Asal Mula Kopi Kelelawar
Kopi kelelawar ini merupakan kopi yang berasal dari Dusun Talang Genteng, Kecamatan Pagar Alam Utara, Sumatera Selatan. Kopi ini merupakan hasil dari petani yang ada di dusun Talang Genteng tersebut. Daerah ini merupakan salah satu daerah penghasil kopi terbesar. Awalnya petani di daerah tersebut mengolah kopi luwak, yang kini sudah banyak beredar dan tersebar di pasaran. Hal ini membuat persaingan yang sangat ketat mengingat semakin banyaknya produksi kopi luwak. Karena alasan ini lah kemudian muncul jenis kopi yang lain, yaitu kopi yang berasal dari hewan kelelawar ini. Jenis kopi terbaru ini yang kemudian dikembangkan dan diharapkan akan bisa menyaingi perkembangan dari kopi luwak.
Salah satu petani yang merupakan pelaku usaha atas kopi yang berasal dari kelelawar ini adalah Mardoyo. Mardoyo mengolah kopi luwak dan juga kopi super pada awalnya, namun semakin lama kopi luwak ini semakin banyak diproduksi dan beredar di hampir seluruh pasaran kopi. Persaingan yang semakin ketat ini yang kemudian mendorong Mardoyo untuk membuat inovasi kopi terbaru. Dengan memanfaatkan kelelawar yang merupakan binatang pemakan buah termasuk buah kopi ini, dan menyisakan biji kopinya. Hal ini dijadikan sebagai celah untuk membuat kopi yang kini disebut sebagai kopi yang berasal dari kelelawar ini. Kopi inovasi dari Mardoyo ini pun mulai dikenal banyak orang dan perkembangannya pun kini sudah sangat pesat.
Manfaat dari kopi Kelelawar
Selain manfaat yang disebut-sebut sebagai obat asma ini. Kopi kelelawar ini juga memiliki manfaat yang lainnya. Kopi ini sangat berguna untuk mengontrol gula darah serta kolesterol yang ada pada tubuh. Hal ini karena dalam kopi satu ini memiliki kandungan asam asetat dan asam laktat yang sangat menonjol. Asam asetat itu sendiri berfungsi untuk melarutkan lemak serta berperan penting dalam mengontrol kadar gula yang ada dalam darah. Sedangkan untuk asam laktat itu sendiri berfungsi untuk membantu proses pencernaan. Sehingga jelas sudah bahwa kopi batman ini memiliki fungsi yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh.
Sebagai kopi yang biasanya merupakan salah satu minuman yang tidak boleh dikonsumsi terlalu sering apalagi dalam kadar yang terlalu banyak. Kopi yang satu ini tentu sangat aman untuk dikonsumsi karena memiliki manfaat bagi kesehatan. Sehingga tidak perlu khawatir jika dikonsumsi dalam intensitas yang cukup sering. Karena kopi kelelawar ini tidak akan memberi dampak yang buruk bagi tubuh anda. Bahkan jika anda merupakan seseorang yang mengalami masalah seperti yang disebutkan diatas, anda bisa menjadikan kopi ini sebagai obat untuk mengatasi masalah kolesterol, gula darah ataupun asma yang anda miliki.
Kenapa Harga Kopi Kelelawar Lebih Murah dari Kopi Luwak?
Kopi yang satu ini memang memiliki harga yang relatif lebih murah. Hal ini karena petani tidak perlu memelihara kelelawar secara khusus, sebab kelelawar ini sering berkeliaran di sekitaran perkebunan kopi dan membuang kotorannya sembarangan. Sehingga hal ini tentu memudahkan para petani untuk mendapatkan biji kopi yang didapatkan dari sisa-sisa kotoran kelelawar ini. Selain itu juga para petani tidak perlu mengeluarkan biaya operasional untuk bisa mendapatkan biji kopi yang digunakan untuk membuat kopi yang satu ini.
Berbeda dengan kopi luwak, para petani harus memelihara luwak untuk bisa memanfaatkan biji kopi yang ada dalam sisa-sisa kotoran luwak. Sehingga para petani memerlukan biaya yang cukup tinggi untuk membesarkan luwak dengan jumlah yang tidak sedikit. Hal ini yang membuat kopi luwak ini dihargai dengan nominal yang lebih tinggi dibanding dengan kopi yang berasal dari kelelawar. Hal ini dipengaruhi oleh tingkat kemudahan dan kesulitan dalam mendapatkan biji kopi yang merupakan bahan baku dalam pembuatan kopi tersebut.
Teknologi terbaru dalam pembuatan Kopi Kelelawar
Sekarang ini kopi kelelawar tidak lagi dibuat dengan mengandalkan kelelawar yang hidup untuk memakan buah kopi ini lebih dulu. Namun, ada teknologi baru yang ternyata lebih mudah dan juga cepat untuk menghasilkan kopi yang satu ini. Suprio Guntoro, seorang peneliti Badan pengkajian Teknologi Pertanian di provinsi Bali ini menciptakan teknologi baru dengan memanfaatkan jenis mikroba yang ada pada kelenjar ludah yang dikandung oleh air liur kelelawar untuk membuat fermentasi pada biji kopi yang sudah masak. Teknologi ini ternyata justru memakan biaya yang relatif murah serta dibuat sesuai untuk menciptakan kopi dari kelelawar ini dengan cita rasa yang sedikit asam dan lebih manis serta rasa pahit yang ringan serta nyaman untuk dikonsumsi.
Teknologi ini merupakan salah satu sarana yang dibuat untuk mempermudah pembuatan dari kopi yang berasal dari kelelawar ini. Hal ini karena kopi jenis ini kini telah cukup banyak dicari dan diminati. Terlebih lagi dengan manfaatnya bagi kesehatan dan mengobati beberapa masalah kesehatan, sehingga membuat permintaan kopi ini pun semakin banyak dan meningkat cukup pesat. Dengan adanya teknologi ini, pembuatan kopi tidak perlu menggunakan kelelawar hidup, karena proses dari teknologi ini mampu menghasilkan kopi dengan cita rasa yang sama seperti biji kopi yang dihasilkan dari sisa makanan kelelawar yang telah dimuntahkan.
Sumber: http://www.lintaskopi.com/kenikmatan-kopi-kelelawar-bermanfaat-bagi-kesehatan/
Karya: Mahlil Azmi Di sebuah perkampungan kecil bernama Desa Pucok Krueng, di Aceh bagian barat selatan, hiduplah sebuah keluarga kecil yang damai dan bahagia. Mereka berjumlah empat orang: sang ayah bernama Uda Bintang Puteh berumur 40 tahun, ibu Nyak Bulan berumur 30 tahun, anak pertama Rajo Puteh berumur 10 tahun, dan adik perempuannya bernama Nyak Puteh yang berumur 5 tahun.Kedua orang tua mereka adalah petani dan pekebun pala. Sementara itu, Rajo adalah anak yang nakal dan sering berkelahi dengan teman-temannya hingga meresahkan orang tuanya. Walaupun begitu, ia sangat menyayangi keluarganya, terutama adiknya. Nyak Puteh adalah anak yang ceria, patuh, rajin mengaji, dan suka membantu orang tua mencuci piring. Setiap menjelang pagi, ayah dan ibu berpamitan untuk bekerja di ladang memetik buah pala, dan terkadang menjadi buruh tani di sawah milik saudagar kampung. Walaupun upah yang mereka dapatkan sedikit, mereka tetap bersyukur.Beberapa tahun kemudian, saat Rajo berumur 17 tahun,...
Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta Sejarah & Latar Belakang Candi Miri adalah salah satu candi Hindu yang terletak di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Diperkirakan dibangun pada abad ke-9, Candi Miri merupakan bagian dari warisan budaya Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini berdiri tidak jauh dari beberapa candi lain yang juga bersejarah, seperti Candi Banyunibo dan Candi Barong, menjadikannya sebagai bagian penting dari kompleks candi yang memiliki nilai arkeologis yang tinggi (Sumber 2, 4, 14). Candi Miri, yang terletak di bukit karst dengan ketinggian sekitar 300 meter, menjadi lokasi yang strategis untuk aktivitas keagamaan dan pemujaan. Meskipun saat ini kondisinya mengalami kerusakan dan belum dilakukan pemugaran, keberadaannya tetap menarik perhatian para peneliti dan wisatawan yang ingin menyelami sejarah kekayaan budaya Indonesia (Sumber 1, 8, 14). Karakteristik Arsitektur Candi Miri memiliki...
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa,tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan harimau. Tapi bagi kami, hutan ini seperti halaman belakang rumah sendi...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.