Bugiswarta.com, Soppeng – Kekayaan adat istiadat suku bugis belakangan ini kembali dimunculkan, beberapa model kegiatan dilakukan sebagai wujud menjaga teradisi dan warisan leluhur. Seperti halnya pesta adat tiga matoa kembar "Marale Paroto Berru" di Kelurahan Ujung Kecamatan Lilirilau Kabupaten Soppeng kembali digelar pukul 17.00 Wita Kamis, 26 Oktober 2017 Beberapa kegiatan yang jarang lagi ditemukan masyarakat Bugis, Pada pesta adat ini kembali ditampilkan kegiatan unik seperti "Mabbuang Majang, Mallogo, Maggasing, Massawung Manu, Maddaga, Sirawu Sulo Api (Perang Api) Dan Mabbele Ale (Memukul Diri Dengan Senjata Tajam). Camat lilirilau A. Damrah, S.Sos, M.Si menyampaikan atas nama pemerintah Kabupaten Soppeng mengapresiasi dan terima kasih atas terlaksananya kegiatan ini. "Saya berharap kegiatan ini menjadi wadah silahturahim untuk mempererat persatuan antara masyarakat dan dapat melestarikan budaya bangsa"...
TRIBUNJENEPONTO.COM, BINAMU - Tradisi Sitobo Lalang Lipa (saling tikam dalam sarung) menggunakan senjata tajam jenis badik, sudah jarang Anda temui di Sulawesi Selatan. Tradisi tersebut meruapakan cara mempertahankan Siri' (malu) suku Bugis-Makassar. TribunJeneponto.com , Rabu (20/4/2017), berkesempatan menonton langsung laga seru itu di perhelatan Olimpiade Olahraga Sekolah Nasional (O2SN) di Lapangan Passamaturukang, Jl Pahlawan, Kecamatan Binamu, Jeneponto, Rabu (20/04/2017) sore. Dua orang remaja dari Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia (IPSI) Jeneponto memperagakan aksi menegangkan itu. Keduany bernama Erik Zulkifli dan Ardiansyah. Mula-mula kedua pemuda berseragam serba hitam itu masuk dalam sarung. Musik tradisional suling dan gendang pun mulai ditabuh, pertanda pertarungan segera dimulai. Masing-masing mempersenjatai diri dengan sebilah badik yang diselipkan dalam pinggang. Badik terhunus, keduanya pun...
TERKINI.id, – Dengka Ase Lolo merupakan ritual perayaan pesta panen masyarakat di Dusun Moncongloe Lappara, Desa Moncongloe, Kabupaten Maros, yang rutin dilaksanakan setiap tahun. Pesta tani ini dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa, atas keberhasilan menanam padi. Ritualnya diselenggarakan oleh para tetua adat setempat, dan dihadiri oleh masyarakat umum dan pejabat pemerintahan setempat. Ritual budaya ini dilaksanakan di dua tempat, rumah kepala adat kemudian dilanjutkan ke makam karaeng. Masyarakat setempat lebih mengenal dengan ko’bang. Biasanya Komponen utama dalam Dengka Ase Lolo terdiri atas 6 orang perempuan, 4 orang laki-laki, bilik baruga, lesung, alu, dan pakaian tradisional baju bodo. Para perempuan beraksi dalam bilik baruga, disebut pakkindona. Kemudian laki-laki yang menari dan menabur bagian ujung lesung disebut pakkambona. Bilik baruga terbuat dari bambu, serta memiliki pagar dari anyaman bambu yang disebut walasoji. Pe...
Era sekarang kebiasaan masyarakat selalu menjadi hal menarik untuk dilihat bahkan dituliskan sekalipun, apalagi jika adat istiadat yang masih terjaga sampai saat ini. Kabupaten Barru memiliki tipe masyarakat yang majemuk dan terbuka dalam kehidupan masyarakat yang memiliki bangunan rumah panggung (rumah kayu) sangat khas juga di Sulawesi Selatan. Sejarah memang tidak pernah terlepas dari kebiasaan masyarakat. Seperti yang diketahui Kabupaten Barru sendiri mempunyai sisi sejarah dan kebudayaan yang sangat kuat dimulai dari sistem kerajaan sampai bentuk kebudayaan yang dimiliki oleh masing-masing masyarakatnya. Dari berbagai kerajaan yang menyatu hingga terbentuk Kabupaten Barru sehingga tidak jarang kita lihat rumah yang berbentuk besar seperti dikenal dengan sebutan Sao Raja yang salah salah satunya ada di Lapinceng kecamatan Balusu. Tipe rumah Bugis itu sendiri terbagi dua tipe yaitu rumah Sao Raja ( Salassa ) dan Bola. Saoraja adalah rumah besar yang ditempati oleh keturunan R...
TRIBUN-TIMUR.COM, PAREPARE -Sebagai daerah yang kental akan budayanya, warga Bacukiki , Kota Parepare terus mempertahankan dan masih terjaga hingga saat ini. Salah satu adat Bacukiki yakni Festival Mallipa yang diselenggarakan, Sabtu (9/12/2017), di Kelurahan Wattang Bacukiki . Mallipa’ atau dalam bahasa Indonesianya “memakai sarung” yang merupakan salah satu budaya bugis khususnya masyarakat Bacukiki yang perlu terus dilestarikan dan dijaga keberadaannya sebab sudah menjadi tradisi masyarakat bugis bahkan jauh sebelum agama Islam masuk ke tanah bugis itu sendiri. Camat Bacukiki , Iskandar Nusu mengungkapkan tradisi memakai sarung atau mallipa’ sudah identik dengan kehidupan masyarakat Bugis tanpa terkecuali di Bacukiki , bahkan hampir semua aspek kehidupan dan aktifitas keseharian mereka berkaitan dengan sarung baik pada acara formal maupun tidak r...
Sarung adalah ciri khas masyarakat di Indonesia khususnya muslim. Walau sesungguhnya pemakaian sarung tak menunjuk pada identitas agama tertentu karena sarung juga digunakan oleh berbagai kalangan di berbagai suku yang ada. Menurut catatan sejarah, sarung berasal dari Yaman. Di negeri itu sarung disebut futah. Sarung menjadi tradisi khas hingga ke Oman dan Arab Saudi. Penggunaan sarung telah meluas, tak hanya di Semenanjung Arab, namun juga mencapai Asia Selatan, Asia Tenggara, Afrika, hingga Amerika dan Eropa. Sarung pertama kali masuk ke Indonesia pada abad ke 14, dibawa oleh para saudagar Arab dan Gujarat. Dalam perkembangan berikutnya, sarung di Indonesia berkembang sesuai dengan beragam tradisi dan menjadi satu simbol dari nilai-nilai budaya nusantara. Di Sulawesi Selatan, sarung sudah menjadi identifikasi masyarakat dan berkembang sejalan dengan perkembangan peradaban. Penggunaannya disesuaikan dengan berbagai kondisi sehari-sehari bahkan untuk acara-acara bes...
Saat itu salah satu keponakanku sedang kupakaikan baju bodo’ (sebutan baju adat Sulawesi-Selatan) sembari menghiasi wajah rupawannya. Bagiku, untuk menghadapi seorang gadis jelita berumur 5 tahun butuh sedikit kesabaran karena prosesinya agak rumit. Biasanya anak seumuran ia kelakuannya sangat lincah, mulai dari cerewet, rewel dan tidak bisa diam. Belum lagi banyak item-item atau aksesoris sebagai pelengkap baju adat tersebut. Aku teringat pada seorang seniorku, ia mengatakan “Malebbi sekali kuliat pake baju bodo’ saat aku memposting kegiatan itu di salah satu akun sosial mediaku. Banyak tahap-tahap yang harus dilakukan dalam tradisi mappaselleng seperti, si anak terlebih dahulu dibimbing untuk wudhu karena ia harus dalam keadaan bersih, kemudian dimasukkan ke dalam kamar tempatnya di katte’ , di sana sudah ada s anro ana ‘ sedang menuggunya beserta wadah yang ia siapkan yang telah di isi b...
E rang, bocah lelaki berumur 7 tahun, seperti dipaku pada tempatnya berdiri. Rambut halus ditengkuknya meremang. Keringatnya mengucur deras. Tepat didepan matanya. Peristiwa mengerikan terjadi kurang dari selompatan kaki orang dewasa dari tempatnya berdiri. Sosok raksasa setinggi seratus langkah mendengus lencang. Nafas yang keluar dari hidungnya menggoyangkan semak belukar dimana Erang bersembunyi. Mulut raksasa itu mengecap-ngecap. Ia baru saja menelan ibu bapak Erang sekaligus. Purnama hari keempat belas. Dibelahan dunia yang lain sedang bersuka cita memandang keindahan bulan. Tapi disini, disebuah desa tempat keluarga Erang bermukim, purnama sepuluh tahun sekali adalah pertanda malapetaka. Raksasa kejam yang berdiam dihutan menjadikannya jadwal berburu manusia di desa Erang. Erang tak kuasa menahan tangis. Kesedihannya tak tertanggungkan lagi. Ibu bapaknya, belahan jiwanya, telah pergi meninggalkan dirinya. Erang memandang pilu kearah rumahnya. Kondisinya memprihatinkan...
Sesuai namanya, Badik Luwu berasal dari budaya masyarakat kabupaten Luwu di masa silam. Bentuknya membungkuk seperti bungkuk kerbau (mabbukku tedong). Bilahnya lurus dan meruncing di bagian ujung. Sebagian masyarakat Bugis percaya bila badik ini disepuh dengan bibir kem@luan gadis perawan, maka orang dengan ilmu kebal apapun akan mati bila ditusuk. Sumber: https://gpswisataindonesia.info/2017/04/senjata-tradisional-sulawesi-selatan/