Salah satu permainan tradisional yang populer di kalangan anak perempuan adalah congklak. Congklak merupakan permainan yang dimainkan oleh dua orang yang biasanya perempuan. Alat yang digunakan terbuat dari kayu atau plastik berbentuk mirip perahu dengan panjang sekitar 75 cm dan lebar 15 cm. Pada kedua ujungnya terdapat lubang yang disebut induk. Diantar keduanya terdapat lubang yang lebih kecil dari induknya berdiameter kira-kira 5 cm. Setiap deret berjumlah 7 buah lubang. Pada setiap lubang kecil tersebut diisi dengan kerang atau biji-bijian sebanyak 7 buah. Cara bermainnya adalah dengan mengambil biji-bijian yang ada di lubang bagian sisi milik kita kemudian mengisi biji-bijian tersebut satu persatu ke lubang yang dilalui termasuk lubang induk milik kita (lubang induk sebelah kiri) kecuali lubang induk milik lawan, jika biji terakhir jatuh di lubang yang terdapat biji-bijian lain maka bijian tersebut diambil lagi untuk diteruskan mengisi lubang-lubang selanj...
Pernikahan merupakan sesuatu yang sakral. Salah satu momen penting dalam perjalanan hidup manusia. Pernikahan menjadi pembeda yang paling mencolok antara orang dewasa dan anak-anak atau remaja. Untuk merayakan momen bersejarah dalam hidupnya, banyak orang yang membuat acara pernikahan semewah dan seunik mungkin. Sebagai masyarakat Indonesia yang terkenal akan keunikan budayanya, tentu saja kebanyakan orang Indonesia tidak pernah melupakan unsur budaya dalam merayakan pernikahan. Mulai dari pakaian, hingga tahap-tahap ritual yang dilaksanakan. Selain unik, pernikahan berbau adat ini juga memiliki filosofi tersendiri yang sarat makna. Berikut hasil wawancara saya dengan salah seorang guru Bahasa dan Budaya Sunda di sebuah sekolah di Kota Tasikmalaya tentang ritual pernikahan dalam budaya Sunda. Dalam adat pernikahan sunda ada beberapa tahap kegiatan/ritual yang dilaksanakan... Secara garis besar ada 3 tahapan: - sebelum pernikahan - saat pernikahan - setelah pernik...
Budaya ngabedahkeun merupakan salah satu budaya sunda yang sudah ada sejak dahulu. Menurut penuturan narasumber yang merupakan ayah kandung penulis, budaya ngabedahkeun balong khususnya di Kampung Kalapasewu, Mangunreja, Kabupaten Tasikmalaya telah ada sejak beliau kecil atau sekitar tahun 1960-an. Budaya ngabedahkeun merupakan tradisi 6 bulanan bagi pemilik-pemilik balong (kolam) di daerah sana yang mana fungsinya adalah untuk menangkap ikan-ikan yang memang biasanya dibudidayakan di balong tersebut. Budaya ngabedahkeun juga sering dilakukan warga menjelang perayaan hari-hari besar tertentu, seperti : Munggahan (Awal Bulan Ramadhan), Hari Raya Idul Fitri, dan saat Muludan (Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW). Menurut penuturan narasumber, ngabedahkeun merupakan salah satu proses menangkap ikan dengan cara mengurangi & membuat...
Generasi Z. Itulah sebutan untuk generasi masa kini yang hampir tidak pernah tidak tersentuh teknologi. Generasi yang mana terlahir bersamaan dengan perkembangan teknologi. Generasi dimana orang orang sibuk berkutat dengan gadgetnya, bahkan anak anak kecil pun. Bermain game, melihat video, lembaga, hingga belajar pun dilakukan pada gadgetnya. Anak anak kecil pun secara otomatis jarang menghabiskan waktu bermain di luar rumah. Dan banyak sekali yang tidak tahu betapa serunya bermain permainan tradisional, salah satunya "ucing sumput". Ucing sumput ini adalah permainan tradisional sunda yang permainannya bersembunyi dan mencari. Permainan ini biasanya terdiri dari 2 orang atau lebih. Anak anak biasanya melakukan gambreng atau hompimpah untuk menentukan siapa yang jadi kucingnya. Lalu setelah terpilih, si kucing pun menghitung sesuai dengan kesepakatan. Sementara itu yang lainnya bersembunyi. Setelah selesai menghitung kucingnya pun mencari temannya yang lain. Teman yang...
Permainan ini sudah tidak asing lagi karena sudah ada sejak nenek moyang kita dahulu. Namun saat ini permainan tersebut sudah jarang dimainkan, baik di desa atau di kota. Yang akan saya bahas kali ini yaitu permainan tradisional berupa egrang yang ada di Jawa Barat khususnya di daerah tempat tinggal saya Kabupaten sukabumi yang di kenal dengan nama egrang (jajangkungan). Permainan Egrang cukup terkenal di daerah tempat tinggal saya. Permainan ini sering dilakukan oleh anak-anak usia 7 sampai 13 tahun(anak SD, SMP). Tetapi tidak jarang anak yang duduk di bangku TK pun sudah bisa memainkannya dan orang dewasa pun ikut memainkannya. Permainan egrang ini dipandang sebagai permainan yang menyenangkan, menantang, dan tidak memakan biaya yang mahal untuk membuat alat permainan tersebut. Cara bermain Egrang yaitu diawali dengan 2 anak atau lebih dari garis start, Jika sudah ada aba-aba mulai maka para pemain akan berlari dengan menggunakan Egrang tersebut jika terjatuh di tengah jalan mak...
Salah satu kesenian yang sering dijumpai di kabupaten Sumedang adalah kuda renggong.Kuda renggong ini masih sangat dilestarikan oleh masyarakat sekitarnya.Berdasarkan sejarah lahirnya kesenian Kuda Renggong di Kabupaten Sumedang, kesenian itu mulai muncul sekitar tahun 1910. Awalnya, Pangeran Aria Suriaatmaja, yang memerintah Kabupaten Sumedang selama 37 tahun (1882-1919) berusaha untuk memajukan bidang peternakan. Pangeran Suriaatmaja sengaja mendatangkan bibit kuda unggul dari pulau Sumba dan Sumbawa. Selain digunakan sebagai alat transportasi bangsawan, pada masa tersebut kuda juga sering difungsikan sebagai pacuan kuda dan alat hiburan. Sekitar tahun 1880-an ada seorang anak laki-laki bernama Sipan yang merupakan anak dari Bidin, yang tinggal di Dusun Cikurubuk, Desa Cikurubuk Kec. Buahdua Sumedang kelahiran tahun 1870. Sipan mempunyai kebiasaan mengamati tingkah laku kuda-kuda miliknya yang bernama si Cengek dan si Dengkek. Dari pengamatannya , ia menyimpulkan bahwa kuda juga dap...
Berikut ini lirik lagu Rat-rat Gurisat, salah satu lagu anak-anak (kawih murangkalih) dari tanah Sunda. RAT-RAT GURISAT Rat-rat gurisat nini ingrat paéh diselap tiselap kana kuciat dibura ku laja tuhur laja tuhur meunang ngunun meunang ngunun tujuh taun kadalapan diburakeun nyeh prot... nyeh prot... nyeh prot...! (Sumber : Hadi, Ahmad, dkk. 1994. PEPERENIAN : Kandaga, Unak-anik, Rusiah Basa Sunda. Bandung : CV Geger Sunten) #OSKMITB2018
Kue pancong 46 merupakan camilan yang nikmat, murah, dan mengenyangkan. Camilan ini sangat diminati oleh anak-anak muda biasanya. Bahan-bahan untuk membuatnya pun tidak rumit. Anda hanya memerlukan tepung terigu, gula pasir, santan, telur, dan fermipan. Alat-alatnya pun sama seperti alat untuk memasak kue pada umumnya, seperti mixer, wadah (ember), sendok, loyang khusus pancong, sendok dan serok. Cara memasaknya pun cukup mudah. Anda hanya perlu mencampur semua bahan, kemudian diaduk sampai rata dan menjadi adonan, kemudian tuang di atas loyang yg sudah dioleskan mentega, lalu tunggu hingga matang atau setengah matang, kemudia angkat dan sajikan. Biasanya kue pancong 46 disajikan bersama topping-topping yang menarik, seperti coklat, keju, susu, nutella, tobleron, dan lain-lain sesuai selera. Bagaimana mudah bukan? Sayangnya, camilan yang mudah dan murah ini hanya dapat dijumpai di kota bekasi, Jakarta, dan beberapa ada di cikarang.
Lagu ini merupakan lagu yang sering dinyanyikan oleh anak-anak kecil saat bermain dan ada yang bertengkar. Lagu ini diajarkan oleh guru bahasa Sunda saya semasa SMA Berikut liriknya: Tampolong Bahe Belut Ditalian Tong ngomong wae Gelut sakalian Yang dua baris terakhirnya berarti: Jangan berbicara terus Bertengkar sekalian