Setiap kali berpindah pusat pemerintahan, warga selalu membawa serta lumbung komunal yang dijuluki leuit Si Jimat. Lumbung tua yang menjamin ketersediaan pangan warga itu saat ini ditempatkan tepat di samping Imah Gede Ciptagelar. Warga bisa meminjam benih padi dari leuit Si Jimat tanpa bunga. Kehadiran lumbung atau leuit yang terbuat dari bambu dengan atap dari ijuk , namun ada yang unik dari leuit si jimat ini, terdapat ukiran – ukiran yang unik di dinding leuit Si Jimat yang menjadi ciri khas Kampung Ciptagela, misalnya terdapat ukiran kerbau dan sejenis rumput - rumputan. Dari lumbung-lumbung itu, status sosial warga bisa dibaca. Semakin kaya seseorang, maka semakin banyak leuit yang dimiliki. Abah Ugi, misalnya, memiliki 21 leuit pribadi dan 7.000 leuit komunal. Demi keberlangsungan ketersediaan pangan, warga Ciptagelar dilarang memperjualbelikan padi lokal dan apapun olahan yang terbuat dari beras. Dengan sistem ini, warga tidak pernah kekurangan p...
Ketika kita sampai di desa adat Ciptagelar kita akan menemukan sebuah rumah yang berbeda dengan rumah lainnya yang ada disana, rumahnya lebih besar dan lebih bagus dan berlantai dua , bangunan tersebut merupakan imah abah atau sering disrbut imah rurukan. Semua orang yang datang apakah itu pelancong, para pendaki yang hendak menjelajah Halimun, mahasiswa peneliti atau rombongan studi tour diharuskan untuk menemui abah di rumahnya untuk menyampaikan tujuan kedatangan mereka ke Ciptagelar Setiap tamu yang datang tidak bisa dengan leluasa memasuki imah rurukan atau imah abah tanpa adanya izin dari abah sendiri. Di imah rurukan atau imah abah kita hanya bisa mendatangi atau melihat ruangan depan saja, tempat abah menerima tamu atau singgasana abah diletakan. Sama seperti rumah kebanyakan disana, imah rurukan atau imah abah ini didingnya terbuat dari bilik bambu (awi), atapnya terbuat dari injuk, lantainya terbuat dari kayu, akan tetapi ada yang membedakan y...
Pangkemitan adalah satu bangunan yang terdapat di desa adat ciptagelar yang terbuka, terbuat dari bilik bambu (awi), atapnya terbuat dari injuk, lantainya terbuat dari kayu, akan tetapi ada yang membedakan yaitu untuk tiang rumahnya terbuat dari kayu juga. Pangkemitan ini merupakan tempat orang menunggu atau menemani abah ugi sedang membutuhkan sesuatu. Dalam praktikya setiap orang yang menunggu digilir dari 568 kampung Setiap harinya atau dengan kata lain ada pembagian shift. Pembagian shiftnya diatur oleh rorokan jero (sesepuh)
Sama seperti fungsi podium kebanyakan, podium yang terdapat di desa adat Ciptagelar ini merupakan tempat pidato abah ugi pada warga kasepuhan, pada saat – saat tertentu. Podium merupakan salah satu bangunan yang terdapat di desa adat ciptagelar yang terbuka, terbuat dari bilik bambu (awi), atapnya terbuat dari injuk, lantainya terbuat dari kayu, akan tetapi ada yang membedakan yaitu untuk tiang rumahnya terbuat dari kayu juga.
Meskipun Ciptagelar terkenal dengan kampung adat, akan tetapi disana bisa masuk teknologi atau bisa dikatan kalau Ciptagelar ini adalah kampung adat yang peduli dan sadar dengan kemajuan teknologi. Meski kampung Ciptagelar berada jauh dari kehidupan kota yang hingar bingar dengan teknologi, bukan berarti masyarakat terasing dari kemajuan zaman. Listrik, televisi, radio, handphone dan internet bukanlah istilah asing disini. Semua fasilitas tersebut dikembangkan sendiri oleh masyarakat Ciptagelar. Ini terbukti dengan adanya ajeng siaran dan perpustakaan atau disebut dengan Ciagatv. Cigatv merupakan salah satu bangunan yang berfungsi sebagai tempat siaran tv dan radio yang menyiarkan tentang seluruh budaya lokal Ciptagelar. Cigatv ini juga merupakan salah satu bangunan yang didingnya terbuat dari tembok, akan tetapi untuk atapnya tetap terbuat dari injuk, karena di desa adat Ciptagelar pantang untuk membuat atap selain dari injuk atau daun – daunan....
Seperti di desa adat lainnya di Citagelar juga terdapat tempat beribadah yaitu mushola, tempat beribadah orang – orang muslim. Mushola ini juga merupakan salah satu bangunan di Ciptagelar yang dindingnya terbuat dari tembok, akan tetapi untuk atapnya tetap terbuat dari injuk, karena di desa adat Ciptagelar pantang untuk membuat atap selain dari injuk atau daun – daunan
Kesenian ini pada awalnya berupa musik ritmis dengan menggunakan media kentongan (kohkol) yang terbuat dari potongan ruas bambu, kesenian ini di perkirakan lahir menjelang abad ke-17 setelah wafatnya Sunan Gunung Jati. Namun sampai saat ini tak seorangpun mengetahui siapa penciptanya. Dinamakan Angklung Bungko adalah karena kesenian tersebut tumbuh dan besar di daerah Bungko, Cirebon Utara. Kesenian ini tercipta atas dasar luapan emosi kegembiraan masyarakat Bungko setelah memenangkan perang melawan pasukan Pangeran Pekik (Ki ageng Petakan). Dalam perkembangan selanjutnya, musik ritmis (kentongan) yang mereka ciptakan banyak mengalami perubahan yang cukup signifikan. Perubahan-perubahan tersebut dapat di pahami, sebab isi dan konteks seni pertunjukkan di daerah-daerah di mana pun di dunia, akan terus mengalami perubahan seiring dengan perubahan dalam sistem kehidupan secara menyeluruh. Adapun proses perubahan dalam tubuh Angklung Bungko sebagian besar terjadi pada...
UPACARA RUWATAN BUMI KAMPUNG BANCEUY, SUBANG Ruwatan bumi adalah salah satu upacara adat masyarakat agraris yang sampai saat ini masih dilaksanakan oleh masyarakat Subang, tepatnya di kampung Banceuy Wangunharja. Ruwatan berasal dari kata rawat atau merawa artinya mengumpulkan atau merawat yaitu mengumpulkan seluruh masyarakat kampung serta mengumpulkan semua hasil bumi, baik yang masih mentah maupun yang sudah diolah. Upacara Ruwatan Bumi ini dilaksanakan sebagai ungkapan syukur terhadap Tuhan YME atas keberhasilan hasil panen pertanian dan sebagai tolak bala serta ungkapan penghormatan terhadap nenek moyang mereka yang telah berjasa meningkatkann taraf hidup di kampung Banceuy tersebut. Di kampung Banceuy ini acara Ruwatan Bumi telah dilaksanakan semenjak tahun 1800 masehi. Ngaruwat merupakan ungkapan rasa syukur atas keberhasilan pertanian, upaya tolak bala, sebagai media penghormatan pada leluhur yang berjasa dalam sejarah perkembangan kampung Banceuy serta sarana sila...
Di Sindangbarang terdapat Upacara Adat Seren Taun , yaitu merupakan upacara pesta panen raya masyarakat adat Sunda Ladang pada jaman dahulu kala sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang diperoleh. Upacara ini telah berlangsung sejak masih jayanya kerajaan Pajajaran dan berlangsung hingga kini. Diselenggarakan setiap tahun pada bulan Muharam. Pada upacara Seren Taun semua masyarakat desa pasir eurih terlibat, bahkan tamu-tamu dari seluruh jawa barat pun selalu hadir untuk menyaksikan. Upacara ini berlangsung selama 7 hari meliputi upacara ritual dan penampilan kesenian tradisional. 1). Nandur 2). Ang klung Gubrak 3). Ngaleut 4). Barisan rengkong 5). Pare Hasil Panen