadap Sang Raja setelah memastikan Layar tentu akan menemui kematiannya setelah terjatuh ke jurang.

Layar terjatuh ke dalam jurang yang dalam. Namun, ia selamat karena ditolong jin baik bernama Siah Ketambe. Sama sekali ia tidak terluka dan bahkan sedikit pun kulit tubuhnya tidak lecet.

Siah Ketambe menjelaskan, bahwa jatuhnya Layar ke jurang itu karena siasat pamannya. “Pamanmu itu menghendaki engkau mati setelah terjatuh ke jurang ini,” kata Siah Ketambe.

Layar bisa membenarkan penjelasan Siah Ketambe. Berulang-ulang ia telah merasakan berbagai usaha pamannya untuk mencelakakan dirinya.

Siah Ketambe mengharapkan agar Layar mempunyai ilmu bela diri yang cukup untuk menjaga dirinya dari berbagai tindakan yang ditujukan untuk mencelakakan dirinya itu. Siah Ketambe kemudian mengajarkan ilmu bela diri kepada Layar. Layar berlatih dengan tekun. Semua ilmu yang diajarkan Siah Ketambe dapat diterimanya dengan baik. Hingga tak berapa lama kemudian Layar pun telah mengusai ilmu bela diri. Siah Ketambejuga membekali Layar dengan berbagai kesaktian lainnya. Setelah dirasa cukup, Layar diperintahkan Siah Katambe untuk kembali ke istana kerajaan. Siah Katambe memberikan pesannya kepada Layar, “Gunakan ilmu dan kesaktianmu itu baik-baik. Sebisa mungkin hindarkanlah perkelahian. Namun, jika engkau terdesak atau mendapati dirimu berada dalam bahaya, barulah engkau gunakan ilmumu itu untuk membela diri.”

Layar lantas kembali ke istana kerajaan. Kedatangannya sangat mengejutkan Sang Raja dan juga Penghulu Mude. Layar langsung menemui Penghulu Mude. Penghulu Mude mendadak menyerang Layar untuk menutupi tindakan busuknya. Namun, dengan mudah Layar berhasil mengalahkannya. Begitu pula dengan prajurit-prajurit bersenjata lengkap dibuat tak berdaya ketika mencoba melawan Layar. Ilmu bela diri dan kesaktian Layar terbukti jauh melebihi kemampuan para prajurit itu hingga akhirnya mereka pun menyatakan takluk dan bahkan balik mendukung Layar.

Sang Raja begitu terperanjat mendapati kemampuan keponakannya itu begitu luar biasa. Ia pun merasa tidak akan mampu menghadapi Layar, terlebih-lebih para prajurit yang selama itu setia padanya menjadi berbalik dengan mendukung Layar. Ia pun menemui Layar dan berujar, “Layar keponakanku. Maafkan pamanmu yang telah sangat khilaf ini. Ampuni aku. Dengan ini kuserahkan takhta yang memang sudah seharusnya engkau duduki. Sekali lagi, maafkan kesalahan pamanmu ini dan jangan engkau sakiti pamanmu yang telah renta ini.”

Layar memaafkan kesalahan pamannya. Ia juga memaafkan kesalahan Penghulu Mude karena mengetahui Penghulu Mude hanyalah menjalankan perintah pamannya. Layar memaafkan mereka yang bersalah selama mereka berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan mereka.

Setelah penyerahan kekuasaan itu, Layar akhirnya dinobatkan menjadi raja baru. Layar langsung menjemput ibunya dan mendudukkannya di sampingnya dengan penuh penghormatan. Segenap rakyat pun merasa lega karena pemangku takhta kerajaan adalah sosok yang memang seharusnya menjabat selaku raja. Mereka bertambah gembira dan berbahagia karena dalam pemerintahannya, Raja Layar menegakkan hukum dengan sebaik-baiknya. Para perusuh mulai ditangkap dan diadili. Kesejahteraan rakyat diperhatikan. Rakyat pun hidup senang dan sejahtera. Mereka berbahagia seperti kebahagiaan yang dirasakan Layar yang dapat kembali bersatu dengan ibunda tercintanya.

 ORANG YANG BAIK AKAN MENDAPATKAN KEBAIKANNYA DAN ORANG YANG JAHAT JUGA AKAN MENDAPATKAN KEJAHATAN ATAS PERILAKUNYA. HAK SESEORANG AKAN KEMBALI KEPADANYA MESKI HARUS MELALUI PERIUANGAN YANG PANJANG BERLIKU-LIKU. 

 

Sumber: https://dongengceritaanak.com/category/cerita-rakyat/aceh/

 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan?
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Bali

Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Sulawesi Selatan

Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...

avatar
Kianasarayu