Naskah Sukapura berasal dari Bapak R. Sulaeman Anggapradja di Jalan Ciledug Garut. Secara fisik naskah ini masih utuh, sampul naskah luar bewarna coklat, dan diperkirakan sampul ini merupakan pemberian pemerhati. Sementara sampul dalam yang diduga sampul aslinya, bewarna coklat kehijau-hijauan dengan motif seperti pecahan-pecahan kaca.
Secara keseluruhan kondisi naskahnya masih kokoh. Tulisannya rapi dan menggunakan tinta bewarna hitam di atas kertas putih kecoklatan. Ukurannya 16 x 20,3 cm dengan ruang tulisannya 14 x 16 cm.Tebalnya sebanyak 136 halaman penuh tulisan, dan jumlah baris yang terdapat pada tiap halaman naskah memiliki jumlah yang sama yaitu 11 baris dan ditulis dengan menggunakan huruf Arab pegon bertanda vokal. Namun, di dalamnya tidak terdapat kolofon, iluminasi, atau watermark. Naskah ini disusun dalam bentuk dangding dengan mempergunakan delapan macam pupuh, yaitu Dangdanggula, Asmarandana, Sinom, Kinanti, Magatru, Durma, Pangkur, dan Maskumambang.
Pada bagian awal naskah ini menceritakan Pangeran Ngabehi Kusuma Hadiningrat, seorang bangsawan di Tanah Sunda keturunan Jaka Tingkir, Sultan Pajang. Jaka Tingkir menurunkan para bangsawan di Tanah Sunda, khususnya para bupati Sukapura. Pada zaman dulu di Tanah Sunda ada dua tokoh terkenal bernama Pangeran Sumedang dan Dipati Ukur yang masing-masing menjadi kepala daerah di Sumedang dan Ukur. Keduanya menjadi pemimpin karena memiliki kekuatan yang luar biasa.
Kemudian dikisahkan tentang Dipati Ukur, dimulai dengan perintah Sultan Mataram kepadanya dan Tumenggung Bakureksa untuk menyerang Kota Batavia (Jakarta). Akibat kegagalannya menyerang Batavia, kemudian Dipati Ukur melakukan pemberontakan terhadap Mataram tetapi berhasil ditumpas oleh pasukan Mataram.
Bagian akhir diteruskan dengan pengangkatan Wirawangsa sebagai Bupati Sukapura, Astramanggala sebagai Bupati Bandung, dan Somahita sebagai Bupati Parakanmuncang, serta pembagian wilayah kepada mereka. Atas kehendak Sultan Mataram, wilayah Pasundan diserahkan kepada Kompeni (VOC).
Dilukiskan pula perbandingan ketika wilayah Pasundan berada dalam kekuasan Mataram dan Kompeni. Bila dibandingkan antarkeduanya, berada di bawah kekuasaan Kompeni lebih beruntung bagi rakyat pribumi (Pasundan) daripada di bawah kekuasaan Mataram.
Selanjutnya diceritakan keadaan Kabupaten Sukapura pada masa pemerintahan para bupati Sukapura sejak bupati pertama, yaitu Wirawangsa atau Tumenggung Wiradadaha hingga bupati ke-12 yaitu Raden Danukusumah. Dalam melukiskan masa pemerintahan tiap-tiap bupati Sukapura itu diungkapkan kematian bupati Sukapura sebelumnya, penggantian dengan bupati baru, peristiwa-peristiwa yang terjadi dan masalah-masalah yang timbul selama masa pemerintahan bupati tersebut, saudara-saudara dan para putra bupati tersebut, dan akhirnya kematian bupati yang bersangkutan.
http://www.wacana.co/2009/06/naskah-sukapura/
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...
Panduan Memahami Asal Usul Gresik: Dari Jejak Sejarah hingga Etimologi Nama Gresik, yang dijuluki Kota Wali karena peran pentingnya dalam penyebaran Islam di Jawa, merupakan salah satu wilayah bersejarah di pesisir utara Pulau Jawa. Memahami asal usul daerah ini tidak hanya menyangkut pengetahuan kronologis semata, tetapi juga memerlukan analisis terhadap berbagai lapisan sumber—dari prasasti kuno, naskah babad, hingga catatan kolonial. Panduan ini dirancang untuk membantu pembaca menavigasi kompleksitas historiografi Gresik secara sistematis, mulai dari etimologi nama hingga penetapan identitas administratifnya sebagai kabupaten. Sumber Sejarah dari Masa Jawa Kuno Dalam tradisi historiografi Indonesia, Gresik menempati posisi unik karena keberadaan sumber-sumber tertulis dari periode Jawa Kuno. Dua dokumen kuno menjadi landasan utama bagi para sejarawan dan budayawan dalam menelusuri akar historis wilayah ini (Sumber 3). Pertama, Babad Hing Gresik merupakan naskah sejar...
Rambu Solo': Ketika Kematian Menjadi Perayaan Perjalanan Bagaimana mungkin kematian—yang di banyak budaya menjadi momen duka dan kehancuran—diubah menjadi sebuah pesta yang memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun? Bagi Suku Toraja di Sulawesi Selatan, kematian bukanlah titik akhir, melainkan pintu masuk menuju perjalanan terakhir yang memerlukan persiapan ritualistik yang rumit dan mahal. Inilah inti dari Rambu Solo' , upacara pemakaman dalam ajaran Aluk Todolo yang mengubah penguburan menjadi sebuah spektakul budaya penuh makna. Menunggu di Antara Dua Dunia Paradoks pertama dari Rambu Solo' terletak pada pengertian kematian itu sendiri. Dalam logika Aluk Todolo —kepercayaan leluhur Suku Toraja—seseorang yang baru meninggal secara fisik belum benar-benar "mati" secara spiritual. Mayat akan disimpan terlebih dahulu di dalam rumah, bukan untuk segera dikubur, melainkan menunggu waktu yang dianggap tepat (Sumber 4). Masa tunggu ini bisa berlangsung berm...