Senja mulai menyapa, seorang bapak, istri, serta seorang anaknya yang bernama Jaka, duduk bersantai di halaman rumah. Sebuah rumah yang asri dengan berbagai tanaman buah di sekelilingnya, seperti tebu, pisang, dan rambutan.
“Hasil tanaman kita cukup berlimpah, bagaimana kalau kita jual ke pasar?” tanya Bapaknya Jaka kepada istrinya.
“Alangkah bagusnya ide itu, Pak! Kita bisa berbelanja apa pun di pasar nanti.” Istrinya setuju dengan niat suaminya. Mendengar obrolan Bapak dan ibunya, Si Jaka menimpali omongan orang tuanya sambil memegang lutut.
“Kalau Ibu pergi ke pasar, tolong belikan aku sepatu putih, ya?” pinta anak laki-laki berumur 12 tahun itu dengan manja.
“Jangan khawatir, nanti Ayah belikan sepatu, baju, dan celana baru, asalkan mau sekolah besok,” kata ayahnya. Si Jaka sangat senang dan berjanji akan pergi ke sekolah.
“Jika kita bisa pergi besok, siapa yang menunggu rumah ini?” tanya si Bapak
“Ayah jangan risau, Jaka sudah besar, tentu dia mau menjaga rumah ini.”
“Kalau begitu, baiklah! Subuh nanti tanaklah nasi, goreng ikan bilis atau ikan asin untuk bekal, tetapi jangan lupa tinggalkan untuk Si Jaka,” kata si Bapak.
Pagi-pagi sekali ibunya Jaka telah siap membungkus nasi dengan daun lipai. Lauknya goreng ikan bilis serta ikan asin. Ketika hari menjelang malam, Si Jaka mendengar daun tebu berdesau. Dia bangkit sambil menghela sebilah parang panjang, lalu melompat ke pintu, dan turun ke tanah. Tetapi, tak ada siapa pun di luar rumah. Daun tebu di kiri rumahnya berdesau lagi. Si Jaka memandang ke arah suara, nampak sekelebat bayangan binatang. Dengan tak sabar, dia melompat lagi, lalu mencincang leher binatang itu, sehingga binatang itu tumbang dan mati. Si Jaka menyangka itu rusa atau kijang. Dia terkejut bercampur gembira, karena ternyata ia telah membunuh seekor harimau.
Kemudian, harimau itu ditariknya ke halaman dan ditangkupkannya menghadap pintu pagar. Jaka naik ke rumah, karena hari mulai gelap, suasana sekeliling sunyi senyap. Di rumah gelap gulita, tetapi pelita tak dipasang oleh si Jaka.
Sorenya, terdengar suara kiyuuuuutt! bunyi pintu pagar dibuka. Si Bapak datang. Lalu ia berteriak kepada Si Jaka, tetapi tak ada sahutan. Hatinya bimbang, rumah gelap tak berlampu. Dia berteriak lagi. Ibu Jaka memanggil-manggil anaknya sambil terisak, tetapi sedikit pun tak ada jawaban. Tiba-tiba Si Bapak melihat harimau terduduk di halaman. Si Bapak melompat sambil menikam harimau itu dengan kerisnya.
“Matikah anakku dengan harimau ini? Matilah kamu hai binatang!” Dengan geramnya, harimau itu ditikamnya berkali-kali. Tak lama kemudian, Si Jaka membuka pintu rumahnya.
“Ada apa, Ayah?” kata Si Jaka. Ayahnya terperangah melihat Si Jaka, sedangkan Bu Jaka menangis sambil memeluk anaknya.
“Bu, jangan menangis, anak Ibu ini seorang jagoan. Harimau itu telah mati aku cincang, lihat lehernya hampir putus,” ucap Si Jaka.
“Mana sepatu barunya, Bu?” kata Si Jaka lagi. Akan tetapi, Ibu Jaka tak tahu lagi di mana letak pesanan anaknya itu. Barang-barang dalam bakulnya berhamburan di tanah. Kemudian mereka bertiga naik ke rumah. Keesokan harinya, harimau itu dikuliti dan dibawa ke pasar. Ternyata kulit harimau tersebut laku dengan harga tinggi. Si Jaka tidak saja mendapat sepatu baru, tetapi dapat pula membeli sepeda.
Pesan Moral
Kita harus patuh kepada kedua orangtua. Juga memiliki keberanian membela diri dan menjaga amanah orangtua. Perilaku yang baik akan membawa kesenangan dan kebahagiaan di kemudian hari.
Sumber: https://gpswisataindonesia.info/2018/04/si-jaka-yang-pemberani-riau/
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...
Ayam goreng adalah salah satu menu favorit keluarga yang tidak pernah membosankan. Namun, jika kamu ingin mencoba variasi yang lebih gurih dan harum, ayam goreng bawang putih renyah adalah pilihan yang tepat. Ciri khasnya terletak pada aroma bawang putih yang kuat serta kriukannya yang renyah saat digigit. Resep ini juga sangat mudah dibuat, cocok untuk menu harian maupun Bahan-Bahan Bahan Ayam Ungkep ½ kg ayam (boleh potong kecil agar lebih cepat matang) 5 siung bawang putih 4 siung bawang merah 1 sdt ketumbar bubuk 1 ruas kunyit (opsional untuk warna) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400 ml Bahan Kriuk Bawang 5–6 siung bawang putih, cincang halus 3 sdm tepung maizena ¼ sdt garam ¼ sdt lada Minyak banyak untuk menggoreng Cara Membuat Ungkep ayam terlebih dahulu Haluskan bawang putih, bawang merah, kunyit, dan ketumbar. Tumis sebentar hingga harum. Masukkan ayam, aduk rata, lalu tuang air. Tambahkan garam dan kaldu bubuk. Un...
Ayam ungkep bumbu kuning adalah salah satu menu rumahan yang paling praktis dibuat. Rasanya gurih, aromanya harum, dan bisa diolah lagi menjadi berbagai hidangan seperti ayam goreng, ayam bakar, hingga pelengkap nasi kuning. Keunggulan lainnya, resep ini termasuk cepat dan cocok untuk kamu yang ingin memasak tanpa ribet namun tetap enak. Berikut resep ayam ungkep bumbu kuning cepat yang bisa kamu coba di rumah. Bahan-Bahan ½ kg ayam, potong sesuai selera 4 siung bawang putih 5 siung bawang merah 1 ruas kunyit 1 ruas jahe 1 ruas lengkuas (geprek) 2 lembar daun salam 2 lembar daun jeruk 1 batang serai (geprek) 1 sdt ketumbar bubuk (opsional) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400–500 ml Minyak sedikit untuk menumis Cara Membuat Haluskan bumbu Blender atau ulek bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, dan ketumbar bubuk (jika dipakai). Semakin halus bumbunya, semakin meresap ke ayam. Tumis bumbu hingga harum Panaskan sedikit m...