Sumber ( http://3.bp.blogspot.com)
Husein Sastranegara adalah salah seorang di antara tokoh-tokoh yang ikut serta mengabdikan dirinya dalam pembinaan perjuangan bersenjata pada masa-masa revolusi fisik, khususmya dibidang pertahanan udara. Disayangkan bahwa semangat pengabdian dan kesediaan berkorban sebagai patriot Tanah Air tidak bisa dilaksanakan lebih lama. Almarhum hanya dapat menyumbangkan tenaganya bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia dalam waktu setahun lebih sedikit dan hanya dalam waktu lima bulan saja setelah Angkatan Udara RI resmi didirkan. Meskipun kesempatan untuk berbakti kepada tanah air yang dcintainya begitu pendek, tidaklah menghilangkan sama sekali nilai-nilai jasa perjuangannya, terutama dalam masa-masa berkecamuknya perjuangan fisik mati-matian menghadapi agres Belanda.
Semasa hidupnya Husein Sastranegara telah memberikan teladan yang tak ternilai kepada generasi penerus, baik dibidang kejuangan, kemauan yang keras dalam menggapai cta-cita, maupun tekadnya yang kuat untuk mengetahui dan menguasai teknologi penerbangan pada masanya. Kekerasan kemauan dan tekadnya serta kerelaan berkorban demi perjuangan telah tercermin dalam dri Husein Sastranegara. Pandangan-pandangannya yang jauh kedepan ikut meletakan pondasi yang penting bagi pembangunan TNI Angkatan Udara, yang kelak menjadi pancangan kaki yang kokoh bagi pengembangan suatu kekuatan Angkatan Udara yang modern d kemudian hari. Siapa sebenarnya Husein Sastranegra.
Anak Pangreh Peraja.
Dilihat dari latar belakang keluarga, Husein Sastranegara adalah keturunan ningrat Priangan dan golongan menengah Bumiputera. Baik dari pihak ayah maupun ibu, darah biru mengalir dalam diri Husein Sasatranegara dan 13 saudaranya yang lain. Ayah Husein, Rd. Demang Ishak Sastranegara adalah seorang Pangreh peraja (Demang) jaman Belanda dan pernah menjabat sebagai wedana Ujung berung Pejabat bupati di Tasikmalaya selama 17 bulan dan patih Tasikmalaya. Sang ayah adalah putera tunggal Rd. Askad Sastranegara, seorang Onder Collecteur Pensiun Sumedang. Sdangkan ibunya Rd Katjh Lasminngroem, putri Rd. Wiranata, Onder Collecteur Pensiun Cicalengka. Mereka menikah di Kadungora Garut pada tanggal 16 Oktober 1907.
Beberapa catatan sejarah memang mencatat tempat dan tanggal kelahiran Husen Sastranegara berbeda-beda. Namun berdasarkan catatan Yayasan Wangi Demang Sastranegara disebutkan bahwa Husen Sastranegara dilahirkan di Cilaku Cianjur pada tanggal 20 Januari 1919, sebagai anak kedelapan dari 14 bersaudara. Kondisi lingkungan keluarga dan jamannya, terutama dengan status pekerjaan orang tua pejabat di lingkungan pemerintahan Hindia Belanda, memberi pengaruh kuat pada cara pandang dan gaya hidup pemuda Husen. Sudah menjadi sesuatu yang umum pada saat itu anak-anak dari keluarga kelas menengah Bumiputera menjadikan gaya hdup berat sebagai sesuatu yang ideal.
Cara pandang dan gaya hidup seperti itu tidak selalu berdampak buruk justru memberi manfaat fostif pada diri Husen . Misalnya ia sama sekali tidak dhinggapi peraan rendah diri (inferiority complex) yang biasanya menjadi persoalan tersendiri bagi warga pribumi, terutama jika berhadapan dengan orang-orang Belanda. Bahkan sisi postif lannya adalah terebentuknya sosok pemuda Husen dengan cta-cita dan angan-angan yang sangat tinggi. Menurut keterangan istri Husein Ny. Koriyati Mangkuratmaja cta-cita Husen adalah ingin menjadi seorang perwira.
Mula-mula Husein sekolah di Europese Legere School (ELS) di Bandung. Ini tentunya setingat sekolah Dasar (SD) di jaman sekarang. Setelah itu Husein melanjutkan ke Hoger Burger School (HBS) di Bandung , tapi kemudian pindah ke HBS KW DRI di Jakarta . Begitu lulus HBS tahun 1939 Husen menjadi mahasiswa di Technische Hoge School (THS) di Bandung (sekarang ITB).
Pecahnya perang Dunia II pada tahun 1939 berdampak langsung pada nasib sekolah dan perjalanan hidup Husein. Belanda menduduki Jerman. Menyadari posisinya itulah pemerintah Hindia Belanda menerapkan siasat menarik Simpati rakyat Indonesia dengan memberi kelonggaran kepada pemuda Indonesia mencoba karir hidupnya di bidang penerbangan militer. Kesempatan tersebut ditanggapi sebagai peluang besar yang menjanjikan oleh Husein. Tanpa ragu husein pun mengambil keputusan meninggalkan bangku kuliahnya dan mendaftarkan diri ke sekolah Militare Luchvaart School atau disebut juga Luchtvaart di Kalijati Subang pada tahun 1939. Husein termasuk salah satu dari 10 orang pemuda pribumi yang diterima untuk mengukuti pendidikan perwira penerbang.
Pada tahun itu sebenarnya ada peristiwa sejarah penting yang digabungkan Sekolah Penerbang yang berlokasi di Kalijati Subang dengan Sekolah Pengintai di Lapangan Andir Bandung, Dari 10 orang sswa yang masuk. Hanya lima orang yang berhasil mendapat brevet penerbang , yakni Husein Sastranegara, Ignatius Adisutjipto , Sambodja Hurip, Sulistiyo dan Sujono. Kelima orang siswa penerbang yang lulus tersebut kelak menjadi perintis dalam dunia penerbangan d tanah air. Penddikan bagi angkatan pertama itu berakhir tahun 1940.
Sayangnya Husein Sastranegara gagal meneruskan pendidikan penerbang lanutannyad Bandung. Bersama dengan dua orang rekannya, yakni Sujono dan Sulstyo, Husein hanya mendapat KMB (Kleine Militaire Brevet) atau lisensi menerbangkan pesawat – pesawat bermesin tunggal. Sedangkan yang mendapatkan GMB (Groote Militaire Brevet ) hanya Agustnus Adsutjipto dan Sambudjo Hurip.
Sumber : http://monumenbandung.blogspot.com/p/monumen-husein-sastranegara.html
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...