Ndengu-ndengu merupakan tradisi masyarakat Bungku yang hanya bisa dijumpai ketika Bulan Ramadhan tiba Ndengu-ndengu sendiri adalah sebuah menara yang umumnya berukuran kira-kira 2×3 meter, dengan ketinggian mulai dari 5 meter sampai ada yang 20 meter dengan pondasi dasar berupa batang bambu. Biasanya dibangun di halaman masjid ataupun di belakang pemukiman penduduk. Di dalam bangunan ndengu-ndengu, berbagai instrumen alat musik seperti gendang, gong, gamelan, bambu dll telah dipersiapkan. Hal ini sendiri sesuai dengan gungsi ndengu-ndengu yaitu membangunkan masyarakat sekitar ketika waktu sahur tiba. https://twitter.com/yakubudaya
Marayama, ahli permainan musik tradisional khas suku mandar yakni “kacaping”. Di mandar, sebutan bagi pemain kecapi perempuan ialah Pakkacaping tobaine, Marayama menjadi kebanggaan Sulawesi Barat sebab ia telah melestarikan kesenian yang hampir punah ini.
Resensi By: Susi Gustiana Betapa bahagia mencium aroma buku , pikiranku menari 'seolah menemukan harta karun'. Buku Lalu Dia dan Lala Jinis adalah cerita rakyat Sumbawa yang di tulis oleh bapak Dinullah Rayes. Nama Rayes merupakan marga dari keturunan kedatuan Alas. Cerita ini bersemi dihati penduduk terutama dari bagian barat tepatnya di kecamatan Alas. Kisah kasih diantara dua pasang anak muda romeo dan Juliet Sumbawa ini diriwayatkan oleh orang tua dengan menggunakan bahasa yang puitik melalui lawas. Lawas samawa merupakan puisi lisan tradisional pada umumnya tiap bait terdiri dari 3 baris. Dipengantar awal buku penulis menyebutkan bahwa kisah ini ditembangkan oleh orangtua yang mahir balawas (menembangkan syair) dengan suara merdu menawan dan mempesona bagi siapapun yang mendengar. Tradisi di Sumbawa bagi orang yang bisa mendongeng atau bercerita itu disebut Badia. Tau Badia (orang/seniman yang menyampaikan cerita) sering diundang pada acara hajatan. Setiap ada orang B...
SUMUR KERAMAT JATI HERANG Suasana sore ini begitu cerah, anak-anak di Kampung Tampeuyan yang sudah beberapa hari tidak dapat keluar rumah karena hujan terus-menerus mengguyur kampung yang subur itu, kini tampak bersenang-senang. Cuaca cerah seperti ini makin membuat anak-anak bersemangat dan tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bermain di luar rumah sore ini. Kosim berlari sekuat tenaga mengejar temanteman sebayanya agar bisa menangkap salah satu dari mereka. Bermain kejar-kejaran pada sore hari sudah menjadi kebiasaan bagi anak-anak kampung itu, sambil menunggu beduk Magrib. Sesekali terdengar jeritan mereka yang polos karena hampir saja tertangkap oleh Kosim yang larinya begitu cepat. Jika mereka tertangkap oleh Kosim, jadilah mereka. Artinya, yang tertangkap akan berganti mengejar yang lainnya. Mereka tidak akan lelah bermain sampai waktu Magrib tiba atau dipanggil oleh orang tuanya untuk berangkat mengaji ke sebuah langgar di Kampung Tampeuyan. ”Nyai..., kopinya sudah belum...
Aruh Adat Baancak merupakan acara sakral yang meletakkan padi di lumbung dengan disertai mantra-mantra, musik, dan tarian yang dilakukan oleh Balian , Balian adalah orang yang bekerja pada upacara Adat Dayak yang bertugas untuk berurusan dengan Dunia Atas dan Dunia Bawah dari para roh manusia yang telah meninggal. Balian juga dapat bertugas memanggil sangiang sebagai juru damai dalam suatu peristiwa yang menjadi topik pada suatu upacara adat yang sudah sering dilakukan sejak dulu hingga sekarang oleh para masyarakat pedalaman Dayak Meratus maupun Dayak daerah lain sekitarnya, yang tentunya memiliki ciri khas masing-masing di tiap daerah Kalimantan. Aruh Baancak ini biasanya dilakukan sebelum memindahkan atau membersihkan ladang (juga dikenal sebagai pertanian tebas-bakar atau pertanian swedden). Masyarakat Dayak menggunakan sistem ini sejak jaman nenek moyang pendahulu-pendahulu mereka, banyak kearifan lokal yang ada disana dan biasanya sebelum melakukan pembukaan lahan terdapat bany...
Surdam adalah alat musik tradisional Suku Karo dari Sumatra Utara, merupakan alat musik tiup berjenis end blown flute yang terbuat dari bambu. Cara memainkan surdam tidaklah mudah, hal ini disebabkan tidak terdapatnya sekat atau pembelah udara pada instrumennya. Agar dapat memainkannya, maka seorang peniup surdam terlebih dahulu harus memiliki keterampilan khusus. Alat musik surdam terdiri dari beberapa jenis, yaitu surdam rumamis, surdam tangko kuda, surdam pingko-pingko, dan surdam puntung. https://ikatanmahasiswakarosadaarih.blogspot.com/2016/04/surdam.html
Gendang lima si dalinen terdiri dari lima perangkat alat musik tabuh (perkusi) yang dimainkan oleh lima orang pemusik. Kelima perangkat tersebut adalah satu penaruné, dua penggual, dan dua si malu gong. Gendang Lima sedalanen disebut karena ensambel musik tersebut terdiri dari lima instrumen musik, yaitu Sarune (aerofon), gendang indung (membranofon), gendang anak (mebranofon, gung, dan penganak. Namun biasa juga disebut dengan gendang lima sedalanen, ranggutna sepulu dua, yaitu angka dua belas untuk hitung-hitungan perangkat yang dipergunakan seluruhnya, termasuk stik atau alat memukul instrumen musik tersebut. Penggunaannya ensambel Gendang lima sendalanen lebih sering dipakai dalam upacara-upacara adat dan ritual. Salah satu penggunaan gendang lima sendalanen yang cukup menarik pada upacara-upacara tradisional Karo adalah nengget.
Seperti halnya masyarakat Sunda di Jawa Barat yang bangga dengan musik angklung, orang Toraja di Sulawesi Selatan pun pasti bangga karena memiliki musik bambu. Di Tana Toraja, penduduk setempat menyebutnya dengan Pa pompang atau Pa bas karena suara bas yang lebih dominan terdengar. Berbeda dengan angklung, musik bambu Toraja merupakan jenis alat musik yang ditiup untuk mengeluarkan bunyi yang memiliki jangkauan nada dua setengah oktaf tangga nada. Meski termasuk alat musik tradisional, tetapi alat musik bambu ini bisa juga dikolaborasikan dengan alat musik modern lain seperti terompet, saksofon, organ, atau piano saat mengiringi lagu. Seperangkat alat musik tiup, yang dibuat dari potongan-potongan bambu, mulai dari yang kecil sampai yang besar. Suara yang dihasilkan potongan-potongan bambu dengan rangkaian khusus itu pun sesuai dengan ukuran besar kecilnya. Karena itu, agar menghasilkan kombinasi suara yang harmonis, ukuran bambunya beragam sesuai nada yang akan dihasilkan. Satu kel...
Goong Renteng merupakan salah satu jenis gamelan khas masyarakat Sunda yang sudah cukup tua. Paling tidak, goong renteng sudah dikenal sejak abad ke-16, dan tersebar di berbagai wilayah Jawa Barat. Istilah " goong renteng ” merupakan perpaduan dari kata “ goong ” dan “ renteng ”. Kata ‘goong’ merupakan istilah kuno Sunda yang berarti gamelan, sedangkan kata ‘renteng’ berkaitan dengan penempatan pencon-pencon kolenang (bonang) yang diletakkan secara berderet/berjejer, atau ngarenteng dalam bahasa Sunda. Jadi, secara harfiah goong renteng adalah goong (pencon) yang diletakkan/disusun secara berderet (ngarenteng). Goong renteng memiliki dua macam laras; ada yang berlaras salendro dan ada yang berlaras pelog. Peralatannya terdiri dari kongkoang, cempres, paneteg, dan goong. Kongkoang (alat musik berpencon), cempres (alat musik bilah), dan goong diklasifikasikan sebagai idiofon; sementara paneteg (semacam kendang) diklasifikasikan sebagai membranofon. Ditinjau dari cara memainkannya...