Syair dan senandung adalah bagian dari kehidupan masyarakat Bima tempo dulu. Di peradaban tanah Donggo, syair dan senandung melingkupi seluruh rangkaian prosesi daur hidup masyarakatnya. Salah satu syair dan senandung yang masih eksis hingga saat ini adalah Inambaru. Senandung ini adalah ratapan yang menyayat hati sebagai ritual pelepasan terhadap seseorang yang dicintai yang pergi jauh dan meninggal dunia. Ketua Sanggar Ncuhi Mbawa, Ignasius Ismail mengungkapkan bahwa pada masa lalu, Inambaru dilantunkan khusus dalam peristiwa sakral, namun saat ini hanya untuk hiburan saja.” Pada masa lalu, ketika ada keluarga yang meninggal dunia, seorang perempuan melantunkan Inambaru sambil meracau dan menyebut kebaikan-kebaikan si mayat. “ Ungkap Ignasius Ismail yang juga pendeta gereja setempat. Ketika Inambaru dilantunkan, para pelayat menggerakkan tangan seperti mengelus si mayit. Orang Donggo memang memiliki tata cara sendiri dalam menguburkan mayat. Sebelum mayat dikub...
Mpa’a Karumpa, demikianlah nama permainan yang dalam bahasa Indonesia dikenal dengan Engrang ini. Mpa'a dalam bahasa Bima berarti permainan. Pada masa lalu, permainan ini ditemukan di berbagai daerah di nusantara. Mpa’a Karumpa cukup terkenal di Bima. Permainan ini sering dilakukan oleh anak-anak usia 7 sampai 13 tahun(anak SD, SMP). Tetapi tidak jarang anak yang duduk di bangku TK pun sudah bisa memainkannya dan orang dewasa pun ikut memainkan permainan Karumpa ini. Cara memainkan permainan ini sebenarnya beragam, yang dilakukan anak-anak di desa Sambori ini hanyalah salah satu dari banyak cara yang lainnya. Mpa’a Karumpa ini dipandang sebagai permainan yang menyenangkan, menantang, dan tidak memakan biaya yang mahal untuk membuat alat permainan tersebut. Cara membuatnya pun mudah. Mula-mula bambu dipotongmenjadi dua bagian yang panjangnya masing-masing sekitar 2½-3 meter. Setelah itu, dipotong lagi bambu yang lain menjadi dua bagian dengan ukuranmasing...
Beras ketan menjadi bahan utama seluruh kue tradisional Mbojo. Salah satu jenis kue yang menggunakan beras ketan atau yang dikenal dengan Fare Keta adalah Pangaha Balu. Pangaha berarti kue. Balu adalah rasa gurih yang dihasilkan dari adonan Pangaha Balu. Yang membuat kue ini enak adalah campuran air gula merah yang dicampur di dalamnya. Kadang digunakan gula putih, tetapi Pangaha Balu lebih enak menggunakan gula merah. Warna dan aromanya juga menarik. Pangaha Balu bisa dibeli di Pasar Raya Ama Hami Kota Bima. Di kampung-kampung juga banyak penjual kue keliling yang menjual Pangaha Balu seperti di kelurahan Sadia, Santi, Penagara, Rabangodu, Nae, Salama, Tanjung, Melayu dan sejumlah kelurahan lainnya. Harga Pangaha Balu relative murah dan terjangkau. Satu buah Pangaha Balu seharga Rp.1.000. Kadang di pasar Ama Hami Kota Bima, para pedagang menjual 6 buah pangaha Balu dengan harga Rp.5.000.
Kue yang satu ini diberi nama Waji Bodi. Seperti halnya Waji atau Wajik, Waji Bodi berbahan dasar beras ketan yang dimasak dengan cara didandang. Namun setelah masak, Waji Bodi dikeringkan seperti krupuk tetapi dalam bentuk seperti Waji. Setelah kering lalu digoreng dan dilumuri dengan air gula merah atau gula putih. Waji Bodi terasa manis dan kriuk-kriuk seperti krupuk. Waji Bodi banyak dijual sepanjang jalan di pasar Sila kecamatan Bolo Kabupaten Bima dari pagi hingga malam hari. Harga satu bungkus plasik Waji Bodi adalah Rp.10.000. Dalam satu bungkus plastic terdapat sekitar 20 buah Waji Bodi yang berbentuk segi empat pajang sama sisi atau seperti kubus. Waji Bodi sangat cocok menemani perjalanan jauh untuk ngemil di atas mobil dengan pangaha bunga(kue bunga) dan kue Seroja yang biasa dijual bersama Waji Bodi. Keberadaan para penjual kue tradisional Mbojo sepanjang pasar sila dan sekitarnya perlu diperhatikan oleh Pemerintah Daerah dengan menyiapkan lapak-lapak permanen y...
Seiring perkembangan agama islam pada periode awal masuknya islam di Bima pada abad ke-17, dan perintah untuk melaksanakan Aqiqah, maka upacara dan tradisi Boru dan Dore mulai dilaksanakan. Sebelum upacara Boru dan Dore, maka terlebih dahulu dilaksanakan Cafi Sari yaitu membersihkan sari atau lantai setelah 7 hari melahirkan dikandung maksud usaha awal dilakukan oleh orang tua agar sang bayi selalu menjaga kebersihan lahir bathin termasuk kebersihan lingkungan. Tidak hanya itu, makna yang terkandung dalam ritual ini adalah pola hidup bersih dan sehat mulai dari makanan, minuman, lingkungan, kebersihan badan dan juga niat yang tulus dalam menjalani kehidupan dunia menuju akhirat. Boru atau mencukur rambut, merupakan sunah Rasul, seperti khitan. Boru dilakukan oleh para ulama dan tokoh adat, dilakukan secara bergilir. Selesai upacara boru, dilanjutkan dengan upacara Dore yaitu meletakan telapan bayi di atas tanah yang disimpan dalam sebuah pingga bura ( Piring Putih). Boru dan Dore di...
Di era modern yang penuh dengan berbagai macam kuliner ini, tak banyak orang yang tahu bahwa, warga Bima memiliki banyak jenis olahan nasi dengan cara dan bahan yang sangat sederhana. Jika kita mengenal olahan nasi di jaman yang serba serbi ini dengan sebutan, lalapan, nasi goreng, nasi kucing, nasi soto, nasi rebus dan lain-lain, maka kita juga perlu mengenalkan pada dunia bahwa warga Bima juga memiliki olahan nasi tradisional yang khas dan tak kalah unik dan enaknya. Tanpa disadari, sesungguhnya warga Bima memiliki banyak kuliner khas Bima yang seharusnya dijaga dan dilestarikan sebagai sebagai bentuk penghargaan sekaligus mengenang cara hidup dan kehidupan para nenek moyang warga Bima, bahkan tidak menutup kemungkinan dapat dijadikan aset kuliner yang memiliki nilai-nilai leluhur. Berikut 11 jenis olahan nasi warga Bima tempoe doeloe yang tak banyak orang tahu : 1. Oha Kaboe (Nasi Kacang Hijau) 2. Oha Latu (Nasi Sorgun) 3. Oha Witi (Nasi...
Kalei Bunti (usung pengantin) Pengantin yang di usung pun yakni pengantin perempuan. Budaya ini masih dilestarikan oleh warga Desa Bolo sampai sekarang. Budaya Kalei Bunti ini sudah melekat dan tak bisa dipisahkan dari kehidupan warga masyarakat, khususnya di saat acara-acara pernikahan. Kalei Bunti ini ada di Desa Bolo Kecamatan Madapangga Kabupaten Bima-NTB. Budaya yang menjadi palaksanaan rutin warga ketika ada hajatan pernikahan ini sangatlah menarik, selain melestarikan budaya yang sudah turun temurun, Kalei Bunti juga menjadi suatu nilai keairifan lokal yang patut dilestarikan. Pelaksanaan acara ini diawali dengan pengantin perempuan akan diusung keliling desa, hingga berakhir di tempat kediaman pengantin itu sendiri. Adapun tempat dilaksanakanya acara Kalei Bunti ini, yakni berlangsung di jalan raya dan dimulai sekitar jam 22:30 wita (malam) hingga selesai. Sebelum dimulai, pihak keluarga pe...
Kapore dan koca adalah penganan manis dengan ditaburi kelapa parut diluarnya. Koca hanya ditaburi kelapa parut diluarnya. Sementara di dalamnya terdapat cairan gula merah. Kapore tidak ada cairan gula merah di dalamnya, tetapi cairan gula merah dicampur dengan kelapa parut di luarnya. Kapore dan Koca cocok untuk kudapan di siang hari terutama bagi para pekerja di sawah atau pekerja bangunan istirahat sambil menikmati kopi dan teh. Di kampung-kampung biasanya penjual menyebut Kapore dan Koca bersamaan. “ Weli Kapore Koca…..! “ artinya Beli Kapore Koca…!” Demikianlah pedagang asal kelurahan Penagara Kota Bima setiap hari lewat di depan rumah. bahan pembuatan Koca dan Kapore adalah beras ketan, gula merah, sedikit garam, dan kelapa parut. Khusus Koca, ditcampur air daun pandan yang ditumbuk untuk memberikan warna hijau pada Koca. “ Sekarang juga banyak yang menggunakan pewarna buatan, tetapi yang paling enak dan alami adalah dengan da...
Penganan tradisional ini sangat sederhana dan berbahan dasar jagung dan kelapa parut dengan sedikit garam. Jago Sombu dijual di pasar Raya Ama Hami Kota Bima. Ina Sei, penjual Jago Sombu hanya duduk setengah jam menjajakan Jago Sombu dan langsung diserbu para pembeli. Jika kita kesiangan ke pasar Ama Hami, maka bisa dipastikan kita tak akan dapat membeli Jago Sombu. Penganan ini cukup diminati karena tidak manis dan cukup gurih disantap dengan kelapa parut yang ditabur di dalam Jago Sombu. Harga Jago Sombu cukup murah meriah yaitu Rp.1.000 untuk satu bungkus Jago Sombu menggunakan daun pisang. Jago Sombu sangat higienis menggunakan bahan jagung, kelapa parut dan dibungkus daun pisang. Menurut Ina Sei, Jagung yang sudah tua direbus dulu dengan afu atau kapur supaya kulit luar jagung terkelupas. “ Rebusannya setengah matang saja untuk mengeluarkan kulit dan putik hitam di jagung. “ Papar Ina Sei. Kemudian direbus lagi sampai masak. Jago Sombu kemudian ditaburi kelapa p...