Tarian
Tarian
Tarian Aceh Aceh
Tari Ratoh Duek
- 4 September 2014

Assalammualaikum, jamee baro trok

Tameung, tameung jak pioh u ateuh tika

Karena, karena saleum Nabi kheun Sunnah

Jaro, Jaro ta mumat syarat mulia..

 

Penari-penari wanita mendendangkan lagu sembari menari; menepuk-nepukan dada, menjentik-jentikan jari, menggeleng-gelengkan kepala dan melakukan berbagai gerakan dalam posisi duduk berlutut sambil sesekali bangun dari duduk dan berdiri diatas lutut mereka, lalu kemudian sesekali pula membungkukan badan hingga kepala-kepala mereka nyaris menyentuh lantai.

Kemudian penari-penari tersebut  bergerak dalam posisi duduk sambil menirukan gelombang air laut dan berdendang:

Hai laot sa

Ie lam ombak meu alon kapai jih

Ek tron meulumba-lumba

Hai bacut tek… dst

Begitulah para penari wanita menarikan tarian Ratoh Duek  (duduk berbincang-bincang atau seperti yang disebut Keith Howard sebagai women chattering). Jika ditilik dari unsur katanya, ratoh yang berasal dari Bahasa Arab berarti rateb yaitu melakukan pujian-pujian kepada Allah SWT melalui doa-doa yang dinyanyikan atau diiramakan. Sedangkan duek yang berasal dari Bahasa Aceh berati duduk. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Ratoh Duek berarti mendendangkan pujian-pujian (zikir) kepada Allah SWT sambil duduk. Dahulu tarian ini ditampilkan dalam acara pernikahan, kenduri naik haji, dan perayaan hari besar keagamaan diantaranya malam terakhir Bulan Ramadhan, Idul Fitri, Idul Adha dan Maulid Nabi.

Dan ya, itulah bentuk gerakan dan syair yang biasanya kita temukan pada tarian ini. Seolah-olah sudah menjadi pakem bahwa ketiga gerakan dan syair itu harus ditampilkan dalam setiap penampilannya dewasa ini.

Tari Saman yang biasa disebut kalangan pelajar di kota besar (khusunya Jakarta) sebagai “Tari Saman” itu sebetulnya adalah Tari Ratoh Duek. Kedua tarian ini, Tari Saman dan Tari Ratoh Duek, sebetulnya merupakan dua jenis tari yang sangat berbeda. Jadi sebetulnya, banyak oang yang sudah sangat salah kaprah.

Perbedaan pertama yang sangat mencolok adalah bahwa Tari Saman tidak ditarikan wanita, melainkan hanya pria dengan jumlah ganjil. Sedangkan Tari Ratoh Duek seluruhnya ditarikan wanita dengan jumlah genap. Tari Ratoh Duek dikendalikan oleh dua orang syahi (penyanyi syair di luar formasi duduk penari), sedangkan Tari Saman dikendalikan oleh seorang penangkat yang duduk di dalam formasi paling tengah. Syair Tari Saman selalu menggunakan Bahasa Gayo, sedangkan syair Tari Ratoh Duek menggunakan Bahasa Aceh.

Lebih spesifik lagi, Tari Saman dibagi dalam beberapa gerakan atau bagian utama dalam posisi duduk; rengum, dering, salamuluni lagulaguanakni lagu dan penutup. Rengum merupakan bagian pembuka dari tari berupa auman yang belum berbentuk kata, dering adalah lanjutan auman yang sudah mempunyai kata-kata,salam adalah pemberian salam kepada yang hadir atau orang lain yang dihormati,uluni lagu gerakan lambat sebelum guncang keras, lagu adalah gerakan yang memiliki banyak variasi, dan anakni lagu berupa gerakan ringan yang kadang-kadang terjadi selang-seling. Syair pun dibawakan dalam tiga bagian; sekredetdan saur. Sek merupakan alunan suara keras yang merdu dengan nada khas,redet adalah syair yang dinyanyikan oleh seorang penari (penangkat) dan sauryang merupakan nyanyian bersama oleh semua penari.

Ratoh Duek ditarikan dalam bentuk yang lebih sederhana. Maksudnya, gerakan dalam posisi duduk hanya terdiri dari gerakan tangan menepuk dada dan paha, gelengan kepala ke kanan dan ke kiri, gerakan duduk dan berlutut serta mempersilangkan jari dengan penari di sebelahnya yang dilakukan dengan urutan yang lebih fleksibel, dapat berubah dan dikreasikan sewaktu-waktu. Namun demikian, tari selalu dibuka dengan salam. Syair pun hanya dinyanyikan sebagaimana biasa tanpa ada bentuk gumaman.  Syair yang dibawakan hanya berupa nyanyian yang dibawakan oleh syahi dan kemudian disahut dan diikuti oleh seluruh penari lainnya.

Hal lain yang membedakan Tari Saman dengan Tari Ratoh Duek adalah  kehadiran musik pengiring. Tari Saman tidak pernah diiringi oleh musik tradisional apa pun, sedangkan Tari Ratoh Duek acap kali ditemani oleh iringan rapai.

Lebih dari itu, terdapat perbedaan yang mencolok pada kostum. Kostum penari Saman adalah pakaian tradisional Suku Gayo yang disebut baju kantong dengan motif  kerawang (pakaian dasar hitam dengan motif warna kuning, merah dan hijau) dan di kepala dipakai bulang teleng yang disertai daun kepies (saat ini sudah sullit ditemukan sehingga sering diganti dengan daun pandan). Tari Saman selalu membuka bulang teleng setelah gerakan mulai kencang dan memakainya kembali setelah selesai.

Sementara penari Ratoh Duek menggunakan pakaian polos berwarna (bisa merah, kuning, hijau, dan warna lainnya) yang dipadu kain songket Aceh dan ikat kepala yang juga berwarna yang dapat dimodifikasikan atau dikreasikan (lihat gambarcover). Tari Ratoh Duek tidak pernah melepas ikat kepala sejak awal sampai akhir.

Jadi, jelaslah bahwa tari yang saat ini sering dimainkan oleh kalangan pelajar wanita di kota besar sebenarnya adalah Tari Ratoh Duek. Ketika sang pembawa acara mengatakan “Sambutlah dengan meriah.. Tari Saman!” lalu yang keluar adalah penari wanita, maka koreksi harus terjadi; bahwa tari tersebut mungkin Tari Ratoh Duek, namun jelas bukan Tari Saman.

 

Sumber: http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbaceh/2013/12/23/98/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
PESAN INDUK TI KIDUNG LAKBOK
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

PESAN INDUK TI KIDUNG LAKBOK Hikmah Karuhun Pikeun Kahirupan Ditulis ku: Henry Purwanto Kategori: Etika, Moral & Pepatah PENDAHULUAN Kidung Lakbok lain ukur carita baheula. Lian ti éta, ieu naskah kuno nyimpen pituduh anu jero pisan pikeun kahirupan urang di jaman kiwari. Karuhun urang teu ngan ninggalkeun carita, tapi ogé pangalaman, peringatan, jeung hikmah. Ieu pesan induk jadi pondasi pikeun urang hirup: ngajaga jati diri bari tetep maju ka hareup. Hayu urang bahas hiji-hiji. ULAH POHO KA ASAL-USUL (Jangan Lupa Pada Asalnya) Makna: Saha urang, ti mana asalna, naon sajarah karuhun urang – kabehna kudu dipikanyaho. Ulah isin ku sajarah sorangan, sabab dinya tempat urang tumuwuh. Kaitan jeung Lakbok: Karajaan Bandjarpatroman téh akar ti wewengkon ieu. Lamun urang poho sajarah, sarua jeung neangan leungit jati diri. Urang bakal gampang kaileng ku budaya deungeun anu teu saluyu jeung ajén-inajén lembur. Pesen: Sugema jeung bagja téh mimitina mah nya tina n...

avatar
Gulamerah