Alkisah , pada zaman dahulu kala, di daerah Pelalawan, Riau, hiduplah sepasang suami istri dengan seorang anak laki-lakinya yang bernama Bujang. Hidup mereka sangat miskin. Meskipun hidup miskin, keduanya sangat sayang terhadap anak semata wayangnya. Mereka berharap dan selalu berdoa kepada Tuhan agar anak tunggalnya itu kelak menjadi anak yang shaleh, berbudi luhur, berilmu pengetahuan dan berguna bagi masyarakat. Untuk mencapai tujuan yang mulia itu, orang tuanya telah bertekad bekerja keras mencari rezeki yang halal sebagai modal untuk mendidik si Bujang. Setiap hari sang Ayah pergi ke ladang dan mencari ikan di sungai. Hasilnya ia jual ke desa-desa tetangga. Meskipun harus berjalan berhari-hari dengan membawa beban berat, sang Ayah tidak pernah mengeluh atau merasa lelah demi kebahagiaan anaknya. Uang hasil penjualannya tersebut, ia tabung sedikit demi sedikit. Ia sendiri hidup sangat hemat. Makan dan berpakaian seperlunya saja. Ia selalu berdoa kepada Tuhan...
Kota Pekanbaru adalah salah satu Daerah Tingkat II sekaligus sebagai ibukota Provinsi Riau, Indonesia. Sebelum ditemukannya sumber minyak, Pekanbaru hanyalah sebuah kota pelabuhan kecil yang berada di tepi Sungai Siak. Namun, saat ini Pekanbaru telah menjadi kota yang ramai dengan aktifitas perdagangannya. Letaknya yang strategis (berada di simpul segi tiga pertumbuhan Indonesia-Malaysia-Singapura), menjadikan Kota Pekanbaru sebagai tempat transit (persinggahan) para wisatawan asing, baik dari Singapura maupun Malaysia, yang hendak berkunjung ke Bukittinggi atau tempat-tempat lain di Sumatera. Keberadaan Kota Pekanbaru yang ramai ini memiliki sejarah dan cerita tersendiri bagi masyarakat Riau. Terdapat dua versi mengenai asal-mula kota ini yaitu versi sejarah dan versi cerita rakyat. Menurut versi sejarah, pada masa silam kota ini hanya berupa dusun kecil yang dikenal dengan sebutan Dusun Senapelan, yang dikepalai oleh seorang Batin (kepala dusun). Dalam perkemb...
Pada zaman dahulu kala, dikenal seorang kesatria bernama Hang Tuah. Ketika masih anak-anak, ia beserta kedua orangtuanya, Hang Mahmud dan Dang Merdu, menetap di Pulau Bintan. Pulau ini berada di perairan Riau. Rajanya adalah Sang Maniaka, putra Sang Sapurba raja besar yang bermahligai di Bukit Siguntang. Hang Mahmud berfirasat bahwa kelak anaknya akan menjadi seorang tokoh yang terkemuka. Saat berumur sepuluh tahun, Hang Tuah pergi berlayar ke Laut Cina Selatan disertai empat sahabatnya, yaitu Hang Jebat, Hang Kasturi, Hang Lekir, dan Hang Lekiu. Dalam perjalanan, mereka berkali-kali diganggu oleh gerombolan lanun . Dengan segala keberaniannya, Hang Tuah beserta para sahabatnya mampu mengalahkan gerombolan itu. Kabar terse...
Alkisah, pada zaman dahulu kala, di Tanah Melayu hiduplah seorang nelayan tua yang bernama Awang Gading. Ia tinggal seorang diri di tepi sungai. Pekerjaannya sehari – hari adalah menangkap ikan dan terkadang ia pergi ke hutan untuk mencari kayu. “Air pasang telan ke insang Air surut telan ke perut Renggutlah…! Biar putus jangan rabut,” Itu adalah kata – kata yang ia sering ucapkan sewaktu sedang memancing ikan. Suatu hari di waktu Ia sedang memancing dan tidak menemukan seekor ikan sama sekali. Di waktu perjalanan pulang Ia mendengarkan seorang bayi yang sedang menangis. Karena rasa penasaran ia mencari dari mana suara itu berasal?..Tak lama mencari, ia pun menemukan bayi perempuan yang mungil tergolek di atas batu. Tampaknya bayi itu baru saja dilahirkan oleh ibunya. karena rasa iba, dibawanya bayi itu pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumahnya Awang Gading memberi nama bayi itu Dayang Kumunah. Dengan bahagia A...
ocu maantau ka nagoghi ughang ocu tinggekan anak jo bini mangadu nosib kanagoghi ughang doakan ocu salamat di jalan adiok nan sayang ocu tinggekan jan la adiok manghaso come doakan ocu copek pulang doakan ocu salamat di jalan ocu maantau diok kanagoghi ughang elok-elok la kau di umah ocu maantau diok kanaghoghi ughang jan omuo kau lolok batandang Sumber: http://www.lagu-daerah.com/2015/06/lirik-lagu-daerah-riau-dan-kepulauan_8.html
Dahulu kala berdirilah sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Tiangkerarasen.Raja yang memerintahkan sangat adil, Raja itu memiliki beberapa putra dan putri dari seorang permaisuri yang cantik jelita.Tetapi ketentraman dan kebahagian keluarga sang Raja tidak berlangsung lama.Pada suatu ketika saat Raja sedang berjalan -jalan menunggang kuda di tengah perjalanan ia bertemu seorang gadis yang sangat cantik.Raja pun berkenalan dengan gadis itu kemudian raja mengajak gadis itu pulang keistana.Ternyata si gadis tidak hanya cantik tetapi juga berperangai sangat halus dan lembut, raja pun menaruh hati pada si gadis dan menikahi gadis itu. Sikap Raja mendapat pertentangan dari Permaisuri dan purta-putrinya.Beberapa bulan berlalu, gadis yang menjadi istri muda sang Raja Tengah mengandung. Putra-putri serta permaisuri semakin membenci istri muda sang raja.Mendapat perlakuan yang kurang baik oleh permaisuri dan anak-anaknya, Sang Raja mulai berfikir untuk menyingkirkan istri mu...
Alkisah di sebuah dusun di daerah Riau, hiduplah seorang laki-laki tua bernama Awang Gading. Ia hidup sebatang kara karena istrinya sudah meninggal tanpa meninggalkan seorang anak. Sehari-hari, pekerjaan Awang Gading adalah menangkap ikan di sungai. Jika beruntung, ia akan mendapatkan banyak ikan yang bisa ditukar dengan beras di pasar. Meskipun hidup sederhana, Awang Gading tak pernah mengeluh. Ia bahagia dan selalu bersyukur dengan keadaannya itu. Pagi itu, seperti biasanya Awang Gading pergi ke sungai. Sambil berdendang, ia menanti ikan memakan umpannya. Tapi, sepertinya hari itu bukanlah hari keberuntungannya. Sudah berkali-kali umpannya dimakan ikan, tapi ikan itu lepas saat Awang Gading menarik pancingnya. “Hmm… mungkin nasibku hari ini kurang balk. Lebih baik aku pulang saja, aku akan kembali besok. Siapa tahu aku Iebih mujur,” katanya sambil mengemasi peralatan pancingnya. “Oweekkk… owekkk…,” tiba-tiba terdengar suara...
Senja mulai menyapa, seorang bapak, istri, serta seorang anaknya yang bernama Jaka, duduk bersantai di halaman rumah. Sebuah rumah yang asri dengan berbagai tanaman buah di sekelilingnya, seperti tebu, pisang, dan rambutan. “Hasil tanaman kita cukup berlimpah, bagaimana kalau kita jual ke pasar?” tanya Bapaknya Jaka kepada istrinya. “Alangkah bagusnya ide itu, Pak! Kita bisa berbelanja apa pun di pasar nanti.” Istrinya setuju dengan niat suaminya. Mendengar obrolan Bapak dan ibunya, Si Jaka menimpali omongan orang tuanya sambil memegang lutut. “Kalau Ibu pergi ke pasar, tolong belikan aku sepatu putih, ya?” pinta anak laki-laki berumur 12 tahun itu dengan manja. “Jangan khawatir, nanti Ayah belikan sepatu, baju, dan celana baru, asalkan mau sekolah besok,” kata ayahnya. Si Jaka sangat senang dan berjanji akan pergi ke sekolah. “Jika kita bisa pergi besok, siapa yang menunggu rumah ini?” tanya si Bapak...
Setelah melalui proses yang cukup panjang , dimulai dari Merisik hingga ke Pertunangan, maka kemudian dilanjutkan dengan acara perkawinan. Dalam adat melayu Riau Prosesi Perkawinan sangat banyak kita jumpai dan bahkan berbeda-beda, Melayu Indragiri (Rengat), Kampar, Kuantan Singingi, ataupun melayu Siak, Bengkalis, upacara perkawinan ini dianggap amat sakral bahkan tidak boleh ada satupun rangkaian prosesi adat yang terlewatkan. Berikut Prosesi Adat Melayu Riau dalam perkawinan pada umumnya : Menggantung-gantung Pengantin ibarat raja dan ratu sehari, maka untuk keduanya disiapkan pelaminan yang megah bak singgasana. Acara mengantung-gantung diadakan beberapa hari sebelum perkawinan atau persandingan dilakukan. Bentuk kegiatan dalam upacara ini biasanya disesuaikan dengan adat di masing-masing daerah yang berkisar pada kegiatan menghiasi rumah atau tempat akan dilangsungkannya upacara pernikahan, memasang alat kelengkapan upacara, dan sebagainya. Yang termasuk dalam kegiata...