Salah satu kuliner yang wajib dicoba saat mengunjungi Kota Sabang adalah menyantap Sate Gurita. Sate Gurita ini pada dasarnya sama dengan sate yang pernah ada, dengan bumbu kacang dan bumbu padang. Bumbu Kacang atau yang sering disebut juga bumbu jawa terdiri dari kacang tanah, kecap, bawang merah dan bawang putih, garam, cabe rawit. Sedangkan satu lagi bumbu Padang yang terdiri dari racikan bawang putih, bawang merah, cabai merah, jahe, kunyit, sereh, dan bumbu-bumbu lainnya yang dimasak bersama kaldu sapi, kemudian dikentalkan dengan tepung beras. Yang jadi daya tariknya sate gurita adalah daging gurita yang dimasak lembut dan bumbunya meresap sampai kedalam. Dengan daging yang sedikit kenyal dan gurih sate ini menjadi santapan nikmat dan cocok sebagai pengisi perut yang lapar di malam hari. Bagi anda yang ingin mencoba membuat sendiri berikut ini resepnya : Bahan : - Daging gurita - Kacang Tanah - Kecap - Bawang M...
Mengunjungi Kota Aceh kurang afdol bila belum meneguk kesegaran ie boh timon atau es serut timun ini . Rasanya yang manis dan menyegarkan memang betul-betul pas untuk menghilangkan dahaga. Sesuai dengan namanya, es timun serut ini berbahan dasar timun. Timun yang digunakan adalah timun sayur, setelah dikupas kulit tipisnya lalu diserut secara manual. Setelah itu, serutan timun pun kadang sering dicampur dengan sirup manis, dan es batu. Disajikan saat berbuka puasa atau saat terik merupakan pilihan yang sangat pas. Bagi yang ingin membuat sendiri berikut ini resep pembuatanya : Bahan: - 100 g mentimun, parut kasar - 150 ml air es - 1 sdm air jeruk nipis - 2 sdm madu Cara membuat: 1. Campur semua bahan, aduk rata. 2. Sajikan dingin. Sumber Foto : rinaldimunir.wordpress.com
Siwah adalah senjata tradisional Aceh selain Rencong. Siwah memiliki kemiripan dengan rencong. Sama seperti rencong, siwah termasuk ke dalam senjata tradisional jenis dagger atau belati. Namun siwah memiliki ukuran yang lebih besar dan lebih panjang dibandingkan dengan rencong. Senjata ini tergolong mahal sehingga jarang ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Siwah dapat ditemui pada kerajaan, yang mana senjata ini merupakan bagian dari perlengkapan raja ata ulebalang.
Pada masa dahulu di desa Penerun di Gayo hidup satu keluarga miskin. Keluarga itu mempunyai dua orang anak, yang tua berusia tujuh tahun dan yang kecil masih menetek. Ayah kedua anak itu hidup sebagai petani. Pada waktu senggangnya ia selalu berburu rusa di hutan. Di samping itu, ia juga banyak menangkap belalang di sawah, untuk dimakan apabila tidak berhasil memperoleh binatang buruan. Belalang itu ia kumpulkan sedikit demi sedikit di dalam lumbung padinya, yang sedang kosong karena sedang musim paceklik. Pada suatu hari ia pergi ke hutan untuk berburu rusa. Di rumah tinggal istri dan kedua anaknya. Pada waktu makan, anak yang sulung merujuk, karena di meja tidak ada daging sebagai teman nasinya. Karena di rumah memang tidak ada persediaan lagi, maka kejadian ini membuat ibunya bingung memikirkan bagaimana dapat memenuhi keinginan anaknya, yang sangat dimanjakannya itu. Akhirnya si ibu mengizinkan putranya untuk mengambil sendiri belalang yang berada di dalam lumbung. Ketik...
Assalammualaikum, jamee baro trok Tameung, tameung jak pioh u ateuh tika Karena, karena saleum Nabi k heun Sunnah Jaro, Jaro ta mumat syarat mulia.. Penari-penari wanita mendendangkan lagu sembari menari; menepuk-nepukan dada, menjentik-jentikan jari, menggeleng-gelengkan kepala dan melakukan berbagai gerakan dalam posisi duduk berlutut sambil sesekali bangun dari duduk dan berdiri diatas lutut mereka, lalu kemudian sesekali pula membungkukan badan hingga kepala-kepala mereka nyaris menyentuh lantai. Kemudian penari-penari tersebut bergerak dalam posisi duduk sambil menirukan gelombang air laut dan berdendang: Hai laot sa I e lam ombak meu alon kapai jih Ek tron meulumba-lumba Hai bacut tek… ds t Begitulah para penari wanita menarikan tarian Ratoh Duek (duduk berbincang-bincang atau seperti yang disebut Keith Howard sebagai women chattering ). Jika ditilik dari unsur...
Kata peusijuek (=men-dinginkan) barasal dari akar kata sijue’ yang berarti dingin. Dingin atau sejuk, dalam negeri-negeri tertentu di daerah tropis berarti juga: kebahagiaan, ketentraman, kedamaian panas (bahasa Aceh: seu’uem ) adalah serupa dengan menimbulkan bencana. Jika seseorang memperoleh pengaruh-pengaruh “panas” atau sedang berada dalam keadaan demikian, maka orang itu akan mencari obat-obat pendingin untuk menghilangkan atau menolak pengaruh-pengaruh panas itu. Pada setiap umurnya, manusia tidak terlepas dari pengaruh itu; oleh karenanya peusijue” itu dilakukan pada seluruh umur. Sebagai obat pendingin termasuk juga beras (bahasa Aceh: breueh ) dan padi (bahasa Aceh: padè ), 2 butir telur mentah dan semangkok air yang dibubuhi kedalamnya tepung beras sedikit (bahasa Aceh: teupông taweue ). Dalam air itu dimasukkan juga tumbuh-tumbuhan yang bersifat dingin, yaitu: &oc...
Tari Saman Meuseukat, dilakukan dalam posisi duduk berbanjar dengan irama yang dinamis. suatu tari dengan syair penuh ajaran kebajikan, terutama ajaran agama islam.
Indonesia memang subur untuk tanaman Kopi, kenikmatan rasa kopinya pun sudah terkenal di mana mana, selain lampung, sebagai penghasil kopi terbesar rupanya Aceh tidak mau kalah untuk mengenalkan Cita rasa kopinya, bahkan Kopi aceh sudah menjadi andalan Impor dari provinsi ini. Daerah Gayo adalah penghasil kopi Aceh ini, Para ahli kopi pun sudah sepaat mengatakan jika kopi asal Gayo ini punya citra khas dan sudah di akui dunia. Negara-negara dari benua Amerika Dan Eropa pun tidak mau kalah ingin mencicipi rasa khas kopi aceh ini. Bahkan menurut laporan BBC Indonesia , perusahaan Starbucks Coffe yang merupakan perusahaan kopi terbesar di dunia dan sudah sangat di kenal di mana-mana, 80% mendatangkan jenis kopi arabika dari Gayo untuk kebutuhan Dunia. Karena laris merek dagang kopi Gayo pernah diklaim oleh Belanda, Berikut nama-nama merek Kopi Aceh Ghora Cofee Embun pagi kopi Gayo Asli Lakun Cofee Rumah Aceh Kopi Gayo Dan masih bany...
Ranup Lampuan adalah kesenian tari yang berasal dari Nangroe Aceh Darussalam . Tari ini merupakan visualisasi dari salah satu filosofi hidup warga Aceh, yakni menjunjung keramah-tamahan dalam menyambut tamu. Gerakan demi gerakan dalam Ranup Lampuan menggambarkan prosesi memetik, membungkus, dan menghidangkan sirih kepada tamu yang dihormati, sebagaimana kebiasaan menghidangkan sirih kepada tamu yang berlaku dalam adat masyarakat Aceh. Menilik karakteristiknya, atas dasar tersebut, tari ini digolongkan ke dalam jenis tari adat/upacara. Sejarah Ranup Lampuan Ranup (atau ranub) dalam Bahasa Aceh memang berarti sirih, sementara lampuan terdiri dari dua kata, yakni (lam) yang artinya dalam, dan (puan) yang berarti tempat sirih khas Aceh. Tarian ini diciptakan oleh Yusrizal (Banda Aceh) kurang lebih pada 1962 (Burhan, 1986; 141). Tak lama setelah populer di Banda Aceh, tari ini berkembang di berbagai daerah lainny...