Nyuncun artinya meletakkan di atas kepala, Pahakh adalah satu peralatan rumah tangga yang berbentuk bundar – selintas mirip piring – berdiameter kurang lebih 30 sentimeter. Pahakh (pahar) ada yang diletakkan di atas kepala dan ada yang di jinjing. Isi pahakh ada yg berupa makanan, antara lain: nasi, sayur matang, kue, air minum yang akan disajikan dalam acara adat. Ketika tiba di rumah tujuan, pahakh diletakkan di ruangan, dan isi pahakh tersebut tetap tidak di turunkan, sehingga bagi sai batin ataupun masyarakat menikmati makanan yang dibawa tetap di atas pahakh. Kegiatan nyuncun pahakh juga dilakukan pada kegiatan ngejalang atau bisa juga diartikan “ziarah”, yaitu kegiatan adat di mana bebai (ibu-ibu) nyuncun (meletakkan pahakh) di atas kepala yang dibawa pada kegiatan berdoa di masjid (ngantak pelambakh), pernikahan, berdoa kematian di pemakaman (Ngelang Kubokh). Fungsi Pahakh dalam kegiatan adat masyara...
Menurut cerita dalam adat istiadat Pepadun, sekitar tahun 1896, istilah “Sebambangan” sudah ada dan kebiasaan tersebut sudah dilakukan mulei dan mekhanai (gadis dan bujang) Lampung Pepadun. Jadi sebambangan merupakan proses perkawinan adat lampung, yang beradat Pepadun, dengan cara mengambil gadis dengan jalan pintas atas kemauan sendiri; dengan kata lain Ngelakei (larian) Adapun prosesi sebambangan tersebut antara lain: Harus meninggalkan surat (penepik) atau uang sepeninggalan. Sebelum masuk rumah calon suaminya, gadis tersebut mencuci kakinya (cebuk calok) dengan air Kembang 7 (tujuh) macam dengan tujuan: Supaya kembang itu menjadi buah Supaya rumah itu menjadi harum dengan kedatangan calon pengantin perempuan Netek salah, yaitu pihak Laki-laki berkunjung ke tempat keluarga calon mempelai wanita untuk ngantar salah Setelah satu atau dua hari, pihak laki-laki mengantar perdamaia...
Prah-prahan adalah istilah dari bentuk kegiatan Pajeg Sapar yang dilaksanakan pada setiap tanggal 4 bulan sapar dikasepuhan Ciptagelar. Menurut Baris Kolot , Prah artinya tidak dibeda-beda kan atau semuanya pajeg sapar ini dilaksanakan untuk keselamatan lahir batinnya warga kasepuhan. Prosesi Pajeg Sapar merupakan sebuah kegiatan ritual majeg Lembur, Majeg Imah, Majeg Cai. Ciri dan tanda yang ikut dalam kegiatan Pajeg Sapar ini adalah dengan peasangan sawen atas dipintu, menandakan bahwa telah dilakukannya prosesi Pamajegan Kegiatan Prosesi dilaksanakan pada sore hari menjelang Sande Kala atau sebelum waktu maghrib tiba, kegiatan utama di alun-alun Kasepuhan, dan setelahnya baru diikuti disetiap rumah dengan peasangan di atas pintu itu tadi. Pelaksana Kegiatan ini dipimpin oleh Rorokan Padukunan Kasepuhan, sejak mengumpulkan material bahan Sawen, hingga persiapan bahan utama dari kasepuhan untuk di distribusikan di 568 perkampungan lainnya, hingga selamatan besar nya...
Ruwatan Imah ini adalah sebuah prosesi selamatan telah selesainya proses pembuatan bangunan, seperti halnya kata ruwat – rawat, bahwa pentingnya process ini dilaksanakan bagi kami warga adat adalah imah ( Rumah -ind) adalah umah yang mewadahi kita sebagai sosok manusia yang akan tinggal dan hidup didalamnya supaya di rawat dan di ruwat. Prosesi yang akan berlangsung dimaksud adalah Ruwatan Imah Ki putri, bangunan baru pengganti Imah Tihang Kalapa (yang dibangun pada tahun 2000 – hingga akhir tahun 2017) sebelumnya di bangun di Era kepemimpinan abah Anom AE Sucipta, imah ini merupakan tempat penting di kasepuhan sebagai ruang bertemunya abah sebagai pimpinan kasepuhan dengan para incu putu dan pekerja kasepuhan. penyebutan istilah yang berbeda untuk bangunan ini adalah Tiang bangunan, kalaulah yang sebelumnya menggunakan bahan pohon kelapa sehingga imah ini disebut sebagai imah tihang kalapa, sedang bangunan yang baru di Era kepemimpinan kasepuhan saat ini A.U Sug...
Warga Kasepuhan Ciptagelar melaksanakan prosesi Nyimbur. Rangkaian kegiatan akan dimulai pada pagi hari sekitar pukul 07.00 WIB, yang dilanjutkan dengan acara selamatan di rumah Aki Karma selaku rorokan padukunan. Prosesi Nyimbur secara umum dapat dikatakan sebagai kegiatan pemberkatan untuk menjaga keselamatan jiwa, termasuk diantaranya jiwa segenap warga kasepuhan, hewan peliharaan, maupun kendaraan. Rangkaian prosesi Nyimbur biasanya telah dimulai 1 hari sebelum pelaksanaan. Salah satu persiapan yang dilakukan adalah menangkap hurang (udang air tawar), keyeup (kepiting air tawar), dan beberapa jenis ikan sungai. Aktivitas ini disebut juga dengan “ ngahkar “. Prosesi Nyimbur umumnya juga dilaksanakan bersamaan dengan prosesi Salamet Pare Beukah. Salah satu pertanda yang kerap digunakan sebagai patokan pelaksanaan acara Nyimbur adalah pada saat bunga Hiris berkembang di ladang ( huma ). sumber: https://ciptagelar.info/events/acara-adat-nyimbur/
Kegiatan adat Tutup Nyambut adalah acara salamet tutup pamakayaan sebagai penanda berakhirnya musim penanaman tahun ini. Sementara kegiatan Haraka Huma adalah acara salamet menyambut hasil tanaman selain padi di huma, yaitu tanaman tumpang sari seperti kacang, jagung, hanjeli, haremut, dan gandrung yang biasanya dipakai untuk menu prosesi acara salametan Tutup Nyambut. sumbe r: https://ciptagelar.info/events/acara-adat-tutup-nyambut-dan-haraka-huma/
Masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar kembali melaksanakan kegiatan Nganyaran yang akan diselenggarakan pada Jumat, 21 Juli 2017. Aktivitas ini merupakan bagian dari rangkaian prosesi pesta panen untuk musim tanam yang rutin dilaksanakan setiap tahun. Seperti biasanya, kegiatan Nganyaran tahun ini diawali dengan kegiatan Nutu Nganyaran yang dilaksanakan pada Jumat, 14 Juli 2017. Nutu atau menumbuk padi untuk prosesi Nganyaran biasanya dilakukan secara kolosal oleh para ibu di wilayah kasepuhan yang menjadi perwakilan setiap kampung. Kegiatan ini menggunaka sekitar 13 lisung atau wadah menumbuk padi yang ada di Kampung Ciptagelar. Kegiatan ini biasanya dihadiri oleh sekitar 800 ibu-ibu yang berasal dari kampung di sekitar wilayah kasepuhan. Salah satu puncak prosesi Nganyaran ditandai dengan kegiatan Ngabukti, yaitu mencicipi nasi dari hasil panen tahun. Adapun keseluruhan rangkaian prosesi Nganyaran terdiri dari beberapa aktivitas yang diantaranya adalah Ngisikan (mencuci beras),...
Acara Ngunjal di Kasepuhan Ciptagelar akan berlangsung pada hari Kamis dan Jumat, tanggal 8-9 Juni 2016. Prosesi Ngunjal adalah kegiatan memindahkan padi dari tempat pengeringan (Lantayan) di pesawahan ke dalam lumbung padi (Leuit) dengan cara dipikul dan atau diangkut dengan menggunakan Rengkong, yaitu alat pikul berbahan bambu yang dapat menghasilkan bunyi tertentu. Rangkaian kegiatan Ngunjal akan dilaksanakan mulai hari Kamis, tanggal 8 juni 2016, dimulai dari dari Kampung Ciptarasa menuju Kampung Ciptagelar dengan jarak tempuh sekitar 9 km. Rangkaian acara akan dimulai sejak pukul 19.00 WIB sampai selesai. Kegiatan akan dilaksanakan secara serentak dari beberapa tempat lainnya, termasuk belahan Banten Parakan Daray, Jeruk Mipis dan Palanggaran pada malam hari. Dalam tradisi masyarakat Kasepuhan, acara Ngunjal atau memikul padi harus dilakukan secara manual dan tidak boleh menggunakan kendaraan. Jumlah padi yang diangkut pada tahun ini berjumlah sekitar 6000 pocong...
Prosesi Turun Nyambut adalah selamat dan sukuran akan dimulainya kembali menggarap lahan pertanian untuk tahun Pamakayaan di kasepuhan. Prosesi ini berlangsung setiap hari selasa malam rabu pada kegiatan akhir Serentaun kasepuhan Ciptagelar, Untuk memaknai prosesi dari kegiatan ini ada catur rangga baris kolot yang menjadi kehidupan dan cara pandang warga kasepuhan bahwa Ibu Bumi Bapa Langit , yang turun di sambut, membuat prosesi penyambutan Sang Bapa yang turun dari atas (langit) untuk bertemu Sang Ibu ( Bumi). maka Selamatan dan sukuran dilaksanakan karena ketika Sang Bapa bertemu dangan Sang Ibu, maka kehidupan akan lahir. Konsep keseimbangan dikasepuhan salah satunya diterapkan pada pemaknaan dari setiap kegiatan adat yang berlangsung, keseimbangan atas- bawah, siang- malam, kanan- kiri dst, adalah Kasepuhan Ciptagelar yang menggunakan dua salam dengan tangan utun mempertemukan kanan dan kiri nya kehidupan, ibaratkan ju...