NYEKAR Nyekar adalah tradisi ziarah atau kunjungan ke makam di kalangan Muslim Jawa Berbeda dengan tradisi ziarah yang ditujukan kepada tokoh-tokoh ulama atau wali yang dianggap keramat, sebagai penghormatan dan upaya mengambil berkah, subjek ziarah dalam nyekar ini umumnya adalah makam leluhur keluarga: kakek-nenek, orang-tua, dan saudara. Nyekar berasal dari kata Jawa sekar yang berarti kembang atau bunga. Dalam praktiknya, memang ziarah ini melibatkan penaburan bunga di atas makam yang dikunjungi. Bahkan sebagian masyarakat ada yang menyertakan dupa dan kemenyan. Tetapi aspek ritual yang terakhir ini, belakangan ini sudah jarang dilakukan, meski tidak berarti hilang sama sekali. Nyekar bisa dilakukan kapan pun sepanjang tahun. Misal pada waktu tahun pertama dari anggota keluarga yang meninggal, di mana ikatan-ikatan emosional dengan orang yang telah mendahului itu masih sangat kuat. Nyekar juga biasa dilakukan seseorang menjelang pelaksanaan upacar...
Gairah rasa rindu dan gambaran tentang kampung halaman selalu bergejolak menjelang masa lebaran. Mudik, merupakan momentum paling dinanti oleh anggota masyarakat yang sibuk mencari nafkah di luar kampung halamannya. Pada momentum itu lah seluruh keluarga berkumpul berbagi rasa rindu dan cinta akan kehangatan keluarga. Mudik pada umumnya adalah kegiatan perantau/pekerja migran untuk kembali ke kampung halamannya. Mudik di indonesia identik dengan tradisi tahunan yang terjadi menjelang hari raya besar keagamaan misalnya menjelang Lebaran. Pada saat itulah ada kesempatan untuk berkumpul dengan sanak saudara yang tersebar di perantauan, selain tentunya juga sowan dengan orang tua. Transportasi yang digunakan antara lain : pesawat terbang, kereta api, kapal laut, bus, dan kendaraan pribadi seperti mobil dan sepeda motor, bahkan truk dapat digunakan untuk mudik. Tetapi lebih banyak mobil dan motor.Tradisi mudik muncul pada beberapa negara b...
Kalau bicara tentang partangiangan, pasti banyak yang tidak mengerti ya, terutama dengan yang bukan suku batak. Tapi sebelumnya aku kurang tau nih, sebenarnya partangiangan itu hanya ada di suku batak apa enggak. Tapi ternyata setelah aku cek di mbah Wikipedia , ternyata partangiangan sendiri itu berasal dari bahasa batak yaitu "tangiang" yang artinya "doa". Jadi nih kalau diartikan secara harafiah, artinya itu jadi "kegiatan doa" deh. Lah, maksudnya kegiatan doa apa ya? Pasti kamu bertanya-tanya kan? Yakan? Yakan? Jadi kalau kami suku Batak, terutama yang beragama Kristen barangkali (soalnya aku kurangtau buat yang lain), ada namanya partangiangan. Partangiangan itu gimana ya, aduh, susah loh ngejelasinnya. Kalau yang aku tahu si, kalau kami di gereja itu, ada seperti perkumpulan-perkumpulan jemaat, tapi setau aku, perkumpulan ini biasanya dibagi berdasarkan lingkungan tempat tinggal nya. Nah, jadi, ada satu hari nanti dimana perkumpulan itu ngadain ibad...
Upacara Khas Watga Magetan “Sawalan” Sawalan adalah suatu upacara atau adat khusus di kalangan warga magetan. Sawalan ini diperuntukan untuk mnesyukuri telah menunaikan ibadah 1 bulan penuh di bulan suci Ramadhan dan menyambut datingnya bulan Syawal. Upacara ini memiliki ciri khas sendiri berbeda dengan upacra upacara lain yang dilakukan didaerah lain untuk menyambut datangnya bulan Syawal. Perbedaannya adalah disini warga Magetan harus mencari bambu yang tumbuh dari tanah mereka sendiri atau dari tanah saudara mereka ataupun tetangga mereka yang masih memiliki kedekatan dalam hubungan dan masih serumpun. Warga Magetan akan membuat yang diseput “Lontong Kupat Sangga” dan “Lontong Lepet Pasak”. Selain membuat itu mereka juga memasak makanan wajib untuk mendampingi “Lontong Kupat Sangga” dan “Lontong Lepet Pasak” masakan itu adalah garang asem, sayur Lombok serta pecel khas madiun. Lontong lontong tersebut harus dimasak d...
Masyarakat Jawa Barat memiliki berbagai upacara adat sunda. Upacara-upacara tersebut ditujukan sebagai ungkapan rasa syukur dan mohon kesejahteraan dan keselamatan lahir batin dunia dan akhirat. Salah satunya adalah Upacara Turun Taneuh. Upacara Turun Taneuh merupakan upacara adat yang di laksanakan saat bayi menginjakkan kakinya ke tanah untuk pertama kali. Upacara ini biasanya diselenggarakan saat bayi sudah mulai besar dan mulai bisa merangkak atau berjalan. Upacara ini bertujuan agar bayi tersebut mengetahui keadaan dunianya dan untuk mengetahui ketika besar bayi tersebut akan menjadi apa. Prosesi upacara ini cukup menarik. Hal pertama yang harus diperhatikan adalah barang barang yang harus disiapkan, diantaranya adalah kain panjang untuk menggendong, tikar atau taplak putih, padi segenggam, perhiasan emas (kalung, gelang, cincin), uang yang terdiri dari uang lembaran ratusan, rebuan, dan puluh ribuan. Prosesi dimulai dengan menginjakkan kaki bayi ke kain putih ya...
Makam di Halaman Rumah Di daerah Kabupaten Gunungkidul dan sekitarnya, masih bisa dijumpai makam yang berada di halaman rumah. Rumah yang memiliki makam dihalamannya umumnya merupakan rumah warisan yang umurnya sudah tua. Makam kecil yang disebut cungkup oleh warga di daerah Kabupaten Gunungkidul dan sekitarnya tersebut merupakan makam janin yang mengalami keguguran. Cungkup ini berbentuk seperti rumah yang memiliki atap dan juga tembok, bahkan ada yang membangun makam ini lengkap dengan pintu. Cungkup umumnya berukuran kecil, tingginya tidak lebih dari tinggi orang dewasa. Karena pada zaman dahulu pengetahuan akan kesehatan yang minim serta teknologi dalam bidang kesehatan masih belum canggih, hal ini menyebabkan resiko keguguran yang dialami oleh ibu hamil lebih tinggi, sehinggak banyak masyarakatnya yang membagun cungkup dihalaman rumahnya. Sebuah cungkup dapat berisi lebih dari satu makam. Cungkup banyak dibangun didepan rumah, namun ada juga cungkup yang dibangun dibela...
Ngarasulkeun Ngarasulkeun adalah kegiatan atau upacara yang dilaksanakan dalam rangkaian pesta khitanan atau pernikahan. Kegiatan ini ditemukan di Kampung Cijoged, Desa Lengkong, Kecamatan Cipeundeuy, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Kegiatan Ngarasulkeun merupakan rangkaian kegiatan sebelum acara pesta khitanan dan pernikahan yang dilakukan oleh keluarga yang mempunyai acara dengan maksud agar acara yang akan dilaksanakan berjalan dengan lancar sesuai dengan yang diharapkan. Adapun kegiatan Ngarasulkeun pada umumnya dilakukan 1 (satu) hari sebelum pesta diadakan. Tata cara Ngarasulkeun adalah sebagai berikut : Pemilik acara akan mengundang ustaz atau tokoh agama untuk memimpin acara Ngarasulkeun yang biasanya dilakukan pada waktu sore hari yaitu setelah Sholat Ashar atau Sholat Maghrib. Pemilik acara mengundang para tetangga dan kerabat dekat untuk hadir pada acara Ngarasulkeun. Pada acara Ngarasulkeun umumnya pemilik acara akan menghidangkan 1 ekor bakakak dan j...
Suku Mandailing adalah salah satu suku yang berada di Pulau Sumatera bagian utara. Walaupun sesama bagian dari etnis Batak, Suku Mandailing memiliki ikatan darah, bahasa, aksara, dan kesenian tersendiri yang berbeda dengan etnis Batak maupun Melayu. Pada awalnya, masyarakat Suku Mandailing datang di bawah pengaruh Kaum Padri yang memerintah Minangkabau di Tanah Datar. Alhasil, budaya Suku Mandailing sangat kental dengan budaya Islam. Ideologi kehidupan masyarakat Suku Mandailing selalu ditemukan dalam perumpamaan yang didapati dalam upacara adat. Setiap benda dan kegiatan memiliki arti dan juga melambangkan ekspresi pikiran dalam mencari tahu arti hidup dan kehidupan manusia. Salah satu upacara adat yang sangat kental akan nilai sosial adalah Prosesi Mangupa. Tujuan utama dari Prosesi Mangupa adalah mengembalikan roh agar dapat kembali kedalam raga manusia tersebut (Mulak Tondi Tu Ruma), dan memohon berkah Tuha agar selalu selamat, sehat, dan murah rezeki. Berdasarkan fung...
Salat rebo wekasan atau bisa disebut dengan salat tolak bala merupakan salah satu ritual yang dilakukan di salah satu daerah di Garut, Bayongbong, Sukamenah. Asal usul ritual ini disebutkan dalam suatu kitab karangan Abdul Hakim kudus, yang dimana dalam kitab tersebut menjelaskan bahwa turun pada tiap tahun ratusan ribu malapetaka dan puluhan ribu bahaya pada setiap hari rebu atau rabu terakhir pada bulan safar. Bahkan ritual ini tidak ada pada saat masa Rasulallah, demikian juga pada masa khalifah para sahabat setelah Rasulallah. Salat ini dilaksanakan pada hari rabu terakhir pada bulan safar, kira-kira pukul 6.30 sebanyak empat rakaat seperti salat biasa. Surat yang dibaca setelah surat Al-Fatihah adalah Al-Kautsar sebanyak 17, surat Al-Ikhlas sebanyak 5 kali, Surat Al-Falaq 1 kali, dan surat An-Nas 1 kali. Setelah melaksanakan salat, kita membaca doa salat rebo wekasan sebanyak tiga kali.