Baturaden artinya pembantu dan bangsawan. Berasal dari kata “batur” yang berarti pembantu dan “raden” yang berarti bangsawan. Menurut cerita rakyat Jawa Tengah, Baturaden merupakan kisah cinta antara Suta, seorang perawat kuda milik Adipati Kutaliman dengan putri Adipati Kutaliman yang berdarah bangsawan. Kisah cinta ini terjadi dahulu kala di Kadipaten Kutaliman, Banyumas, Jawa Tengah sekarang. Adipati Kutaliman memiliki seorang pembantu bernama Suta. Tugas Suta adalah merawat kuda-kuda milik Adipati Kutaliman dan membersihkan istal (kandang kuda). Disamping dikenal sebagai sosok perkerja keras dan jujur, Suta juga dikenal memiliki paras yang tampan rupawan. Selama bekerja di Kadipaten Kutaliman, Suta tidak pernah membuat masalah. Selepas mengurus kuda-kuda Kadipaten, Suta biasa mengisi waktunya dengan berjalan mengelilingi area Kadipaten. Karena Kadipaten memiliki area yang cukup luas, setiap harinya Suta akan berjalan melewati lokasi yang berbeda. Di s...
Dahulu di Jawa Tengah tepatnya di daerah Kudus, banyak tokoh-tokoh besar yang sakti mandraguna. Di antaranya tentulah Sunan Kudus, seorang wali besar yang menjadi salah seorang anggota Dewan Dakwa Walisongo. Di samping itu ada juga orang sakti lainnya, yaitu Ki Ageng Kedungsari dia adalah warga terpandang di daerah Gebong yang sekarang berada di wilayah Kabupaten Kudus. Ia pun berbahagia dengan seorang anak lelaki yang tampan. Setelah menyaksikan anaknya itu dewasa, berniatlah Ki Ageng untuk menikahkannya. Akan tetapi, anaknya sendiri mengakui belum memiliki pilihan hati. Oleh karena itu, Ki Ageng Kedungsari meminta bantuan sanak kerabatnya untuk mencari seorang gadis yang kelak pantas mendampingi anaknya. Beberapa waktu kemudian, Ki Ageng mendapat kabar bahwa Ki Ageng Rajekwesi di daerah Jepara memiliki seorang gadis yang cantik jelita. Rencana berkunjung dan melamar ke Jepara segera dipersiapkan bersama seluruh kerabat yang semuanya adalah orang-orang terpandang. Dalam lubuk h...
Di Lokasi dekat aliran sungai Pelus, terdapat sebaran Batuan andesit berbentuk balok dan terdapat Batu berbentuk gentong dengan ukuran cukup besar berjumlah 18 buah, beberapa buah batu gentong tersebut di muka atas bagian tengah terdapat cerukan dan ada pahatan sampai ke pinggir seperti jalur aliran air. Di titik tengah area terdapat batu berbentuk lengkung seperti sebuah Stella atau sandaran sebuah arca.
Fragmen Arca Batu Andesit satu sosok Dewa dalam agama Hindu, dengan kondisi bagian kepala arca telah patah dan hilang. Di temukan di areal pesawahan Kelurahan Kedunguter, Kecamatan Banyumas.
Di daerah Gunung Kidul, tepatnya di wilayah Dawung, terdapat dua buah sendang yang cukup terkenal yaitu Sendang Beji dan Sendang Mole. Sampai sekarang penduduk di sana sekali dalam setahun, bertepatan dengan hari Jumat Legi bulan Suro tidak pernah absen menyelenggarakan selamatan nyadran di kedua tempat tersebut. Adapun asal mulanya selamatan nyadren di kedua sendang itu, konon ceritanya adalah sebagai berikut. Pada zaman dahulu kala di Desa Jepitu daerah Tepus, Gunung Kidul tinggallah sebuah keluarga yang sangat miskin. Keluarga ini terdiri dari suami, isteri, dan dua orang anaknya (seorang laki-laki dan yang seorang lagi perempuan). Suami-isteri itu bernama Kyai dan Nyai Goa Soka, sedang anaknya yang laki-laki bernama Guru soka dan yang perempuan bernama Andan Sari. Kemiskinan yang dialami oleh keluarga Kyai/Nyai Goa Soka ini, terjadi setelah keduanya menikah. Apalagi setelah kedua anaknya lahir, kehidupan mereka semakin susah. Lama-kelamaan, karena sudah tidak tahan mende...
Sebuah Arca Garuda posisi duduk sambil menyembah dengan sayap menguncup di temukan pada tahun 1890 di desa Karang wangkal sebelah Utara Desa Arca Winangun, di tengarai Arca Garuda tersebut berasal dari Lokasi Candi yang ada di Arca Winangun, Purwokerto, Banyumas. Sekarang di simpan di Museum Nasional di Jakarta.
Di Kecamatan Mrebet ada sebuah prasasti tulis berhuruf (Aksara) Jawa Kuno, dengan Aksara bermotif Sulur yang di pahatan pada sebuah batu sebesar gajah gemuk. Sudah bertahun-tahun tulisan di Watutulis ini belum terterjemahkan. Namun tahun 1983, Drs. Kusen dari Fakultas Sastra UGM Jurusan Arkeologi, berhasil membaca tulisan di Watutulis. Bunyinya "Indra Wardana Wikrama Deva". Menurut dugaannya, kalimat ini adalah nama seorang raja jaman dahulu yang kekuasaannya sampai di wilayah lereng tenggara Gunung Slamet ini.
Di lereng sebuah bukit, dekat mata air Bacok, sumber sungai Pejaranan, di Susu Pengakuan Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga, di lereng tenggara Gunung Slamet. Tergeletak sebuah yoni Dari Bahan Batu Kapur dengan kondisi belum selesai, Bagian muka atas belum sempat di buat lubang untuk meletakan Lingga, dengan ukuran (1m x 1m x 0,9 m).
Dalam area sebuah Gumuk di Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas terdapat sebuah situs peninggalan Hindu yang berisi fragmen 2 buah Yoni berukuran besar dan kecil, di dekatnya ada sebuah Lingga, sebelumnya juga terdapat sebuah fragmen Nandi yang akhirnya hilang di curi orang. Situs ini di namai dengan situs Lembu Ayu yang merujuk pada sosok sebuah Nandi (sapi,lembu) itu.