Golok atau bedog menjadi atribut sehari-hari kaum laki-laki Bady. Ada dua macam golok yang dibuat dan digunakan oleh Masyarakat Baduy, yaitu golok polos dan golok yang berpamor. Golok polos dibuat dengan proses biasa, menggunakan besi baja bekas per pegas kendaraan bermotor yang ditempa berulang-ulang. Golok ini biasanya di gunakan untuk menebang pohon, mengambil bambu, dan keperluan lainnya, sedangkan golok yang berpamor adalah golok yang telah dipercayai kekuatannya memiliki urat-urat atau motif gambar yang menyerupai urat kayu dari pangkal hingga ujung golok pada kedua permukaannya. Proses pembuatannya lebih lama dan memerlukan percampuran besi dan baja yang khusus. Kekuatan dan ketajaman golok pamor melebihi golok polos biasa, di samping itu memiliki kharisma tersendiri bagi yang menyandangnya. Golok buatan orang Baduy –Dalam berbeda dengan buatan orang Baduy-Luar, perbedaannya terletak pada serangka dan perahnya, baik yang berpamor maupun tidak....
Suku Baduy yang berada di Banten terkenal sebagai salah satu suku yang masih sangat mempertahankan adat dan dekat dengan alam. Mereka memanfaatkan alam dengan secukupnya, dan selalu menjaganya. Salah satu hasil kerajinan dari bahan alam yang dibuat oleh Suku Baduy adalah Tas Koja. Tas Koja adalah tas yang terbuat dari kulit pohon Teureup. Kenapa terbuat dari pohon Teureup? kulit pohon ini lebih awet dan kuat. Proses membuatnya lumayan lama bisa memakan waktu beberapa hari, bahkan bisa seminggu. Cara membuatnya yaitu pertama-tama kita harus masuk ke pedalaman untuk mencari pohon Teureup, pilih pohon yang bersua 2-3 tahun, jangan yang masih muda. Lalu kupas kulit kayunya. Kulit kayu tersebut direndam agar serat seratnya terpisah, lalu dijemur hingga kering untuk dibuat benang. Setelah jadi benang, kemudian dirajut. Jadilah tas Koja khas Suku Baduy.
Seren Taun merupakan pesta panen untuk mensyukuri hasil alam yang telah diterima masyarakat digelar satu tahun sekali. Cisitu, Lebak Banten merupakan salah satu wilayah yang rutin mengadakan Seren Taun, selain Ciptagelar yang sudah masuk kawasan Sukabumi. Tiga hari sebelum upacara adat, biasanya musik dangdut, wayang golek serta tari jaipong ikut memeriahkan pesta rakyat ini. Sebelum upacara adat dimulai akan ada ibu-ibu yang menumbuk padi yang membentuk sebuah irama disebut dengan gegendek lisung, diiringi dengan angklung buhun serta beberapa pria membawa padi. Tradisi turun temurun Seren Taun menjadi kearifan lokal yang harus dijaga kelestariannya.
Dapros adalah jenis makanan yang terbuat dari tepung beras kemudian diberi warna dan dibentuk menyerupai bunga mawar. Setelah dibentuk dijemur, agar siap digoreng karena makanan ini sejenis kerupuk. Tetapi biasanya disajikan saat hari istimewa atau ada tamu yang berkunjung.
Gemblong adalah jenis makanan yang terbuat dari beras ketan yang dijadikan nasi kemudian ditumbuk bersamaan hingga menyatu dan lembut. Setelah itu disajikan dengan cara digoreng terlebih dahulu. Saat hari raya, gemblong biasanya dinikmati bersama dengan siraman kuah opor ayam.
Vihara ini termasuk salah satu peninggalan masa lampau yang sudah mengalami perubahan bentuk dan letak lokasi. Semula bangunan ini berada di Kampung Pacinan, tempat bermukimnya imigran Cina namun sekarang letaknya berdampingan dengan Benteng Speelwijk Banten Lama. Bangunan dengan gaya arsitektur Cina itu penuh dengan hiasan relief naga warna merah dan kuning. Hingga sekarang setiap hari banyak dikunjungi peziarah dan wisatawan. Salah satu Vihara tertua di Indonesia ini mengadakan perayaan besar seperti Hari Kesempurnaan Budha dan Kelahiran Dewi Kwan Im Hut Coe. Bangunan ini merupakann bukti bahwa Banten sejak lama telah menjalin hubungan yang harmonis dengan pemeluk agama selain Islam.
PETUNJUK IBADAH SUCI SUKU BADUY Kiblat ibadah pe-muja-an umat Sunda Wiwitan disebut Sasaka Domas, atau Sasaka Pusaka Buana atau Sasaka Pada Ageung. Sasaka Domas adalah bangunan punden berunduk atau berteras-teras sebanyak tujuh tingkatan. Setiap teras diberi hambaro, benteng, yang terdiri atas susunan “menhir” (batu tegak) dari batu kali. Pada teras tingkat keempat terdapat menhir yang besar dan berukuran tinggi sekitar 2 m. Pada tingkat teratas terdapat “batu lumpang” dengan lubang bergaris tengah sekitar 90 cm, menhir dan “arca batu”. Arca batu ini disebut Arca Domas . Domas berarti keramat, suci. Tingkatan teras, makin ke selatan undak-undakan makin tinggi dan suci. Digambarkan oleh Koorders (1869), Jacob dan Meijcr (1891) dan Pleyte (1909) bahwa letaknya di tengah hutan tua yang sangat lebat, hulu sungai Ciujung dan puncak gunung Pamuntuan. Bangunan tua ini merupakan sisa peninggalan megalitik. Sebagai...
Kramat Pabencongan atau kramat bencongan terletak di desa Bencongan, kecamatan Kelapadua Kabupaten Tangerang Banten. Menurut nara sumber yang saya temui disana yaitu Bapak Haji Syaif yg juga tokoh satu-satunya yg masih faham sejarah makam(Beliau sudah berumur lebih dari 100tahun), bahwa kramat Bencongan sudah berumur sangat lama, beliau mengungkapkan saat dirinya masih anak2 pun makam itu sudah ada dan yang menemukan makam itu adalah Alm Ayah nya sekitar tahun 1875. awal di temukannya situs makam bersejarah ini tanpa sengaja, saat itu area disekitar makam masih sangat lebat dengan pepohonan hutan dan ada salah satu pohon beringin besar yang melindungi/menutupi cungkup makam. Keadaan makam sangat bersih saat itu tanpa ada sedikitpun ranting atau sisa dedaunan yg jatuh. Konon menurut Pak Syaif, didekat area makam siapapun yang melintasinya akan jatuh, kadang ditemukan bangkai burung atau binatang hutan disekitar dekat area makam akibat melintasi makam kramat itu. Dengan adanya hal...
Beberapa abad yang lalu tersebutlah Kesultanan Kartasura. Kesultanan sedang dilanda kesedihan yang mendalam karena permaisuri tercinta sedang sakit keras. Pangeran sudah berkali-kali memanggil tabib untuk mengobati sang permaisuri, tapi tak satupun yang dapat mengobati penyakitnya. Sehingga hari demi hari, tubuh sang permaisuri menjadi kurus kering seperti tulang terbalutkan kulit. Kecemasan melanda rakyat kesultanan Kartasura. Roda pemerintahan menjadi tidak berjalan sebagaimana mestinya. "Hamba sarankan agar Tuanku mencari tempat yang sepi untuk memohon kepada Sang Maha Agung agar mendapat petunjuk guna kesembuhan permaisuri," kata penasehat istana. Tidak berapa lama, Pangeran Kartasura melaksanakan tapanya. Godaan-godaan yang dialaminya dapat dilaluinya. Hingga pada suatu malam terdengar suara gaib. "Hentikanlah semedimu. Ambillah bunga karang di Pantai Selatan, dengan bunga karang itulah, permaisuri akan sembuh." Kemudian, Pangeran Kartasura segera pulang ke istana dan me...