Gorana Oputa adalah ritual atau upacara adat menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW. Kegiatan seperti ini selalu digelar sejak masa kesultanan di istana Sultan Buton setiap pukul 00.00 Wita hingga 03.00 Wita malam 12 Rabiul Awal. Tradisi adat masyarakat Buton ini dimulai pada pukul 00.00 dini hari yang didalamnya terkandung maksud bahwa Tuhan menciptakan langit dan bumi yang sebelumnya didahului dengan penciptaan nyawa nabi Muhammad SAW sebagai Abu Arwah atau bapak dari segala nyawa, sehingga rangkaian kegiatan tersebut diawali dengan pembacaan Barsanji tentang riwayat Nabi Muhammad SAW oleh empat orang perangkat Mesjid Agung Keraton Buton. Goraana Oputa juga merupakan gambaran tentang bagaimana tanggung jawab seorang pemimpin, dalam hal ini yakni Walikota yang disimbolkan sebagai Sultan dengan tugas utama sebagai kepala wilayah, pemerintahan, kemasyarakatan serta sebagai pemimpin dibidang keagamaan. Peringatan Goraana Oputa umumnya dihadiri sejumlah...
Ini adalah upacara adat yang setiap tahun dilakukan oleh masyarakat Lowu-Lowu, dalam rangka pembukaan tahun sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus memohon berkah dari yang maha kuasa pada tahun itu dan berdo’a agar tahun-tahun berikutnya bisa lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Sumber: https://muhammadsyukran080.blogspot.co.id/2015/05/bongkaana-tao.html
Istilah Posuo berasal dari kata suo yaitu sebuah bilik rumah yang ditempati para anak gadis untuk melaksanakan Posuo atau pingitan. Posuo (pingitan) merupakan prosesi adat bagi gadis remaja yang telah aqil balik dalam memasuki masa dewasa sekaligus mempersiapkan diri untuk berumah tangga. Kegiatan ini dilakukan selama 8 hari 8 malam atau dapat pula dilaksanakan selama 4 hari 4 malam s/d 7 hari 8 malam yang di pandu oleh seorang Bhisa. Tujuan dilaksanakannya prosesi ini adalah untuk mengajarkan kepribadian, etika, akhlak serta hal-hal yang berhubungan dengan keagamaan. Bagi gadis remaja yang telah dipingit dan keluar ruangan, maka resmilah disebut Kalambe atau wanita yang telah dewasa dan diupacarakan dalam mataana kariaa. Festival Posuo (Pingitan) adalah tradisi pingitan bagi gadis remaja Buton sebelum memasuki usia dewasa. Pada masa lampau, sejak terbentuknya struktur pemerintah kerajaan/kesultanan di Buton dilaksanakan selama 40 hari. Setela...
Adat suku Buton ada beberapa macam salah satu diantaranya ialah Tandaki atau Posusu, yaitu upacara yang berkaitan dengan penyunatan (tandaki bagi anak laki-laki) dan posusu(bagi anak perempuan). Upacara tandaki di peruntukan bagi anak laki-laki yang telah masuk aqil baliq, yang melambangkan bahwa anak laki-laki tersebut berkewajiban untuk melaksanakan segala perintah dan larangan yang diajarkan dalam Agama Islam. Posusu adalah upacara khitanan bagi anak perempuan sebagaimana tandaki bagi anak laki-laki. Pada posusu biasanya di barengi dengan mentindik (melubangi daun telinga) sebagai tempat pemasangan anting-anting. Tandaki dan Posusu biasanya di lakukan 1 hari sebelum pelaksanaan Idul fitri maupun idul adha. Salah satu prosesi ritual yang dilaksanakan masyarakat Buton adalah Tandaki yaitu tradisi sunatan bagi anak laki-laki yang telah memasuki masa akil baliq, yang melambangkan bahwa anak laki-laki tersebut berkewajiba...
Adat suku Buton ada beberapa macam salah satu diantaranya ialah Tandaki atau Posusu, yaitu upacara yang berkaitan dengan penyunatan (tandaki bagi anak laki-laki) dan posusu(bagi anak perempuan). Upacara tandaki di peruntukan bagi anak laki-laki yang telah masuk aqil baliq, yang melambangkan bahwa anak laki-laki tersebut berkewajiban untuk melaksanakan segala perintah dan larangan yang diajarkan dalam Agama Islam. Posusu adalah upacara khitanan bagi anak perempuan sebagaimana tandaki bagi anak laki-laki. Pada posusu biasanya di barengi dengan mentindik (melubangi daun telinga) sebagai tempat pemasangan anting-anting. Tandaki dan Posusu biasanya di lakukan 1 hari sebelum pelaksanaan Idul fitri maupun idul adha. Sumber: http://tradisi-tradisional.blogspot.co.id/2015/09/kebudayaan-suku-buton.html
Pakaian balahadada merupakan pakaian kebesaran yang dikenakan oleh kaum laki-laki buton baik bagi seorang bangsawan maupun bukan bangsawan. Pakaian dengan warna dasar hitam ini dijadikan sebagai perlambang keterbukaan pejabat atau sultan terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan urusan masyarakat demi pencapaian kesejahteraan dan kebenaran hukum yang diputuskan dengan jalan musyawarah untuk mufakat. Kelengkapan pakaian balahada terdiri atas destar, baju, celana, sarung, ikat pinggang, keris, dan bio ogena atau sarung besar yang dihiasi dengan pasamani diseluruh pinggirannya. Bukan hanya balahadada saja yang diketahui sebagai pakaian adat suku buton dan diketahui juga ada beberapa macam pakaian adat suku buton misalnya pakaian ajo bantea, ajo tandaki, pakeana syara, kambowa, kaboroko, dan kombo. Pakaian balahadada merupakan pakaian kebesaran bagi seorang laki-laki suku buton baik bagi seorang bangsawan maupun bukan bangsawan. Hal ini disebabkan karena pada masa lampau pakaian...
Baju Kombo merupakan pakaian kebesaran kaum wanita Buton yang terbuat bahan dasar kain satin dengan warna dasar putih yang dihiasi dengan manik-manik, benang emas atau perak serta berbagai ragam hiasan yang terbuat dari emas, perak maupun kuningan. Pakaian ini terdiri atas baju dengan bawahan sarung yang disebut Bia Ogena (sarung besar). Pemilihan warna putih pada baju kombo diunakan sebagai lambang kesucian, kepolosan wanita Buton, serta harapan-harapan atas kebaikan, kesuburan, dan kesejahteraan. Baju kombo adalah pakaian kebesaran kaum wanita buton. Bahan dasar baju adalah kain satin dengan warna dasar putih, penuh dihiasi dengan manik-manik, benang-benang berwarna yang biasanya terdiri dari benang emas atau benang perak serta berbagai ragam hiasan yang terbuat dari emas, perak maupun kuningan. Pakaian ini terdiri dari satu pasang, bagian atasan adalah baju dengan bawahan sarung yang disebut bia ogena (sarung besar). Bia ogena ada...
Pelaksanaan acara adat di desa Wabula dilakukan dua kali dalam setahun oleh lembaga adat, antara bulan Februari dan bulan Juli. Desa Wabula merupakan salah satu desa di Pulau Buton yang masih menjalankan tradisi serta mematuhi norma-norma dalam adat. Salah satu aturan adat yang masih dipertahankan adalah di berlakukannya "buka-tutup" dalam mengakses sumber daya alam. Masyarakat adat Wabula rupanya sudah lebih dulu mengenal konservasi berbasis lokal, yang telah diturunkan dari para leluhur. Upacara adat ini juga diselenggarakan dalam rangka mensyukuri hasil panen. Diselenggarakan dengan melantunkan syair-syair dan menari. Video penyelenggaran Upacara Adat Wabula: https://www.youtube.com/watch?v=Fbucuo95NRc https://www.youtube.com/watch?v=dNpwBXfOvcQ Sumber: https://news.detik.com/foto-news/d-2107200/pesta-adat-di-wabula-buton/2#share_top https://student.cnnindonesia.com/inspirasi/20160113111829-327-103945/pulau-buton-destinasi-ba...
Pedole-dole merupakan acara memandikan seribu anak yang belum berusia lima tahun. Ritual tersebut bertujuan agar anak yang memasuki usia pertumbuhannya tidak sakit dan bisa tumbuh normal. Dole-dole merupakan upacara yang ditradisikan nenek moyang orang buton untuk menyambut bayi yang baru lahir, tujuannya agar si bayi tumbuh sehat dan terhindar dari penyakit.Dalam tradisi buton pada bayi atau anak balita yang telah menjalani prosesi dole-dole akan tumbuh sugesti positif kepada orang tua bayi dan meyakini sang buah hati tumbuh sehat, karena ritual tersebut difungsikan sebagai imunisasi. Dole-dole merupakan upacara yang ditradisikan nenek moyang orang buton untuk menyambut bayi yang baru lahir, tujuannya agar si bayi tumbuh sehat dan terhindar dari penyakit.Dalam tradisi buton pada bayi atau anak balita yang telah menjalani prosesi dole-dole akan tumbuh sugesti positif kepada orang tua bayi dan meyakini sang buah hati tumbuh sehat, karena ritual tersebut difungsikan sebagai im...