Naskah Kuno dan Prasasti
Naskah Kuno dan Prasasti
Pancasila dan Kebhinekaan Nusantara Sumatera Barat Kota Padang
Merawat Indonesia dengan Membumikan Pancasila dan Toleransi dalam Pluralitas
- 26 Mei 2023

Indonesia adalah negara besar dengan ragam etnik, bahasa dan agama serta kepercayaan. Penduduknya yang heterogen sangat memungkinkan terjadinya konflik etnik yang muncul disebabkan ketidakpahaman tentang Pancasila sebagai dasar negara. Sebagai dasar negara, Pancasila merupakan ideologi yang disepakati oleh seluruh Warga Negara Indonesia (WNI) dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Agar Pancasila itu dapat dipahami dengan benar maka dibentuklah BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila). Pancasila sebagai pandangan hidup tentu harus diperkuat dengan kebulatan tekad menyatukan pandangan hidup seluruh elemen bangsa, memberikan keyakinan bahwa perbedaan merupakan keniscayaan lahiriah, bahkan rahmat dari Tuhan. Hal ini disampaikan oleh Prof.Yudian Wahyudi sebagai Ketua BPIP yang dapat diakses melalui You Tube Sekretariat Presiden Republik Indonesia (kampus.republika.co.id, diakses 25 Mei 2023). Masih teringat dalam benak penulis bagaimana kejamnya konflik etnik dan agama yang terjadi paska reformasi. Tragedi Sambas yang dipicu atas kejengkelan etnis melayu terhadap oknum pendatang Madura mengakibatkan sebanyak 1.189 orang tewas, 168 terluka berat, 34 luka ringan, 3.833 rumah dibakar dan dirusak, serta 12 mobil dan 9 motor dibakar atau dirusak. sebanyak 58.544 warga Madura mengungsi dari Kabupaten Sambas ke Pontianak (kompas.com, diakses 25 Mei 2023). Konflik antar etnis ini merupakan akibat dari tidak adanya policy pemerintah untuk mengatur sistem ekonomi yang jelas di daerah, hingga timbul kesalahpahaman antar etnis Melayu dengan Madura. Akibat kondisi tersebut, banyak kalangan etnis Melayu khususnya pemuda terpaksa meninggalkan daerah Sambas dan pergi merantau ke Malaysia, Batam dan Kota Pontianak. Sementara etnis Madura yang berhasil dalam bidang ekonomi, mulai terjun ke bidang politik. Sebelumnya akhir tahun 1996 telah terjadi kerusuhan di Sanggauledo, Kalimantan Barat. Kejadiannya berawal dari senggolan dangdut. Di antara keremangan Minggu malam 29 Desember itu, ketika anak-anak muda tersebut asyik berjoget, dua pemuda tuan rumah menyenggol seorang wanita yang dibawa pemuda Sanggau Ledo. Tak senang kawan wanitanya disenggol, sekelompok pemuda dari Sanggau Ledo melabrak. Mereka kemudian mengeroyok kedua pemuda tadi. Di antara pengeroyok, tiba-tiba ada yang menghunus senjata tajam, lalu tubuh kedua pemuda itu bergantian rebah bersimbah darah. Mereka segera dilarikan ke rumah sakit Bethesda di Kecamatan Samalantan. Lantas tersiar kabar, kedua pemuda setempat suku Dayak itu meninggal dalam perjalanan. "Padahal mereka masih dirawat di rumah sakit," kata Kolonel Zainuri Hasyim --waktu itu Komandan Korem Kalimantan Barat--. Namun desas-desus telanjur menyebar. Kerusuhan tak berhenti di kampung kecil yang letaknya tak jauh dari perbatasan negeri Sarawak, Malaysia Timur, tersebut. Beberapa penduduk asal Madura yang tinggal di kecamatan tetangga, seperti Ledo, Bengkayang, dan Samalantan, juga terpaksa mengungsi. Hingga 2 Januari 1997, empat hari setelah Kerusuhan Sanggau Ledo, sekitar 4.000 orang telah "hijrah" ke Singkawang. Panglima Kodam (Pangdam) VI/Tanjungpura Mayor Jenderal Namoeri Anoem yang berkantor di Balikpapan, Kalimantan Timur, datang ke daerah kerusuhan. Ia juga mengirimkan pasukan tambahan (wikipedia.org, diakses 25 Mei 2023). Kerusuhan etnik yang berakhir dengan tragedi menyisakan rasa yang tidak mengenakkan dalam perjalanan sejarah kebangsaan kita. Kedamaian telah dirusak oleh perbuatan oknum dan provokasi yang membakar sentimen etnis. Seyogianya persoalan sepele itu dapat diselesaikan dengan kepala dingin dan jiwa besar. Merawat Indonesia adalah tugas berat kita sebagai generasi penerus bangsa Indonesia. Cara yang terbaik adalah membumikan Pancasila yang dimulai dari keluarga. Perlu dijelaskan kepada anggota keluarga bahwa memahami Pancasila itu harus seutuhnya tidak parsial belaka. Kita meyakini sila Ketuhanan Yang Maha Esa seyogianya perilaku kita semestinya mencerminkan insan yang beragama. Tidak dibenarkan mencela agama dan kepercayaan orang lain. Kita seyogianya menerima perbedaan. Menghargai perbedaan itu dengan toleransi. Menghargai perbedaan itu ibaratnya seperti nongkrong di warung bersama teman-teman dengan memesan minuman yang berbeda. Misalnya ada yang memesan kopi, teh, capucino, dan lainnya. Kita hendaknya tidak memaksakan selera kita kepada orang lain. Yang paling penting kita menghargai pilihan hidup mereka sebagaimana kita menghargai minuman yang dipesan teman kita. Pluralitas adalah keberagaman atau kemajemukan yang terdapat dalam suatu bangsa yang mendorong tumbuhnya persatuan dan kesatuan. Persatuan dan kesatuan itu muncul bukan berdasarkan teriakan “Saya Indonesia!” atau “Saya Pancasila!”. Akan tetapi muncul dari kesadaran kita bahwa mencintai Indonesia adalah satu kewajiban yang mulia. Mencintainya dengan tidak melakukan stereotipe negatif terhadap orang-orang yang berbeda dengan keyakinan kita. Dalam peringatan hari lahir Pancasila yang berlangsung 1 Juni maka perlu diadakannya Pekan Pancasila. Pekan Pancasila ini seyogianya dimeriahan dengan acara atau kegiatan gotong royong, pidato tentang Pancasila dan Kuis tentang Pancasila. Bagi yang menjawab tentunya akan memperoleh reward yang sepantasnya. Penulis masih mengingat sebelum keruntuhan orde baru. Di Taman Ria, tepatnya di Kota Medan, setiap bulan bakti Pancasila sering diadakan kuis yang berkaitan dengan Pancasila. Penulis sempat memperoleh hadiah berupa alat tulis kantor karena berhasil menghapal Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945. Indoktrinasi yang dilakukan orde baru itu sangat bagus sehingga kita bisa mengulangkaji tentang dasar negara Indonesia. Aku tidak mengatakan aku yang menciptakan Pancasila. Apa yang ku kerjakan adalah menggali jauh ke dalam bumi kami, tradisi-tradisi kami sendiri dan aku menemukan lima butir mutiara yang indah. Demikian quote Soekarno, Presiden Republik Indonesia pertama.

Daftar Pustaka

  1. Kompas Online. 2021. Kerusuhan Sambas 1999:Penyebab, Kronologi dan Dampak. URL : https://www.kompas.com/stori/read/2021/08/06/150000479/kerusuhan-sambas-1999-penyebab-kronologi-dan-dampak?page=all. Diakses 25/05/2023.
  2. Republika Online.2022. Apa itu BPIP? Apa Tugasnya?. URL : https://kampus.republika.co.id/posts/149542/apa-itu-bpip-apa-tugasnya-, diakses 25/05/2023.
  3. Wikipedia Online.2021.Peristiwa Sanggoledo. URL : https://id.wikipedia.org/wiki/Peristiwa_Sanggoledo. Diakses 25/05/2023.

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
PESAN INDUK TI KIDUNG LAKBOK
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

PESAN INDUK TI KIDUNG LAKBOK Hikmah Karuhun Pikeun Kahirupan Ditulis ku: Henry Purwanto Kategori: Etika, Moral & Pepatah PENDAHULUAN Kidung Lakbok lain ukur carita baheula. Lian ti éta, ieu naskah kuno nyimpen pituduh anu jero pisan pikeun kahirupan urang di jaman kiwari. Karuhun urang teu ngan ninggalkeun carita, tapi ogé pangalaman, peringatan, jeung hikmah. Ieu pesan induk jadi pondasi pikeun urang hirup: ngajaga jati diri bari tetep maju ka hareup. Hayu urang bahas hiji-hiji. ULAH POHO KA ASAL-USUL (Jangan Lupa Pada Asalnya) Makna: Saha urang, ti mana asalna, naon sajarah karuhun urang – kabehna kudu dipikanyaho. Ulah isin ku sajarah sorangan, sabab dinya tempat urang tumuwuh. Kaitan jeung Lakbok: Karajaan Bandjarpatroman téh akar ti wewengkon ieu. Lamun urang poho sajarah, sarua jeung neangan leungit jati diri. Urang bakal gampang kaileng ku budaya deungeun anu teu saluyu jeung ajén-inajén lembur. Pesen: Sugema jeung bagja téh mimitina mah nya tina n...

avatar
Gulamerah