Di lihat dari sejarahnya, tarian ini merupakan tari adat tradisional Keagungan Keratuan Melinting yang diciptakan oleh Ratu Melinting yaitu Pangeran Panembahan Mas, yang dipentaskan pada saat acara Gawi Adat (Betawi). Tari Melinting ini merupakan tari tradisional lepas untuk hiburan pelengkap pada saat acara Gawi Adat. Fungsi Tari Melinting dahulu merupakan tarian Keluarga Ratu Melinting dan hanya dipentaskan oleh Keluarga Ratu saja ditempat yang tertutup (sessat atau balai adat), tidak boleh diperagakan oleh sembarang orang. Pementasannya pun hanya pada saat Gawi Adat Keagungan Keratuan Melinting saja. Personal penarinya pun hanya sebatas pada putra putri Ratu Melinting. Namun, dalam perkembangannya sekarang tari melinting tidak lagi mutlak sebagai tarian keluarga Ratu Melinting dan tidak lagi berfungsi sebagai tari upacara tetapi sudah bergeser menjadi tari pertunjukan atau tontonan pada saat penyambutan tamu-tamu agung yang datang ke daerah Lampung serta acara-ac...
BAHAN 500 gram daging sapi, potong-potong 3 sdm minyak, untuk menumis 4 butir bawang merah, iris halus 3 siung bawang putih, iris halus 2 butir kapulaga 1 buah pekak 3 butir cengkeh Haluskan 10 butir bawang merah 6 siung bawang putih 100 gram cabai merah keriting ½ sdt merica 3 cm jahe 2 cm kunyit 3 cm lengkuas ½ buah biji pala ½ sdt ketumbar, disangrai ¼ sdt jinten, disangrai 2 sdt garam 1 sdt gula 400 ml air 500 ml santan dari 1 butir kelapa CARA MEMBUAT tumis bawang merah dan bawang putih iris sampai harum. Tambahkan kapulaga, pekak, cengkih, bumbu halus, dan gula. Tumis sampai matang. masukkan potongan daging, aduk sampai berubah warna. Tuangkan air, masak sampai airnya habis. Masukkan santan, masak kembali sampai daging empuk. Angkat, sajikan.
Kata “pindang” mungkin tidak asing lagi dalam perbendaharaan istilah kuliner di negeri ini. Banyak daerah memiliki definisinya sendiri mengenai istilah kuliner ini. Bahan dasarnya pun beragam, mulai dari telur di Jogja, iga sapi di Palembang, dan bandeng di Semarang. Semua bahan itu sama-sama dapat diolah menjadi hidangan bernama “pindang” – tetapi dengan racikan dan tehnik memasak yang sama sekali berbeda. Provinsi Lampung yang kaya dengan berbagai hasil perikanan juga memiliki hidangan jenis pindang yang khas. Hidangan pindang dalam khazanah kuliner Lampung hampir identik dengan ikan. Pindang bagi masyarakat Lampung memang dapat ditafsirkan sebagai sejenis sup atau masakan berkuah yang berbahan dasar ikan, dengan cita rasa kuah yang kaya akan rempah. Ikan yang menjadi bahan dasar pindang khas Lampung umumnya termasuk ikan air tawar. Di antara jenis ikan yang banyak diolah menjadi pindang antara lain patin, gabus, baung, dan bawal. Sel...
Bahan : 250 gr mie telor diseduh hingga cukup lunak 250 gr udang ukuran sedang , kupas kulitnya. Jangan dibuang kulitnya, cuci bersih untuk dibuat kaldu. 150 gr tauge 8 buah tahu pong yang telah digoreng dipotong-potong 2 butir telur rebus 2 sdm bawang goreng 5 sdm bubuk kerupuk (kerupuk udang yang telah digoreng dihaluskan) 2 sdm daun bawang, yang telah diiris halus 1 liter air kaldu udang (dari kulit udang direbus dengan api kecil) Minyak untuk menumis secukupnya. Bumbu yang dihaluskan : 4 siung bawang putih 4 buah bawang merah 5 butir kemiri 1 sdm ketumbar dihaluskan 3 cm jahe 3 cm kunyit 1 sdt garam Cara membuat : Tumis bumbu yang telah dihaluskan hingga harum dan matang kemudian masukkan udang,tumis kembali hingga udang berubah warna. Rebus kaldu hingga mendidih kemudian masukkan tumisan bumbu dan udang ke dalamnya, masak hingga matang. Letakkan mie telur di dalam mangkok, tambahkan tauge, potongan tahu, udang, bubuk krupuk, bawang g...
Kain Maduaro merupakan kain sulam asal Kabupaten Tulangbawang Provinsi Lampung. Kain ini biasa dijadikan sebagai alat penutup kepala bagi kaum perempuan, namun saat ini kain maduaro sudah dibuat motifnya pada baju gamis, kopiah, baju koko, kaligrafi, dan sebagainya sebagi upaya pelestarian motif kainnya. Kain maduaro biasa digunakan dalam acara sakral, misalnya digunakan dalam upacara adat Menggala. kain ini sudah ada sejak abad ke-18, dan merupakan salah satu warisan kebudayaan yang harus kita jaga selendang Maduaro
Porsi : Untuk 8 Buah Bahan: 100 g beras ketan, rendam air 2 jam, tiriskan 150 g pisang ambon, haluskan ½ sdt garam 2 lembar pandan, potong 4 cm 50 g gula merah, sisir 2 sdm santan kental dari 50 g kelapa Daun pisang dan lidi secukupnya Cara membuat: Campur pisang, gula, garam, santan, dan beras ketan, aduk rat. Alasi daun pisang dengan pandan, letakkan adonan. Gulung seperti lontong, sematkan ujungnya dengan lidi. Kukus 30 menit, angkat. Sajikan.
Pepaccur/Pepaccogh/Wawancan merupakan salah satu bentuk kesenian Lampung, terutama seni sastra. Pepaccur/Pepaccogh/Wawancan biasanya dibacakan pada saat upacara adat seperti perkawinan dan khitanan. Pepaccur/Pepaccogh/Wawancan adalah seni sastra / puisi berisi nasihat, harapan, petunjuk, pemberian adok atau gelar yang diucapkan dalam bahasa Lampung. Istilah pepaccur dikenal di lingkungan masyarakat Lampung dialek O. Di lingkungan masyarakat Lampung dialek A dikenal dengan istilah pepaccogh (di lingkungan masyarakat Lampung dialek A Sebatin dikenal dengan istilah wawancan).Pepaccur/Pepaccogh/Wawancan disampaikan oleh orang yang ahli dan dapat melagukan sesuai dengan iramanya. Pepaccur/Pepaccogh/Wawancan memiliki ciri-ciri sebagai berikut : 1. Tidak ada pembukaan 2. &nb...
Hahiwang merupakan salah satu bentuk sastra tutur masyarakat Lampung, khususnya masyarakat adat 16 Marga Pesisir Krui. Hahiwang adalah puisi berisi kisah atau cerita sedih, baik kejadian menyedihkan perorangan maupun orang banyak. Berdasarkan isinya, hahiwang dapat dibedakan menjadi dua, yakni yang berisi penderitaan hidup seseorang dan hubungan muda-mudi (kegagalan percintaan). Penderitaan hidup atau kegagalan hubungan muda-mudi tersebut ditulis dalam bahasa yang indah dan dibacakan dengan lagu yang menyayat oleh seseorang, sehingga si pendengar dapat ikut merasakan penderitaan tersebut. Hahiwang merupakan tradisi sastra tutur masyarakat Krui, Lampung Barat yang hampir punah karena tidak semua orang yang mampu membawakannya. Di lingkungan masyarakat Lampung Pemanggilan Jelema Daya (Komering, hahiwang dikenal dengan istilah highing-highing sementara di lingkungan masyarakat Lampung Barat khususnya Belalau disebut wayak/muayak . Hahiwang biasanya digunakan sebagai: 1. peng...
SEJARAH Tari Piring Duabelas merupakan tari tradisional yang berkaitan dengan gawi adat masyarakat Lampung yang beradat Saibatin. Tari ini berasal dari Sekala Bekhak, kecamatan Belalau, Lampung Barat. Awalnya orang orang dari Sekala Bekhak ini hijrah ke wilayah Kota Agung (Teluk Semaka) untuk mencari tempat baru dan membentuk sebuah kerajaan yaitu Kerajaan Beniting. Disebut Kerajaan Beniting karena dulu di Sumatera terdapat banyak harimau, sedangkan raja di Kerajaan Beniting ini bisa berubah menjadi harimau. Agar rakyat tidak keliru maka sang raja memiliki sebuah tanda yang ada di bagian pinggangnya yang biasa disebut babiti, maka raja tersebut disebut raja beniting.Setelah mendapat pengaruh para pedagang, Kerajaan Beniting berubah menjadi Kerajaan Semaka.Tari Piring 12 muncul saat Kerajaan Semaka dan dikembangkan menjadi empat macam tarian. a.Tari Piring Biasa (Asli), dibawakan oleh bujang gadis (mulei mekhanai) b.Tari Piring Buha (Buaya), dibawakan ole...