Rencong adalah senjata tajam belati Dari Indonesia tradisional Aceh. Bentuknya menyerupai huruf ' L' , rencong termasuk dalam kategori belati yang berbeda dengan pisau atau pedang. Rencong memiliki kemiripan rupa dengan keris. Panjang mata pisau rencong dapat bervariasi dari 10 cm sampai 50 cm. Matau pisau tersebut dapat berlengkung seperti keris, namun dalam banyak rencong, dapat juga lurus seperti pedang. Rencong dimasukkan ke dalam sarung belati yang terbuat dari kayu, gading, tanduk, atau kadang-kadang logam perak atau emas. Dalam pembawaan, rencong diselipkan di antara sabuk di depan perut pemakai. Menurut catatan sejarah rencong mulai dipakai pada masa Sultan Ali Mugayatsyah memerintah Kerajaan Aceh pada tahun 1514-1528. Pada waktu itu masih berorientasi pada kepercayaan Islam yang sangat berpengaruh dalam kehidupan sosial budaya masyarakat di daerah aceh. Sehingga kedudukan rencong adalah sebagai berikut : gagangnya yang...
A. Latar Belakang Permainan ini berasal dari Nangroe Aceh Darusalam mengemban pesan- pesan moral dan nilai-nilai budaya. Yang sangat bermanfaat. Nama permainan tradisional makah-makah merujuk pada “makkah” aatau “mekah” yang dapat diartikan menjadi kiblat, tapi dalam permainan ini inti permainan ini adalah kedua regu berlomba-lomba dapat mencapai titik sasaran atau yang disebut makkah. B. Peserta Permainan ini dilakukan oleh dua regu,peserta nya paling sedikit 4 orang, permainan ini biasanya dilakukan anak 9-13 tahun atau lebih. Dan bias dimainkan oleh laki-laki maupun perempuan. C. Alat yang Digunakan Alat yang digunakan sangat mudah,yaitu sebiji batu atau benda lain yang berukuran kecil yang mudah disembunyikan dalam genggaman tangan. D....
A. Latar Belakang Permainan keladi merupakan permaianan yang cukup familiar di kalangan anak pedesaan di Aceh. Permaianan ini di latar belakangi karena anak-anak basan melihat banyaknya kayu yang bererakan sehingga mereka berinisiatif untuk membuat permaianan sendiri. Permainan keladi berasal dari Aceh. Permaianan ini menceritakan tentang bagaimanan seeorang anak lelaki di pedesaan terutama warga transmigrasi yang kekurangan teman bermain , sehingga alatnya pun sangatlah sederhana. Menurut enang keladi berarti memukul ulat yang sering ada di daerah hutan. B. Alat yang Digunakan Alat permainannya cukup sederhana hanya dua buah batang kayu berukuran 30 sm dan 15 cm juga sebuah batu sebagai penyangga. Dapat dimainkan ol...
Tangis Dilo [1] adalah salah satu kesian asli dari Suku Alas yang berada di Kabupaten Aceh Tenggara . kesenian ini biasa Pakaian adat suku alas disenandungkan pada acara-acara adat seperti tepung tawar, penyambutan, dan perkawinan. Tangis Dilo sendiri memiliki arti Tangisan Pengantin perempuan Sebelum Menikah di Waktu Subuh , Tangis artinya Ratapan/Menangis dan Dilo artinya Waktu Subuh ( Bahasa Alas ), kesenian ini sendiri hampir sama dengan kesenian Sebuku , dari Dataran Tinggi Gayo, namun ada sedikit perbedaannya, kesenian Sebuku biasanya berisikan ratapan yang mengandung nasehat yang dilantunkan oleh ibu dari mempelai wanita, sedangkan pada Tangis Dilo biasanya ratapan mempelai wanita tentang penyesalan dan permohonan maaf jika selama dia bersama ibunya banyak menyusahkan kedua orang tuanya sekaligus meminta izin untuk menikah. Cara Melantunkan Syair Tangis Dilo di...
Makanan Khas Suku Alas Sulukh Kosap [1] adalah salah satu makanan Khas dari Suku Alas . Kabupaten Aceh Tenggara . Sulukh Kosap sendiri dalam bahasa Alas , memiliki arti akar talas/Keladi. pada umumnya sulukh kosap disayur asam dengan asam Sunti (Kemie) atau Mangga Muda. Tapi, jangan coba-coba sembarangan mengolah jenis kuliner ini, kerena bukannya kenikmatan yang di dapat. tapi rasa gatal yang sangat pada mulut dan lidah. jadi mengolahnya harus didampingi bersama pakar yang sudah ahli dalam memasaknya
Pakaian Adat Suku Alas Ini adalah pakaian adat dari suku Alas yang berada di Kabupaten Aceh Tenggara
Belum Diperiksa Belo Mesusun di Universitas Gunung Lauser, Fak. Ekonomi Tari Belo Mesusun adalah salah-satu dari sekian banyak kesenian yang tumbuh dan berkembang di Masyarakat Suku Alas , Kabupaten Aceh Tenggara . Belo Mesusun sendiri merupakan penggabungan dari dua suku kata Bahasa Alas yakni Belo (Sirih) dan Mesusun (Tersusun), yang mana tarian ini di bawakan oleh para gadis-gadis Suku Alas dalam suka cita menyambut tamu-tamu kehormatan yang hendak berkunjung ke daerahnya sembari menyusun sirih untuk diberikan pada tamu, tanda bahwa sanya masyarakat Suku Alas terbuka akan hal-hal yang baru.
Manuk Labakh Manukh Labakh adalah salah satu makanan khas dari Suku Alas , Kabupaten Aceh Tenggara , makanan ini sendiri termasuk kedalam makanan sehat sebab, pembuatannya tanpa menggunakan minyak. Biasanya, setiap ada pesta perkawinan atau sunatan rasul, makanan ini tetap terhidang sebagai menu utama. Sebagian besar masyarakat Alas menyakini, Manukh Labakh mampu mengobati penyakit mimbar akibat gangguan jin, sehingga menjadi bagian budaya mereka. Bahan makanan Labakh lebih sering dibuat dari daging bebek dan ayam kampung yang dikukus atau direbus, bumbu lainnya dicampur setelah daging usai direbus, bumbu seperti santan kelapa sengaja dibuat mentah dan kelapa ginseng serta bawang mentah plus merica dan ditambah bumbu lainnya.
Pemamanan Dalam Salah Satu Tradisi Pernikahan Suku Alas Disebuah desa yang nyaman, namanya Engkeran di wilayah Tanah Alas Aceh Tenggara, masyarakatnya hidup dengan kebersamaan dan gemar bergotong royong, masyarakat desa ini hidup dari hasil pertanian, peternakan dan hasil hutan. Hasil pertanian dan peternakan masyarakatnya melimpah ruah. Desa tersebut dipimpin oleh seorang raja yang memerintah secara turun temurun. Raja ini sudah beberapa tahun tidak mempunyai keturunan. Dan menurut kebiasaan atau tradisi di Alas, bahwa seseorang yang tidak mempunyai keturunan apalagi tidak laki-laki maka silsilah itu akan putus. Sebab yang hanya bisa menyambung silsilah dari keturunan keluarga hanya anak laki-laki sebab kalau perempuan dia akan dibawa suaminya. Pada malam hari, si istri raja berdiskusi dengan suaminya, “suamiku,,, sudah lama kita berumah tangga, ingin rasanya aku mempunyai anak” si istri berkata...