Salah satu potongan manuskrip cetakan yang diterbitkan oleh Tan Khoen Swie di Kediri pada tahun 1926. Lakon Dewaruci yang diterbitkan melalui buku ini berupa tembang Macapat, antara tembang Dhandhanggula dan sinom. Diselingi juga dengan wayang kulit yang menggambarkan pencarian Werkudara untuk mencari air pemberi kehidupan. Selain itu, teks lakon Dewaruci juga pernah diterjemahkan atau diterjemahkan ke dalam bentuk prosa oleh Mas Ngabei Mangundwija dari Wonogiri pada tahun 1922.
Selengkapnya bisa diakses di Perpustakaan Tembi Rumah Budaya Yogyakarta, di Jalan Parangtritis Km 8.4 , Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul.
Transliterasi: /I . lembute, salémbuting banyu, isih lembat kamuksan iki, langkung alit kamuksan, saaliting tengu, pan ish alit kamuksan, liring luwih amisesa ing sakalir, living lembut alitnya//
//Bisa nuksma ing agal lan alit, kalimput tan sagung kang rumangkang, gumrèmet uga tanpa he, kaluwihan satuhu, luwih dening ingkang nampani, tan kena ngandéléna, ing warah lan wuruk, den sanget pangudinira, raganira wasuhen praptanya ngungkih, wruha rungsiting tingkah//
// Wuruk iku kang minangka wiji, kang winuruk upamane papan, anglir kacang lan kadhele, sinebar munggwing watu, yen watune datanpa siti, kodanan kapanasan, yekti nora thukul, lamun uwis wicaksana, tingalira sirakna ananireki, dadi tingaling suksma//
//Rupa lawan swaranira nuli, ulihena mring kang duwe swara, jer sira mung ngaken bae, sesulih kang satuhu, nanging haywa darbe sireki, pakarèman lyanira, saka ing Hyang Agung, dadi sarira Pangeran, obah mosikira wus dadi sawiji, ywa loro anggépira//
//Lamun dadi anggèpira pesthi, yen ngrasa loro isih was-uwas, kêna ing rengu yektine, yen wus siji sawwjud, sakarënteg ing tyas sayekti, apa wis nedya ana, kang cinipta rawuh, (35) wis kawengku aneng sira, ing sajagad jer sira ingkang kinardi, gégênti den asagah//
I/ Yen wus mudhing pratingkah puniki, den awingit lawan den asasab, andhap asor penganggone, nanging ing batinipun, ing sakedhap tan kêna lali, laire sasabana, kawruh patang dhapur, padha anggépèn sadaya, kalimane kang siji iku permati, kanggo ing kene kana//
//Lire mati sajroning ngaurip, iya urip sajroning palastra, nanging urip salawase, kang mati iku napsu, badan lair ingkang nglakoni, katampan badan nyata, pamore sawujud, pa gene ngrasa matia, Wrekodhara ing tyas padhang anampani, inggih ingkang nugraha//
//Lir sasangka katawengan riris, praptaning wahyu ngima nirmala, sumilak ilang règède, Dewa Ruci amuwus, andikane manis aririh, tan ana aji paran, kabeh wis kawengku, tan ana kang kaulapan, kaprawiran kadigdayan wis kawingking, sagung rehing ngayuda//
// Telas wulangnya sang Dewa Ruci, Wrekodhara ing tyas datan kewran, wus wruh mning gamane dhewe, hardaning swara muluk, tapa elar anjajah bangkit, sawengkon jagad raya, sagung wus kawengku, mati pamardining basa, saenggane sekar maksih kudhup lami, mangkya sekar ambabar// //Wimbuh war...//
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...
Panduan Memahami Asal Usul Gresik: Dari Jejak Sejarah hingga Etimologi Nama Gresik, yang dijuluki Kota Wali karena peran pentingnya dalam penyebaran Islam di Jawa, merupakan salah satu wilayah bersejarah di pesisir utara Pulau Jawa. Memahami asal usul daerah ini tidak hanya menyangkut pengetahuan kronologis semata, tetapi juga memerlukan analisis terhadap berbagai lapisan sumber—dari prasasti kuno, naskah babad, hingga catatan kolonial. Panduan ini dirancang untuk membantu pembaca menavigasi kompleksitas historiografi Gresik secara sistematis, mulai dari etimologi nama hingga penetapan identitas administratifnya sebagai kabupaten. Sumber Sejarah dari Masa Jawa Kuno Dalam tradisi historiografi Indonesia, Gresik menempati posisi unik karena keberadaan sumber-sumber tertulis dari periode Jawa Kuno. Dua dokumen kuno menjadi landasan utama bagi para sejarawan dan budayawan dalam menelusuri akar historis wilayah ini (Sumber 3). Pertama, Babad Hing Gresik merupakan naskah sejar...
Rambu Solo': Ketika Kematian Menjadi Perayaan Perjalanan Bagaimana mungkin kematian—yang di banyak budaya menjadi momen duka dan kehancuran—diubah menjadi sebuah pesta yang memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun? Bagi Suku Toraja di Sulawesi Selatan, kematian bukanlah titik akhir, melainkan pintu masuk menuju perjalanan terakhir yang memerlukan persiapan ritualistik yang rumit dan mahal. Inilah inti dari Rambu Solo' , upacara pemakaman dalam ajaran Aluk Todolo yang mengubah penguburan menjadi sebuah spektakul budaya penuh makna. Menunggu di Antara Dua Dunia Paradoks pertama dari Rambu Solo' terletak pada pengertian kematian itu sendiri. Dalam logika Aluk Todolo —kepercayaan leluhur Suku Toraja—seseorang yang baru meninggal secara fisik belum benar-benar "mati" secara spiritual. Mayat akan disimpan terlebih dahulu di dalam rumah, bukan untuk segera dikubur, melainkan menunggu waktu yang dianggap tepat (Sumber 4). Masa tunggu ini bisa berlangsung berm...