Adat Melayu tidak melulu identik pada wilayah Sumatra. Lantaran sebagai ibu kota Provinsi Kalimantan Barat, Pontianak nyatanya memiliki asal-usul tradisi dan sejarah yang tidak bisa terlepas dari Kesultanan Pontianak. Pada tahun 1771 sebuah Kesultanan didirikan oleh Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie. Maka jangan heran bila di wilayah ini etnik Melayu merupakan salah satu kaum mayoritas.
Dalam prosesi pernikahan adat Melayu Pontianak pun ada sejumlah ritual yang mirip dengan adat Melayu di Sumatra, seperti Tepung Tawar dan beberapa prosesi di bawah ini. Mari kita simak selengkapnya.
1. Prosesi Lamaran
Tidak jauh berbeda dengan budaya daerah lain di Indonesia, adat pernikahan di Pontianak juga diawali dengan cara perjodohan. Kendatipun demikian, perjodohan pada masa modern kini dianggap sebagai cara kuno untuk menemukan pendamping hidup.
Pada prosesi adat Melayu Pontianak istilah untuk mencari gadis yang hendak dipinang oleh pihak pria ialah ‘mengangin-anginkan.’ Kemudian, setelah pihak pria menemukan gadis yang hendak dipinang barulah perwakilan dari pihak keluarga pria akan datang menemui orangtua pihak perempuan untuk menanyakan status gadis yang diincar.
Setelah pihak wanita dipastikan masih berstatus lajang, barulah orangtua pihak pria akan mengutus keluarga dekatnya untuk datang ke rumah orangtua perempuan dengan tujuan melamar atau meminang.
Jika lamaran diterima segera dilangsungkan ke tahap selanjutnya yaitu; “Ngantar Tande”. Dalam prosesi ini keluarga pria akan membawa cincin dan seperangkat pakaian wanita sebagai tanda pengikat. Dalam acara ini pula kedua pihak keluarga akan berembuk menentukan tanggal pernikahan.
2. Merias Diri Jelang Pernikahan
Bila pengantin masa kini memilih perawatan salon dan spa menjelang hari bahagia mereka. Maka calon pengantin Melayu Pontianak juga akan melakukan sejumlah prosesi untuk mempercantik diri menjelang hari pernikahan tiba. Bedanya, prosesi adat Melayu Pontianak menggunakan bahan alami dan ritual yang sarat akan makna dan doa.
Bebedakan. Selama 40 hari sebelum tanggal pernikahan, calon pengantin wanita diharuskan berbedak dengan bahan khusus demi wajah yang lebih bersih dan segar di hari pernikahan. Selama pemakaian bedak tersebut calon mempelai wanita pun tidak diperkenankan berpergian keluar rumah.
Bertangas. Bertangas atau mandi uap merupakan prosesi sebelum hari H yang berguna untuk mengurangi keringat dan mengharumkan tubuh. Prosesi ini biasanya dilakukan satu minggu jelang hari pernikahan.
Tepung Tawar dan Mandi Berias. Dalam budaya Melayu, tepung tawar merupakan ritual peninggalan raja-raja terdahulu. Nama tepung tawar sendiri berasal dari bahan tepung besar yang dicampur air. Selain tepung beras, beberapa bahan lain seperti kembang setaman, beras kuning, siding-sidingan, balai-balai atau golai juga disertakan dalam ramuan.
Satu hari sebelum akad nikah masing-masing keluarga calon mempelai akan melakukan tepung tawar dan mandi berias dengan tujuan menolak bala dan mengharapkan keselamatan dalam menghadapi akad nikah. Dalam ritual ini juga kedua calon mempelai akan memohon doa restu dari orangtua.
Berinai. Prosesi ini merupakan suatu tradisi memberi warna merah pada kuku sebagai tanda pengantin baru yang dilakukan pada malam hari sebelum akad nikah. Warna merah sendiri dihasilkan dari daun pacar atau henna.
Bercukur dan Titek Gigi. Tradisi ini dilakukan setelah mandi dan berias tepung tawar dengan mencukur rambut-rambut halus di sekitar muka dan meratakan gigi calon pengantin agar terlihat lebih cantik.
3. Prosesi Akad Nikah
Akad nikah, lazimnya akan dilakukan di rumah calon mempelai wanita pada siang atau malam hari. Bersamaan dengan itu pula keluarga calon pengantin laki-laki akan membawa barang hantaran berupa uang dan barang atau seperangkat perlengkapan untuk calon mempelai wanita. Tahap akhir dari tradisi perkawinan Melayu Pontianak adalah “Jamu Besan,” yaitu pertemuan antara orangtua dan keluarga kedua mempelai.*
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...
Sekaten adalah Upacara Peringatan Kelahiran Nabi Muhammad SAW: Asal-usul dan sejarah serta fungsi, makna, dan nilai budaya Identitas Ritual Sekaten adalah rangkaian upacara tahunan yang diselenggarakan oleh Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW (Maulid Nabi) [S1][S3]. Ritual ini berlangsung selama delapan hari, dimulai pada tanggal 5 Rabi'ul Awal (Mulud dalam kalender Jawa) dan berakhir pada tanggal 12 Rabi'ul Awal dengan upacara penutup bernama Garebeg Mulud [S3]. Nama "Sekaten" sendiri berasal dari adaptasi istilah Arab syahadatain , yang merujuk pada dua persaksian (syahadat) dalam Islam [S1]. Komunitas pelaksana Sekaten adalah institusi keraton sebagai pusat ritual, dengan melibatkan masyarakat luas dalam prosesi dan perayaan [S2]. Lokasi utama penyelenggaraan adalah Yogyakarta, meskipun tradisi serupa juga dilaksanakan di Surakarta [S1]. Upacara ini bukan sekadar perayaan keagamaan, melainkan laku budaya-religius...
Tenun NTT: Simbol Status, Identitas, dan Kisah Leluhur Identitas dan Asal-Usul Tradisi tenun yang paling populer di Indonesia merujuk pada Tenun Ikat , khususnya varian yang berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Popularitas ini tidak terlepas dari keunikan teknik, motif, dan makna filosofisnya yang kuat dalam budaya masyarakat setempat [S1]. Tenun ikat di NTT merupakan warisan budaya yang bertahan hingga kini, diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian integral dari identitas komunitas [S2]. Secara geografis, sentra tenun ikat NTT tersebar di berbagai pulau, dengan Pulau Sumba dikenal sebagai salah satu pusat tradisi ini yang paling kuat. Di Sumba, pembuatan kain tenun ikat tradisional masih lestari, dengan kampung-kampung seperti Kanatang dan desa-desa di wilayah Sumba Timur menjadi lokasi perajin aktif [S3]. Proses pembuatannya sangat mengikat dengan sejarah dan kehidupan masyarakat, di mana kain tenun bukan sekadar produk ekonomi tetapi juga warisan leluhur yang...