×

Akun anda bermasalah?
Klik tombol dibawah
Atau
×

DATA


Kategori

Pakaian Khas

Elemen Budaya

Pakaian Tradisional

Provinsi

Sulawesi Tenggara

Baju Kaboroko

Tanggal 01 Dec 2017 oleh Deckytri .

Kaboroko  berarti krah (leher) dikatakan demikian karena baju ini agak berbeda dengan jenis baju Buton lainnya, dimana baju ini mempunyai kerah yang disertai dengan adanya berbagai macam hiasan dan aksesoris yang dilekatkan padanya. Terdapat empat buah kancing logam pada leher sebelah kanan dan tujuh buah kancing pada lengan baju. Kancing-kancing itu tidak berfungsi sebagaimana lazimnya kacing baju, namun hanya merupakan pertanda golongan. Sarung lapisan dalam berwarna putih sedangkan lapisan luas (atas) sarung warna dasar hitam dengan corak garis-garis. Sarung tersebut disebut sebagai Samasili Kumbaea atau Bia-Bia Itanu. Pada sanggulnya diikatkan potongan-potongan yang digulung dari kain yang berwarna putih dan kuning.
 
Mengenai makna yang terkandung dalam pakaian Kaboroko  ini berikut akan disajikan kutipan hasil wawancara :
 
Kaboroko  berarti baju berkerah atau memiliki kerah. Penggunaan baju Kaboroko bagi wanita Buton adalah pada saat-saat diadakannya upacara adat (khususnya golongan Walaka/golongan tengah/ bukan La Ode/Wa Ode).
 
Tidak terdapat perbedaaan makna antara baju yang digunakan oleh bangsawan maupun bukan bangsawan. Pemakaian kain sarung yang dipakai secara berlapis-lapis ini dimaksudkan bahwa orang yang memakainya adalah para ibu rumah tangga yang telah memiliki anak keturunan sehingga bermakna telah mempunyai tanggung jawab yang harus selalu dijaga dan dilindunginya yang ditandai dengan penggunaan selendang yang dililitkan pada sekujur tubuhya dengan ketentuan warnanya.
 
Tetapi jika ia masih gadis, Kaboroko digunakan tidak dengan berlapis-lapis kain sarung, hanya satu buah sarung saja yang sekaligus berfungsi sebagai rok”.
 
Pengertian baju kaboroko menurut bapak Hazirun Kudus sama halya dengan pengertian dari bapak  La Ode Zaady, berikut kutipan hasil wawancaranya .
 
Kaboroko adalah salah satu baju adat yang digunakan oleh para wanita Buton. Baju ini terdiri dari satu lembar baju dan tiga lapis kain sarung yang dipergunakan secara bersamaan dengan lapisan paling bawah adalah kain sarung yang berwarna putih, lapisan kedua adalah Bia-Bia Itanu/Samasili Kumbaea sedang lapisan ketiga adalah kain lebar yang lebih mirip selendang dan dililitkan pada sekujur tubuh pemakainya dengan cara bagian ujung kain sebelah kiri dipegang oleh tangan kiri dengan arah ke dalam.
 
Terdapat perbedaan penggunaan warna selendang oleh para ibu pada baju Kaboroko . Antara lain warna Biru adalah bagi para ibu yang telah memiliki anak lebih dari satu orang, warna merah atau hitam bagi ibu yang baru mempunyai satu anak dan warna kuning adalah bagi para janda. Sedang maknanya adalah melindungi hak dan kewajiban pribadi maupun anggota keluarga dari segala hal yang dapat membahayakan kehidupannya, begitu juga tanggung jawab akan melindungi adat dan ajaran agama demi tercapainya keselamatan dan kesejahteraan hidup dalam bermasyarakat dan bernegara”.
 
Berdasarkan kutipan wawancara di atas maka dapat disimpulkan bahwa baju Kaboroko mempunyai makna bahwa seorang wanita harus melaksanakan hak dan kewajibannya dalam melindungi diri dan anggota keluarganya dari segala sesuatu yang dapat membahayakan kehidupan, adat dan ajaran agama. Sedang perbedaan warna yang terdapat pada selendang yang digunakan lebih cenderung kepada makna bahwa perbedaan jumlah  anak yang telah dimiliki.
 
     6.  Baju Kambowa
Kambowa adalah salah satu jenis pakaian adat Buton yang digunakan oleh para ibu, gadis maupun anak-anak dalam berbagai kesempatan adat bahkan dapat pula berfungsi sebagai pakaian hari-hari pada masa lampau. Baju terdiri dari satu buah baju berwarna polos (kuning, biru, hijau, ungu) begitu juga sarung yang digunakan. Baju ini berbentuk ponco dan tidak memiliki kerah baju. Lengan baju hanya sampai pada bawah siku dengan bahan satin.
 
Bagi seorang ibu bangsawan baju Kambowa ini digunakan pula kain sarung yang terdiri dari tiga lapis layaknya yang digunakan pada baju Kaboroko , sedang yang bukan bangsawan hanya menggunakan satu lapis sarung yaitu Bia-Bia Itanu/Samasili Kumbaea.
 
Lebih lanjut mengenai makna yang terkandung dalam baju Kambowa ini dapat dilihat pada kutipan hasil wawancara sebagai berikut :
 
leher baju yang tidak berkerah melambangkan bahwa pemakainya dilingkari oleh berbagai aturan adat dan agama yang harus dipatuhi dan dijalankan sepenuh hati demi kebaikannya sendiri”.
 
baju ini melambangkan bahwa pemakainya dilingkari oleh berbagai ajaran adat dan agama yang harus dilindunginya atau dapat saya katakan bahwa makna yang terdapat pada baju Kambowa ini adalah sama dengan makna yang terkandung dalam baju Kaboroko ”.
 
“untuk memudahkan adik mengartikan makna yang terdapat pada baju Kambowa maka makna apa yang terdapat pada baju Kaboroko  itulah juga makna baju Kambowa”.
 
“baju Kambowa memiliki makna yang sama dengan baju Kaboroko ” (Wawancara; La Ode Zaady, September 2006).
 
Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat diketahui bahwa makna yang terdapat pada baju Kambowa adalah sama dengan makna yang terdapat pada baju Kaboroko . Namun demikian menurut para informan ada beberapa perbedaan kecil tentang makna antara baju Kambowa dengan baju Kaboroko.

DISKUSI


TERBARU


Kearifan Lokal...

Oleh Artawan | 16 Mar 2025.
Budaya

Setiap Kabupaten yang ada di Bali memiliki corak kebudayaan yang berbeda antara satu daerah dengan daerah yang lainnya. Salah satunya Desa Adat Tenga...

Mengenal Sejara...

Oleh Artawan | 16 Mar 2025.
Budaya

Pura Lempuyang merupakan salah satu tempat persembahyangan umat hindu Bali tertua dan paling suci di Bali. Terletak di lereng Gunung Lempuyang, di Ka...

Resep Layur Bum...

Oleh Masterup1993 | 24 Jan 2025.
Makanan

Ikan layur yang terkenal sering diolah dengan bumbu kuning. Rasa ikan layur yang dimasak dengan bumbu kuning memberikan nuansa oriental yang kuat...

Bakso Titoti Wo...

Oleh Deni Andrian | 10 Jan 2025.
Makanan

Bakso titoti wonogiri gitu gaes ya hahahahhahahahahah

Tempong khas Te...

Oleh Deni Andrian | 10 Jan 2025.
Makanan

Bahan-bahan 12 porsi 1 papan tempe besar 1 genggam daun kemangi Bumbu Halus: 3 siung bawang putih 5 buah bawang merah 5 buah cabai rawit merah (op...

FITUR


Gambus

Oleh agus deden | 21 Jun 2012.
Alat Musik

Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritual...

Hukum Adat Suku...

Oleh Riduwan Philly | 23 Jan 2015.
Aturan Adat

Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal...

Fuu

Oleh Sobat Budaya | 25 Jun 2014.
Alat Musik

Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pend...

Ukiran Gorga Si...

Oleh hokky saavedra | 09 Apr 2012.
Ornamen Arsitektural

Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai...