Kaongke-ongkea merupakan kopi asli dari Kabupaten Buton. Kopi ini mempunyai cita rasa yang sangat berbeda dengan kopi lain pada umumnya. Kopi Kaongke-ongkea merupakan kopi organik yang berasal dari Desa Kaongke-ongkea, Kecamatan Pasarwajo, Kabupaten Buton. Para petani kopi di sini tidak menggunakan zat kimia atau sejenisnya dalam melakukan perawatan tanaman kopi. Kopi ini mempunyai rasa yang berbeda dengan kopi lainnya. Pengolahan kopi kaongke-ongkea sangat sederhana. Kopi dari hasil perkebunan, langsung dijemur sampai seminggu lamanya. Setelah itu dimasukkan ke dalam penggilingan gabah untuk mengeluarkan bijinya. Setelah bijinya keluar, lalu disangrai dan selanjutnya dimasukkan dalam penggilingan hingga menjadi bubuk kopi. Perbedaan kopi ini dengan kopi yang lain adalah aromanya. Ketika kopi dituangkan dengan air panas, bau harum sudah mulai tercium dari kejauhan. Aromanya memang sangat kental dibanding kopi lainnya. Selain itu rasanya lebih nikmat karena ini kopi asli. Sum...
Apakah Tari Dinggu itu? Tari Dinggu adalah salah satu tarian tradisional yang berasal dari Sulawesi Tenggara. Tarian ini merupakan tarian rakyat yang menggambarkan suasana dan aktivitas masyarakat saat musim panen, terutama musim panen padi. Tari Dinggu biasanya ditampilkan oleh para penari pria maupun wanita dengan berpakaian layaknya para Petani pada zaman dahulu. Tarian ini sangat dikenal di masyarakat Tolaki di Sulawesi Tenggara dan sering ditampilkan di berbagai acara seperti pesta panen raya, penyambutan, perayaan hari besar, festival budaya dan lain-lain. Sejarah Tari Dinggu Menurut sejarahnya, tarian ini berawal dari kebiasaan masyarakat Tolaki saat panen raya, terutama masa panen padi. Mereka melakukan aktivitas panen tersebut secara bergotong-royong atau bersama-sama, mulai dari memetik padi, mengangkat padi, dan lain-lain. Setelah padi terkumpul semua maka diadakan Modinggu, yaitu semacam menumbuk padi secara masal yang dilakukan oleh para muda-mudi. Setelah aca...
Tari Lulo adalah tari tradisional yang berasal dari Tokotua, Kabupaten Bombana Provinsi Sulawesi Tenggara. Tari Lulo ini dilaksanakan dalam rangka ritual adat Tokotua atas rasa syukur dan terimakasih kepada Yang Maha Pencipta karena limpahan rezki panen beras yang melimpah. Tari tradisional Lulo ini telah ada sejak zaman pemerintahan kerjaan kesultanan Buton, dimana beras sebagai hasil pertanian Tokotua untuk memperkuat pilar perekonomian Kesultanan Buton. Dan ungkapan syukur atas panen beras yang melimpah dituangkan dalam ritual adat Lulo. Para penari Lulo terdiri dari 12 orang yang dibagi dalam 2 kelompok. Delapan penari putra memegang alu (Penumbuk Padi) yang menggambarkan pria yang menumbuk padi dan empat orang penari perempuan memegang nyiru sebagai alat penapis gabah, ditambah sapu tangan yang menggambarkan proses penapisan gabah. Pakaian yang digunakan dalam tari tersebut merupakan ciri khas Kabaena dengan pakaian berwarna dasar hitam ditambah warna kekuning-kuningan d...
Karasi adalah camilan Khas Wakatobi yang bahan dasarnya dari tepung beras lalu cetakan adonannya digoreng. Pembuatan makanan ini cukup unik karena cetakan yang digunakan ketika membuat karasi terbuat dari batok kelapa yang telah dibentuk dan diberikan lubang-lubang kecil. Masyarakat Wakatobi khususnya ibu-ibu sangat pandai dan lihai dalam membuat makanan khas yang satu ini. Bisa dibeli di: Khayla Olshop, Kendari, Sulawesi Tenggara https://khayla_olshop.indonetwork.co.id/ Sumber: http://makanankhaswakatobi.blogspot.co.id/2017/05/kue-karasi-wakatobi.html https://brilicious.brilio.net/unik/ini-dia-makanan-khas-wakatobi-sajian-para-raja-170403p.html
Sup ikan parende pada zaman dahulu bahannya adalah ikan kakap merah. Ikan ini memiliki nilai sejarah tinggi karena dulu harganya mahal dan susah didapatkan, jika ada nelayan dapat ikan maka hanya diperuntukkan bagi sultan. Ini menjadikan sup ikan parende dianggap sebagai makanan kaum bangsawan. Sekarang, ikan kakap sudah mudah didapat. RM yang menyediakan: RM Bersaudara Jl Yos Sudarso No. 15, Baubau, Sulawesi Tenggara Sumber: https://brilicious.brilio.net/unik/ini-dia-makanan-khas-wakatobi-sajian-para-raja-170403p.html
Pakaian adat ajo bantea hanya terdiri dari celana panjang (sala arabu) dan dijadikan sebagai lambang keterbukaan dan kesederhanaan para anak golongan bangsawan tanpa memandang status sosialnya masing-masing. ajo bantea atau pakeana mangaanaana merupakan pakaian yang khusus dikenakan oleh anak-anak yang belum menduduki jabatan khusus dalam sistem pemerintahan kesultanan buton. sebagai pelengkap ditambahkan pula penggunaan kampurui bewe patawala atau kampurui tumpa atau kampurui palangi yang dikenakan bersama lepi-lepi, keris, sarung samasili kumbaea atau bia ibeloki , dan bia ogena. sumber : https://fitinline.com/article/read/7-ragam-pakaian-adat-buton/
Kaboroko berarti krah (leher) dikatakan demikian karena baju ini agak berbeda dengan jenis baju Buton lainnya, dimana baju ini mempunyai kerah yang disertai dengan adanya berbagai macam hiasan dan aksesoris yang dilekatkan padanya. Terdapat empat buah kancing logam pada leher sebelah kanan dan tujuh buah kancing pada lengan baju. Kancing-kancing itu tidak berfungsi sebagaimana lazimnya kacing baju, namun hanya merupakan pertanda golongan. Sarung lapisan dalam berwarna putih sedangkan lapisan luas (atas) sarung warna dasar hitam dengan corak garis-garis. Sarung tersebut disebut sebagai Samasili Kumbaea atau Bia-Bia Itanu . Pada sanggulnya diikatkan potongan-potongan yang digulung dari kain yang berwarna putih dan kuning. Mengenai makna yang terkandung dalam pakaian Kaboroko ini berikut akan disajikan kutipan hasil wawancara : Kaboroko berarti baju berkerah atau memiliki kerah. Penggunaan baju&...
Karasi adalah salah satu jenis makanan khas Wakatobi yang tidak kalah enaknya. Makanan yang satu ini memiliki bahan utama yaitu tepung beras, biasanya masyarakat membuatnya sebagai cemilan dan biasa juga disajikan dalam berbagai acara adat. Pembuatan makanan yang satu ini juga cukup unik karena cetakan yang digunakan ketika membuat karasi terbuat dari batok kelapa yang telah di bentuk dan diberikan lubang-lubang kecil. Para masyarakat Wakatobi khususnya ibu-ibu sangat pandai dan lihai dalam membuat makanan khas yang satu ini. Untuk kalian ketahui, bahwa makanan khas yang ada di Wakatobi selain rasanya yang nikmat, bahan yang digunakan pun cukup simple dan teknik pembuatannya unik , jadi Wakatobi sangat direkomendasikan banget deh buat kamu yang ingin merasakan aneka makanan khas Nusantara. Bisa dibeli di: Khayla Olshop, Kendari, Sulawesi Tenggara https://khayla_olshop.indonetwork.co.id/ Sumber : http://syifaadistiani94...
Istilah Posuo berasal dari kata suo yaitu sebuah bilik rumah yang ditempati para anak gadis untuk melaksanakan Posuo atau pingitan. Posuo (pingitan) merupakan prosesi adat bagi gadis remaja yang telah aqil balik dalam memasuki masa dewasa sekaligus mempersiapkan diri untuk berumah tangga. Kegiatan ini dilakukan selama 8 hari 8 malam atau dapat pula dilaksanakan selama 4 hari 4 malam s/d 7 hari 8 malam yang di pandu oleh seorang Bhisa. Tujuan dilaksanakannya prosesi ini adalah untuk mengajarkan kepribadian, etika, akhlak serta hal-hal yang berhubungan dengan keagamaan. Bagi gadis remaja yang telah dipingit dan keluar ruangan, maka resmilah disebut Kalambe atau wanita yang telah dewasa dan diupacarakan dalam mataana kariaa. Festival Posuo (Pingitan) adalah tradisi pingitan bagi gadis remaja Buton sebelum memasuki usia dewasa. Pada masa lampau, sejak terbentuknya struktur pemerintah kerajaan/kesultanan di Buton dilaksanakan selama 40 hari. Setela...