Assalammualaikum, jamee baro trok
Tameung, tameung jak pioh u ateuh tika
Karena, karena saleum Nabi kheun Sunnah
Jaro, Jaro ta mumat syarat mulia..
Penari-penari wanita mendendangkan lagu sembari menari; menepuk-nepukan dada, menjentik-jentikan jari, menggeleng-gelengkan kepala dan melakukan berbagai gerakan dalam posisi duduk berlutut sambil sesekali bangun dari duduk dan berdiri diatas lutut mereka, lalu kemudian sesekali pula membungkukan badan hingga kepala-kepala mereka nyaris menyentuh lantai.
Kemudian penari-penari tersebut bergerak dalam posisi duduk sambil menirukan gelombang air laut dan berdendang:
Hai laot sa
Ie lam ombak meu alon kapai jih
Ek tron meulumba-lumba
Hai bacut tek… dst
Begitulah para penari wanita menarikan tarian Ratoh Duek (duduk berbincang-bincang atau seperti yang disebut Keith Howard sebagai women chattering). Jika ditilik dari unsur katanya, ratoh yang berasal dari Bahasa Arab berarti rateb yaitu melakukan pujian-pujian kepada Allah SWT melalui doa-doa yang dinyanyikan atau diiramakan. Sedangkan duek yang berasal dari Bahasa Aceh berati duduk. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Ratoh Duek berarti mendendangkan pujian-pujian (zikir) kepada Allah SWT sambil duduk. Dahulu tarian ini ditampilkan dalam acara pernikahan, kenduri naik haji, dan perayaan hari besar keagamaan diantaranya malam terakhir Bulan Ramadhan, Idul Fitri, Idul Adha dan Maulid Nabi.
Dan ya, itulah bentuk gerakan dan syair yang biasanya kita temukan pada tarian ini. Seolah-olah sudah menjadi pakem bahwa ketiga gerakan dan syair itu harus ditampilkan dalam setiap penampilannya dewasa ini.
Tari Saman yang biasa disebut kalangan pelajar di kota besar (khusunya Jakarta) sebagai “Tari Saman” itu sebetulnya adalah Tari Ratoh Duek. Kedua tarian ini, Tari Saman dan Tari Ratoh Duek, sebetulnya merupakan dua jenis tari yang sangat berbeda. Jadi sebetulnya, banyak oang yang sudah sangat salah kaprah.
Perbedaan pertama yang sangat mencolok adalah bahwa Tari Saman tidak ditarikan wanita, melainkan hanya pria dengan jumlah ganjil. Sedangkan Tari Ratoh Duek seluruhnya ditarikan wanita dengan jumlah genap. Tari Ratoh Duek dikendalikan oleh dua orang syahi (penyanyi syair di luar formasi duduk penari), sedangkan Tari Saman dikendalikan oleh seorang penangkat yang duduk di dalam formasi paling tengah. Syair Tari Saman selalu menggunakan Bahasa Gayo, sedangkan syair Tari Ratoh Duek menggunakan Bahasa Aceh.
Lebih spesifik lagi, Tari Saman dibagi dalam beberapa gerakan atau bagian utama dalam posisi duduk; rengum, dering, salam, uluni lagu, lagu, anakni lagu dan penutup. Rengum merupakan bagian pembuka dari tari berupa auman yang belum berbentuk kata, dering adalah lanjutan auman yang sudah mempunyai kata-kata,salam adalah pemberian salam kepada yang hadir atau orang lain yang dihormati,uluni lagu gerakan lambat sebelum guncang keras, lagu adalah gerakan yang memiliki banyak variasi, dan anakni lagu berupa gerakan ringan yang kadang-kadang terjadi selang-seling. Syair pun dibawakan dalam tiga bagian; sek, redetdan saur. Sek merupakan alunan suara keras yang merdu dengan nada khas,redet adalah syair yang dinyanyikan oleh seorang penari (penangkat) dan sauryang merupakan nyanyian bersama oleh semua penari.
Ratoh Duek ditarikan dalam bentuk yang lebih sederhana. Maksudnya, gerakan dalam posisi duduk hanya terdiri dari gerakan tangan menepuk dada dan paha, gelengan kepala ke kanan dan ke kiri, gerakan duduk dan berlutut serta mempersilangkan jari dengan penari di sebelahnya yang dilakukan dengan urutan yang lebih fleksibel, dapat berubah dan dikreasikan sewaktu-waktu. Namun demikian, tari selalu dibuka dengan salam. Syair pun hanya dinyanyikan sebagaimana biasa tanpa ada bentuk gumaman. Syair yang dibawakan hanya berupa nyanyian yang dibawakan oleh syahi dan kemudian disahut dan diikuti oleh seluruh penari lainnya.
Hal lain yang membedakan Tari Saman dengan Tari Ratoh Duek adalah kehadiran musik pengiring. Tari Saman tidak pernah diiringi oleh musik tradisional apa pun, sedangkan Tari Ratoh Duek acap kali ditemani oleh iringan rapai.
Lebih dari itu, terdapat perbedaan yang mencolok pada kostum. Kostum penari Saman adalah pakaian tradisional Suku Gayo yang disebut baju kantong dengan motif kerawang (pakaian dasar hitam dengan motif warna kuning, merah dan hijau) dan di kepala dipakai bulang teleng yang disertai daun kepies (saat ini sudah sullit ditemukan sehingga sering diganti dengan daun pandan). Tari Saman selalu membuka bulang teleng setelah gerakan mulai kencang dan memakainya kembali setelah selesai.
Sementara penari Ratoh Duek menggunakan pakaian polos berwarna (bisa merah, kuning, hijau, dan warna lainnya) yang dipadu kain songket Aceh dan ikat kepala yang juga berwarna yang dapat dimodifikasikan atau dikreasikan (lihat gambarcover). Tari Ratoh Duek tidak pernah melepas ikat kepala sejak awal sampai akhir.
Jadi, jelaslah bahwa tari yang saat ini sering dimainkan oleh kalangan pelajar wanita di kota besar sebenarnya adalah Tari Ratoh Duek. Ketika sang pembawa acara mengatakan “Sambutlah dengan meriah.. Tari Saman!” lalu yang keluar adalah penari wanita, maka koreksi harus terjadi; bahwa tari tersebut mungkin Tari Ratoh Duek, namun jelas bukan Tari Saman.
Sumber: http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbaceh/2013/12/23/98/
Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...
Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...