Ndiha Rasa atau dalam Bahasa Indonesia berarti Kampung Ramai; (diterjemahkan sebagai Pesta Rakyat), merupakan salah satu tradisi masyarakat Bima yang berkembang sejak era kerajaan dan terus dirawat hingga era kesultanan dengan beberapa penyesuaian. Tradisi pesta rakyat ini dilakukan setiap satu tahun sekali, biasanya dilakukan setelah musim panen sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang diperoleh. Masyarakat di masing-masing wilayah biasanya membuat acara besar dengan prosesi utamanya berupa do'a-do'a syukuran, yang berlanjut dengan berbagai acara hiburan dengan ciri dan karakter masing-masing wilayah yang dilakukan selama kurang lebih satu sampai dua minggu. Misalnya yang paling khas dan unik: Taji Tuta (Adu kepala) di Wawo, Ndempa Ndiha (Tarung bebas tangan kosong berkelompok yang dibagi ke dalam beberapa tingkatan umur) di Belo, Kabanca (Saling mengejek dan memperlihatkan kemampuan beratraksi di atas kuda, kemudian saling berusaha menjatuhkan lawan dari kudanya) di Lambu...
Mpa'a Manca (Bermain Manca; berasal dari kata Mpa'a Makanca (permainan yang berbunci Nca; bunyi benturan besi), merupakan salah satu tarian tradisional berpasangan yang memadukan gerakan dinamis dan seni bela diri berpedang. Sehingga tarian ini dikenal juga sebagai tarian pedang berpasangan dari Bima. Gerakan-gerakan dalam Mpa'a Manca menampilkan simulasi pertarungan menggunakan pedang, dengan perpaduan antara kelincahan dan ketangkasan para penari. Tarian ini mencerminkan semangat keberanian dan keperkasaan, yang menjadi karakteristik masyarakat Bima sejak dahulu kala. Selain itu, Mpaa Manca juga mengandung nilai seni yang tinggi, dengan irama musik pengiring yang memacu semangat. Sementara untuk tarian pedang tunggal disebut Mpa'a Sondi (Tarian Pedang).
Mpaa Soka adalah tarian tradisional resmi acara kenegaraan yang memperlihatkan ketangkasan prajurit menggunakan tombak.
Mpaa Buja Kandanda memiliki kesamaan dengan Mpaa Soka yang juga merupakan salah satu seni tarian dalam tradisi Bima, yaitu sama-sama menggunakan tombak dan perisai, tetapi dalam bentuk yang lebih bebas dan menonjolkan elemen pertarungan antara dua orang terlatih. Tarian ini memperlihatkan kemampuan dan ketangkasan para penari dalam menggunakan tombak dan perisai. Gerakan-gerakan dalam Mpaa Buja Kandanda sering kali menyerupai simulasi pertarungan antar prajurit, yang bertujuan untuk menunjukkan keahlian bela diri dan seni bertarung di hadapan khayalak umum. Tarian ini menjadi simbol keberanian dan kekuatan fisik, sekaligus menjadi hiburan yang penuh energi dan memukau.
Mpa'a Kabanca atau Mpa'a Kabhanca adalah tradisi unik di Bima yang melibatkan atraksi di atas kuda yang dulunya berkembang di wilayah Timur Bima (Sape-Lambu). Dalam tradisi ini, peserta saling mengejek dengan cara saling memperlihatkan kemampuan dan kemahiran mereka dalam mengendalikan kuda sambil melakukan berbagai atraksi; memancing lawan. Setelah beberapa saat, dilanjutkan dengan usaha saling menjatuhkan lawan dari kudanya dengan bantuan fisik langsung maupun menggunakan bantuan tongkat tombak. Umumnya, sasaran yang boleh disentuh menggunakan tongkat tombak hanya di wilayah di bawah leher hingga ke pinggang, atau yang terlindungi oleh pakaian pelindung khusus yang terbuat dari kulit dan atau baju jirah yang terbuat dari rantai besi kecil yang dibentuk sedemikian rupa hingga menjadi baju jirah. Namun di beberapa kasus tertentu, jika ada kesepakatan yang lebih ekstrim di antara kedua pihak, maka keduanya sama-sama tidak akan menggunakan alat pelindung, juga lokasi sasaran bisa ke sel...
Mpa'a Oro Gata adalah salah satu permainan tradisional dari Bima, Nusa Tenggara Barat, yang diwariskan dari generasi ke generasi. Secara harfiah, istilah ini memiliki arti sebagai berikut: Mpa'a: Bermain Oro: menggelindingkan, melemparkan, melepaskan. (penggunaannya sesuai konteks kalimat dan kondisi) Gata: Karet Gelang Jadi, Mpa'a Oro Gata berarti "bermain melempar/menggelindingkan karet gelang." Permainan ini sederhana, tetapi memerlukan ketangkasan dan strategi, menjadikannya salah satu hiburan yang digemari masyarakat, terutama oleh anak-anak. Aturan dan Cara Bermain Permainan ini dilakukan di tanah lapang dengan aturan dan tata cara sebagai berikut: Persiapan Lapangan dan Alat Tiga ranting kecil atau paku setinggi setengah jari orang dewasa ditancapkan ke tanah hingga membentuk formasi segitiga sama sisi. Karet gelang menjadi alat utama permainan. Jarak Permainan Pemain menggelindingkan karet gelang dari jarak sekitar 4-5 meter menuju...
Mpaa Sere adalah tarian tradisional yang bertujuan untuk menyambut tamu penting sebagai bentuk penghormatan, sambil sesekali memperlihat ketangkasan mereka menggunakan tombak di sepanjang perjalan pengawalan, namun tidak sampai berlebihan seperti yang dilakukan pada Mpaa Buja Kandanda. Dalam tarian Mpaa Sere ini, penari membawa tombak dan perisai sebagai perlengkapan utama, yang melambangkan perlindungan dan kesiapan. Gerakan tarian ini penuh makna, mencerminkan sikap hangat masyarakat Bima dalam menerima tamu. Penari Mpaa Sere biasanya mengawal tamu dari pintu kedatangan hingga ke istana atau ke tempat utama acara berlangsung. Tarian ini tidak hanya menunjukkan keramahan, tetapi juga menggambarkan bagaimana masyarakat Bima menjaga kehormatan dan keamanan tamu mereka.
MAKKA atau MAKA merupakan salah satu tradisi sakral dalam budaya Bima. Tradisi ini berupa ikrar kesetiaan kepada raja/sultan atau pemimpin, sebagai wujud bahwa ia bersumpah akan melindungi, mengharumkan dan menjaga kehormatan Dou Labo Dana (bangsa dan tanah air). Gerakan utamanya adalah mengacungkan keris yang terhunus ke udara sambil mengucapkan sumpah kesetiaan. Berikut adalah teks sumpah prajurit Bima: "Tas Rumae… Wadu si ma tapa, wadu di mambi’a. Sura wa’ura londo parenta Sara." "Yang mulia tuanku...Jika batu yang menghadang, batu yang akan pecah, jika perintah pemerintah (atasan) telah dikeluarkan (diturunkan)." Tradisi ikrar sumpah setia dalam Budaya Bima dilakukan dalam beberapa momen: Makka itu sendiri, adalah upacara sumpah kesetiaan yang dilakukan oleh prajurit kerajaan. Mihu, adalah upacara sumpah kesetiaan yang dilakukan oleh pejabat-pejabat kerajaan. Mpisi, adalah upacara ikrar sumpah kesetiaan saat seorang anak laki-laki saat m...
Lombok: Simbolisme Tersembunyi di Setiap Helai Tenun Identitas dan Asal-Usul Tenun adalah teknik pembuatan kain yang menggunakan benang yang disusun secara memanjang dan melintang, menghasilkan berbagai jenis kain yang kaya akan makna dan simbolisme. Di Indonesia, tenun memiliki banyak variasi yang berasal dari berbagai daerah, termasuk Lombok, yang dikenal dengan kain tenun ikatnya. Kain tenun ikat Lombok tidak hanya berfungsi sebagai pakaian, tetapi juga mencerminkan identitas budaya dan nilai-nilai sosial masyarakat setempat [S1][S4]. Lombok, sebagai salah satu sentra tenun di Indonesia, memiliki sejarah yang panjang dalam tradisi ini. Kain tenun di daerah ini sering kali dibuat dengan teknik ikat, di mana benang diberi pola sebelum proses penenunan dimulai. Teknik ini menghasilkan motif yang khas dan beragam, mencerminkan keunikan budaya Lombok [S2][S5]. Selain itu, kain tenun dari Lombok sering kali dipadukan dengan makna simbolis yang mendalam, yang berkaitan dengan kehidu...