Tari Barong Blora Tari Barong Blora adalah salah satu kesenian rakyat yang sangat populer di kalangan masyarakat Blora. Alur cerita bersumber dari hikayat panji. Di dalam seni Barong tercermin sifat-sifat kerakyatan seperti spontanitas, sederhana, keras, kompak yang dilandasi kebenaran. Kesenian barongan berbentuk tarian kelompok yang terdiri dari tokoh Singo Barong, Bujangganong, Joko Lodro/Gendruwon. Jaranan/Pasukan Berkuda, serta prajurit. https://www.silontong.com/2018/08/31/tarian-tradisional-daerah-jawa-barat/
Pakaian Adat Sunda Laki- Laki Untuk Rakyat Jelata Pakaian adat Jawa Barat khususnya pakaian adat Sunda bisa di katakan terlalu istimewa. Kaum lelaki memakai celana panjang sampai betis dan ikat menggunakan kain ataupun kulit. Untuk bagian atas megenakan baju Selontreng dan Sarung Poleng di tata menyilang di gunakan selama kegiatan keseharian. Pakaian adat Sunda menggunakan ikat logen untuk menutup kepala yang berbentuk barangbang samplak serta untuk alas kaki cukup menggunakan sandal terumpah. https://www.silontong.com/2018/07/27/pakaian-adat-jawa-barat/
Pakaian Adat Sunda Perempuan Untuk Rakyat Jelata Bagi pakaian adat Sunda bagi kaum wanita menggunakan kain batik untuk bawahan, beuber untuk ikat pinggang, dan kamisol untuk bra. Untuk memperindah tampilan untuk wanita biasa menggunakan rambut hiasan dalam jucung bun, gelang akar bahar, dan cincin polos tapi untukalas kaki cukup menggunakan sandal jepit atau sandal keteplek. https://www.silontong.com/2018/07/27/pakaian-adat-jawa-barat/
Pakaian Adat Sunda Untuk Laki-Laki Kaum Menengah Pakaian adat Jawa Barat satu ini lebih identik pada seorang pedagang atau saudagar. Yang tentu strata sosial lebih tinggi dari pada rakyat jelata. Pakaian adat Sunda yang digunakan oleh kaum pria mengenakan baju bedahan putih, kain batik, alas kaki dengan tarumpah serta ikat kepala, biasanya ia menanambahkan aksesoris lain yang di gantungkan pada saku baju berupa arloji rantai emas. https://www.silontong.com/2018/07/27/pakaian-adat-jawa-barat/
Kalau ada anekdot di Kota Bandung tentang nama jalan yang paling panjang sedunia, jawabannya adalah Jalan Asia-Afrika. Sebagai bahan candaan, ke jalan tersebut berarti menempuh benua Asia dan Afrika, yang dipisahkan sebuah sungai. Nama Jalan Asia-Afrika sejatinya tak hanya berada di Kota Bandung, tetapi juga ada di kota-kota lain di Indonesia. Begitu juga dengan sungai yang melintasinya, Sungai Cikapundung yang bukan sungai terpanjang di Jawa Barat, tetapi Citarum, sungai yang jadi muaranya. Namun, kepopuleran nama jalan itu memang begitu hebat. Pun cikapundung, sebagai nama salah satu sungai tenar di Kota Kembang. Boleh jadi, siapa saja yang diminta menunjukkan jantung Kota Bandung, mesti telunjuknya mengarah ke ruas Jalan Asia-Afrika. Arus jalan itu cuma satu arah yang menuju ke Alun-alun Kota Bandung dan Masjid Raya Bandung Propinsi Jawa Barat. Di atas semua itu, Jalan Asia-Afrika Kota Bandung jadi saksi konferensi yang amat bersejarah, yang mempertemukan 29 negara...
Sumber ( http://3.bp.blogspot.com) Husein Sastranegara adalah salah seorang di antara tokoh-tokoh yang ikut serta mengabdikan dirinya dalam pembinaan perjuangan bersenjata pada masa-masa revolusi fisik, khususmya dibidang pertahanan udara. Disayangkan bahwa semangat pengabdian dan kesediaan berkorban sebagai patriot Tanah Air tidak bisa dilaksanakan lebih lama. Almarhum hanya dapat menyumbangkan tenaganya bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia dalam waktu setahun lebih sedikit dan hanya dalam waktu lima bulan saja setelah Angkatan Udara RI resmi didirkan. Meskipun kesempatan untuk berbakti kepada tanah air yang dcintainya begitu pendek, tidaklah menghilangkan sama sekali nilai-nilai jasa perjuangannya, terutama dalam masa-masa berkecamuknya perjuangan fisik mati-matian menghadapi agres Belanda. Semasa hidupnya Husein Sastranegara telah memberikan teladan yang tak ternilai kepada generasi penerus, baik dibidang kejuangan, kemauan yang keras dalam menggapai cta-cita, ma...
Jentreng Kabar baiknya, Jentreng ternyata sama dengan Tarawangsa. Hanya saja, Tarawangsa atau jentreng masih sangat asing bagi sebagian rakyat Indonesia. Hal ini disebabkan kesenian yang satu ini masih jarang sekali orang yang tahu. https://www.silontong.com/2017/06/23/alat-musik-tradisional-asal-jawa-barat-contoh-dan-cara-memainkannya/
Naskah Sukapura berasal dari Bapak R. Sulaeman Anggapradja di Jalan Ciledug Garut. Secara fisik naskah ini masih utuh, sampul naskah luar bewarna coklat, dan diperkirakan sampul ini merupakan pemberian pemerhati. Sementara sampul dalam yang diduga sampul aslinya, bewarna coklat kehijau-hijauan dengan motif seperti pecahan-pecahan kaca. Secara keseluruhan kondisi naskahnya masih kokoh. Tulisannya rapi dan menggunakan tinta bewarna hitam di atas kertas putih kecoklatan. Ukurannya 16 x 20,3 cm dengan ruang tulisannya 14 x 16 cm.Tebalnya sebanyak 136 halaman penuh tulisan, dan jumlah baris yang terdapat pada tiap halaman naskah memiliki jumlah yang sama yaitu 11 baris dan ditulis dengan menggunakan huruf Arab pegon bertanda vokal. Namun, di dalamnya tidak terdapat kolofon, iluminasi, atau watermark . Naskah ini disusun dalam bentuk dangding dengan mempergunakan delapan macam pupuh, yaitu Dangdanggula, Asmarandana, Sinom, Kinanti, Magatru, Durma, Pangkur, dan Maskumambang. &...
Naskah dari daun rontal ini berjudul Jatiniskala . Menurut Jakob Sumardjo, naskah ini diduga berasal dari zaman Kerajaan Galuh, Ciamis. Naskah ini ditemukan di Kabuyutan Kawali, Ciamis Utara, yang diberikan oleh Bupati Galuh R.A.A. Kusumadiningrat (1839-1886) kepada Bataviasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BGKW), lembaga yang khusus bergerak dalam bidang seni-budaya dan temuan-teman sejarah di Batavia; ada pun menurut Atja, naskah ini diserahkan oleh Raden Saleh. Kini naskah ini menjadi koleksi Perpustakaan Nasional, Jakarta, dengan nama register Kropak 422 . Kondisi Fisik Naskah Kondisi naskah secara keseluruhan masih bagus, hanya ada beberapa lempir yang telah rusak, bolong-bolong akibat gigitan kutu, dan sebagian lagi telah menghitam. Teksnya ditulis memakai pisau pangot, dengan bahasa dan aksara Sunda Kuno. Naskah ini terdiri atas 14 lempir/lembar rontal yang berukuran 31,8 x 4,1 cm. Ada pun luas marjin teksnya 29 x 2,7 cm. Setiap lempir terdiri...