Sebagai sebuah negara yang berada di wilayah beriklim tropis, Indonesia memang memiliki sajian kuliner berupa es yang sangat beragam. Hampir setiap daerah memiliki ciri khas masing-masing.
Salah satunya adalah es Jaipong asal Jawa Barat. Kuliner yang sangat cocok dinikmati saat siang hari ini, bahkan sempat begitu populer di era tahun 80 hingga 90-an. Hampir setiap daerah di pelosok tanah air bisa ditemukan penjual es Jaipong ini.
Di Yogyakarta, kuliner es Jaipong hingga saat ini masih bisa ditemui. Sejumlah penjual yang umumnya berasa dari Jawa Barat kerap menjual dengan menggunakan gerobal dorong. Salah satunya terdapat di kawasan Kotabaru, Yogyakarta.
Dilihat dari warnanya saja, es Jaipong memang tampak begitu menarik. Perpaduan warma merah, hijau, hitam, kuning serta cokelat dan putih membuat es Jaipong begitu menggoda untuk dicicipi. Terlebih di tengah cuaca terik siang hari.
E Jaipong memiliki perpaduan rasa gurih, asam namun lebih didominasi rasa manis.
Warna merah sendiri berasal dari bubur mutiara (monte) yang memiliki tekstur bulat kecil lembut dan manis. Sedangkan warna hijau berasal dari Selendang Mayang atau bubur Hungkwe. Seperti halnya mutiara, Selendang Mayang juga memiliki tekstur lembut dengan rasa sedikit gurih dan manis.
Warna kuning berasal dari tapai yang dibuat dari ketela pohon atau ubi kayu yang difermentasi. Tapai yang juga memiliki tekstur lembut berserat ini memberikan rasa sedikit asam. Lalu ada pula cincau dengan tekstur kenyal yang memberikan evek warna hitam.
Selain keempat bahan utama tersebut, es Jaipong juga selalu disertai dua jenis macam kuah. Yakni kuah berwarna coklat yang merupakan gula jawa air untuk memberikan rasa manis. Serta kuah berwarna putih yang merupakan santan dengan rasa gurih.
Untuk membuatnya tinggal dicampurkan saja semua bahan tadi. Lalu diberi es secukupnya. Dijual dengan harga sangat murah yakni Rp5.000, per mangkok, es Jaipong tak hanya menyegarkan namun juga cukup mengenyangkan perut.
sumber: https://www.cendananews.com/2017/08/es-jaipong-kuliner-khas-yang-warna-warni-lagi-menyegarkan.html
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara
PESAN INDUK TI KIDUNG LAKBOK Hikmah Karuhun Pikeun Kahirupan Ditulis ku: Henry Purwanto Kategori: Etika, Moral & Pepatah PENDAHULUAN Kidung Lakbok lain ukur carita baheula. Lian ti éta, ieu naskah kuno nyimpen pituduh anu jero pisan pikeun kahirupan urang di jaman kiwari. Karuhun urang teu ngan ninggalkeun carita, tapi ogé pangalaman, peringatan, jeung hikmah. Ieu pesan induk jadi pondasi pikeun urang hirup: ngajaga jati diri bari tetep maju ka hareup. Hayu urang bahas hiji-hiji. ULAH POHO KA ASAL-USUL (Jangan Lupa Pada Asalnya) Makna: Saha urang, ti mana asalna, naon sajarah karuhun urang – kabehna kudu dipikanyaho. Ulah isin ku sajarah sorangan, sabab dinya tempat urang tumuwuh. Kaitan jeung Lakbok: Karajaan Bandjarpatroman téh akar ti wewengkon ieu. Lamun urang poho sajarah, sarua jeung neangan leungit jati diri. Urang bakal gampang kaileng ku budaya deungeun anu teu saluyu jeung ajén-inajén lembur. Pesen: Sugema jeung bagja téh mimitina mah nya tina n...