PAPUA , wilayah paling timur Indonesia ini dikenal menyimpan kekayaan alam yang luar biasa. Ada laut yang indah, pantai pasir putih, gunung, hutan, rimba, dan kebun. Objek wisata yang paling mendunia adalah Raja Ampat. Setiap turis yang datang, baik lokal maupun mancanegara pasti kagum melihat pulau-pulau yang bersusun di sekelilingnya. Namun, bicara soal Papua dan kekayaan alamnya, maka tak lengkap jika tak bicara soal makanan khas kawasan yang disebut-sebut surga dunia ini. Makanan khas Papua yang paling terkenal kelezatannya adalah Papeda dan sop asam, berbagai olahan ikan. Meski semua itu nikmat dan menggugah selera tetapi ada satu rahasia yang membuat masakan khas Papua jadi super nikmat. Apalagi kalau bukan sambal dabu-dabu. Sambal yang disajikan mentah ini sangat membuat semua makanan naik level jadi lebih sensasional. Menurut Tante Selly, wanita paruh baya asal Papua yang tinggal di Wardo, Biak, sambal dabu-dabu adalah sambal yang disajikan untuk makanan seh...
Nasi Astakona merupakan salah satu kuliner khas masyarakat Banjar yang berasal dari tradisi Kesultanan Banjar di Provinsi Kalimantan Selatan. Dalam perkembangannya, nasi astakona dapat disajikan dalam prosesi pernikahan adat Banjar. Biasanya disantap pada acara Badadapatan (santap bersama setelah pengantin bersanding di pelaminan). Astakona merupakan sebuah kata yang terdapat dalam istilah sastra Indonesia lama yang berarti segi banyak. Hal ini dapat dilihat dari cara penyajiannya hidangan yang cukup banyak dan disajikan pada tempat khusus berupa talam yang bertumpang 3-5 susun. Hidangan umumnya terdiri dari 3 komponen pokok yaitu nasi, lauk pauk dan buah-buahan. Nasi Astakona disajikan dalam talam kuningan tumpang tiga berkaki tunggal. Diameter talam-talam yang disusun membentuk seperti kerucut ini ukurannya cukup variatif. Dari yang terbesar (45 cm), sedang (38 cm) hingga terkecil (32 cm). Ketiganya disusun bertingkat hingga mencapai tinggi sekitar 50 cm. Talam pertama berisi nasi...
Pembuat manisan kulit jeruk pamelo (curmelo) di Magetan saat ini ada kurang lebih 40 perajin yang tersebar di Kecamatan Bendo, Takuan, Sukomoro, dan Kawedanan. Kelompok tani curmelo semua wanita dengan setiap kelompok masing-masing 10 orang, dan telah menghasilkan 25 kg manisan kulit jeruk pamelo (curmelo) setiap minggu setiap kelompoknya. Adapun cara membuatnya adalah: 1. Jeruk dikupas, diambil kulitnya yang berwarna putih. Kulit lalu dipotong-potong berukuran 1cmx5cm memanjang. Kemudian dibersihkan diberi garam 1/2 kg/2kg, direndam agar rasa sengir jeruk hilang. 2. Kemudian direbus dengan air 6 liter, pada saat mendidih diberi gula 3 kg dan sintrunsir agar kulit jeruk terlihat bersih. Supaya lebih putih bersih dan matang/masak direbus lagi kurang lebih 1/2 jam, setelah itu direndam selama 24 jam, ditiriskan. Kemudian direbus lagi, diinapkan lagi selama 2 hari 1 malam. Setelah itu baru di oven dengan temperature 50 derajad Celsius minimal 8 jam. 3. Setelah dioven siap jual. Dari 2...
Makanan tradisional masyarakat Napan dan masyarakat Yaur adalah sagu. Sagu dalam bahasa orang Napan adalah Fi sedangkan untuk orang Yaur adalah Moore. Sagu adalah makanan pokok dan termasuk salah satu hal utama dalam setiap upacara adat masyarakat Napan dan masyarakat Yaur. Sagu diolah menjadi beraneka ragam makanan dan mempunyai sebutan yang berbeda sesuai dengan bahan yang campur atau digunakan. Sagu yang dikelola sering dikombinasikan dengan buah-buahan, biji-bijian, kacang-kacangan dan daging babi, ikan, udang, daging penyu dan siput laut, makanan ini disebut Tananoko atau Papedah Biji-bijian. Masyarakat Napan dan masyarakat Yaur tidak mengenal bakar batu sebagai cara pengolahan makanan. Mereka mengolah makanan dengan cara dipanggang diatas bara atau diasar dan direbus. Bahan yang digunakan untuk pembuatan Tananoko adalah tepung sagu dan air. Kemudian Tepung sagu yang sudah disiapkan dicampur dengan air hingga mencair lalu diendapkan setelah itu diremas-remas kembali hingga...
Wati adalah salah satu minuman tradisional yang tumbuh dan berkembang pada masyarakat Malind Animn di pesisir pantai selatan mulai daratan Selatan Kondo pertabatasn RI-PNG sampai di daratan pulau Kimaam, di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua. Wati (piperaceae misthycum) merupakan salah satu jenis tumbuhan, bagian yang digunakan adalah Akar dan batang. Wati dalam masyarakat Marind Anim mempunyai fungsi yang beragam antara lain; sebagai pembayaran mas kawin, sarinya disuguhkan dalam acara adat, upacara adat. Dalam acara ini mereka boleh menyediakan untuk tamu terhormat dan orang boleh minum dalam jumlah besar. Dahulu sarinya diperas lewat mulut gadis-gadis yang ditumpahkan dalam tempurung kelapa lalu diminum oleh laki-laki dan bisa tidur untuk beberapa hari lamanya. Sekarang wati bisa minum atau diolah oleh masing-masing individu. Keberadaan Magna Wati pada masyarakat Malind Anim merupakan salah satu benda yang sangat berharga, dapat dikatakan Wati sebagai maskawin orang Malind selain...
Arwan Sir-Sir adalah merupakan makanan tradisonal warisan dalam kebudayaan masyarakat agraris yakni daun ketela pohon diolah menjadi sayur yang yang memenuhi asupan gizi. Arwan Sir-Sir telah menjadi makanan pokok masyarakat yang berdomisili di Kepulauan Kei kabupaten Maluku Tenggara. Arwan Sir-Sir sering di jadikan sebagai hidangkan pokok pada upacara-upacara tradisonal, seperti pelantikan raja, dupacara perkawinan sebagainya. Proses pembuatanya pun sangat sederhana dimana para wanita mengambil daun ketela pohon dan kemudian diperas untuk hilangkan getahnya kemudian di tumis dan menghasilkan sayur yang sederhana namun berguna dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Fungsi sosialnya adalah semata sebagai perekat keberlanjutan keharmonisan keluarga baik dalam skala kecil maupun besar dengan melibatkan semua keluarga. Sumber : https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/wbtb/?newdetail&detailCatat=2015
Enbal Tutuil adalah merupakan makanan tradisonal warisan dalam kebudayaan masyarakat agraris ketela pohon diolah menjadi tepung yang menghasilkan enbal. Enbal ini menjadi makanan pokok masyarakat yang berdomisili di Kei Besar Kabupaten Maluku Tenggara. Enbal sering di jadikan sebagai hidangkan pokok pada upacara-upacara tradisonal, seperti pelantikan raja dan sebagainya. Proses pembuatanya pun sangat sederhana dimana para wanita mengambil hasil panen ketela pohon dan kemudian diparut dan di jsaduh airnya ketika kering maka di bakar pada adonan yang terbuat dari bambu muda yang yang telah di sediakan. Alamat Penjual: Jl. Jend. Sudirman, Langgur, Kei Kecil, Kabupaten Maluku Tenggara, Maluku Sumber : https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/wbtb/?newdetail&detailCatat=4196
Pare adalah salah satu nama jenis tumbuhan yang merambat dan memiliki bentuk buah yang menyerupai mentimun namun pare memiliki kulit yang keriput. Pare memiliki ciri khas rasa yang pahit namun banyak disukai oleh banyak orang meskipun tidak semuanya suka. Pare yang terkenal dengan rasa pahitnya, ternyata pare memiliki beberapa manfaat yang baik bagi kesehatan tubuh misalnya seperti, mengusir diabetes, menurunkan berat badan, menangkal sel kanker, melancarkan pencernaan, membersihkan darah, mengatasi asma, kecantikan untuk wanita dan yang lebih canggihnya lagi pare dapat memerangi HIV/AIDS yang konon katanya belum ditemukan obat untuk jenis penyakit yang satu ini. Berbicara tentang pare, makanan ini bisa diolah dengan kuah santan sehingga rasanya semakin sedap meskipun sedikit berasa pahit. Rasa pahit inilah yang mungkin dapat bermanfaat bagi tubuh. Bahan: 200 gr pare segar 500 ml santan kelapa 1 buah tomat merah ( potong-potong ) 2 lemba...
Bahan yang digunakan : a. Tepung Sagu b. Air c. Daging babi/ikan/penyu/siput Cara Pengolahan : Tepung sagu yang sudah disiapkan dicampur dengan air hingga mencair lalu diendapkan setelah itu diremas-remas kembali hingga merata kemudian disirami dengan air panas hasil rebusan daging babi/ikan/penyu/siput sambil diaduk hingga mengental yang disebut papeda. Waktu Penyajian : Makanan ini biasanya disajikan khusus kepada tamu-tamu terhormat seperti kepala-kepala suku dalam acara adat. Yang mengelola : Pada umumnya adalah siapa saja bisa mengelolanya baik kaum pria atau kaum wanita tetapi yang sudah diberi mandate atau tugas khusus agar makanan ini di hasilkan secara sempurna. Sumber : https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/wbtb/?newdetail&detailCatat=1010