Sumber: https://lektur.kemenag.go.id/
Logo Kemenag RI LKK_BANTEN2013_MBG05 [Tuntunan Hidup]
LKK_Banten2013_MBG05
Bhs. Arab dan Jawa
Aks. Arab
Prosa
LL
52 hal/11 baris/hal.
17 x 10,2 cm
Kertas Eropa
Naskah ini berisi satu teks, yaitu naskah yang berisikan berbagai hal ihwal yang menuntun manusia dalam kehidupan, baik masalah thaharah, ibadah, amaliyah, hingga tasawuf, dalam rangka ibadah kepada Allah. Naskah merupakan koleksi Museum Banten Girang dengan nomor (1073/BB/Aa/1/195)899 KBN. Naskah kurang lengkap, ada beberapa halaman awal dan akhir yang hilang, penulis dan penyalinnya tidak disebutkan.
Naskah ini tidak memiliki nomer halaman, memiliki kata alihan, memiliki beberapa ilustrasi, dan tidak memiliki iluminasi. Naskah ditulis diatas kertas eropa dengan watermark dan counter mark, namun agak sulit untuk mengidentifikasinya, karena tertutupi oleh tulisan, dan ditulis dengan tinta hitam dan merah.
Kondisi naskah kurang baik, terbaca, ada beberapa halaman yang hilang dan lepas dari jilidannya, sebahagian masih dijilid dengan benang, Sampul masih asli, berbahan kulit, memiliki hiasan, dan diduga berasal dari timur tengah.
Naskah ini memiliki beberapa teks dengan jumlah halaman yang sedikit pada teksnya, yaitu: Teks 1, berisikan tentang wawacan junub dan janabah hal 1-3. Teks 2, berisi tentang Qurban hal.3-4. Teks 3, tentang martabat orang mati hal. 4-7. Teks 4, tentang hukum kang patang perkara, adapun ke 4 hukum tersebut adalah hukum adat, hukum wajib, hukum mauhal dan hukum wewenang. Teks 5, tentang hukum 4 perkara yang ada dalam diri kita. Teks 6, tentang syari’at, hakikat, tarekat dan ma’rifat. Teks 7, tentang hakikat ruh, hati, syurga dan neraka. Teks 8, tentang huruf bismillahirrahmanirrahim yang ada 20 huruf, namun dalam teks ini hanya sampai huruf yang ke-7 karena halaman selanjutnya hilang. Teks 9, tentang wujud hayat hayun adam hanya ada 1 halaman dan halaman tidak lengkap. Teks 10, tentang lafadz lailahaillah yang ada 12 huruf. Dan teks 11, yaitu tentang ilmu kalam dan tauhid, tentang masalah yang menyatakan 30 huruf , salah satunya sifat yang 20 yang wajib kita ketahui.
Kutipan awal:.....‘alaihi wasalam iku ajaran zohir rang wulan maulud tanggal rolas ing dina isnay iku dudu junub dina rasane kang danya zahiraken ay iku muayne ana wawacan junub lan janabah iku asaale saking kalimah rawlah asal wong alaki robbihi iku anane takesa junub iku ambu wong hadas lan utawi jika kundumat wujudayhi sababe kawajiban sembahyang jum’ah......
Kutipan Akhir:..... dina kandunya dina aminah iya iku mulane ana malam selikur lan ana tarawih iya iku ana huri larane aminah kaburat al mahandus iku mulaine ana malam telu likur iya iku cahaya nur buwat Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam waktune dina kandunya dayang aminah...... (YN)
ROTASI GAMBAR 90�LKK_BANTEN2013_MBG05 1 / 32StartStop
Manuskrip Puslitbang Lektur - Kementrian Agama RI Copyright © 2020 Kementrian Agama RI. Supported By Web Design Jakarta
Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...
Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...