Uroe Tulak bala atau dikenal dengan Rabu Abeh merupakan tradisi sebagian masyarakat pantai barat selatan Aceh yang dilaksanakan setiap tahunnya. Rabu Aceh dilaksanakan pada akhir bulan Safar tepatnya di Tanggal 29 Safar 1435 Hijriyah dengan tujuan sebagai ritual untuk menolak bala atau musibah yang dipercaya oleh “ sebagian” masyarakat sebagai bulan dimana bala Diturunkan oleh Allah SWT ke dunia. Tradisi ini sudah berkembang sejak lama dan pada awalnya ritual tulak bala dilakukan kegiatan-kegiatan doa bersama di pantai yang diikuti oleh seluruh masyarakat desa. Saat ini, kegiatan tulak bala tak ubah sebagai ajang rekreasi keluarga, termasuk anak-anak yang suka meliburkan diri pada hari tulak bala untuk ikut bermain dipantai. Pada dasarnya tradisi tulak bala dilaksanakan pada akhir bulan safar kelander hijriyah karena pada bulan tersebut Nabi Muhammad SAW mulai jatuh sakit dan tidak lama kemudian pada bulan kegita pada tahun itu, beliau wa...
Kebiasaan dalam bermasyarakat yang dilaksanakan secara rutin menjadi tradisi yang kemudian diwariskan turun temurun seperti halnya tradisi kuah beulangong dalam seremonial kenduri blang yang sudah hampir ditinggalkan zaman dan bahkan semakin langka dilaksanakan di Aceh. Tradisi kuah beulangong biasa juga disebut sebagi tradisi gulai sawah biasanya diadakan setiap musim tanam padi tiba dalam kegiatan kenduri Blang (Turun ke Sawah), kuah beulangong merupakan menu kuah daging sapi atau kerbau yang dimasak dengan bumbu-bumbu khusus kedalam belanga besar kemudian disantap dengan penuh rasa kebersamaan. Tradisi ini kerap dilaksanakan di beberapa daerah aceh seperti Banda Aceh, Aceh Besar, Pidie dan wilayah Aceh Barat sebelum turun kesawah sebagai selamatan memohon kepada Allah SWT agar hasil panen bagus dan terhindar dari gangguan hama. Saat ini tradisi saat ini sudah semakin ditinggalkan dan jarang dilaksanakan, namun menu kuah beulanggong masih terus bertahan menjadi...
Masyarakat Aceh juga memiliki tradisi yang unik dalam memuliakan Nabi Saw dan merayakan hari kelahiran pemimpin umat ini. Tradisi ini dapat kita lihat pada penamaan bulan menurut kalender Aceh, yang mengikuti hitungan Qamariyah sebagaimana kalender Hijriyah. Penamaan bulan pada kalender Aceh untuk bulan ketiga adalah Buleun Maulod (Bulan Maulid), bulan yang keempat Buleun Adoe Maulod, dan bulan yang kelima Buleun Keumun Maulod. Jadi menurut kalender ini, tradisi perayaan maulid di Aceh dilaksanakan dalam rentang waktu tiga bulan tersebut. Apabila kita urutkan berdasarkan kalender Hijriyah, maka perayaan maulid Aceh berlangsung antara bulan Rabiul Awal, Rabiul Akhir, dan Jumadil Awal.
Upacara menjelang dewasa ini berlaku untuk anak laki-laki dan perempuan. Upacara yang dilaksanakan untuk anak laki-laki disebut k’bor . Inti dari upacara ini adalah sama dengan upacara khitan dalam agama Islam. Sebelum melaksanakan upacara ini, anak dikurung dalam sebuah bilik selama sembilan hari. Badannya ditutupi tikar. Pada saat pelaksanaan upacara, anak tersebut dikhitan oleh seorang dukun khitan. Selesai dikhitan dia harus masuk kembali ke dalam bilik. Makanannya diantar oleh seseorang yang harus memalingkan mukanya ketika memberikan makanan. Untuk anak perempuan diadakan upacara aro era tu ura . Upacara ini dilakukan untuk anak yang berusia 3-5 tahun. Seorang dukun ( aebe siewi ) akan melubangi daun telinga dan cuping hidung anak tersebut.
Ngeyeuk seuyeuh berasal dari bahasa Sunda yang artinya paheyeuk-heyeuk jeng beubeureuh (bekerja sama dengan pacar). Maksudnya adalah meskipun digoyang badai kehidupan, kedua mempelai ini akan tetap terus lengket sampai tua. Berbeda dengan tradisi malam melepas masa lajang daerah lain, dalam tradisi ngeuyeuk seureuh , acara dibuat tertutup dan terbatas hanya untuk calon pengantin dan para sesepuh. Mereka yang belum menikah maupun nenek-nenek yang sudah menopose tidak diperkenankan mengikuti acara ini. Pasalnya, acara ini biasanya diisi dengan pembelajaran kepada kedua calon mempelai mengenai ilmu suami istri yang dipaparkan secara mendalam. Tak sedikit materi yang disampaikan seputar alat reporoduksi dan hubungan seksual suami istri. Upacara ngeyeuk seuruh sebenarnya bertujuan untuk mendekatkan hubungan antar kedua keluarga, meskipun tujuan utamanya adalah memberi nasihat kepada calon mempelai dengan simbol-simbol. Upacara ngeyeuk seureuh ini sendi...
Aceh begitu terkenal dengan penduduknya yang religious . Bahkan provinsi terujung Indonesia bagian barat ini pun memiliki julukan “Serambi Mekkah.” Jika ditelisik, ritual prosesi pernikahan Adat Aceh memang sarat akan makna budaya dan agama. Meskipun demikian, beberapa prosesi pernikahan ditinggalkan oleh penduduk setempat lantaran tidak sesuai dengan syariat Islam. Namun itu semua dikembalikan lagi kepada sang pemangku hajat untuk mengikuti atau tidak. Bagi Anda yang hendak menggelar pernikahan Adat Aceh berikut adalah urutan prosesi pernikahan yang bisa dijadikan sebagai panduan. Melamar (Ba Ranub) Selayaknya upacara pernikahan di daerah lainnya, prosesi pernikahan diawali dengan lamaran atau ba ranub dalam istilah Aceh. Pada zaman dahulu, prosesi ini diserahkan oleh theulangke (orang yang dirasa bijak) untuk mencari tahu seputar gadis yang hendak dipinang. Apabila sudah dirasa cocok, maka pihak pria akan datang melamar gad...
Adat Melayu tidak melulu identik pada wilayah Sumatra. Lantaran sebagai ibu kota Provinsi Kalimantan Barat, Pontianak nyatanya memiliki asal-usul tradisi dan sejarah yang tidak bisa terlepas dari Kesultanan Pontianak. Pada tahun 1771 sebuah Kesultanan didirikan oleh Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie. Maka jangan heran bila di wilayah ini etnik Melayu merupakan salah satu kaum mayoritas. Dalam prosesi pernikahan adat Melayu Pontianak pun ada sejumlah ritual yang mirip dengan adat Melayu di Sumatra, seperti Tepung Tawar dan beberapa prosesi di bawah ini. Mari kita simak selengkapnya. 1. Prosesi Lamaran Tidak jauh berbeda dengan budaya daerah lain di Indonesia, adat pernikahan di Pontianak juga diawali dengan cara perjodohan. Kendatipun demikian, perjodohan pada masa modern kini dianggap sebagai cara kuno untuk menemukan pendamping hidup. Pada prosesi adat Melayu Pontianak istilah untuk mencari gadis yang hendak dipinang oleh pihak pria ialah &lsq...
Secara garis besar, tradisi pengantin Koto Gadang punya kesamaan dengan etnik Minangkabau umumnya. Hanya saja, prosesi pengantin Koto Gadang lebih simpel. Simak tata cara dan tradisi pernikahan secara adat Nagari Koto Gadang berikut ini. Mencari Jodoh Ketika si gadis menginjak dewasa, membuat kedua orang tua beserta kerabat gadis tersebut mulai memilih dan mencarikan calon untuk si gadis. Di saat yang tepat mereka berkumpul dan bermusyawarah di rumah ibu si gadis, dihadiri oleh ayah, ibu dan m amak-mamak (paman-paman) serta saudara perempuan ibu lainnya. Musyawarah dan pembicaraan untuk mencarikan calon buat si gadis biasanya dilakukan secara ‘rahasia’ pada malam hari, sekitar selesai shalat Maghrib atau Isya. Dengan maksud agar tetangga dan masyarakat lain tidak mengetahuinya. Maresek-resek Setelah calon jodoh yang sekiranya sesuai telah mereka temukan, maka langkah selanjutnya adalah maresek-resek atau penjajakan. Biasanya...
Wamendereow, atau biasaa sebut Parwabuk, adalah upacara adat pernikahan. Upacara ini biasanya seluruh masyarakat kampung berkumpul berkumpul dan membuka tikar di rumah pengantin pria.