Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Jawa Tengah Dawung, Karanganyar
Nyai Andan Sari dan Kyai Guru Soka
- 19 November 2018

Di daerah Gunung Kidul, tepatnya di wilayah Dawung, terdapat dua buah sendang yang cukup terkenal yaitu Sendang Beji dan Sendang Mole. Sampai sekarang penduduk di sana sekali dalam setahun, bertepatan dengan hari Jumat Legi bulan Suro tidak pernah absen menyelenggarakan selamatan nyadran di kedua tempat tersebut. Adapun asal mulanya selamatan nyadren di kedua sendang itu, konon ceritanya adalah sebagai berikut.

Pada zaman dahulu kala di Desa Jepitu daerah Tepus, Gunung Kidul tinggallah sebuah keluarga yang sangat miskin. Keluarga ini terdiri dari suami, isteri, dan dua orang anaknya (seorang laki-laki dan yang seorang lagi perempuan). Suami-isteri itu bernama Kyai dan Nyai Goa Soka, sedang anaknya yang laki-laki bernama Guru soka dan yang perempuan bernama Andan Sari.

Kemiskinan yang dialami oleh keluarga Kyai/Nyai Goa Soka ini, terjadi setelah keduanya menikah. Apalagi setelah kedua anaknya lahir, kehidupan mereka semakin susah. Lama-kelamaan, karena sudah tidak tahan menderita lebih lama lagi, maka Kyai Goa Soka memutuskan untuk bertapa, mencari wahyu agar kehidupan rumah tangganya lebih baik. Singkat cerita, niat bertapa itu segera ia laksanakan.

Setelah beberapa bulan Kyai Goa Soka meninggalkan anak-isterinya untuk pergi bertapa. Selama itu pula keluarganya tak pernah sekali pun mendengar kabar beritanya. Hal ini membuat anak-isterinya merasa cemas. Tiap hari Guru Soka dan Andan Sari selalu menangis dan mengajak ibunya segera mencari ayah ayahnya. Mendengar kedua anaknya yang selalu merengek tersebut, Nyai Goa Soka akhirnya tidak tahan juga dan mengajak mereka untuk mencari Kyai Goa Soka.

Karena mereka belum tahu di mana Kyai Goa Soka berada, maka arah perjalanannya pun hanya kira-kira saja. Namun, setelah beberapa hari berjalan, akhirnya mereka berhasil juga menemukan tempat pertapaan Kyai Goa Soka yang terletak di Sendang Sureng. Pertemuan ini sangat menggembirakan mereka berempat. Beberapa hari kemudian, setelah pertemuan itu dirasa cukup, maka Nyai Goa Soka bersama kedua anaknya lalu kembali ke Jepitu lagi, sedang Kyai Goa Soka tetap meneruskan tapanya.

Lebih dari satu tahun kemudian, ternyata Kyai Goa Soka belum juga kembali dari tapanya. Selama itu pula keluarganya selalu menunggu dengan hati cemas. Dan, akhirnya Nyai Goa Soka bersama kedua anaknya lalu menyusul lagi ke Sendang Sureng untuk melihat keadaan suaminya.

Sampai di Sendang Sureng mereka merasa heran karena Kyai Goa Soka tidak ada di situ. Dalam keheranan dan sekaligus kebingungan itu, tiba-tiba mereka mendengar suara Kyai Goa Soka, tetapi tidak melihat orangnya. Kata Kyai Goa Soka: “Sudahlah jangan cemaskan aku. Mulai hari ini kalian tetaplah menunggu di tempat ini. Akulah yang akan mencari sandang dan pangan untuk kedua anak kita serta untukmu juga, Nyai.”

Setelah suara itu menghilang, Nyai Goa Soka dan kedua anaknya tiba-tiba melihat ujud Kyai Goa Soka. Selanjutnya, Kyai Goa Soka lalu membawa isteri dan anak-anaknya menghilang ke suatu tempat. Sejak itu penduduk Desa Jepitu tidak dapat melihat lagi ujud Kyai Goa Soka sekeluarga. Mereka menganggap bahwa Kyai Goa Soka sekeluarga telah menjadi gaib (kajiman).

Pada suatu hari Kyai Goa Soka menyuruh kedua anaknya agar mereka menjelajahi serta menghitung semua sendang yang ada di daerah Gunung Kidul. Jika telah diketahui jumlahnya, keduanya harus tinggal di sendang pada hitungan terakhir dan satu hitungan sebelum sendang terakhir.

Guru Soka dan Andan Sari lalu berangkat melaksanakan perintah ayahnya untuk menghitung jumlah seluruh sendang di Gunung Kidul. Setelah semua sendang yang ada selesai dikunjungi, maka diketahuilah bahwa jumlahnya ada 31. Pada waktu itu untuk menyebut angka 31 dipakai istilah beji yang berasal dari kata behji. Sendang itu oleh Guru Soka kemudian dinamakan Sendang Beji. Dan, di Sendang Beji inilah Guru Soka akan menetap untuk selamanya, seperti yang diperintahkan oleh ayahnya.

Setelah berada di sedang terakhir (Sendang Beji) ini, Andan Sari mengatakan bahwa ia akan mulih (pulang) ke sendang yang telah diperuntukkan baginya, yaitu sendang yang berada satu hitungan sebelum sendang terakhir. Dari perkataan mulih itu, sendang tempat Andan Sari menetap kemudian dinamakan Sendang Mole, yang letaknya berdekatan dengan Sendang Beji. Demikianlah asal mula kedua sendang itu dinamakan Sendang Beji dan Sendang Mole.

Setelah beberapa lama Guru Soka menetap di Sendang Beji dan Andan Sari di Sendang Mole, maka Kyai Goa Soka dan Nyai Goa Soka bermaksud mencari kedua anaknya. Kedua suami-isteri itu pun segera mencari anak-anaknya di seluruh sendang yang ada di wilayah Gunung Kidul. Akhirnya mereka menemukan Guru Soka dan Andan Sari di Sendang Beji dan Sendang mole. Melihat sendang yang ditempati kedua anaknya itu, Kyai dan Nyai Goa Soka merasa cocok dan puas. Kyai Goa Soka lalu berkata kepada kedua anaknya:

“Tempatmu ini kelak akan banyak dikunjungi orang. Dan, di antara orang-orang itu tentu ada yang datang meminta agar dikabulkan permohonannya dan ada pula yang datang namun bertindak sembrono dengan tidak mematuhi aturan-aturan yang berlaku di tempat ini. Nah, dari mereka inilah kalian akan memperoleh sandang dan pangan. Berbuatlah jail pada orang-orang yang sembrono ini.”

“Maksudnya bagaimana, Romo?” tanya kedua anaknya.

“Seandainya di tempatmu ada orang berbuat tidak senonoh dan tidak sopan, ataupun kurang menghormati tempatmu ini, ganggulah dia, tapi jangan sampai mati! Sebab kalau sampai mati mereka tidak dapat memberimu sandang atau pangan. Ganggu sajalah mereka sampai mengadakan peruwatan (selamatan) dan syukuran. Syukuran juga akan dilakukan bagi orang-orang yang merasa permohonannya dikabulkan. Nah, dari situlah kalian dapat memperoleh sandang serta pangan,” kata Kyai Goa Soka.

Bertahun-tahun kemudian, setelah wilayah Gunung Kidul menjadi ramai, Sendang Mole dan Sendang Beji pun banyak dikunjungi orang. Melihat hal ini, Guru Soka memberi wangsit pada seorang penduduk yang bertempat tinggal dekat Sendang Mole dan Sendang Beji, bernama Ki Serah. Dalam wangsit itu Ki Serah diberi kepercayaan untuk menjaga kedua sendang dan melayani segala kehendak atau permintaan orang-orang yang datang. Sejak saat itu Ki Serah lalu menjadi jurukunci di kedua sendang tersebut. Kalau ada orang datang minta berkah maka Ki Serah yang menjadi perantaranya dengan membakar kemenyan sambil menyebut nama Ki Guru Soka dan Nyai Andan Sari. Dan, apabila telah terkabul keinginannya, maka mereka akan mengadakan syukuran dengan menyembelih kambing di kedua sendang tersebut. Syukuran itu waktunya biasanya bersamaan dengan “nyadran”, yaitu Jumat Legi pada bulan Suro.

Setelah Ki Sareh meninggal dunia maka jabatan juru kunci digantikan oleh anaknya yang bernama Ki Krama Menggala. Pada masa Krama Menggala ini upacara nyadran dilaksanakan dengan selamatan sederhana, yaitu menyembelih kambing untuk kemudian dimakan bersama dengan penduduk setempat. Sebelum upacara nyadran dilaksanakan, terlebih dahulu Sendang Beji dan Sendang Mole harus dikuras.

Sendang Mole dan Sendang Beji memiliki mata air yang sangat besar. Karena besarnya mata air di sana maka dikhawatirkan pada saat musim hujan akan menimbulkan bencana banjir bagi warga di sekitar sendang tersebut. Untuk menjinakkan agar airnya jangan sampai meluap diperlukan seorang pawang. Satu-satunya orang yang dianggap mampu menjadi pawang di tempat itu hanyalah Wonotaruno, adik Kromo Manggala. Oleh Wonotaruno disarankan agar mata air tersebut disumbat dengan ijuk. Ternyata setelah disumbat, air itu tetap melimpah.

Karena tidak berhasil menyumbat mata air di kedua sendang itu, maka penduduk yang berada di sekitarnya menjadi resah. Melihat keresahan penduduk tersebut, Kyai Guru Soka kemudian memberi wangsit kepada salah seorang penduduk untuk menyediakan sesaji berupa gamelan komplit dengan wayangnya, agar sendang tidak terlampau melimpah airnya.

Penduduk lalu bergotong-royong untuk menyediakan sesaji berupa gamelan yang komplit dilengkapi dengan wayangnya. Konon, seketika itu juga gamelan dan wayang menghilang. Sebenarnya gamelan dan wayang itu tidak hilang, tetapi hanya tidak dapat terlihat oleh pandangan mata biasa. Pendapat ini dibuktikan dengan selalu terdengarnya bunyi gamelan yang datangnya dari arah sendang pada tiap malam Jumat.

Pada suatu malam ada salah seorang penduduk yang menerima wangsit yang mengatakan bahwa apabila ada orang yang membutuhkan gamelan serta wayang maka Kyai Guru Soka dan Nyai Andan Sari bersedia meminjamkan, asalkan setelah selesai segera dikembalikan.

Sejak saat itu banyak penduduk yang akan punya hajad selalu meminjam gamelan dan wayang ke sana. Namun sayang sekali, pada suatu ada seorang penduduk yang berbuat khilaf, dengan tidak mengembalikan salah satu perangkat gamelan yaitu kempul. Mulai saat itu penduduk sudah tidak dapat lagi meminjam gamelan, di samping itu suara yang sering terdengar menghilang sama sekali. Sedangkan, orang yang lupa mengembalikan kempul itu lalu menanggung akibat yang cukup berat. Anaknya mati semua, juga ternak peliharaannya.

Saat Ki Krama Manggala meninggal dunia, kedudukannya sebagai kuncen digantikan oleh Ki Panca Manggala. Selanjutnya Ki Panca Manggala digantikan oleh Ki Mangun Taruno. Orang inilah yang sampai sekarang biasa melakukan upacara nyadran di Sendang Mole dan Sendang Beji.

 

 

 

Referensi:

  1. Indotim (https://indotim.wordpress.com/cerita-rakyat-nusantara-2/cerita-rakyat-nusantara-vi/5/)

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Tradisi MAKA
Seni Pertunjukan Seni Pertunjukan
Nusa Tenggara Barat

MAKA merupakan salah satu tradisi sakral dalam budaya Bima. Tradisi ini berupa ikrar kesetiaan kepada raja/sultan atau pemimpin, sebagai wujud bahwa ia bersumpah akan melindungi, mengharumkan dan menjaga kehormatan Dou Labo Dana Mbojo (bangsa dan tanah air). Gerakan utamanya adalah mengacungkan keris yang terhunus ke udara sambil mengucapkan sumpah kesetiaan. Berikut adalah teks inti sumpah prajurit Bima: "Tas Rumae… Wadu si ma tapa, wadu di mambi’a. Sura wa’ura londo parenta Sara." "Yang mulia tuanku...Jika batu yang menghadang, batu yang akan pecah, jika perintah pemerintah (atasan) telah dikeluarkan (diturunkan)." Tradisi MAKA dalam Budaya Bima dilakukan dalam dua momen: Saat seorang anak laki-laki selesai menjalani upacara Compo Sampari (ritual upacara kedewasaan anak laki-laki Bima), sebagai simbol bahwa ia siap membela tanah air di berbagai bidang yang digelutinya. Seharusnya dilakukan sendiri oleh si anak, namun tingkat kedewasaan anak zaman dulu dan...

avatar
Aji_permana
Gambar Entri
Wisma Muhammadiyah Ngloji
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Daerah Istimewa Yogyakarta

Wisma Muhammadiyah Ngloji adalah sebuah bangunan milik organisasi Muhammadiyah yang terletak di Desa Sendangagung, Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Wisma ini menjadi pusat aktivitas warga Muhammadiyah di kawasan barat Sleman. Keberadaannya mencerminkan peran aktif Muhammadiyah dalam pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan dakwah dan pendidikan berbasis lokal.

avatar
Bernadetta Alice Caroline
Gambar Entri
SMP Negeri 1 Berbah
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Daerah Istimewa Yogyakarta

SMP Negeri 1 Berbah terletak di Tanjung Tirto, Kelurahan Kalitirto, Kecamatan Berbah, Sleman. Gedung ini awalnya merupakan rumah dinas Administratuur Pabrik Gula Tanjung Tirto yang dibangun pada tahun 1923. Selama pendudukan Jepang, bangunan ini digunakan sebagai rumah dinas mandor tebu. Setelah Indonesia merdeka, bangunan tersebut sempat kosong dan dikuasai oleh pasukan TNI pada Serangan Umum 1 Maret 1949, tanpa ada yang menempatinya hingga tahun 1951. Sejak tahun 1951, bangunan ini digunakan untuk kegiatan sekolah, dimulai sebagai Sekolah Teknik Negeri Kalasan (STNK) dari tahun 1951 hingga 1952, kemudian berfungsi sebagai STN Kalasan dari tahun 1952 hingga 1969, sebelum akhirnya menjadi SMP Negeri 1 Berbah hingga sekarang. Bangunan SMP N I Berbah menghadap ke arah selatan dan terdiri dari dua bagian utama. Bagian depan bangunan asli, yang sekarang dijadikan kantor, memiliki denah segi enam, sementara bagian belakangnya berbentuk persegi panjang dengan atap limasan. Bangunan asli dib...

avatar
Bernadetta Alice Caroline
Gambar Entri
Pabrik Gula Randugunting
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Daerah Istimewa Yogyakarta

Pabrik Gula Randugunting menyisakan jejak kejayaan berupa klinik kesehatan. Eks klinik Pabrik Gula Randugunting ini bahkan telah ditetapkan sebagai cagar budaya di Kabupaten Sleman melalui SK Bupati Nomor Nomor 79.21/Kep.KDH/A/2021 tentang Status Cagar Budaya Kabupaten Sleman Tahun 2021 Tahap XXI. Berlokasi di Jalan Tamanmartani-Manisrenggo, Kalurahan Tamanmartani, Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, pabrik ini didirikan oleh K. A. Erven Klaring pada tahun 1870. Pabrik Gula Randugunting berawal dari perkebunan tanaman nila (indigo), namun, pada akhir abad ke-19, harga indigo jatuh karena kalah dengan pewarna kain sintesis. Hal ini menyebabkan perkebunan Randugunting beralih menjadi perkebunan tebu dan menjadi pabrik gula. Tahun 1900, Koloniale Bank mengambil alih aset pabrik dari pemilik sebelumnya yang gagal membayar hutang kepada Koloniale Bank. Abad ke-20, kemunculan klinik atau rumah sakit di lingkungan pabrik gula menjadi fenomena baru dalam sejarah perkembangan rumah sakit...

avatar
Bernadetta Alice Caroline
Gambar Entri
Kompleks Panti Asih Pakem
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Daerah Istimewa Yogyakarta

Kompleks Panti Asih Pakem yang terletak di Padukuhan Panggeran, Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, merupakan kompleks bangunan bersejarah yang dulunya berfungsi sebagai sanatorium. Sanatorium adalah fasilitas kesehatan khusus untuk mengkarantina penderita penyakit paru-paru. Saat ini, kompleks ini dalam kondisi utuh namun kurang terawat dan terkesan terbengkalai. Beberapa bagian bangunan mulai berlumut, meskipun terdapat penambahan teras di bagian depan. Kompleks Panti Asih terdiri dari beberapa komponen bangunan, antara lain: Bangunan Administrasi Paviliun A Paviliun B Paviliun C Ruang Isolasi Bekas rumah dinas dokter Binatu dan dapur Gereja

avatar
Bernadetta Alice Caroline