Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Jawa Tengah Kudus
Sayembara Ki Ageng Rajekwesi
- 17 November 2018

Dahulu di Jawa Tengah tepatnya di daerah Kudus, banyak tokoh-tokoh besar yang sakti mandraguna. Di antaranya tentulah Sunan Kudus, seorang wali besar yang menjadi salah seorang anggota Dewan Dakwa Walisongo. Di samping itu ada juga orang sakti lainnya, yaitu Ki Ageng Kedungsari dia adalah warga terpandang di daerah Gebong yang sekarang berada di wilayah Kabupaten Kudus. Ia pun berbahagia dengan seorang anak lelaki yang tampan. Setelah menyaksikan anaknya itu dewasa, berniatlah Ki Ageng untuk menikahkannya. Akan tetapi, anaknya sendiri mengakui belum memiliki pilihan hati. Oleh karena itu, Ki Ageng Kedungsari meminta bantuan sanak kerabatnya untuk mencari seorang gadis yang kelak pantas mendampingi anaknya. Beberapa waktu kemudian, Ki Ageng mendapat kabar bahwa Ki Ageng Rajekwesi di daerah Jepara memiliki seorang gadis yang cantik jelita.

Rencana berkunjung dan melamar ke Jepara segera dipersiapkan bersama seluruh kerabat yang semuanya adalah orang-orang terpandang. Dalam lubuk hati Ki Ageng Kedungsari, bersemilar harapan yang indah karena merasa orang yang kaya dan terhormat.

“Berangkatlah dengan segala kewibawaan agar tidak dipermalukan orang,” ujar Ki Ageng Kedungsari kepada sanak kerabatnya yang sudah berkemas melaksanakan tugas melamar. Tentu saja ucapan itu disambut dengan senyum kebanggaan.

“Percayalah, kami akan menjadi utusan yang terbaik dari Kedungsari. Siapa yang belum mendengar kewibawaan Ki Ageng? Bodohlah orang yang menolak lamarannya.” Ucapan itu muncul dari seorang pendekar yang akan bertugas menjaga rombongan dari kejahatan selama perjalanan. Sambutan Ki Ageng Rajekwesi di Jepara terhadap utusan Ki Ageng Kedungsari sangat menyenangkan. Jamuan makan dan minum terus mengalir diiringi tarian dan gamelan yang meriah sehingga cepat hilangkan segala keletihan rombongan yang telah menempuh perjalanan yang jauh.

Setelah beramah-tamah secukupnya maka disampaikanlah kehendak Ki Ageng Kedungsari untuk melamar putri Ki Ageng Rajekwesi bagi anak lelakinya yang tunggal. Dikatakan pula bahwa keinginan apa pun dari gadis itu akan terpenuhi dengan sebaik-baiknya.

Mendengar lamaran itu, tersenyumlah Ki Ageng Rajekwesi. Kemudian, ia berkata dengan lembutnya, ”Ki Sanak, terima kasih atas pilihan Ki Ageng Kedungsari terhadap putri kami yang masih bocah. Tetapi, ketahuilah sudah banyak orang yang melamarnya. Namun, sampai saat ini putriku sendiri masih belum menentapkan pilihannya. Yang kudengar, dia sanggup dilamar siapa pun jika mas kawinnya seekor gajah. Nah, sudikah Ki Sanak menyampaikannya kepada Ki Ageng Kedungsari.” Kalimat itu diterima ketua rombongan dengan senyum lega karena teringatlah pada seekor gajah kesayangan Ki Ageng Kedungsari. Kemudian, bergegaslah mereka berpamitan kembali ke Kudus. Konon, Ki Ageng Kedungsari sudah menunggu-nunggu hasil utusannya dengan harapan yang indah.

Akan tetapi, terkejutlah hatinya mendengar persyaratan mas kawin seekor gajah. Lama dia pun menimbang-nimbang dan akhirnya mengabulkan permintaan calon menantunya. Jadi, kasih sayangnya terhadap anak mampu mengalahkan kesenangannya sendiri.

Kemudian, tersiarlah kabar dari mulut kemulut penduduk tentang rencana lamaran Ki Ageng Kedungsari yang telah merelakan seekor gajah kesayangannya sebagai mas kawin.

Kabar itupun terdengar oleh Ki Ageng Menawan yang merasa hiri hatinya membayangkan keberhasilan Ki Ageng Kedungsari. Dalam hatinya tumbuh niat yang jahat hendak menggagalkan rencana itu, bahkan ingin merampas gajah Ki Ageng Kedungsari untuk dirinya sendiri. Pikirnya, “Kalau aku memiliki gajah itu pastilah menjadi orang terpandang. Dan sekarang saat yang tepat.”

Bergegaslah orang itu bersekongkol dengan sahabatnya yang terkenal dengan sebutan Ki Watu Gede. Dengan semangat yang berkobar-kobar berujarlah dia kepada sahabatnya, “Kelak utusan Ki Ageng Kedungsari pasti melewati daerahmu, membawa harta benda yang mahal-mahal dan menuntun seekor gajah untuk mas kawin putri Rajekwesi. Jangan sia-siakan kesempatan itu, dan rampasannya dibagi dua. Ki Watu Gede boleh memiliki seluruh harta benda yang terbawa, sedangkan aku sendiri hanya ingin memiliki gajahnya. Setuju, bukan?”

Mendengar tawaran itu tertawalah Ki Watu Gede sambil berjanji hendak bekerja sama dengan sebaik-baiknya. Namun, di dalam hatinya terbit juga keinginan untuk memiliki sendiri gajah itu agar kelak menjadi orang yang terpandang.

Tidak lama kemudian, rombongan dari Kedungsari telah memasuki wilayah kekuasaan Ki Watu Gede. Mereka baru menempuh setengah perjalanan untuk mencapai daerah Jepara.

Seluruh anggota rombongan itu makin meningkatkan kewspadaan karena sadar telah berada di luar wilayah sendiri. Mereka sudah berpikir bahwa setiap saat bisa terjadi perampokan terhadap harta bendanya. Ternyata musibah itu harus dihadapinya. Pada saat bermalam, datanglah Ki Watu Gede dan Ki Menawan yang bermaksud untuk merampas harta benda dan gajahnya. Tentu saja permintaan itu ditolak mentah-mentah sehingga terjadilah perkelahian yang seru selama berhari-hari. Kedua pihak menguras kesaktiannya, jatuh-bangun dan kalah-menang silih berganti sehingga menjadi kabar yang tersiar luas di kalangan penduduk sampai terdengar oleh Ki Ageng Kedungsari.

Perkelahian semakin seru dengan datangnya Ki Ageng Kedungsari yang terbakar hatinya. Namun, sampai sekian hari kemudian tak seorangpun yang terkalahkan.

Akhirnya, tercapailah perundingan untuk membagi gajah itu menjadi tiga bagian. Ki Menawa memilki kepalanya, Ki Ageng Kedungsari membawa pulang gembung atau tubuhnya, dan Ki Watu Gede berhak atas pantat dan ekornya.

Dari peristiwa itu kelak berkembanglah kepercayaan bahwa keturunan Ki Menawa adalah orang-orang yang pemberani, keturunan Ki Ageng Kedungsari ditakdirkan banyak rezekinya, dan keturunan Ki Watu Gede dikodratkan selalu kesulitan mencari kehidupan yang layak. Sekarang orang pun dapat menyaksikan ketiga bagian gajah itu sebagai batu-batu yang besar, yaitu di desa Kedungsari dan desa Menawan di wilayah kecamatan Gebong, Kabupaten Kudus. Satu bagian lagi terdapat di desa Watu Gede Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara.

 

 

Referensi:

  1. Indotim (https://indotim.wordpress.com/cerita-rakyat-nusantara-2/cerita-rakyat-nusantara-iv/21/)

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Pamali:
Ritual Ritual
Jawa Barat

Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...

avatar
Kianasarayu