Sejak jaman kesultanan di Palembang, gulo puan ini sudah hadir menjadi makanan yang hanya bisa dinikmati para bangsawan dan haji pada saat itu. Gulo dalam bahasa Indonesia artinya gulo, sedangkan puan berarti susu. Jadi gulo puan ini berarti gula susu. Dalam arti sebenarnya, karena bahan utama pembuatnya ialah gula dan susu. Susu yang digunakan bukan sembarang susu, namun susu kerbau rawa. Produsen gulo puan bisa ditemui di sisi kota palembang di daerah Ogan Komering Ilir. Itupun sudah tidak banyak rumah tangga yang khusus memproduksi gulo puan ini. Cara pembuatan gulo puan yaitu susu kerbau dimasak dalam kuali yang sudah dipanaskan. Dicampur dengan gula, susu kerbau rawa ini diaduk terus menerus selama 3-4 jam hingga susu mengental dan kalis seperti karamel kering. Gulo puan ini bisa dijadikan olesan roti, dinikmati bersama pisang goreng dan kopi, bahkan untuk bahan baku pembuatan kue delapan jam. Makanan palembang yang satu ini juga termasuk salah satu yang hampir punah keberadaan...
Selain pempek, di Palembang juga terdapat makanan legendaries lainnya yakni Gulo Puan. Bahkan kulinernya pun kini semakin sangat langka dan jarang di temui di Palembang . Apa itu Gulo Puan ? Gulo dalam bahasa Palembang berarti Gula sedangkan Puan berarti susu. Gulo Puan disebut juga ’gula susu’ seperti bahan pembuatannya, gula dan susu yang dibuat seperti karamel kering. Teksturnya lembut sedikit berpasir berwarna coklat. Rasanya mirip keju manis dan sangat nikmat dimakan sebagai olesan roti, pisang goreng ataupun untuk minum kopi hingga bahan pembuatan kue delapan jam. Gulo Puan dihasilkan dari susu kerbau rawa yang dipanaskan bersama gula pasir dalam wajan besar, dimasak dengan api kecil terus menerus selama lima jam. Konon berdasarkan cerita leluhur, di zaman dahulu kala Gula Puan hanya dikonsumsi oleh para Sultan dan bangsawan di Kesultanan Palembang Darussalam. Gulo Puan merupakan makanan istimewa, sehingga tidak mengherankan jika harga G...
Asal Mula Kopi Kelelawar Kopi kelelawar ini merupakan kopi yang berasal dari Dusun Talang Genteng, Kecamatan Pagar Alam Utara, Sumatera Selatan. Kopi ini merupakan hasil dari petani yang ada di dusun Talang Genteng tersebut. Daerah ini merupakan salah satu daerah penghasil kopi terbesar. Awalnya petani di daerah tersebut mengolah kopi luwak, yang kini sudah banyak beredar dan tersebar di pasaran. Hal ini membuat persaingan yang sangat ketat mengingat semakin banyaknya produksi kopi luwak. Karena alasan ini lah kemudian muncul jenis kopi yang lain, yaitu kopi yang berasal dari hewan kelelawar ini. Jenis kopi terbaru ini yang kemudian dikembangkan dan diharapkan akan bisa menyaingi perkembangan dari kopi luwak. Salah satu petani yang merupakan pelaku usaha atas kopi yang berasal dari kelelawar ini adalah Mardoyo. Mardoyo mengolah kopi luwak dan juga kopi super pada awalnya, namun semakin lama kopi luwak ini semakin banyak diproduksi dan beredar di hampir seluruh pasaran kopi...
Alat Musik Tenun kayu Berupa kayu berbentuk persegi panjang, bagian tengahnya terdapat bentuk segitiga berangkai yang apabila dipukul akan menghasilkany bunyi tertentu. Alat musik ini berfungsi sebagai penghibur para penenun saat sedang bekerja.
Gending Sriwijaya merupakan salah satu tarian tradisional khas Palembang, Sumatera Selatan. Sebenarnya ini tidak hanya sekedar tarian tetapi juga merupakan sebuah lagu. Melodi lagu Gending Sriwijaya digunakan sebagai pengiring untuk mengiringi tarian Gending Sriwijaya. Sesuai dengan namanya, tarian dan lagu ini menggambarkan kejayaan, keagungan, dan keluhuran kerajaan Sriwijaya yang pernah mengalami kejayaan selama bertahun-tahun dan berhasil mempersatukan wilayah Barat Nusantara Tarian ini biasanya ditampilkan secara khusus sebagai tarian untuk menyambut tamu-tamu kehormatan seperti Duta Besar, Presiden, dan tamu-tamu agung yang lain. Sekilas, tarian ini mirip dengan Tari Tanggai. Bedanya terletak pada perlengkapan busana penari dan jumlah penarinya. Dalam sebuah pementasan, penari Gending Sriwijaya total berjumlah 13 orang. Dari 13 orang tersebut terdapat satu orang sebagai penari utama. Penari ini membawa tepak, kapur, dan sirih. Sisanya 6 orang sebagai penari pendamping, dua or...
Tari Seluang Mudik adalah salah satu tarian tradisional yang berasal dari Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Tarian ini merupakan tari kreasi yang menceritakan tentang tingkah laku dan juga gerak-gerik ikan seluang di musim seluang mudik. Ikan Seluang atau nama latinnya Rasbora Argrytaenia merupakan jenis ikan air tawar yang banyak hidup di rawa-rawa dan juga banyak berkembang biak di negara Asia Tenggara, salah satunya di Indonesia. Di Indonesia, ikan yang kerap diolah dan dimanfaatkan menjadi lauk-pauk ini banyak ditemukan di wilayah rawa Provinsi Sumatera Selatan. Selain dapat dikonsumsi, ikan seluang ini juga mempunyai kebiasaan unik, yakni selalu berkumpul dan juga berpindah tempat secara bergerombol serta bersamaan. Pada musim seluang mudik, ikan seluang ini akan beriringan, berkumpul, dan juga berpencar untuk kemudian berkumpul kembali. Fenomena unik pada ikan seluang mudik inilah yang kerap dijumpai setiap tahun di rawa atau danau di Provinsi Sumatera Selatan. Ba...
Pasca proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, berbagai wilayah di Indonesia masih mengalami pergolakan didalam serangan agresi militer Belanda II. Seperti yang terjadi di Kota Palembang pada Desember 1946, Belanda yang melanggar garis demarkasi menyulut sebuah pertempuran. Karena terdesak perlawanan para pejuang nasionalis, mereka kemudian meminta bantuan, yang pada akhirnya membuat tersudut para pejuang nasionalis. Pada Januari 1947, Belanda makin gencar menghancurkan Kota Palembang dengan cara mengerahkan tank dan artileri. Para penjajah Belanda juga menembaki para pejuang nasionalis dari kapal perang dan boat, menjatuhkan bom dan granat. Pertempuran tersebut terjadi hampir di seluruh wilayah Kota Palembang selama 5 hari 5 malam dan menghancurkan sebagian Kota Palembang ini. Untuk memperingati peristiwa tersebut, maka para sesepuh pejuang kemerdekaan RI wilayah Provinsi Sumatera Selatan yang tergabung didalam Legiun Veteran Sumatera Selatan berinisiatif untuk membangun...
Sendratari Konga Raja Buaye merupakan tarian kreasi yang diangkat dari sebuah legenda masyarakat di Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatera Selatan. Legenda tersebut menceritakan tentang seorang raja bernama buaya yang mengancam keberadaan masyarakat di sebuah dusun di Kabupaten Musi Rawas. Raja buaya ini merupakan jelmaan dari seorang puteri yang cantik. Kemudian datanglah seorang pemuda yang memiliki wajah yang begitu tampan. Tanpa pertumpahan darah, sang raja buaya tersebut mampu ditaklukan oleh sang pemuda tesebut, sampai akhirnya masyarakat terbebas dari ancaman binatang buaya pemangsa. Dilihat dari segi kostum yang dikenakan, para penari dari sendratari Konga Raja Buaye ini dibagi atas 3 (tiga) kategori peran, yaitu masyarakat, para buaya, dan juga pasukan pemuda tampan. Penari yang memerankan masyarakat biasanya mengenakan pakaian tradisional perempuan khas Sumatera Selatan, sedangkan para buaya biasanya mengenakan topeng rupa buaya lengkap dengan lidah yang menjulur-...
Raja Empedu adalah seorang raja muda yang memerintah di Negeri Hulu Sungai Nusa, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan. Suatu ketika, Raja Empedu membantu Raja Pangeran Mas dari Kerajaan Lesung Batu untuk membinasakan Raja Kubang yang terkenal sakti mandraguna. * * * Pada zaman dahulu kala, Kecamatan Rawas Ulu yang merupakan wilayah Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, terbagi ke dalam tiga wilayah pemerintahan yaitu Hulu Sungai Nusa, Lesung Batu, dan Kampung Suku Kubu. Ketiga wilayah tersebut masing-masing diperintah oleh seorang raja. Negeri Hulu Sungai diperintah oleh Raja Empedu yang masih muda dan terkenal dengan keberanian dan kesaktiannya. Rakyatnya hidup aman dan makmur karena pertanian di daerah itu maju dengan pesat. Sementara itu, Negeri Lesung Batu diperintah oleh Pangeran Mas yang terkenal kaya raya dan mempunyai banyak ternak kerbau. Adapun Negeri Kampung Suku Kubu diperintah oleh Raja Kubu yang memiliki kesaktian yang tinggi. Negeri Kampung Kubu dikena...