Bagi masyarakat Jawa, seremoni pernikahan menjadi suatu hal yang amat penting dan bersifat sakral. Merupakan bentuk legalitas secara adat, antara calon pengantin pria dan wanita dalam ikatan perkawinan. Dan merupakan kebahagiaan bagi orang tua, di mana telah berhasil mengasuh putrinya, hingga menghantar ke gerbang hidup berumah tangga. Ciri khas dari seremoni pernikahan dalam adat Jawa adalah waktu penyelenggaraan harus merupakan waktu yang terpilih, begitu juga dengan tempat dan para panitianya. Calon pengantin harus dalam keadaan bersih secara spiritual dan tidak boleh meninggalkan sesaji yang merupakan pelengkap upacara. Ciri-ciri yang merupakan persyaratan dari sebuah upacara ritual ini harus diikuti dengan cermat dan tertib, agar harapan-harapan yang terkandung dalam doa di belakang upacara tersebut bisa tercapai dengan selamat. Selain itu, bagian-bagian dari adicara pernikahan adat Jawa juga merupakan permohonan agar dapat memberikan kebahagiaan hidup di m...
Benteng Van Den Bosch terletak di Kelurahan Pelem, Kecamatan Ngawi, Kabuapten Ngawi, Jawa Timur. Lokasi benteng ini mudah dicapai, karena terletak di Kota Ngawi. Dekat dengan Pasar Ngawi dan Alun-Alun Ngawi, atau ± 2 Km dari Kantor Pemerintahan Kabupaten Ngawi. Hanya saja, bagi pengunjung yang bukan berasal dari Kota Ngawi akan sedikit bingung lantaran letak benteng tidak persis di tepi jalan, melainkan sedikit masuk dan tidak ada penanda lokasi keberadaan benteng tersebut. Sebenarnya letak benteng ini berada di pertemuan Jalan Untung Suropati dan Jalan Diponegoro, atau di seberang Taman Makam Pahlawan Dr. Radjiman Wedyodingrat Ngawi, namun karena di situ ada pintu gerbang Kompleks Batalyon Artileri Medan 12/ KONSTRAD “Angicipi Yudha” maka pengunjung dari luar Kota Ngawi akan bertanya di mana keberadaan benteng tersebut. Karena memang setelah tahun 1962, benteng ini pernah dijadikan sebagai markas Yon Armed yang berkedudukan di Rampal, Malang. &nb...
Masyarakat Kecamatan Dongko mempunyai cerita sendiri mengenai munculnya kesenian Jaranan Turonggo Yakso dari Trenggalek. Pada awalnya daerah itu dikenal upacara adat yang biasa disebut Upacara Baritan yang diaadakan setahun sekali bertepatan dengan tanggal 1 longkang(jawa : 1 suro) atau 1 muharam. Tempat upacara adat ini biasanya dilakukan di sawah/ladang yang selesai dipanen. Upacara ini bertujuan untuk mengucapkan rasa syukur dan terima kasih kepada dewa pembagi rejeki yaitu Bathara Guru. Bentuk upacara masih sangat sederhana, hanya berupa sesajian yang diperuntukkan bagi nenek moyang dan pembawa rejeki. Menurut cerita rakyat setempat pada jaman dahulu kala, daerah Dongko khususnya dan Kabupaten Trenggalek umumnya adalah daerah yang sangat subur, panen selalu berhasil melimpah. Namun karena kemakmuran dan kehidupan yang berlebihan tersebut membuat warga melupakan upacara adat Baritan yang biasanya dilakukan setiap setahun sekali. OSKMITB2018
Upacara Adat Ulur-Ulur merupakan wujud ucapan terima kasih dan rasa hormat kepada leluhur yang telah dikaruniai kemurahan dari Tuhan berupa sumber air, dalam istilah Jawa adalah "Cikal Bakal". Sumber air ini berasal dari bekas peninggalan sejarah dalam bentuk telaga yang dimanfaatkan oleh warga sejumlah 4 desa, yauitu desa Sawo, desa Gedangan, desa Gamping, dan desa Ngentrong untuk pengairan 4 desa tersebut. Telaga tersebut berupa sumur dengan garis tengah kurang lebih 75 meter dan di sebut telaga Buret karena terletak di Dukuh Buret, Desa Sawo, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung. Menurut kepercayaan, yang menguasai (mbau reksa) di telaga Buret adalah Mbah Jigan Jaya. Oleh karena itu, setiap tahunnya pada hari Jum’at legi bulan Sela(penanggalan jawa) diadakan ritual Ulur-ulur di telaga Buret. Ritual Ulur-ulur yang diadakan berupa upacara sesaji atau upacara pepetri. Oleh masyarakat setempat ritual Ulur-ulur telah menjadi adat kebiasaan turun temurun dari nenek...
Masyarakat Kecamatan Dongko mempunyai cerita sendiri mengenai munculnya kesenian Jaranan Turonggo Yakso dari Trenggalek. Pada awalnya daerah itu dikenal upacara adat yang biasa disebut Upacara Baritan yang diaadakan setahun sekali bertepatan dengan tanggal 1 longkang(jawa : 1 suro) atau 1 muharam. Tempat upacara adat ini biasanya dilakukan di sawah/ladang yang selesai dipanen. Upacara ini bertujuan untuk mengucapkan rasa syukur dan terima kasih kepada dewa pembagi rejeki yaitu Bathara Guru. Bentuk upacara masih sangat sederhana, hanya berupa sesajian yang diperuntukkan bagi nenek moyang dan pembawa rejeki. Menurut cerita rakyat setempat pada jaman dahulu kala, daerah Dongko khususnya dan Kabupaten Trenggalek umumnya adalah daerah yang sangat subur, panen selalu berhasil melimpah. Namun karena kemakmuran dan kehidupan yang berlebihan tersebut membuat warga melupakan upacara adat Baritan yang biasanya dilakukan setiap setahun sekali. OSKMITB2018
Ritual Mandi Lumpur Ungkapan rasa syukur atas rezeki berlimpah kepada sang pencipta dilakukan dengan beramai-ramai mandi lumpur. Ritual turun temurun itu dilakukan oleh petani Dusun Mrica, Tongas, Kabupaten Probolinggo. aKetika akan memulai ritual, ratusan warga sudah berkumpul di sawah yang akan digunakan untuk ritual mandih celot atau mandi lumpur. Ritual ini tidak hanya dilakukan oleh kalangan muda, namun orang tua pun ikut melakukannya, mereka pun berkumpul di sawah, dan mereka langsung saling melempari air dan lumpur ke peserta lain. Tak hanya itu, para peserta ritual pun juga memperebutkan lima bebek yang dilepas di 'lautan' lumpur. Tradisi unik ini menjadi perhatian ratusan warga sekitar yang antusias menyaksikan keseruan petani bermandikan lumpur dari pinggiran sawah. Mereka mengaku senang dapat menjalin kekompakan dengan sesama petani, dalam menyambut musim tanam kali ini. Di dalam ritual ini tidak ada yang namanya perbedaan pangkat m...
Sejak zaman dahulu, leluhur kita yang berasal dari Jawa sering menggunakan petung hari pasaran. Petung sendiri memiliki arti perhitungan, sehingga petung hari pasaran dapat diartikan sebagai "perhitungan mencari hari yang baik". Petung ini sudah lama digunakan oleh para pembesar kerajaan zaman dahulu, biasanya dipakai untuk mencari hari membangun bangunan, melakukan perang, ataupun menikah. Walaupun biasanya digunakan oleh pembesar kerajaan, tapi sekarang sudah boleh digunakan oleh semua orang untuk menentukan hari baik dan hari larangan. Perhitungan hari baik ini terdapat dalam mitologi sebagai berikut : 1. Batara Surya (Dewa Matahari) yang turun ke bumi menjelma menjadi Brahmana Raddhi di gunung. Ia menggubah hitungan yang disebut Pancawara (lima bilangan) yang sekarang disebut Pasaran, yakni Legi, Paing, Pon, Wage, dan Kliwon dengan nama kunonya Manis, Pethak, Abrit, Jene, Cemen...
Kisah Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartajai merupakan cerita rakyat yang berasala dari Jawa Timur lebih tepatnya di Kota Kediri. Dewi Sekartajai sendiri merupakan putri dari Kerajaan Daha Kediri. Dikisahkan Panji Inu Kertapati pergi mencari Candrakirana, kekasihnya yang telah lama meninggalkan kerajaan. Inu Kertapati menyamar dengan nama Panji Angronakung, ditemani oleh beberapa orang saudaranya yang juga menyamar tokoh lain. Setelah sampai di kerajaan Ngurawan, Panji mengabdi pada raja dan menjadi abdi kesayangan raja Nguraman. Selama mengabdi, Panji jatuh cinta pada Nawangresmi, anak Demang Wengker. Nawangresmi akhirnya diperistri Panji. Selain menjalin cinta dengan Nawangresmi, Panji juga menjalin cinta dengan puteri raja yang kemudian ia jadikan pula sebagai istrinya. Nawangresmi sebagai istri Panji diajak tinggal bersama di istana. Tiap hari Nawangresmi tidak tahan menanggung sakit hati karena meyaksikan suaminya sedang bermesraan dengan putri raja, istri muda Panji. Kar...
LEGENDA PETILASAN DUSUN KLABANG Narasumber : Bapak Djundjung-Tokoh masyarakat Dusun Klabang terletak di Kabupaten Tuban , Provinsi Jawa Timur. Di daerah ini terdapat petilasan mengenai asal usul dusun tersebut yang melegenda di masyarakat. Seiring dengan berkembangnya cerita rakyat tersebut meninggalakan jejak budaya di lingkungan masyarakat sekitar hingga kini. Pada zaman dahulu hiduplah seorang penggembala yang bernama Kekures. Setiap hari Kekures menggembala kambing-kambingnya di wilayah Punden. Masyarakat sekitar menganggap Punden tersebut sebagai “sarang siluman ular”. Walaupun Kekures sudah mengetahui mitos tersebut, Kekures tetap menggembala kambing-kambingnya di wilayah Punden. Alasannya, rumput di sana sangat subur, ternaknya tumbuh dengan sehat dan menghasilkan susu yang banyak. Menurut mitos yang berkembang di masyarakat, Ontobugo adalah nama dari siluman ular tersebut. Punden menjadi sangat dikeramatkan oleh kehadirannya, terlihat angker da...