Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Jawa Tengah Baturaden
Legenda Baturaden
- 14 November 2018 - direvisi ke 3 oleh Bangindsoft pada 12 November 2021

Baturaden artinya pembantu dan bangsawan. Berasal dari kata “batur” yang berarti pembantu dan “raden” yang berarti bangsawan. Menurut cerita rakyat Jawa Tengah, Baturaden merupakan kisah cinta antara Suta, seorang perawat kuda milik Adipati Kutaliman dengan putri Adipati Kutaliman yang berdarah bangsawan. Kisah cinta ini terjadi dahulu kala di Kadipaten Kutaliman, Banyumas, Jawa Tengah sekarang. Adipati Kutaliman memiliki seorang pembantu bernama Suta. Tugas Suta adalah merawat kuda-kuda milik Adipati Kutaliman dan membersihkan istal (kandang kuda). Disamping dikenal sebagai sosok perkerja keras dan jujur, Suta juga dikenal memiliki paras yang tampan rupawan. Selama bekerja di Kadipaten Kutaliman, Suta tidak pernah membuat masalah.

Selepas mengurus kuda-kuda Kadipaten, Suta biasa mengisi waktunya dengan berjalan mengelilingi area Kadipaten. Karena Kadipaten memiliki area yang cukup luas, setiap harinya Suta akan berjalan melewati lokasi yang berbeda.

Di suatu hari, Suta berjalan mengelilingi area Kadipaten setelah seharian berkerja mengurus kuda-kuda Adipati. Saat melewati sebuah pohon mangga, Suta mendengar suara jeritan perempuan minta tolong. Ketika menengok ke pohon mangga, terkejutlah Suta melihat seekor ular sangat besar di balik pohon mahoni tengah berusaha memangsa seorang perempuan. Sosok perempuan tersebut nampak sudah pucat pasi dililit ular besar tersebut.

Tanpa pikir panjang, Suta segera mengeluarkan pedangnya dan langsung menyerang ular besar tersebut. Sebenarnya Suta bukanlah ahli pedang yang hebat, namun Suta nampak bersungguh-sungguh ingin menolong perempuan yang sudah tidak berdaya. Akhirnya setelah bersusah payah, Suta berhasil membunuh ular besar tersebut.

Perempuan yang hampir dimangsa oleh ular itu jatuh tak sadarkan diri. Segera seorang inang pengasuh membawa perempuan tersebut ke sisi pendopo. Saat Suta melihat wajah perempuan tersebut, terkejutlah ia karena perempuan yang baru saja ditolongnya itu ternyata putri Adipati Kutaliman. Meskipun telah lama tinggal di Kadipaten Kutaliman, namun baru kali ini ia melihat langsung wajah putri Adipati yang sudah terkenal kecantikannya.

Setelah sadarkan diri, inang pengasuh memberi tahu putri Adipati Kutaliman, bahwa ia telah ditolong oleh Suta, si pengurus kuda. Putri Adipati segera mengucapkan terima kasih kepada Suta. Saat keduanya bertatapan itulah tumbuh rasa cinta di hati mereka. Sejak saat itu keduanya menjadi akrab dan sering bertemu. Adipati Kutaliman mengetahui perihal pertemanan putrinya dengan Suta si pengurus kuda, namun Adipati tidak mempermasalahkannya.

Setelah sekian lama berteman dengan putri Adipati, Suta sudah tidak sanggup lagi menahan rasa cintanya kepada sang putri. Ia lantas memberanikan diri untuk meminang putri Adipati kepada ayahnya, kendati ia sadar bahwa dirinya hanyalah seorang pembantu.

Terang saja keberanian Suta melamar putri Adipati membuat berang Adipati Kutaliman. Ia tidak mempermasalahkan pertemanan putrinya dengan Suta, tetapi jika harus menikah tentu saja Adipati tidak terima mengingat status sosial yang berbeda. Karena merasa Suta telah lancang berani meminang putrinya, Adipati Kutaliman memerintahkan pengawal untuk memenjarakan Suta di penjara bawah tanah tanpa diberi makanan.

Suta sangat mencintai putri Adipati dan begitu pula sebaliknya. Status sosial keduanyalah yang memisahkan mereka. Hukuman ayahandanya kepada Suta membuat putri bersedih. Putri Adipati akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan Suta dari penjara. Tidak hanya itu, putri Adipati memutuskan untuk lari dari Kadipaten dan hidup bersama dengan pria yang ia cintai.

Sebuah rencana dilaksanakan pada suatu malam, putri adipati menyuruh pembantu kepercayaannya untuk membebaskan Suta dari penjara bawah tanah. Sementara ia sendiri mengganti pakaiannya menggunakan pakaian rakyat jelata dan menunggu di salah satu sisi Kadipaten. Pembantu kepercayaan sang putri masuk ke penjara bawah tanah dan memberikan makanan kepada para penjaga. Tentu saja para penjaga tidak merasa curiga karena telah mengenal baik pembantu sang putri. Seusai memakan makanan, para penjaga pun tertidur pulas. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh pembantu putri Kadipaten untuk membebaskan Suta. Ia segera membawa Suta yang terlihat sangat lemah menemui putri Adipati di salah satu sisi Kadipaten.

Kemudian putri Adipati dan Suta pergi ke luar Kadipaten dengan menunggang kuda. Putri Adipati memacu kudanya menuju ke arah lereng Gunung Slamet. Saat itu malam gelap pekat jadi tidak ada yang mengenali putri Adipati Kutaliman. Putri Adipati Kutaliman akhirnya menghentikan kudanya di dekat sungai. Mereka berdua sangat menyukai tempat tersebut karena berhawa sejuk dan pemandangannya asri. Akhirnya mereka menikah disana dan membangun rumah tangga. Saat ini tempat itu oleh masyarakat dikenal dengan nama Baturaden.

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Pamali:
Ritual Ritual
Jawa Barat

Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...

avatar
Kianasarayu