Tanaman kopi adalah spesies tanaman berbentuk pohon yang termasuk dalam famili rubiaceae dan genus coffea . Tanaman kopi masuk ke Indonesia pada tahun 1696 oleh orang-orang Belanda, akan tetapi usaha yang pertama ini gagal. Usaha ini diulangi lagi pada tahun 1699 dan berhasil, selanjutnya dikembangkan perkebunan-perkebunan kopi di pulau Jawa. Perkebunan-perkebunan kopi arabika di Jawa pada saat itu berkembang dengan pesat, karena kopi yang dihasilkan di Jawa mempunyai mutu yang baik dan sangat digemari oleh orang-orang Eropa. Kopi Arabika kemudian menyebar ke pulau-pulau lain seperti Sumatera, Sulawesi, Bali dan lainnya, akan tetapi luas perkebunan di luar pulau Jawa tidak seluas di Jawa. Pada akhir abad ke-19, pemerintah kolonial Belanda melakukan kebijakan penetrasi di bidang pertanian ke kampung-kampung Gayo. Perkebunan kopi di Aceh Tengah dibangun menjelang akhir abad ke-19 sebagai bagian dari proyek perkebunan yang dikembangkan oleh pemerintah kolonial...
Suku Alas adalah sekelompok etnis yang bermukim di daerah Alas, Aceh Tenggara. Sedangkan daerah Alas disebut dengan kata Tanoh Alas. Menurut Kreemer (1922) kata "Alas" berasal dari nama seorang kepala etnis (cucu dari Raja Lambing), ia bermukim di desa paling tua di Tanoh Alas yaitu Desa Batu Mbulan. Ukhang Alas atau khang Alas atau Kalak Alas telah bermukim di lembah Alas, jauh sebelum Pemerintah Kolonial Belanda masuk ke Indonesia. Keadaan penduduk lembah Alas tersebut telah diabadikan dalam sebuah buku yang dikarang oleh seorang bangsa Belanda bernama Radermacher (1781). Bila dilihat dari catatan sejarah masuknya Islam ke Tanah Alas, pada tahun 1325 (Effendy, 1960:26) maka jelas penduduk ini sudah ada walaupun masih bersifat nomaden dengan menganut kepercayaan animisme. Sisa-sisa kepercayaan animisme pada masyarakat adat, biasanya nampak dalam ritual atau upacara yang digelar. Dalam tulisan ini, kita akan mengetahui, apakah kepana...
Konon, tari Guel berasal dari dua orang putera Sultan Johor, Malaysia, bernama Muria dan adiknya yang bernama Segenda. Alkisah, pada suatu hari kedua kakak-beradik itu disuruh oleh orang tuanya menggembala itik di tepi laut. Sambil menggembala, untuk mengisi kebosanan, mereka bermain layang-layang. Suatu saat, datanglah angin kencang yang membuat layang-layang mereka putus. Secara spontan mereka berusaha sekuat tenaga mengejar layang-layangnya yang putus itu, sehingga lupa pada itik-itik yang harus mereka jaga. Karena kelengahan ini, itik-itik yang harus mereka jaga berenang dan akhirnya hilang di tengah laut. Sebagai catatan, versi lain dari cerita ini yang menyatakan bahwa, akibat hembusan angin yang sangat kencang itu mereka bersama layang-layangnya diterbangkan oleh angin hingga jatuh di Negeri Serule, Aceh Tengah yang dikuasai oleh Raja Cik Serule yang bergelar Muyang Kaya Lanang Bejeye. Setelah lelah mengejar layang-layang yang putus, kembali lagi ke tepi laut untuk...
KENDURI tak mengenal musim di Aceh. Bahkan, di kala perang, kenduri tetap berjalan. Begitulah, lewat kenduri orang Aceh saling mengikatkan diri. Aroma kenduri Maulid tercium di awal pagi di Desa Pupu, Kecamatan Ulim, Kabupaten Pidie Jaya, pertengahan Februari lalu. Lepas subuh, Aisyah (51) dan Mardianah (38) sibuk menyiapkan aneka masakan yang akan dibawa ke meunasah (musala) tempat kenduri berlangsung. Tangan mereka cekatan membungkus nasi berbentuk kerucut dengan daun pisang batu. Nasi itu lantas disusun meninggi di atas sebuah nampan bersama aneka lauk terbaik, mulai telur balado, rendang, kuah sup, hingga kari itik. Semakin tinggi isi nampan itu menunjukkan makin mapan si pembuat secara ekonomi. Nurdin, Kepala Museum Aceh, mengatakan, orang-orang kaya dulu menyusun hingga tujuh lapis lauk di atas nampan hidangan untuk dibawa ke meunasah. Sekitar pukul 11.00, nampan berisi aneka masakan buatan Aisyah dan Mardianah dibawa ke meunasah. Di sana sudah ada belas...
Konon, tari Guel berasal daru dua orang putera Sultan Johor, Malaysia, bernama Muria dan adiknya yang bernama Segenda. Alkisah, pada suatu hari kedua kakak-beradik itu disuruh oleh orang tuanya menggembala itik di tepi laut. Sambil menggembala, untuk mengisi kebosanan, mereka bermain layang-layang. Suatu saat, datanglah angin kencang yang membuat layang-layang mereka putus. Secara spontan mereka berusaha sekuat tenaga mengejar layang-layangnya yang putus itu, sehingga lupa pada itik-itik yang harus mereka jaga. Karena kelengahan ini, itik-itik yang harus mereka jaga berenang dan akhirnya hilang di tengah laut. Sebagai catatan, versi lain dari cerita ini yang menyatakan bahwa, akibat hembusan angin yang sangat kencang itu mereka bersama layang-layangnya diterbangkan oleh angin hingga jatuh di Negeri Serule, Aceh Tengah yang dikuasai oleh Raja Cik Serule yang bergelar Muyang Kaya Lanang Bejeye. Setelah lelah mengejar layang-layang yang putus, kembali lagi ke tepi laut u...
Aceh punya beragam keunikan. Tak hanya dari segi adat dan kebudayaan, sederet makanan khas juga dimiliki oleh provinsi yang berada di ujung Sumatera ini. Sebut saja Mie Aceh. Dan rasanya memang tak lengkap jika bertandang ke wilayah ini tanpa mencicipi Mie Aceh. Di bumi Serambi Mekkah ini, Mie Aceh mudah didapatkan. Dalam satu porsi, Mie Aceh memiliki beragam rasa, seperti manis, asam, dan asin. Bumbu-bumbunya diracik dengan dengan berbahan cabai merah, bawang merah, bawang putih, kemiri, ketumbar merica, jahe, dan rempah-rempah lainnya yang kemudian digiling halus sehingga berwarna merah. Mie Aceh memang tersohor. Tapi, tak ada yang tahu persis bagaimana asal-usulnya. Dalam buku-buku sejarah Aceh, tak ditemukan ihwal mulanya Mie Aceh. Meski demikian, konon, Mie Aceh berasal dari Cina. Aceh dan Cina memiliki hubungan sejarah abad 13 M. Mie yang berasal dari Cina lalu diolah dengan citarasa Aceh. Dan jadilah ia disebut Mie Aceh. Berikut ini bahan dan cara membuat Mie Aceh....
Bagi penikmat kuliner, nama Ayam Tangkap tentulah tak asing lagi. Nama yang unik dan citarasa yang biasa menggoyang lidah membuat makanan Aceh ini dikenal luas. Karena itu, taklah lengkap jika bertandang ke ujung Pulau Sumatera ini tanpa mencicipi makanan khasnya. Ayam Tangkap kadang juga disebut ayam sampah atau ayam semak. Tapi jangan salah, nama "Sampah" ditabalkan karena ayam goreng ini bercampur dengan dedaunan yang dipakai tak hanya sebatas penambah aroma, tapi juga enak dimakan. Rasanya garing seperti kerupuk. Ayam Tangkap sudah ada sejak 1996. Bermula di Rumah Makan Cut Dek, saat itu orang menyebut Ayam Goreng. Adapun Ayam Tangkap ini berawal dari eksperimen. Koki rumah makan ini coba memadukan ayam dengan daging dan dedaunan, seperti daun tumurui dan pandan. Baru sekitar 2005, ayam goreng ini berganti nama dengan Ayam Tangkap. Entah siapa yang memulai menyebutnya demikian, yang jelas ayam goreng ini kemudian terkenal dengan nama "Ayam Tangkap". Bahan-bahan yang dip...
Di sebuah pekarangan rumah di Aceh terdapat ikan tongkol yang sudah tercincang dan sudah mengering dibakar sinar mentari. Ikan yang sudah dijemur ini disebut Ikan Kayu. Ikan Kayu, dalam bahasa Aceh disebut eungkot keumamah, yang berarti ikan tongkol yang diiris kecil-kecil seukuran dua jari sebelum dijemur. Pengeringan secara alami ini bisa dilakukan selama seminggu atau lebih agar ikan menjadi kaku dan kenyal. Agar lebih tahan lama, keumamah dilumuri tepung tapioka atau digoreng, yang kemudian dijadikan lauk nasi. Sejarah makanan ini juga terkait dengan daya tahan yang dimiliki keumamah. Karena mampu bertahan lama, kuliner ini menjadi logistik khusus pasukan Aceh saat berperang melawan Belanda enam abad silam. Keumamah menjadi pengganjal perut pejuang yang bergerilya dari stau lokasi ke lokasi lain.. Bahan : 500 gram ikan tongkol kering ( ikan kayu, eungkot kayee ) 100 gram kentang Bumbu : 50 gram asam sunti 25 gram cabai merah...
Kuah Pliek U adalah makanan khas Aceh. Pliek U kadang disebut patarana . Ia terbuat dari dari kelapa yang sudah diperam hingga membusuk dan kemudian diperas hingga mengeluarkan minyak kelapa. Ampasnya kemudian dijemur hingga kering dan berwarna merah kecoklatan. Di Aceh, Pliek U kerap digunakan untuk sejumlah upacara. Sebutlah ketika orang menggelar kenduri untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, pesta perkawinan, hajatan orang meninggal, kenduri thon (kenduri tahunan untuk orang meninggal) atau kenduri blang (kenduri saat hendak turun ke sawah atau sesudah panen). Tradisi lain adalah memasak Pliek U secara bersama-sama untuk kemudian membagikannya kepada tetangga terdekat; selain untuk dimakan sendiri. Meski posisi kuah Pliek U cukup kuat di Aceh, hanya saja kuah Pliek U disebut-sebut berasal dari Gujarat india. Orang Gujarat sudah ada di Aceh sejak jaman dulu, bahkan ada yang menyebutnya sebagai nenek moyang orang Aceh. Konon, rempah-rempah...