Sebelum permainan dimulai, biasanya ada peraturan yang harus dilakukan terlebih dahulu. Misalnya, penentuan tim atau hal-hal apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama permainan. Seperti dalam bermain sepak bola, biasanya wasit akan melakukan tos dengan menggunakan koin untuk menentukan siapa yang berhak memilih bola atau tempat bagi yang menang. Nah, ternyata di tatar Sunda juga ada salah satu cara untuk memulai suatu permainan, namanya Cing ciripit. Cing ciripit atau di sebagian daerah lainnya disebut emeng-emengan adalah sebuah judul lagu yang biasa dinyanyikan sebelum kita memulai permainan/ucing-ucingan. Lagu ini bisa kita pakai untuk mengiringi ritual menentukan orang yang nantinya akan jadi “kucing”. Aturan mainnya pun sangat gampang, pertama biasanya anak-anak akan berkumpul membentuk lingkaran. Kemudian satu orang akan membuka telapak tangannya seperti kita sedang meminta sesuatu. Biasanya orang ini yang umurnya lebih tua atau yang punya ji...
Kuda lumping, jika kita mendengar dua kata ini pasti asosiasi kita langsung tertuju pada salah satu kesenian tradisional yang sangat kental dengan suasana mistik. Dan memang secara garis besar kesenian kuda lumping yang sudah ada sejak dulu dan tidak diketahui siapa pencetus pertamanya ini berisiskan atraksi mendebarkan seperti makan beling, makan arang, dan sebagainya yang dilakukan oleh sang penari kuda lumping. Nama kuda lumping sendiri kemungkinan besar didapat dari kekhasan para penarinya yang selalu menunggangi kuda bohongan yang terbuat dari lumping (kulit binatang) dalam setiap aksinya. Dalam tiap pertunjukkan para penari kuda lumping yang pada awal kemunculannya selalu diperankan oleh anak-anak remaja putri (kini seiring perkembangan zaman para penari kuda lumping umumnya digantikan oleh para remaja putra dan kalaupun tetap menyertakan penari putri itu hanya semata-mata sebagai hiasan saja karena tak lagi ikut melakukan aksi-aksi yang mendebarkan seperti maka...
Sasalimpetan merupakan lagu permainan sunda yang dinyanyikan oleh anak-anak sambil bermain saling berpegangan tangan, berbaris ke arah sisi kanan atau sisi kiri,yang terakhir arah sebelah kiri memegang kayu, pohon atau benda apa saja yang ada didepannya. Lagu permainannya di bawah ini: Sasalimpetan Jajahan aing nu panjang héy! héy! Saha nu panjang. Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Sasalimpetan
Pim-pom pilem merupakan lagu permainan sunda yang dinyanyikan oleh anak-anak yang bertujuan untuk mengundi. Biasanya ada pemimpin dari salah seorang anak (dipilih yang paling tua umurnya), cara mainnya pemimpin mengepalkan tangannya yang kiri kemudian diletakan di tengah kumpulan anak yang lain yang berkumpul meniru sang pemimpin, mengepalkan tangan kanannya lalu diletakan di tengah kumpulan kemudian pemimpin meletakan tangannya ke tangan-tangan yang lain sambil tetap mengepal kemudian menyanyikan lagu pim-pom-pilem. Ketika bernyanyi pemimpinnya sampai terjatuh, maka kepalan berhenti lagunya di bawah ini: Pim-pom pilem jabésé Sédan beureum ti Jogja Batu ngampur dikempis Pisang cau karonéng Néngtét bujal di gunung Nungtun sapi keur depa Parahuna tiguling Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Pim-Pom_Pilem
Kalong king merupakan lagu permainan sunda yang dinyanyikan oleh anak-anak ketika menjelang sore, biasanya jika ada kelelawar lewat berterbangan ketika kelelawar lewat, anak-anak suka menyanyikan kalong king, suka cita bersama teman-temannya menertawakan kelelawar itu, anak-anak melakukannya hanya sekedar hiburan. Lagu permainannya: Kalong king, kalong king Bapa sia utah ngising Dibura ku madu kucing Madu kucing beunang maling Maling ti imah aing. Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Kalong_King
Jurig Jarian (jurig = hantu, jarian = tempat pembuangan sampah) atau hantu sampah ini adalah hantu yang lekat bahkan sangat akrab dikebanyakan telinga orang Sunda pada umumnya, hantu ini dipercaya berada di sekitaran tempat pembuangan sampah yang berada di perkampungan. Konon katanya, hantu ini tidak sembarangan menampakkan diri, dia hanya menampakkan diri pada orang-orang tertentu dalam artian pilih-pilih dalam menentukan korban penampakannya, ia hanya menyasar anak-anak dan ibu hamil yang kebetulan berada di sekitaran tempat sampah tempatnya bersemayam pada sore hari menjelang magrib. Gangguan yang ditimbulkan olehnnya pun bermacam-macam, pada anak-anak ia akan menggangu dengan cara menghembuskan penyakit berupa meriang, demam, ataupun bentol-bentol yang gatalnya teramat sangat, adapun pada wanita hamil dia lebih senang masuk pada raganya dan membuatnya kesurupan. Konon katanya tidak ada yang tahu persis bagaimana rupa dari Jurig Jarian ini, ada yang bilang rupa dari jurig jarian...
Kahuripan Cileutik , pada prasastinya tertulis "Pengemut-ngemut ka Pangeran Aria Soeria Atmadja Bupati Sumedang Tahun 1882-1919, ku jasa mantenna ieu cai tiasa manfaat kanggo balarea" yang artinya kurang lebih "Untuk mengenang Pangeran Aria Soeria Atmadja, karena jasa beliau air ini bisa bermanfaat bagi semua". Sebuah prasasti pastinya dibuat untuk menandai tempat atau lokasi yang dianggap memiliki nilai historis, ia dibuat sebagai tanda bahwa di tempat tersebut pernah terjadi peristiwa penting, salah satu contohnya seperti Prasasti Cadas Pangeran yang pernah saya ceritakan dulu, yang isi prasastinya mengisahkan tentang peristiwa Cadas Pangeran, sebuah peristiwa yang melegenda di Sumedang. Sesuai dengan namanya yaitu Kahuripan Cileutik (Kahuripan = Kehidupan, Ci = air, Leutik = kecil), air yang keluar dari tempat dekat prasasti ini berada relatif kecil seperti pancuran biasa, padahal sejatinya ia adalah sebuah mata air yang keluar langsung dari dalam ta...
Curug (air terjun) Sindulang ini adalah salah satu destinasi wisata Kabupaten Sumedang yang berada di perbatasan Kabupaten Sumedang dengan Kabupaten Bandung, tepatnya di Desa Sindulang Kecamatan Cimanggung, nama curugnya sendiri sama persis dengan nama desa dimana curug ini berada yaitu Desa "Sindulang". Ternyata, ada sebuah sasakala atau cerita rakyat dibalik penamaan "Sindulang" ini, berikut adalah Sasakala Curug Sindulang : Diceritakan bahwa Desa Sindulang sudah ada sejak zaman dahulu kala, tepatnya sejak zaman prasejarah dimana kepercayaan animisme dan dinamisme mulai berkembang. Leluhur penduduk Desa Sindulang bertani dan berkebun untuk mempertahankan hidupnya, namun mereka tidak menetap dan sering berpindah-pindah (dalam ilmu sejarah masa ini dikenal dengan masa bercocok tanam), dimana mereka menanam buah atau sayuran disuatu tempat selama beberapa waktu, setelah tanahnya tidak bagus dan menghasilkan buah atau sayur yang jelek mereka berpindah ke tem...
Di Sumedang ada sebuah desa yang menerapkan larangan serupa, boleh percaya boleh juga tidak namun begitulah adanya, desa tersebut adalah desa Cipancar di kecamatan Sumedang Selatan, di desa ini ada larangan tidak boleh menyebut kata ucing (kucing) baik dalam lisan maupun tulisan. Sepintas, memang agak aneh kalau kita memikirkan larangan yang berbau mitos tersebut, namun tentunya kita sudah mafhum bahwa jika disuatu tempat terdapat larangan atau pantangan untuk tidak melakukan suatu hal, pasti ada "sesuatu" juga dibaliknya, dan pantangan tersebut menjadi kerifan lokal yang jadi ciri khas dari suatu daerah yang bukan semata-mata berbau takhayul, karena jika kita tahu latar belakang dari adanya pantangan ataupun mitos disuatu daerah, kita akan memahami bahwa mitos yang ada sangat rasional dan ditujukan untuk kebaikan, seperti mitos tidak boleh menyebut ucing/kucing di desa Cipancar yang akan saya ceritakan ini. Menyangkut apa-apa yang dilarang seperti itu ora...