Lebaran Cakung Kranggan “Budaya merupakan suatu keseluruhan yang bersifat kompleks. Keseluruhan tersebut meliputi kepercayaan, kesusilaan, adat istiadat, hukum, seni, kesanggupan dan juga semua kebiasaan yang dipelajari oleh manusia yang merupakan bagian dari suatu masyarakat.” – E.B. Taylor Seperti apa yang dikemukakan oleh E.B. Taylor , budaya bersifat kompleks yang mencakup beberapa aspek dalam kehidupan suatu masyarakat. Beda kelompok masyarakat, beda juga kebudayaannya. Setiap kelompok masyarakat mempunyai ciri khas budayanya masing-masing. Begitu pula halnya dengan negara kita tercinta, Negara Kesatuan Republik Indonesia. NKRI merupakan negara kepulauan yang penuh dengan kekayaan dan keragaman budaya. Memiliki 34 provinsi menjadikan Indonesia mempunyai ribuan kebudayaan di setiap daerahnya. Salah satu provinsi dengan kekayaan budaya yang melimpah adalah Jawa Barat. Provinsi Jawa Barat yang memiliki 18 kabupaten dan 9 kota tentu mempuny...
Siapa yang suka kuliner? Mungkin bisa dibilang hampir semua orang suka kuliner. Mulai dari makanan dan minuman modern, hingga yang tradisional. Jika berbicara tentang kuliner, mungkin kata "Bandung" terlintas di pikiran kita semua. Ya, karena Bandung memang terkenal dengan julukan "Kota Kuliner" karena makanan dan minumannya yang khas dan beragam. Salah satu makanan khas Bandung yang akan saya paparkan di sini adalah rujak cuka. Rujak cuka merupakan makanan khas Bandung yang rasanya manis, asam, dan pedas. Rujak cuka itu sendiri sangatlah bervariasi. Ada yang memakai tauge dan buah, ada juga yang memakai campuran sayuran. Rujak cuka memang mirip dengan asinan Bogor. Namun tentu saja rujak cuka dan asinan bogor itu berbeda. Rujak cuka memiliki kuah yang lebih sederhana. Perbedaan lainnya adalah tidak adanya proses pengacaran melalui pengasinan dengan garam atau pengasaman dengan cuka. Jadi, buah dan sayuran di rujak cuja memiliki rasa yang lebih original. Rujak cuka itu se...
BUDAYA BANIAN Acara Kumpul Keluarga Besar di Tasikmalaya Banian balerasal dari bahasa Arab yaitu Bani/ Banu (بÙÙ/ بÙÙ) yang artinya adalah keluarga, klan, atau keturunan. Maka arti Banian adalah berkumpulnya sebuah keluarga besar. Acara ini biasanya diadakan untuk saling mengenal antara keluarga yang memiliki keturunan yang sama. Pada mulanya acara ini diadakan oleh para bangsawan Sukapura - Tasikmalaya, Ciamis, Garut, Pangandaran, dan Banjar - untuk mempertemukan cabang keluarga mereka. Seiring dengan berkembangnya waktu, acara banian tidak hanya diadakan oleh keluarga bangsawan namun juga oleh keluarga dari kalangan biasa namun masih dengan tujuan yang sama, yaitu untuk saling mengenal antar keluarga dengan keturunan yang sama. Acara banian ini menjadi salah satu rangkaian acara saat Idul Fitri di Tasikmalaya dan sekitarnya. Acara ini selain untuk mempererat hubungan keluarga, biasanya acara ini pula menj...
Tradisi tahunan yang rutin dilaksanakan oleh nelayan Indramayu setiaop dua mingu setelah lebaran idul fitri. Kata Nadran sendiri berasal dari kata Nadzar-Nadzaran. Nadran yang berarti kaul atau syukuran. Syukuran nelayan Indramayu perihal diadakannya tradisi ini sendiri adalah atas rejeki melimpah yang diberikan tuhan kepada mereka baik berupa keselamatan ketika berlayar di laut maupun hasil ikan yang melimpah sepanjang tahun yang lalu. Tradisi Nadran mula-mula diawali dengan diadakannya pagelaran tari-tarian dan hiburan rakyat tradisional seperti rego, jaipong, genjring, tari kerbau, dll. Semua warga nelayan Indramayu yang hadir hari itu tumplek-blek menikmati pesta tahunan ini hingga pesta ini menjadi begitu meriah. Kemeriahan pun tampak di dalam ruangan khusus dimana ibu-ibu dan bapak-bapak nelayan yang dianggap kompeten menyiapkan meron yang akan dilarung keesokan harinya. Meron sendiri merupakan sebuah miniat...
Nganteuran "Nganteuran" adalah istilah yang dipakai di daerah Pangandaran, lebih tepatnya di daerah Cijulang untuk mengantar makanan kepada sanak saudara maupun tetangga ketika 1-2 hari menjelang Idul Fitri. Makanan biasanya berisi makanan siap santap seperti nasi, tumis kentang, kacang goreng, olahan daging, bihun, mie goreng, dan lalawuh (biasanya berisi opak, rengginang, rempeyek,dodol, dll). Biasanya makanan tersebut disimpan diatas keranjang berbentuk lingkaran yang terbuat dari plastik tipis yang sudah dialasi oleh kertas nasi, lalu nasi ditaruh diatasnya dan diratakan, lalu ditutup lagi menggunakan plastik nasi, semua lauk pauknya disimpan diatas nasi tersebut, lalu keranjang itu dibungkus oleh keresek dan siap diantar ke sanak keluarga dan tetangga. #OSKMITB2018
Budaya ngabedahkeun merupakan salah satu budaya sunda yang sudah ada sejak dahulu. Menurut penuturan narasumber yang merupakan ayah kandung penulis, budaya ngabedahkeun balong khususnya di Kampung Kalapasewu, Mangunreja, Kabupaten Tasikmalaya telah ada sejak beliau kecil atau sekitar tahun 1960-an. Budaya ngabedahkeun merupakan tradisi 6 bulanan bagi pemilik-pemilik balong (kolam) di daerah sana yang mana fungsinya adalah untuk menangkap ikan-ikan yang memang biasanya dibudidayakan di balong tersebut. Budaya ngabedahkeun juga sering dilakukan warga menjelang perayaan hari-hari besar tertentu, seperti : Munggahan (Awal Bulan Ramadhan), Hari Raya Idul Fitri, dan saat Muludan (Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW). Menurut penuturan narasumber, ngabedahkeun merupakan salah satu proses menangkap ikan dengan cara mengurangi & membuat...
Kue ali agrem merupakan salah satu makanan tradisional Sunda yang berasal dari Karawang, yang sekilas bentuknya mirip dengan donat karena berbentuk bulat dan bolong pada bagian tengahnya. Konon kue ini disebut ali agrem, merujuk kepada bentuknya menyerupai cincin, dimana dalam bahasa Sunda cincin adalah ali. Kue berbahan tepung beras dicampur dengan gula merah lalu digoreng ini, dahulu selalu hadir dalam berbagai acara yang berkaitan dengan tradisi yang berlangsung dalam masyarakat Sunda seperti pernikahan, khitanan, tujuh bulanan, ataupun dalam perayaan hari besar keagamaan seperti Idul Fitri. Bahan - bahan yang diperlukan untuk kue ali agrem: 1 buah Kelapa setengah tua, kupas, parut kasar, terus sangrai sampai berwarna coklat 75 gra Gula Merah 150 ml Air 250 gr Tepung Beras 75 gr Gula pasir 1/4 sendok teh Garam Minyak untuk menggoreng Cara Membuat kue ali agrem : Campurkan bahan-bahan seperti tepung ketan, tepung beras, garam dan parutan kelapa, lalu tambahkan air dan aduk-ad...
Umat muslim di Indonesia, kususnya di daerah jawa memiliki tradisi bersalam-salaman setelah melaksanakan shalat ied. Terutama setelah shalat ied saat idul fitri maupun setelah shalat ied saat idul adha. Setelah melaksanakan shalat berjamaah 2 rakaat dan mendengarkan khutbah, jamaah akan berdiri dan bersalam salaman. Di mulai dari imam, lalu shaf pertama, dilanjut shaf ke dua dan seterusnya sampai shaf paling belakang. Imam akan memgikuti jalur shaf sehingga dapat bersalaman dengan semua jamaah, setiap jamaah yang telah bersalaman akan megikuti imam dana melanjutkan bersalaman hingga ke shaf yang paling belakang. Ikwan dan akhwat tidak di satukan, keduanya punya jalur masing masing. Kegiatan ini memiliki tujuan untuk memeperkuat tali silaturahmi atau dengan kata lain persaudaraan. Setelah melaksanakan kegiatan ini di harapkan jadi saling mengenal atau setidaknya tau siapa saja orang yang berada di daerahnya. Jauhnya lagi bisa tau kabar, terutama orang orang yang sedang ditimpa mu...
Terdapat sebuah tradisi perayaan Idul Adha dari Cirebon yang dipercaya merupakan dakwah dari Sunan Gunung Jati sebagai penyebar agama Islam di tanah Cirebon. Tradisi ini disebut tradisi Gamelan Sekaten yang selalu dibunyikan setiap perayaan hari besar agama Islam yaitu, Idul Fitri dan Idul Adha. Alunan Gamelan yang berada di sekitar area Keraton Kasepuhan Cirebon, menjadi penanda bahwa umat Muslim di Cirebon merayakan hari kemenangan. Rangkaian Gamelan dibunyikan sesaat setelah sultan Keraton Kasepuhan keluar dari Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Referensi: https://www.indonesia.travel/id/id/ide-liburan/tradisi-unik-perayaan-idul-adha-di-indonesia-aja-yang-perlu-kamu-tahu https://cirebon.tribunnews.com/2020/05/24/sejarah-tradisi-penabuhan-gamelan-sekaten-di-keraton-kasepuhan-cirebon-setiap-idulfitri-dan-iduladha