1. BAHAN Pisang batu muda 2 sisir Ikan mas 2 ekor 2. BUMBU Bawang merah 6 buah Salam 2 lbr Bawang putih 2 siung Sereh 1 btg Lada putih 1 sdt Gula merah ½ sdm Kemiri 4 bj Garam 1 sdm 3. CARA PEMBUATAN Pisang dibuangi ujungnya, direbus sampai masak. Ikan dibersihkan. Kemiri disembam, Lada disangan, semua bumbu dihaluskan, kecuali salam dan sereh. Pisang disusun dalam panci, ditengah-tengah diletakkan ikan mas. Bumbu-bumbu diberi air, dimasukkan dalam panci hingga terendam semuanya. Dijerangkan sampai matang. Supaya tahan disimpan lama, tiap hari dijerangkan. Sumber : http://warintek.hol.es/artikel/ttg_masakan_indonesia/menu-5/pindang%20Satria.pdf
Bahan-bahan: Ayam 1 ekor Minyak goreng 1/2 gelas Kelapa 2 butir Bumbu-bumbu: Bawang merah 6 buah Bawang putih 2 siung Lombok merah 5 biji Ketumbar 2 sdt Kunyit 1 ruas jari Kemiri 5 butir Jinten 1/2 sdt Asam 2 mata Garam 2 sdt Cara membuatnya: 1. Daging ayam dibersihkan dipotong-potong 2. Kelapa diparut dibuat santan. 3. Bumbu dihaluskan, bawang merah diiris halus ditumis bersama minyak sampai kuning. 4. Santan dituangkan, daging dimasukkan direbus sampai dagingnya empuk. 5. Daging diangkat dicabik-cabik, tulangnya dibuang terus dimasak sampai bumbunya kering. RM/Toko yang Menyediakan : RM AROMA Restoran Alamat: Jalan Pahlawan Blok Apu No.17, Bondongan, Bogor Selatan, Bondongan, Bogor Sel., Kota Bogor, Jawa Barat 16131 Sumber : Buku Mustika Rasa Sukarno Halaman 688
Sebagai sebuah negara yang berada di wilayah beriklim tropis, Indonesia memang memiliki sajian kuliner berupa es yang sangat beragam. Hampir setiap daerah memiliki ciri khas masing-masing. Salah satunya adalah es Jaipong asal Jawa Barat. Kuliner yang sangat cocok dinikmati saat siang hari ini, bahkan sempat begitu populer di era tahun 80 hingga 90-an. Hampir setiap daerah di pelosok tanah air bisa ditemukan penjual es Jaipong ini. Di Yogyakarta, kuliner es Jaipong hingga saat ini masih bisa ditemui. Sejumlah penjual yang umumnya berasa dari Jawa Barat kerap menjual dengan menggunakan gerobal dorong. Salah satunya terdapat di kawasan Kotabaru, Yogyakarta. Dilihat dari warnanya saja, es Jaipong memang tampak begitu menarik. Perpaduan warma merah, hijau, hitam, kuning serta cokelat dan putih membuat es Jaipong begitu menggoda untuk dicicipi. Terlebih di tengah cuaca terik siang hari. E Jaipong memiliki perpaduan rasa gurih, asam namun lebih didominasi rasa manis. Wa...
Wayang kulit Bekasi sebenarnya masih sama latar belakangnya dengan wayang-wayang sejenis yang ada di Pulau Jawa. Yang membedakan antara wayang kulit Bekasi dengan wayang kulit daerah lain adalah faktor sosilogis dan pengaruh budaya lingkungannya. Perbedaan lainnya yaitu adanya tokoh yang lebih mirip dengan wayang golek misalnya Semar, Cepot, Udel dan Gareng, sementara Dorna digambarkan dengan wajah kearab-araban dengan memakai topi haji. Awalnya wayang kulit Bekasi dibawa oleh seseorang yang bernama Balentet. Setelah ia berguru di daerah Cirebon dengan membawa wayang kulit Pandawa Lima sebagai warisan gurunya, Balentet mematangkan ilmu pedalangannya di daerah Bekasi dengan mendatangi tiga orang guru pedalangan, diantaranya Mbah Belentuk, Mbah Rasiun dan Mbah Cepe. Sekitar tahun 1918, Balentet mulai mendalang hingga meninggal dunia pada tahun 1982. Sebagai dalang kondang di Bekasi, menjelang akhir hayatnya Balentet mewariskan keterampilan mendalangnya kepada putra-putranya, d...
Asal-usul Calung Dalengket yang ada di Kecamatan Lemah Abang Kabupaten Bekasi berasal dari sejenis permainan anak-anak gembala. Permainan ini di mainkan setiap habis panen dengan mengambil tempat di sawah atau di tegalan (ladang). Permainan ini biasanya di ikuti oleh tua dan muda, laki-laki dan perempuan serta bersifat lomba dengan ketentuan yang paling banyak penontonnya itulah sebagai pemenang. Lamanya pertandingan tidak ada ketentuan yang, bergantung banyaknya penonton. Karena permainan ini tidak mempergunakan wasit, sehingga sering kali menimbulkan keributan di antara pesertanya. Yang di anggap sebagai tokoh penggarap dalam permainan ini adalah Bapak Amat dan Bapak Endang. Bentuk pertunjukkan di dukung oleh beberapa pemain di antaranya: - 1 orang pemain sebagai juru Suling Toleat - 1 orang pemain sebagai juru Komlat (Saron) - 1 orang pemain sebagai juru Kedemung - 1 orang pemain sebaga...
Mi dengan tekstur cenderung lembek ini sangat khas dengan kuahnya yang berwarna putih kental. Kuah putih kental tersebut berbahan dasar santan kelapa. Sebagai pelengkap, mi koclok juga diramaikan dengan potongan telur ayam rebus, suwiran ayam, kol, tauge, dan daun bawang. Kekentalan kuah hangat yang berpadu dengan mi dan topping cukup mengenyangkan dan sangat pas disantap di malam hari. Beberapa penjual turut menambahkan kecap dan kaldu khusus sebagai penyedap. Sumber: Liputan6.com/Panji Prayitno
Pare yang terkenal pahit ini diolah menjadi keripik yang renyah. Tak perlu khawatir mengenai rasanya karena pare direndam dalam air garam selama 4 hari dan dicampur dengan bumbu-bumbu lain yang memberi sensasi asin dan pedas sebelum digoreng. Sumber: "Ragam Indonesia" Trans 7
Motif Biji Pala diambil dari sejarah dimana pada zaman dahulu harga biji pala dan fuli pala bisa lebih mahal dari emas, pada saat itu tanaman yang bernilai tinggi adalah tanaman yang berkarakteristik sebagai rempah. Biji dan fuli ini sesuai dengan nilai komoditas saat itu ketika rempah biji dan fuli pala menjadi emas bagi seluruh orang. Kata “Pahlawan” diambil dari bahasa sansekerta yang berasal dari “Phala-Wan” yang berarti orang yang dari dirinya menghasilkan buah “Phala” yang berkualitas bagi bangsa, negara dan agama, juga yang menonjolkan karena keberanian dan pengorbanannya. Sedangkan Wijayakusumah adalah lembang penerang dalam kegelapan atau teladan kebaikan dan kejujuran di dunia yang penuh dengan kejahatan, kata Wijaya berasa dari kata Widya yang berarti pengetahuan, pengetahuanlah yang menjadikan manusia bisa menerangi duanianya dan membuat lebih baik. Filosofi Motif Biji Pala dan Wijayakusuma adalah seseorang harus...
“Ha ha ha, aku sudah kebal sekarang. Coba Kakanda lihat!” ujar Borosngora dengan bangga sambil menunjukkan ilmu kekebalan tubuh yang sudah dikuasainya. Ilmu itu adalah hasil belajarnya selama berbulan-bulan di daerah Ujung Kulon. Dia memamerkannya pada sang kakak, Sanghyang Lembu Sampulur yang hanya menggeleng-geleng melihat kelakuan salah satu adiknya itu. “Ada apa ini?” Suara gaduh dari halaman istana itu membuat Prabu Cakradewa, sang raja Kerajaan Panjalu, keluar. Mendengar suara berat yang penuh wibawa, kedua anaknya terdiam. Mereka sadar, ayah mereka tentu tidak menyukai kelakuan mereka. “Begini, Ayah. Barusan adinda Borosngora memperlihatkan ilmu kekebalan tubuh yang telah dikuasainya,” jelas Lembu Sampulur dengan hati-hati. Dia melihat perubahan raut muka sang ayah. Dahi Prabu Cakradewa berkerut dan alisnya terangkat. Prabu Cakradewa kemudian meminta Borosngora menghadapnya untuk berbicara empat mata....