AKSARA-UKIRAN : “PASSURAK” TORAYA Basa Toraya : Passurak Toraya … siumpuk sola tananan, katoan lan lino susinna kasisolan, kasiuluran, passianan, kasugiran, kapuangan, mintukna to dennasang battuannanna lako katuan Toraya. Dadi taek na sembarang disurak tu mau banua ke taek battuanna, nakaua nenekta to pissak. Tapi ya keditiro meloi tu passurak Toraya, budaliu tu battuan bisa na panggadaran lako kita sola nasang. Bahasa Indonesia : Ukiran atau Aksara Toraja . . .berhubungan dengan tumbuhan atau mahluk hidup didunia seperti makna kebersamaan, persaudaraan, kekayaan, kedudukan dll. semua ukiran mempunyai makna masing-masing. Jadi ukiran dulu tidak pernah di pergunakan sembarang khususnya untuk pemakaian pada rumah adat “Tongkonan” Toraja. Banyak makna dan pengajaran yang disampaikan dalam ukiran-ukiran Toraja tersebut. Contoh ukiran: Ukiran Pa' Manuk Londong (ukiran ayam jantan) dll
Salah satu dari tujuh buah prasasti dari kerajaan Tarian agama yang memuat teks paling panjang, berbentuk bulat telur dengan tulisan dipahat melingkar batu tersebut. Menggunakan aksara Pallawa yang lebih muda dari aksara prasasti-prasasti Raja Mulawarman.
Lontaraq adalah sebutan naskah bagi rakyat Sulawesi Selatan. Kata ini diambil dari bahasa Jawa/Melayu yaitu lontar atau palem tal ( Borassus flabellifer ). Dengan begitu, lontaraq adalah naskah yang ditulis pada daun tal, tradisi yang juga dilakukan oleh orang Sunda, Jawa, dan Bali dalam menulis naskah rontal mereka. Ada pula yang berpendapat bahwa secara etimologis kata lontarak terdiri dari dua kata: raung (daun) dan talak (lontar). Kata raung talak mengalami proses evolusi menjadi lontarak . Ada sebuah lontaraq yang unik, mirip dengan pita atau kaset audio/video. Teksnya ditulis satu baris pada daun tal sempit yang digulung, hanya dapat dibaca bila gulungan diputar balik. Tulisan pada gulungan bergerak di depan mata pembaca, dari kiri ke kanan. Salah satu lontaraq gulung tersebut adalah La Galigo , sebuah epos asli masyarakat Bugis, diperkirakan ditulis pada abad ke-14, masa pra Islam. Karya sast...
Naskah La Galigo ini merupakan koleksi Museum La Galigo, Sulawesi Selatan Bahan dari kertas tidak berwatermark, sampul terbuat dari karton berwarna hitam dilapisi kertas tipis, berbentuk empat persegi panjang. Naskah ditulis dalam Aksara Lontarak, Bahasa Bugis dengan menggunakan tinta hitam. Jumlah halaman sebanyak 216. Kondisi naskah sudah tidak utuh lagi. Isi naskah antara lain: Mengisahkan tentang Sawerigading dan La Galigo ke Senrijaya. Naskah ini dipamerkan pada acara Pameran Gelar Museum Nusantara 2014 "Sabuk Peradaban Nusantara Jejak 1,5 juta tahun" yang diselenggarakan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Pameran diselenggaran pada tanggal 22-24 November 2014 di Jakarta Convention Center.
Budaya yang hilang, budaya yang terlupakan atau budaya yang tak diwariskan? Entah apa yang mendorongku mengambil laptop dan kembali menuliskan berbagai kata. jariku menekan satu persatu huruf tanpa tahu sebenarnya apa yang ingin aku tuliskan, yang ku tahu adalah aku mempunyai janji untuk seseorang, ikut partisipasi dalam kegiatan yang ia akan laksanakan sehingga membuatku kembali menulis, kembali meletakkan jari-jariku diatas keyboard untuk kembali menggeluti hobby yang sulit sekali tersalurkan ini, selama beberapa bulan aku tak lagi melakukannya, bangku perkuliahan seperti menyita semua waktuku sehingga membuatku kehilangan kesempatanku untuk kembali menuangkan segala inspirasiku dalam tulisan. Jariku tak lagi seperti menari-nari diatas keyboard seperti orang-orang mengatakannya, majas yang paling sering ku dengar. ku tahu kemampuanku yang cetek membuatku harus berpikir lamban ketika menuangkan segala sesuatunya, ditambah aku baru kembali untuk kegiatan menulis....
Naskah menguraikan silsilah raja-raja yang pernah memerintah di daerah Wajo, dan cerita perkawinan raja-raja Wajo serta adat istiadat yang berlaku di daerah tersebut. Terdapat uraian tentang cerita peperangan di antara beberapa kerajaan di Sulawesi Selatan. Teks berakhir dengan uraian tentang pertemuan beberapa kerajaan yang bermusyawarah untuk mufakat lalu melahirkan perjanjian kerjasama di antara beberapa kerajaan tersebut. Keterangan tentang pemerolehan naskah, nama pengarang/penyalinnya serta nama tempat juga tanggal dan tahun penulisannya tidak diketahui. Cara penulisan pada naskah ini ditulis tegak di atas kertas Eropa menggunakan pena warna hitam dengan bahasa dan aksara Bugis. Tulisan masih dapat dibaca dengan baik kecuali pada halaman yang rusak. Jumlah keseluruhan halaman yaitu 11 halaman berukuran 33 x 20 cm. Naskah dengan tema sejarah ini ditulis dalam bentuk prosa, ukuran hurufnya 0,3 cm dan jarak spasi 0,2 cm. Ruang tulis berukuran 17,2 cm dengan jumlah baris seb...
Massureq Tradisi seni dan kebudayaan dari Sulawesi Selatan Massureq berasal dari suku bugis. Massureq terdiri dari kata Ma dan Sureq . Ma dalam Bahasa Bugis adalah suku kata yang menandakan sebuah kegiatan, sementara Sureq disini adalah kata benda. Maka massureq jika diartikan secara keseluruhan adalah suatu kegiatan membaca sureq atau naskah. Adapun naskah yang biasanya dibacakan adalah semua episode atau tereng dalam epos I La Galigo, Meongpalo Karellae dan beberapa naskah lainnya. Filosofi terciptanya tradisi massureq berawal dari kebutuhan masyarakat bugis akan hiburan, dan pengetahuan terkait naskah-naskah Bugis. Massureq sendiri merupakan pendukung eksistensi atau keberadaan naskah-naskah Bugis. Karena melalui massureq , naskah tersebut dapat dengan mudah diwariskan dan dipahami isinya dengan cara yang lebih menghibur. Bahasa yang digunakan adalah bahasa suku bugis yaitu aksara lontara. Saat ini, massure q masih ser...
Suppa dalam Lontara’ Kebudayaan daerah merupakan sumber potensial yang membantu terbentuknya kebudayaan nasional, memberikan corak dan warna bagi karakteristik pembentukan kepribadian bangsa. Sangat santer kita dengar belakangan ini tentang perlunya penanaman dan ditumbuhkembangkannya kembali karakter dan jatidiri bangsa, seiring mulai menurunnya minat dan kecintaan kita khususnya sebagai warga negara yang menjadi bagian yang terintegrasi sepenuhnya dari bangsa Indonesia akan ragam warisan budaya dan kearifan-kearifan lokal. Hal ini berakibat pada tergerusnya khazanah budaya bangsa dan dapat menyebabkan punahnya warisan leluhur tersebut begitu saja. Sulawesi Selatan sebagai sebuah propinsi yang dihuni oleh beberapa suku bangsa juga memiliki ragam dan varian-varian budayanya sendiri. Etnis Bugis sebagai salah satu etnis mayoritas di daerah ini mewariskan beberapa jenis kebudayaan baik berupa tari-tarian, upacara-upacara adat, peninggalan-peninggalan bekas kerajaan-keraj...
Nenek Mallomo, adalah penasihat kerajaan Sidenreng ratusan tahun yang lalu, yang kejujuran dan kecerdasannya telah dikenal di setiap jengkal tanah kerajaan, tersohor hingga ke kerajaan tetangga. Bertanyalah padanya, dia tak butuh tunduk berpikir untuk mencari jawaban. Ketika dia yang bertanya, bersiaplah bertanya ulang demi menemukan jawabannya. Dia pernah ditantang membuat tali dari debu, dan siapapun tak percaya jika lelaki bertubuh kekar itu akan melakukannya dengan sempurna. Berbekal pelepah daun pisang yang kering, dia mencariknya menjadi tiga bagian, mengepangnya, lalu diangkatnya sarungnya dan kepangan pelepah pisang itu dia pelintir di pahanya hingga membentuk sebuah tali. “Tapi, La Pagala, tali itu terbuat dari pelepah pisang, bukan dari debu.” ungkap Raja La Patiroi saat menyaksikan pertunjukan itu. Nenek Mallomo menunduk takzim di depan Raja La Patiroi, lalu meletakkan tali di tanah, terakhir memantik korek berbahan bakar kapuk. Tali itu kemudian terbakar dan menyisakan abu...