Indonesia kaya akan keanekaragaman budaya, alam flora fauna, dan keunikan seni yang tidak dimiliki negara lain. Bahkan Indonesia kaya akan pemandangannya yang indah dengan hutan, gunung, pantai, dan tempat wisata lainnya. Tidak hanya itu, Indonesia masih mempertahankan kehidupan adat istiadat nenek moyang. Bali merupakan pulau yang masih menjalankan ritual-ritual walaupun sudah menjadi kota modern. Hal inilah yang membuat kota Bali dipilih menjadi kota favorit untuk liburan oleh para wisatawan dalam negeri maupun luar negeri. Kehidupan di Bali masih terikat dengan kehidupan desa. Desa Adat Penglipuran menjadi tempat wisata yang paling diminati karena kebersihannya. Desa ini terletak di Banjar Penglipuran, Kecamatan Bangli, kabupaten Bangli, Provinsi Bali. Masyarakat di desa tersebut mayoritas beragama Hindu dan masih menyimpan budaya asli Bali. Jika Anda mengunjungi Desa Adat Penglipuran, jangan lupa mencoba minuman khas desa ini, yaitu Loloh Cemcem. Apa itu Loloh Cemcem?...
Seperti banyak daerah-daerah di Indonesia, Bali pun mempunyai berbagai naungan tembang tradisional unik yang disebut dengan "Pupuh". Terdapat beberapa macam pupuh yang memiliki arti dan aturan penulisan lirik tersendiri. Aturan-aturan yang digunakan dalam penulisan lirik Pupuh disebut dengan padanglisa yang biasanya mengatur jumlah suku kata/baris dan rima vokal terakhir dari Pupuh tersebut. Pupuh ini biasanya dinyanyikan saat pelaksanaan upacara adat. Pupuh dan padalingsa-nya termasuk dalam kurikulum muatan lokal mata pelajaran Basa Bali untuk siswa siswi yang berdomisili di Bali, hal tersebut merupakan upaya untuk melestarikan budaya tradisional dan penanaman wawasan kultur kepada siswa untuk diaplikasikan saat upacara adat. Lirik dalam Pupuh dapat diubah sesuai keinginan asalkan sesuai dengan aturan padalingsa (baris dan vokalnya). Beberapa jenis Pupuh yang terkenal adalah Pupuh Sinom, Pupuh Maskumambang, Pupuh Ginada, Pupuh Ginanti, Pupuh Mijil, Pupuh Pangkur, Pupuh Durm...
Sesuai yang kita ketahui mayoritas masyarakat di Bali adalah masyarakat Hindu. Maka itu tidak heran lagi apabila kita lihat banyak sesajen atau banten di sekitar kita di lingkungan Bali. Sesajen di Bali ini dibuat bermaksud untuk sebagai bentuk rasa syukur atau persembahan (dalam upacara) kepada pada Tuhan YME serta leluhur atau nenek moyang yang dahulu. Dengan demikian pembuatan sesajen atau banten ini merupakan kegiatan ritual umat Hindu di Bali. Namun ternyata ada yang berbeda dengan sesajen di hari-hari biasa dan di hari-hari besar. Biasanya mereka meletakkan sesajennya di depan toko, pohon besar, mobil, depan rumah, pura dan tempat lainnya biasanya dengan dialas menggunakan canang. Canang ini berasal dari kata "can" yang artinya indah dan "nang" berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti tujuan. Di hari-hari biasanya sesajen disiapkan dalam bentuk sederhana seperti canang sari dan dupa. Namun, apabila di hari besar biasanya sesajen disiapkan dengan tambahan sekepal nasi den...
Babi guling salah satu makanan khas dari Pulau Dewata, Bali. Kuliner babi guling Bali merupakan menu makanan dengan sajian irisan daging babi guling dengan beberapa makanan khas Bali lain untuk pendamping nasi. Salah satu tempat makan khusus menyajikan babi guling khas Bali yaitu Warung Priyyandi. Di Tangerang Selatan, mungkin ini satu-satunya babi guling khas Bali seperti dikatakan pengelola Warung Pradnyani. Warung ini terletak di Ruko Moscow A-11, Jalan Gading Serpong Boulevard, Gading Serpong, Tangerang Selatan, Banten. Warung Priyyandi menyajikan menu babi guling khas Bali lebih khusus lagi babi guling dari Tabanan. Pengelola atau kokinya langsung belajar langsung dari Tabanan sebelum berani membuka warung dengan embel-embel khas Bali. Restaurant Manager yang merupakan dua rekan yang bersemangat, Thomas Alfa Edison dan Aryo Yosep. Berasal dari Bali, keduanya mantap membuka warung babi guling khas Bali setelah mendapat bekal keahlian memasak dari Tabanan. Di Bali, makanan...
Alkisah di suatu masa ketika pulau Jawa dan Bali masih bersatu, hidup seorang raja yang bijak bernama Sidi Mantra, dan anaknya Manik Angkeran. berbeda dari ayahnya, Manik Angkeran suka berjudi dan berfoya-foya. Manik Angkeran berjudi sampai menghabiskan uang ayahnya. Sementara itu, ada seekor naga yang hidup di Gunung Agung yang bisa mmberikan permata bagi orang yang membunyikan suatu lonceng di dekatnya - dan kebetulan Sidi Mantra memiliki lonceng tersebut. Suatu hari, Manik Angkeran mencuri lonceng dari Sidi Mantra tanpa sepengetahuannya dan pergi ke Gunung Agung. Ia membunyikan lonceng di dpan naga yang tertidur dan naga tersebut memberikannya permata. Ia melakukannya tiap hari hingga Sidi Mantra mengetahuinya. Akibatnya, sang naga marah dan hendak memakan Manik Angkeran, tetapi Sidi Mantra memohon kepada naga agar anaknya tidak dimakan, tetapi diberi ganjaran yang lain agar bisa belajar dari kesalahannya. Akhirnya, naga memisahkan tempat berdiri Sidi Mantra dan Manik A...
Sejarah munculnya kesenian Tektekan dimulai dari daerah Kerambitan, Tabanan yang bertujuan untuk mengusir roh jahat yang menyebabkan wabah penyakit. Pada saat itu didaerah tersebut terkena wabah penyakit yang diyakini sebagai penyakit nonmedis oleh warga didaerah tersebut. Bahkan wabah tersebut dapat membuat banyak warga meninggal dunia. Lalu mereka pun membunyikan benda benda yang menghasilkan bunyi yang keras seperti kaleng, kulkul, besi untuk menghilangkan rasa takut. Lalu kulkul yang dipilih dan dipercayai bisa mengusir roh jahat yang menyebabkan wabah penyakit. Tektekan secara etimologi berasal dari kata "Tek" karena bunyi yang didominasi dengan suara tek tek tek. Tektekan ini dimainkan menggunakan alat sederhana yaitu kentongan atau di Bali disebut dengan kulkul,lalu memainkannya dengan cara dipukul menggunakan kayu kecil. Kesenian tektekan ini dimainkan oleh 30-40 orang dengan ritme seperti suara pementasan kecak. Tektekan biasanya dipadukan dengan alat musik tradisional B...
Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya dan tradisi. Bali merupakan salah satu provinsi unik di Indonesia dengan mayoritas penduduknya beragama Hindu. Oleh karena itu, banyak hal unik yang hanya dapat kita lihat di Bali. Salah satunya adalah arsitektur rumah tradisional di Bali. Rumah tradisional di Bali sangat kental dengan nuansa Hindu. Banyak hiasan, seperti ukiran dan patung, yang bercorak agama Hindu. Rumah ini biasa ditempati oleh suatu keluarga besar yang terdiri dari beberapa kepala keluarga. Rumah tradisional di Bali terdiri dari beberapa bangunan yang masing-masing bangunannya ditempati oleh satu kepala keluarga. Di tengahnya, terdapat satu pura yang digunakan untuk sembahyang. Ada juga dapur yang digunakan oleh setiap keluarga secara bersama-sama. Pada kompleks bangunan ini juga terdapat suatu tempat untuk mengadakan pertemuan penting. Di sekeliling kompleks bangunan, dibangun tembok yang tidak terlalu tinggi. Inilah ciri khas dari ar...
Zaman dulu di suatu desa di Bali hidup seorang Pria yang bernama Pan Balang Tamak, yang memiliki arti “Pan” berarti bapak/ayah, “Balang” berarti hewan belalang yang merupakan hewan yang lincah dan cerdik dan “Tamak” yang berarti rakus. Suatu hari ketika ada pengumuman akan diadakan gotong royong di bale banjar ketika ayam turun dari peristirahatan jika tidak akan terkena denda. Keesokan harinya saat pagi ayam turun semua oranng sudah begotong royong, tetapi hingga siang Pan Balang Tamak menunggu ayamnya turun, hingga Kepala Desa datang berkata “Mengapa kamu tidak hadir gotong royong?, karna sekarang kamu akan kena denda“ lalu Pan Baling Tamak berkata ”Karena menurut pengumuman, semua bergotong royong ketika ayam turun dari peristirahatannya, tetapi ayam saya baru turun siang ini “ hal itu terjadi karena ayam milik Pan Balang Tamak adalah ayam betina yang sedang me...
Menurut masyarakat Hindu-Bali, bangunan yang baru selesai dibangun tidak bisa langsung ditempati karena mereka percaya bahwa bangunan baru tersebut masih diselimuti oleh pengaruh atau ruh jahat. Untuk itu, mereka mengadakan sebuah upacara ritual untuk mengusir elemen negatif dari bangunan tersebut. Ritual itu dinamakan Melaspas. Melaspas berasal dari dua kata, yaitu "Mala" yang artinya elemen buruk dan "Pas" yang artinya dibersihkan atau untuk membuat murni. Selain itu, upacara ritual Melaspas bermakna menghidupkan bangunan baru sehingga dapat berfungsi sesuai dengan tempat dan kedudukannya serta memberi kesejahteraan bagi penghuninya. Sebelum memulai upacara, keluarga yang akan melakukan upacara ini harus menyiapkan banten (sesajen). Banten ini wajib berisi dedaunan, bunga, dupa dan buah-buahan. Setelah banten lengkap, upacara dapat dimulai. Upacara dipimpin oleh Pemangku. Prosesi diawali dengan Pemangku mengucapkan mantra-mantra yang dituju untuk Bhutakala, ruh jahat y...