BAHAN : 1 kg ubi merah, potong sebesar batang korek api, kukus SAUS : 2 butir telur 375 gram gula pasir 750 ml santan kental dari 1 butir kelapa 50 ml air daun suji dan daun pandan 1/2 sdt garam CARA MEMBUAT SERIKAYE BETULANG (BANGKA-BELITUNG) : 1. Saus: kocok telur dengan gula hingga berbuih dan gula larut. Tuangkan santan, garam, dan air daun suji sedikit demi sedikit sambil diaduk hingga rata. 2. Tuang ke dalam pinggan tahan panas, kukus ke dalam panci pengukus hingga mengental dan matang. Angkat dan biarkan dingin. 3. Siramkan saus di atas ubi kukus, sajikan. https://hobimasak.info/resep-serikaye-betulang-bangka-belitung/
BAHAN : 500 gram ikan pari, potong-potong 5 sdm minyak, untuk menumis 1 sdt asam, larutkan dengan sedikit air, saring 200 ml air 1 ikat kucai, potong BUMBU YANG DIHALUSKAN : 3 butir kemiri 5 cm lengkuas 1 batang serai, ambil bagian putihnya, iris 2 cm kunyit 1 1/2 sdm ketumbar 1 sdt jintan 7 buah cabai rawit merah 5 butir bawang merah 3 siung bawang putih garam secukupnya CARA MEMBUAT MASAK IKAN PARIK KUCAI : 1. Panaskan minyak, tumis bumbu halus hingga harum. Tuang air asam dan air, masak hingga mendidih. 2. Masukkan ikan dan kucai, aduk don masak hingga air menyusut dan matang. 3. Angkat dan sajikan. https://hobimasak.info/resep-masak-ikan-parik-kucai-bangka-belitung/
BAHAN : 500 gram ikan kakap, bersihkan, potong-potong 750 ml air Masukkan ikan dan nanas, 1 buah nanas setengah matang, kupas, iris nnemanjang BUMBU YANG DIHALUSKAN : 7 cm kunyit hangat. 15 buah cabai rawit merah 1 sdt terasi 1 batang serai, ambil bagian putihnya, iris 5 butir bawang merah 4 cm lengkuas garam secukupnya CARA MEMBUAT GANGAN NANAS (BANGKA-BELITUNG) : 1. Rebus air bersama bumbu halus hingga mendidih. Masukkan ikan dan nanas, aduk dan masak kembali hingga bumbu meresap dan matang. 2. Angkat dan sajikan selagi hangat. https://hobimasak.info/resep-gangan-nanas-bangka-belitung/
Dincak Dambus merupakan tarian berpasangan yang berasal dari Pulau Bangka. Tarian ini mengiringi suatu pentas pertunjukan musik dambus. Alat musik yang dimainkan antara lain dambus, instrumen khas melayu, gendang, tambur, dan gong. Kostum tari ini memakai baju kurung khas Melayu, penari perempuan memakai hiasan di leher yang disebut teratai dan penari laki-laki memakai stanjak. Peran tarian ini sebagai hiburan dan pertunjukan pada pesta pernikahan. Pada awal perkembangannya, tarian ini menceritakan kegembiraan kelompok anak-anak usia dini yang menyatakan ucapan terima kasih atas berkah yang diterima dari Yang Maha Kuasa atas keindahan alam dan sumber daya yang dimiliki kepulauan Bangka Belitung. Sumber: http://ddwkkbangka.blogspot.co.id/2013/08/tari-dincak-dambus.html
Ada sebuah rumah kecil beratap daun palem duri. Di sekitarnya terdapat beberapa bangunan serupa. Dalam rumah itu tinggallah sepasang suami istri yang sudah lama berumah tangga, tapi belum memiliki anak. Mereka adalah Apa Inda dan Ama Tumina. Mereka hidup dengan hasil panen padi di ladang, dan menangkap ikan di laut. Apa Inda biasa memasang sero. Bila air laut surut, ikan-ikan akan terperangkap penangkap ikan tradisional yang menyerupai pagar di laut itu. Hari itu, musim panen bertepatan dengan surutnya air laut. Apa Inda dan istrinya berbagi tugas. “Bagaimana kalau Apa ke laut dan Ama ke ladang?” usul Apa Inda. “Baiklah. Hati-hati di jalan,” sahut Ama Tumina. Dengan wajah riang Apa Inda keluar rumah. Dia menggendong ambong di pundak. Alat itu biasa digunakan untuk membawa ikan-ikannya. Burung-burung berkicau mengiringi langkah. Semilir angin menyapa tetes-tetes keringat. Di tengah jalan...
Dahulu kala ada sebuah keluarga yang tinggal di dekat Sungai Cicuruk. Suami istri itu memiliki seseorang anak laki-laki bernama Kulup. Suatu hari, Pak Kulup pergi ke hutan untuk mencari rebung. Di sana ia menemukan sebuah tongkat di antara rumpun bambu. Ternyata tongkat itu dihiasi intan permata dan batu merah delima. Pak Kulup memutuskan untuk membawa pulang rebung dan tongkat itu. Setibanya di rumah, Pak Kulup menceritakan kejadian yang dialaminya. Kemudian mereka sepakat untuk menjual tongkat temuan itu. Si Kulup disuruh menjual tongkat itu ke negeri seberang. Akhirnya, tongkat itu pun dibeli oleh seorang saudagar kaya dengan harga tinggi. Namun, si Kulup tidak segera pulang ke rumahnya. Ia lebih memilih tinggal di rantau, bahkan ia pun menikahi putri saudagar paling kaya di negeri itu. Suatu hari, si Kulup dan istrinya berdagang ke muara Sungai Cicuruk. Berita kedatangan si Kulup terdengar sampai ke telinga orangtuanya. Kedua orangtua si Kulup pergi ke kapal untu...
Ada seorang pemuda bernama Penyumpit karena orangtuanya dulu berutan kepada Pak Raje, seorang kepala desa yang kaya namun licik, maka kini setelah kedua orangtuanya meninggal, ia harus menjaga sawah Pak Raje siang dan malam. Pada suatu hari, Penyumpit melihat seekor babi hutan merusak sawah Pak Raje. Ia lalu melemparkan tombak dan tepat mengenai babi hutan. Lalu ia terus mengejar babi hutan itu sampai masuk ke hutan. Tiba-tiba, terjadi sebuah keajaiban! Sampai di hutan, babi hutan itu seketika berubah menjadi seorang putri yang cantik. “Wahai, putri yang cantik. Kaukah babi yang terluka tadi? Maafkan, aku tadi telah menombakmu,” kata Penyumpit yang penuh penyesalan. “Tidak apa-apa. Itu bukan salahmu. Namaku Putri Malam,” ucap Putri Malam sambil merintih kesakitan. Kemudian Penyumpit membantu mengobati luka Putri Malam sampai sembuh. Keesokan harinya, Putri Malam sudah bisa berjalan kembali. Sebagai tanda terima kasih, ia memberikan beberap...
Tersebutlah seorang gadis yatim piatu bernama Mah Bongsu. Ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga pada Mah Piah yang kikir dan serakah. Mah Piah mempunya seorang putri yang bernama Siti Mayang. Suatu hari, ketika Mah Bongsu mencuci pakaian di sungai, seekor ular yang terluka di punggungnya mendekatinya. Mah Bongsu iba melihatnya. Ia memberanikan diri mengambil ular yang kesakitan itu dan merawatnya di rumah. Setiap kali kulit ular itu terkelupas, Mah Bongsu memunguti dan membakarnya sehingga muncul asap. Jika asap mengarah ke Negeri Singapura, tiba-tiba muncul tumpukan emas berlian dan uang di depannya. Tetapi apabila asapnya mengarah ke kota Bandar Lampung, muncullah berlembar-lembar kain tapis Lampung. Maka dalam waktu singkat Mah Bongsu menjadi kaya raya. Karena merasa kekayaannya tersaingi, hampir setiap saat Mah Piah dan Siti Mayang mencari tahu rahasia kekayaan Mah Bongsu. Akhirnya, mereka tahu harta kekayaan Mah Bongsu berasal dari kulit ular yang terkelupas...
Di tepian Sungai Cerucuk, Belitung, hiduplah sepasang suami-istri bersama anak laki-lakinya. Kulup nama anak laki-laki itu. Meskipun hidup sederhana, mereka selalu tampak ceria. Gubuk reot di pinggir muara sungai itu tak membuat mereka dukacita. Mereka tetap saja bersahaja. Emak Kulup telah lama sakit. Perutnya membuncit. Hari demi hari kakinya terlihat semakin mengecil. Kata orang, Emak mendapat tulah penunggu sungai. Ketika itu Kulup masih kecil, sangat kecil bahkan. Usianya belum genap dua tahun. Itulah sebabnya Kulup tidak ingat betul apa penyebab sakit emaknya. Ia pun tidak tahu kebenaran cerita orang tentang penyakit emaknya itu. Sejak emaknya sakit, Kulup dibesarkan sendiri oleh ayahnya. Lelaki setengah baya itu harus bekerja keras untuk menghidupi diri, istri, dan anaknya. Hari-harinya dihabiskannya untuk bekerja, bekerja, dan bekerja. Pagi-pagi sekali ia sudah berada di ladang, mengurus tanaman. Atau, ia pergi ke sungai, menengok bubu yang dipasang pada sore har...