Kedatangan drama Korea saat ini jadi salah satu hiburan yang amat digandrungi banyak orang, terlebih di masa pandemi yang memforsir warga buat senantiasa di rumah semacam dikala ini. Apalagi, di masa semacam ini pula, jeratan drama Korea terus menjadi luas. Anak muda, berusia muda, pendamping, suami, istri, ibu- ibu, bapak- bapak, dengan ponsel, tv, laptop, seluruh dapat dijangkau oleh Drakor. Mereka rela menghabiskan waktu sampai berjam- jam merampungkan satu drama Korea sampai tamat. Bukan cuma kala di rumah, kala saat sebelum terdapat pandemi, melihat orang nonton drama Korea di kendaraan universal kala jam kembali kantor telah perihal biasa. Kemudian kenapa drama Korea jadi- semakin- diminati serta menggoda banyak orang? Terdapat banyak alibi yang dapat keluar dari bibir seseorang penggemar Drakor apabila ditanya karena menggemari drama Korea. Untuk mereka yang sempat ataupun lagi, paling tidak menggemari satu judul drama Korea, tentu amat menguasai beberapa alibi be...
Mendu adalah salah satu kesenian khas kabupaten natuna yang berawal dari pulau laut, dan juga dikembangkan oleh orang kaya Maddun. Mendu berasal dari kata menghibur rindu atau hiburan rindu kampung halaman dan kasih sekampung. Kesenian mendu menyebar diberbagai tempat yaitu Bunguran Timur (ranai dan sepempang), Siantan (terempa dan langi), dan Mindai serta Tanjung Pinang. Keunikan dari seni Mendu ni adalah bahwa cerita yang dimainkan tanpa naskah, harus hafal diluar kepala. Dialognya disampaikan dengan nyanyian dan tarian. Semntara itu, lagu-lagu yang dinyanyikan adalah : Numu Satu, Lemak Lamun, Lakau, Catuk, Air Mawar, Jalan Kunon, Ilang Wayat, Perang, Beremas dan masih banyak yang lain. Sedangkan tariannya Ladun, Jalan Runon, Air Mawar, Lemak Lamun, Lakau, dan Beremas. Zaman dahulu para saudagar, nelayan, dan petani sangat senang menghibur diri pada malam hari. Mereka memainkan musik, nyanyian, berpantun sebagai pelepas rindu pada kampung halaman. Kata menghibur diri berubah menj...
Salah satu yang paling menarik adalah mengunjungi salah satu kampong di daerah pegunungan yakni Desa Soya. Letaknya sekitar 400m di atas permukaan laut, pada permukaan gunung sirimau (950m). Desa Soya indah dan penuh tumbuhan yang hijau dan udara pegunungan yang sejuk dan di penuhi aroma Cengkih, Pala, buah-buahan. Di Desa ini juga ada cerita misterius bercampur legenda dan mitos tentang cerita putri raja Soya yang bernama ”LUHU“ itu masih tetap di ceritakan secara turun temurun. Mitos ini berawal pada Zaman Penjajahan. Putri raja Soya yang bernama LUHU jatuh cinta pada seorang perwira Belanda, namun pernikahan mereka tidak di setujui sang ayah. Akibatnya putri LUHU membunuh dirinya. Arwahnya tidak pernah menemukan kedamaian dan kerap kembali ke Soya untuk menculik laki-laki sebagai suami yang tidak pernah ia kawini atau anak-anak yang tidak pernah ia peroleh. Setelah beberapa hari barulah korban penculikan ditemukan, kadang masih hidup atau sudah mati. Bila masih hidup maka k...
Zaman dahulu, di daerah Baguala huduplah seekor Buaya besar yang berwarna kuning keemasan, yang dikenal dengan Buaya Tembaga. Buaya Tembaga tersebut tidak pernah memangsa hewan lain. Namun, sebaliknya ia selalu menolong ikan-ikan, hewan-hewan lainnya dan selalu melindungi mereka dari hewan buas. Keberadaannya Buaya Tembaga terdengar sampai pesisir selatan Pulau Baru. Hewan yang berada di Pulau Baru hidup dalam ketakutan karena ada seekor Ular besar yang selalu memangsa hewan-hewan. Akhirnya, mereka mengirim utusan untuk meminta bantuan kepada Buaya Tembaga. Yang diutus adalah seekor Ikan, Ikan tersebut harus menempuh perjalanan yang cukup jauh dari tempat tinggalnya. Sang Ikan pun sampai di kediaman Buaya Tembaga. ‘’ Buaya Tembaga yang baik hati, aku datang dari Pulau Baru untuk meminta bantuanmu.’’ Ujar sang Ikan. ‘’ Apa yang bisa aku bantu?’’ jawab Buaya Tembaga. ‘’ Selama ini kami hidup dalam ketakutan karena ada seekor Ular besar yang melingkar pada pohon. Pohon tersebut melingk...
Pada zaman dulu ada seorang lelaki yang pekerjaanya mencari kayu bakar di hutan. Suatu ketika dengan menggunakan perahu ia tiba di pantai Latuhalat. Tepatnya di ujung tanjung Latuhalat, Dusun Waimahu kemudian ia berjalan mendaki bukit, menuruni lembah naik dan sampailah ia di puncak gunung lalu ia mencari kayu-kayu di situ. Ketika matahari mulai terbenam lalu ia beristirahat, ia hendak menuruni lembah menuju ke pantai. Tetapi hari sudah malam, maka ia menggambil keputusan untuk bermalam di situ. Kemudian ia melihat-lihat dan matanya tertuju disuatu tempat yang sangat bersih. Malam itu bulan purnama cahayanya terang-menerang menerangi tempat itu. Ia hendak tidur tetapi ia belum dapat memejamkan mata, ia diganggu binatang-binatang kecil antara lain, agas, nyamuk dan ular. Tiba-tiba seekor ular datang menelanya kemudian memuntahkanya kembali tiba-tiba bunyi gemuruh seakan-akan membelah bumi ini, ia menjadi takut dan merinding bulu romanya. Saat itu pula berdirilah seorang bapak tua,...
i cerita tentang seorang putri dengan Pak Rusa’. Putri tadi bernama Bussu. Kisah ini bermula dari suatu hari Putri Bussu melayangkan kipas ke rumah Pak Rusa’. Kipas tadi menyangkut di rumah Pak Rusa’. ” Putri, putri buatkan aku bubur ya .....”, kata Pak Rusa pada sang putri ” Baiklah, Pak Rusa’, jawab sang putri Dibuatkannyalah bubur, namun belum juga dimakannya sampai menjelang siang dan bubur tersebut menjadi dingin. Tidak lama kemudian bubur itupun dimakan oleh Pak Rusa’. Tidak lama kemudian Pak Rusa’ bertanya kepada tuan putri. ” Apa yang berbunyi riuh rendah tuan putri? tanya Pak Rusa’ ” Itu orang menumbuk emping disiang hari, jawab Sang Putri’ ” Apa yang dikipas - kipas, tuan putri? tanya Pak Rusa’ ” Orang sedang menyapu lantai di siang hari, Pak Rusa’ kata Tuan Putri" ” Apa yang terang benderang, tuan putri ? ” tanya Pak Rusa’ ” Bintang Timur merupakan tanda hari akan siang, Pak Rusa, kata Tuan Putri ” Apa yang bergoyang goyang, tuan putri ? ” tanya Pak R...
(cerita di lihat dari sambas.go.id) Konon pada zaman dahulu di daerah Kabupaten Sambas, tepatnya di pedalaman benua Bantahan sebelah Timur Kota Sekura Ibukota Kecamatan Teluk Keramat yang dihuni oleh Suku Dayak, telah terjadi peristiwa yang sangat menakjubkan untuk diketahui dan menarik untuk dikaji, sehingga peristiwa itu diangkat ke permukaan. Menurut informasi orang bahwa di daerah tersebut terdapat sebuah kerajaan yang kecil, letaknya tidak jauh dari Gunung Bawang yang berdampingan dengan Gunung Ruai. Tidak jauh dari kedua gunung dimaksud terdapatlah sebuah gua yang bernama ”Gua Batu”, di dalamnya terdapat banyak aliran sungai kecil yang di dalamnya terdapat banyak ikan dan gua tersebut dihuni oleh seorang kakek tua renta yang boleh dikatakan ”sakti. Cerita dimulai dengan seorang raja yang memerintah pada kerajaan di atas dan mempunyai tujuh orang putri, raja itu tidak mempunyai istri lagi sejak meninggalnya permaisuri atau ibu dari ketujuh orang putrinya. Di antara ketujuh...
Pada suatu ketika, Raden Sandhi dipanggil oleh orang tuanya dan berkata : ” Sandhi, kamu aku lihat lain dari pada saudara - saudaramu. Selalu saja kau pergi kehutan, atau sampai ke daerah Paloh berburu mencari burung, kijang, pelanduk. Hasilnya tidak ada juga. Jadi aku rasa lebih baik kamu tinggal di rumah saja, itu anak istrimu siapa yang akan mengurusnya. Kami memang sanggup memberinya makan, tapi kamu sebagai suaminya, kamu yang lebih banyak memberi perhatian, mendidik. Baik itu kepada anak - anakmu, istrimu, itu adalah tanggung jawabmu. Raden Sandhi, orangnya pendiam dan tidak suka berbicara yang tidak ada gunanya, terlebih - lebih kepada orang tuanya dan bagaimanapun kemarahan orang tuanya tadi, ia diam saja, namun di dalam hatinya karena itu telah menjadi kebiasaannya yang suka berburu. Pada suatu hari Raden Sandhi seperti biasa, akan pergi berburu senjatanya yang akan dipergunakan untuk pergi berburu. Lalu ia pergi menemui istrinya, ” Oi, hari ini, aku akan pergi berburu lagi...
Buku diambil dari tjerita Belanda (cerita belanda) yang ditulis ulang oleh Toekang Dongeng Rembang.