Noken yaitu tas tradisional masyarakat Papua yang dibawa dengan menggunakan kepala dan terbuat dari serat kulit kayu. Sama dengan tas pada umumnya tas ini digunakan untuk membawa barang-barang kebutuhan sehari-hari. Masyarakat Papua biasanya menggunakannya untuk membawa hasil-hasil pertanian seperti sayuran, umbi-umbian dan juga untuk membawa barang-barang dagangan ke pasar. Karena keunikannya yang dibawa dengan kepala, noken ini di daftarkan ke UNESCO sebagai salah satu hasil karya tradisional dan warisan kebudayaan dunia dan pada 6 desember 2012 ini, noken khas masyarakat Papua ditetapkan sebagai warisan kebudayaan tak benda UNESCO. "Pengakuan UNESCO ini akan mendorong upaya melindungi dan mengembangkan warisan budaya Noken, yang dimiliki oleh lebih dari 250 suku bangsa di Provinsi Papua dan Papua Barat," Filosofi Noken Tas Noken ini sendiri asli buatan mama-mama di Papua, tas tradisional Noken ini sendiri memiliki sim...
Patah Kaleng merupakan permainan tradisional warga Papua. Luas lapangan saat dimainkan tidak ditentukan. Bisa setengah lapangan bola sesungguhnya, bisa juga dengan ukuran yang sangat kecil. Kaleng, kerap menggunakan bekas minuman atau makanan, diletakkan pada kedua sisi. Dimainkan oleh dua kelompok dengan jumlah tak beraturan. Tidak ada wasit juga hakim garis. Waktu permainan tidak diatur. Bisa 2 jam, bahkan 3 jam. Bolanya dari apa saja. Yang penting berbentuk bulat, ringan dan bisa ditendang. Skor antara dua kelompok terkadang melebihi dari 5. Gol bagi mereka adalah ketika bola yang ditendang mengenai dan menjatuhkan kaleng. Disitulah kegembiraan itu muncul. Kala matahari terbenam, kedua kelompok akan pulang. Permainannya dilanjutkan pada keesokan harinya dengan melanjutkan skor yang telah diperoleh. Simple dan tidak membutuhkan aturan. Akibatnya, “pertarungan” Patah Kaleng tak sedikit memberi hadiah luka pada pemain. Ada yang terpesosok, mengaduh kesakitan, tapi ada ju...
Waso adalah nama seseorang yang muncul di bumi Irian Jaya pada awal Masehi tanpa diketahui asal-usulnya, baik orang tua maupun marganya. Oleh karena itu, kemunculannya dibicarakan orang-orang tua di daerah Kabupaten Jayapura, khususnya di Kecamatan Sawoi, Kecamatan Nimboron, dan Kecamatan Sentani. Pembicaraan mengenai Waso makin hari makin menyebar luas sampai ke daerah Kemtuk Gresi, Bring dan Yansu. Waso memiliki tiga nama yaitu, Waso Meduu, Waso Kinta, dan Kwalp dem Yakob. Kedatangan Waso di daerah Kemtuk Gresi sangat mengejutkan masyarakat. Selain tidak diketahui asal usulnya, dia juga ingin mengubah adat kebiasaan masyarakat daerah Kemtuk Gresi. Di daerah Kemtuk Gresi dan sekitarnya, Waso memperkenalkan kepercayaan baru yang dinamakan kepercayaan Wali Du (wali ayah). Dia menginginkan masyarakat Kemtuk Gresi dan sekitarnya yang semula percaya dan menyembah naga, binatang dan pohon-pohon besar, berubah menyembah Wali Du (Tuhan). Adat istiadat nenek moyang yan...
Bahan: 200 gram sagu aren, ayak 200 ml air matang dingin 2 sdm perahan jeruk nipis 1 sdt garam, atau secukupnya 700 ml air panas 400 gram dada ayam 3 buah wortel 4 butir bawang merah 2 siung bawang putih 3 buah cabai merah 2 sdm minyak goreng, untuk menumis 200 ml air 1/2 sdt garam, atau secukupnya 1/2 sdt merica bubuk, atau secukupnya 2 sdm seledri cincang Cara Membuat: Campurkan sagu aren dengan air matang, perahan jeruk, dan garam, aduk hingga rata. Sambil mengaduk tuangkan air yang baru mendidih hingga sagu matang dan mengental. Kemudian masukkan dalam pinggan tahan panas yang serasi besarnya yang sudah dibasahi dnegan air matang llau dinginkna. Potong-potong dada ayam dan wortel berbentuk dadu. Potong-potong tipis bawang merah, bawang putih, dan cabai merah. Tumis bawang merah dan bawang putih hingga harum, tambahkan cabai merah, daging ayam, dan wortel. Teruskan menumis hingga daging ayam berubah warna. Tuangkan air dan bumbui dengan...
Bahan: 100 gram ikan jambal kering 350 ml air panas, untuk merendam 3 butir bawang merah 1 siung bawang putih 2 buah cabai merah sekerat kunyit 2 sdm minyak goreng, untuk menumis sekerat lengkuas 500 ml santan kental 1/2 sdt garam, atau secukupnya Cara Membuat: 1. Potong-potong jambal kering berukuran serasi, kemudian rendam dala air panas selama 15 menit dan tiriskan. 2. Haluskan bawang merah, bawang putih, cabai merah, dan kunyit. Tumis hingga harum bersama lengkuas. Tuangkan santan, didihkan sambil aduk agar santan tidak pecah. 3. Masukkan ikan jambal dan teruskan merebus hingga matang, bumbui dengan garam. Sumber : Buku Periuk Nusantara - 150 Resep Masakan Khas dari 31 Propinsi di Indonesia
Eksistensi Upacara Bakar Batu Suku Dani 3.1 Langkah Langkah Upacara Bakar Batu Suku Dani adalah suku yang gemar berperang memang selalu melakukan tradisi Upacara Bakar Batu sesudahnya. Tradisi ini digunakan sebagai momen damai antara kedua suku yang berperang. Upacara Bakar Batu terkenal dengan prosesnya yang dilakukan sangat tradisional dan bisa dibilang sangat kuno karena merupakan tradisi turun-temurun dari nenek moyang. Upacara Bakar Batu yang dilakukan setelah terjadi peperangan memiliki langkah-langkah ritual yang tidak jauh berbeda dengan Upacara Bakar Batu yang diadakan pada momen peresmian gereja, penerimaan tamu kehormatan, kelahiran atau kematian. Upacara Bakar Batu dibagi dalam tiga tahap yaitu persiapan, bakar babi, dan puncaknya makan bersama. Pada bagian pertama yaitu pada tahap persiapan para wanita khususnya para ibu atau yang biasa di sapa mama melakukan tarian-tarian pembukaan, sedangkan para bapak mempersiapkan batu dan kayu, sus...
Bahan-bahan: Ular sawah 1 ekor Tepung sagu 1 kg Daun melinjo 1 genggam Daun paku secukupnya Cara membuatnya: 1. Bagian dalam dari kulit kayu yang ditaburi tepung sagu serta daun melinjo dan paku yang dipotong-potong kecil. 2. Seekor ular sawah yang dibuang kepalanya dimasukkan memanjang kedalam kulit kayu (Ular ada diantara lapisan sagu dan daun-daun) 3. Kulit kayu yang telah diisi dengan ular tersebut diikat erat dan kemudian dibakar dalam api hingga kulit kayu hangus. 4. Diangkat dari api dan dikupas kulit kayu yang telah hangus. 5. Daging ular yang telah masak dipotong-potong. Sumber : Buku Mustika Rasa Sukarno Halaman 727
Perempuan bermata sipit itu duduk disamping dagangannya. Diujung kaki yang dilunjurkan, Noken (tas bawaan tradisional) tergeletak. Isinya buah Pinang. Dikejauhan, deru mikrolet berkejaran. Seperti Eta, di jalan masuk pasar Mopah, pedagang sayur lain ikut berjejeran. Puluhan perempuan paruh baya ini duduk diatas tikar kusut. Eta tinggal di Kelapa Lima, Merauke. Kompleks perumahan warga asli yang rata-rata dihuni oleh suku Muyu. Mereka telah berada di sana semenjak berpuluh-puluh tahun. Asalnya dari Boven Digoel. Merauke sendiri milik suku Malind Anim. Istilah Muyu diperkirakan muncul bersamaan dengan masuknya Missi Katholik yang dibawa oleh pastor Petrus Hoeboer berkebangsaan Belanda, 1933 di kampung Ninati, daerah Muyu bagian utara, Boven Digoel. Eksplorasi pertama di daerah Muyu awalnya dimulai dengan sebutan Perkemahan Swallow (Swallow Bivouac). Swallow adalah sebuah kapal yang saat itu, Februari 1909, berlabuh di sungai Digoel, dekat muara sungai...
Famili : Myrtaceae Nama Lokal/Daerah : Ru (Bahasa Suku Marind dan Kanum), Lu (Suku Marori M en-Gey), M ol atau Weri-weria (PNG). Nama lain : Kayu putih, Linement Tree (Inggris), Waria Waria Tree (Inggris) Deskripsi Jenis Kayu putih yang berada di w ilayah Merauke (Kawasan Taman Nasional (TN) Wasur) ada beberapa jenis yaitu Asteromyrtus symphyocarpa (F. Muell) Craven ( Ru ; Suku Marind dan Kanum) , A. brasii, Melaleuca cajuputi Powell (Sunggi; Suku Marori Men-Gey) dan M. viridioflora Sol. Ex Gaertn ( Womb ; Suku Kanum). Namun jenis Asteromyrtus symphyocarpa yang banyak dimanfaatkan dan diproduksi oleh masyarakat lokal dalam kawasan TN. Wasur sebagai minyak kayu putih. Tumbuhan ini merupakan pohon dengan tinggi bisa mencapai 12 m dengan bentuk tajuk yang menjuntai, batang selindris, pertumbuhan batang sympodial, permukaan kulit batang berlekah dan beralur tidak beraturan. Daun tunggal berbentuk lanset, panjang antara 2-8 cm, ujung daun t...