Ngupati sapi, atau dalam bahasa Indonesianya berarti membuat ketupat untuk sapi. Biasanya, orang-orang Blora melakukan tradisi ini setelah masa panen padi tiba, di hari Jumat Pahing. Asal mula ritual ini diadakan karena pada zaman dahulu, sapi digunakan untuk membajak sawah, jadi setelah panen, para petani mengadakan syukuran dan rasa terima kasih kepada Tuhan dan juga sapi yang telah berjasa untuk membajak sawah mereka. Di zaman dahulu, orang-orang melakukan tradisi ini dengan cara membuat ketupat lalu membawa ketupat tersebut ke sawah sambil menggembala sapi-sapi mereka. dan dimakan sembari menunggu sapi-sapi mereka memakan rumput. Di masa sekarang, tradisi Ngupati Sapi tidak lagi dilaksanakan di sawah dan membawa ketupat ke sawah. Tapi, dilaksanakan dengan cara membuat ketupat beserta lauknya dan dibagi-bagikan kepada tetangga atau orang tak mampu di sekitar, meskipun pelaksanaannya tetap di hari Jumat Pahing setelah panen padi tiba. #OSKMITB2018
Tari Topeng Ireng berasal dari Dusun Tuk Songo pada tahun 1950-an oleh Bapak Ahmad Sujak. Tari Topeng Ireng dari Dusun Tuk Songo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah telah menyebar ke seluruh Kecamatan Borobudur. Penyebaran tari Topeng Ireng pada tahun 1990-an diikuti dengan perkembangan penyajian tari Topeng Ireng. Pada tahun 2008, tari Topeng Ireng berkembang ke Dusun Besaran, Desa Congkrang, Muntilan. Perkembangan tersebut, memunculkan grup tari Topeng Ireng Mahesa Jenar. Tari Topeng Ireng mengalami perkembangan hingga 4 periode, yaitu periode 1950-an, 1990-an, 2008 dan 2010. Kemunculan tari Topeng Ireng pertama pada periode tahun 1950-an masih dengan gerakan sederhana berupa langkah kaki, kostum yang sederhana berupa daun kelapa, dan musik menggunakan dodog, bende, serta jedhor. Pengembangan tari Topeng Ireng muncul pada periode tahun 1990-an dengan penyempurnaan gerakan, penambahan kostum dari kain...
Olor adalah makanan tradisional asal Provinsi Jawa Tengah, lebih spesifiknya lagi berasal dari Semarang. Olor merupakan makanan yang terbuat dari sumsum tulang belakang sapi yang dipadukan dengan sensasi telur yang telah dikocok menjadi adonan dadar nikmat. Makanan ini biasa disajikan bersama asam -asam daging dan nasi, dengan nasi saja, maupun sebagai kudapan. Cara membuat Olor adalah sebagai berikut : 1. Siapkan tulang belakang sapi, rebus selama beberapa jam hingga tulang tersebut lunak. 2. Sesudah tulang tersebut lunak, belah tulang tersebut pada bagian tengahnya dan ambil sumsum dari tulang belakang tersebut (sumsum tersebut berwarna putih seperti bertekstur seperti jelly). Jika tulang masih kurang lunak, masukkan tulang tersebut kedalam plastik dan hancurkan tulang tersebut dengan palu hingga sumsum mudah dikeluarkan dari tulang. 3. Bersihkan sumsum, lalu potonglah sumsum dengan ukuran 1cm perpotong. 4. Kocoklah telur hingga tercampur rata dan terdapat gelembun...
Bungko adalah sejenis kue basah yang berasal dari daerah Jawa Tengah. Kue ini berukuran sekepalan tangan dan terbungkus dengan daun pisang. Bungko terbuat dari pisang, santan dan gula merah. Cara membuat bungko adalah pertama pisang yang masih segar dipotong potong kecil. Lalu, campurkan dengan tepung beras, gula merah, dan santan. Setelah itu bungkus adonan tersebut dengan daun pisang. Kukus selama 30 menit. Bungko memiliki rasa yang manis dan gurih, yang merupakan perpaduan antara santan dan gula merah. Daun pisang yang membungkusnya membuat aroma kue ini semakin sedap. Bungko banyak dikonsumsi oleh masyarakat Jawa Tengah sejak zaman dahulu kala. Namun, kini keberadaannya sudah sulit ditemukan. #OSKMITB2018
Menurut Babad Lasem karya Mpu Santri Bendra, keberadaan batik di Lasem bermula dari kedatangan Laksamana Cheng Ho pada tahun 1413 M. Anak buah Cheng Ho bernama Bi Nang Un turut menetap di Lasem bersama istrinya, Na Li Ni. Dari kepiawaian Na Li Ni inilah, cikal bakal batik Lasem tercipta. Masa kejayaan Batik Lasem tejadi pada abad 19, dimana banyak orang keturunan Tionghoa menjadi pengusaha batik. Di rumah merekalah batik-batik diproduksi. Mereka merekrut penduduk sekitar untuk menjadi pengrajin. Pengrajin batik pun menjadi semakin kreatif menciptakan motif-motif baru. Mereka merespons kejadian dan peristiwa yang terjadi dan menerjemahkannya menjadi suatu motif baru. Semisal, ketika Daendels mempekerjakan rakyat untuk membuat jalan raya, terciptalah motif kricikan, atau watu pecah. Namun masa kejayaan batik Lasem mulai pudar pada tahun 1950-an. Di saat itu, kondisi politik tidak memungkinkan bagi para pengusaha Tionghoa untuk melakukan usaha dan pada akhirnya banyak pengu...
Lagu Lingsir Wengi merupakan lagu budaya Jawa yang penuh akan misteri. Kebanyakan masyarakat Indonesia mengetahui atau mendengar lagu ini dari serial horror "Kuntilanak" yang dilantunkan oleh aktris tanah air Julie Estelle. Namun lirik yan dilantunkan dalam serial tersebut, merupakan hasil gubahan dari salah satu gending jawa yang menggunakan pakem macapat. Pakem macapat terdiri dari 11 pakem salah satunya pakem durma ( kedelapan ) yang dipakai dalam lagu lingsir wengi. Serial film tersebut menyajikan film horor dimana lagu ini dilarang dinyanyikan pada waktu tertentu, karena akan mengundang mahluk gaib yakni kuntilanak. Dari film tersebut timbul makna negatif dari masyarakat tentang lagu ini, padahal sejarah dari lagu ini begitu baik dan patut untuk kita ketahui. Lagu lingsir wengi merupakan lagu yang diciptakan oleh Sunan Kalijaga. Lahir sekitar tahun 1450 SM dengan nama kecil Raden Said. Sunan Kalijaga salah satu wali yang menyebarkan ajaran Islam den...
Kota Cilacap. Mungkin ada yang sudah tahu Kota Cilacap? Ngapak? Pasti tahu lah. Semboyannya itu “Ora ngapak, ora kepenak”. Nah di Cilacap punya makanan yang unik, namanya adalah gigih ketan . Pasti pada bertanya-tanya ya, apa sih itu gigih? Loh gigih bukannya nama? No. Gigih disini adalah makanan khas cilacap. Bahan utamanya adalah beras ketan. Makanan ini sudah hampir punah. Bahkan muda-mudi di cilacap sudah tidak tahu apa itu gigih ketan. Mungkin karena tergusur dengan adanya makanan modern dan jarang ada yang tahu cara membuatnya, makanan ini akhirnya sulit untuk ditemui. Cara membuatnya sebenarnya gampang. Pertama, cuci beras ketan hingga bersih. Kedua, masukan santan secukupnya, jangan smpai melebihi banyknya beras. Ketiga, tambahkan garam secukupnya dan daun salam. Lalu, kukus hingga matang. Setelah matang, sajikan untuk cemilan sore atau pagi. Biasanya gigih ini disajikan saat ada acara hajatan, syukuran, atau lebaran. Jika kalian jalan-jalan ke...
Rumah Panggang Pe berasal dari kata panggang dan epe (dijemur). Rumah ini dinamakan demikian karena pada zaman dahulu, rumah berdesain seperti ini sering dipakai untuk menjemur barang-barang (daun teh, ketela, dll). Ciri khas dari rumah adat ini sebelum mengalami modernisasi adalah memiliki atap bagian depan yang lebih landai dari bagian tengah/belakkang, memiliki 4-6 tiang penyangga atap di depan rumah (tiang penyangga sebagai penentu bentuk atap), dan biasanya hanya terdapat satu ruang di dalamnya. Atap landai memudahkan orang untuk menjemur, sedangkan ruangan yang hanya ada 1 membuat rumah adat ini jarang digunakan sebagai tempat tinggal tetap oleh pemiliknya. Rumah ini lebih sering digunakan untuk berjualan dan memproduksi barang. Rumah Adat Panggang Pe ini dibagi lagi menjadi beberapa jenis, sesuai dengan bentuk atapnya. Misalnya panggang pe gedhang salirang (atap tinggi di belakang), panggang pe empyak setangkep (kedua bagian atap landai), dan panggang pe gedhang setangkep (a...
Punggahan Indonesia, negara yang dihuni oleh lebih dari 260 juta jiwa yang heterogen, menghadirkan berbagai macam keunikan di tiap sisinya. Negara yang mayoritas masyarakatnya beragama Islam ini memiliki banyak tradisi untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Salah satunya adalah Punggahan. Punggahan adalah salah satu tradisi yang terdapat di Jawa (seperti Jawa Barat, Jawa Tengah), dengan cara memperingatinya yang berbeda-beda. Tradisi Punggahan sudah ada sejak dulu, meski belum jelas darimana asal-usulnya tradisi ini tercipta. Ada yang berpendapat bahwa tradisi ini asli dari Islam atau ajaran Hindu yang diterapkan pada Islam oleh Wali untuk mengajak masyarakat masuk ke Islam. Punggahan Terdengar Asing Apa arti dari Punggahan? Punggahan berasal dari bahasa Jawa yaitu kata Munggah , yang berarti naik atau memasuki tempat yang lebih tinggi. Yang dimaksudkan naik di sin...