Arus modernisasi yang merambah semua bidang kehidupan, seolah sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat hari ini. Namun, perkembangan zaman yang serba modern, nampaknya tidak membuat silau komunitas Bonokeling yang tetap menjalankan laku tradisi mengikuti jejak para leluhur. "Kami harus selalu ikhlas dan memiliki niat yang kuat untuk melaksanakan semua ajaran yang diturunkan dari leluhur kami," ucap Warga (45), salah satu anggota pengikut Bonokeling atau dikenal dengan sebutan anak -putu Bonokeling. Warga merupakan satu dari ribuan bagian komunitas anak-putu Bonokeling yang berasal dari Kelurahan Tambakreja Kecamatan Cilacap Selatan. Ia mengaku mengenal tradisi Bonokeling dari orang tuanya yang sudah lama mengikuti ajaran tersebut. "Saya memutuskan untuk mengikuti ajaran Bonokeling setelah sunat. Karena syarat untuk bisa menjadi bagian dari anak-putu Bonokeling adalah sudah memasuki usia dewasa," jelas pria yang mengaku meninggalkan pekerjaan...
Museum Pendet , Ubud Plaats: Ubud Provincie: Bali Land: IND Type organisatie: Museum Postadres: Museum Pendet Jl. Raya Nyuh Kuning, MAS 80571 Ubud Gianyar Informatie:...
Tari Bondan Tari Bondan menceritakan tentang seorang anak wanita dengan menggendong boneka mainan dan payung terbuka, menari dengan hati-hati di atas kendi yang diinjak dan tidak boleh pecah. Diambil benang merah bahwa tarian ini melambangkan seorang ibu yang menjaga anak-anaknya dengan hati-hati. Tari ini dibagi menjadi 3, yaitu: Bondan Cindogo, Bondan Mardisiwi, dan Bondan Pegunungan/ Tani. Tari Bondan Cindogo dan Mardisiwi melambangkan seorang ibu yang menjaga anaknya yang baru lahir dengan hati-hati dan dengan rasa kasih sayang . Tapi Bondan Cindogo satu-satunya anak yang ditimang-timang akhirnya meninggal dunia. Sedang pada Bondan Mardisiwi tidak, serta perlengakapan tarinya sering tanpa menggunakan Kendhi seperti pada Bondan Cindogo. https://www.silontong.com/2018/08/31/tarian-tradisional-daerah-jawa-barat/
Sabdo Palon merupakan sekelumit kisah yang menggambarkan Majapahit yang dituturkan oleh pengikut setia raja terakhir Majapahit. Ia mengatakan bahwa agama Hindu memang akan digantikan oleh agama Islam, yang pada waktu itu didakwahkan oleh Wali Sanga. Namun, 500 tahun kemudian, Islam akan digantikan oleh suatu agama baru, yang disebutnya sebagai “agama budi”. Anda percaya atau tidak, berikut kami tampilkan beberapa cuplikan Ramalan Sabdo Palon yang beredar di masyarakat sebagai bagian dari pengetahuan serta kajian dalam kesusastraan di Indonesia. 1. Pada sira ngelingana, Carita ing nguni-nguni, Kang kocap ing serat babad, Babad nagri Mojopahit, Nalika duking nguni, Sang-a Brawijaya Prabu, Pan samya pepanggihan, Kaliyan Njeng Sunan Kali, Sabda Palon Naya Genggong rencangira. (Ingatlah kepada kisah lama yang ditulis di dalam buku babad tentang negara Majapahit. Waktu itu Sang Prabu Brawijaya mengadakan pertemuan dengan...
Tranliterasi Teks Naskah Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian I Ndah nihan warahakna sang sadu, de sang mamet hayu. Hana sanghyang siksakandang karesian ngaranya, kayatnakna wong sakabeh. Nihan ujar sang sadu ngagelarkeun sanghyang siksakandang karesian. Ini sanghyang dasa kreta kundangeun urang reya. Asing nu dek na(n)jeurkeun sasana kreta pakeuneun heubeul hirup, heubeul nyewana, jadiyan kuras. Jadiyan tahun, deugdeug ta(n)jeur jaya prang. Nyewana 1 na urang reya. Ini byakta sanghyang dasa kreta ngaranya, kalangkang dasa sila, maya-maya sanghyang dasa marga, kapretyaksaan dasa indriya nakeun ngretakeun bumi lamba di bumi tan parek. Ini pakeun urang ngretakeun bumi lamba, caang jalan, panjang tajur, paka pridana, linyih pipir, caang buruan. Anggeus ma imah kaeusi, leuit kaeusi, paranje kaeusi, huma kaomean, sadapan karaksa, palana ta hurip, sowe waras, nyewana 2 sama wong (sa)rat. Sangkilang di lamba, trena taru lata galuma, hejo lembok...
Batu Golog, Cerita Rakyat Padamara Lombok Timur NTB i ni adalah Sebuah Cerita Rakyat dari Desa Padamara, Kecamatan Sukamulia, Lombok Timur, NTB. Pada jaman dahulu di daerah Padamara dekat Sungai Sawing hiduplah sebuah keluarga miskin. Sang istri bernama Inaq Lembain dan sang suami bernama Amaq Lembain. Mata pencaharian mereka adalah buruh tani. Setiap hari mereka berjalan kedesa desa menawarkan tenaganya untuk menumbuk padi. Kalau Inaq Lembain menumbuk padi maka kedua anaknya menyertai pula. Pada suatu hari, ia sedang asyik menumbuk padi. Kedua anaknya ditaruhnya diatas sebuah batu ceper didekat tempat ia bekerja. Anehnya, ketika Inaq mulai menumbuk, batu tempat mereka duduk makin lama makin menaik. Merasa seperti diangkat, maka anaknya yang sulung mulai memanggil ibunya: "Ibu batu ini makin tinggi." Namun sayangnya Inaq Lembain sedang sibuk bekerja. Dijawabnya, "Anakku tunggulah sebentar, Ibu baru saja menumbuk." Begitulah yang terjadi secara berulang-ulang. Batu ceper itu ma...
Makanan khas Cirebon yang enak ini merupakan sajian makanan berkuah santan yang berisi daging sapi dan jeroan. Sekilas tampilannya mirip dengan gulai, namun cita rasanya gurih dan manis yang dimasak menggunakan cara tradisional yaitu menggunakan kayu bakar dan menggunakan media gentong atau periuk yang terbuat dari tanah liat. Jeroan yang biasa dipakai dalam empal gentong diantaranya adalah usus, babat, limpa, dan paru. Empal gentong awalnya berasal dari desa Battembat, kecamatan Tengah Tani. Empal gentong terasa lezat disajikan dalam keadaan panas bersama dengan nasi atau lontong. Ditambah lagi taburan irisan daun kucai dan jeruk nipis yang akan menggoyang lidang kamu. Sumber : http://tempatwisataindonesia.id/makanan-khas-cirebon/
Asal Cerita Rakyat Desa Karangmekar,Kecamatan Karangsembung,Kabupaten Cirebon Asal dari Desa Kubangkarang dan terwujud dari Desa Kubangkelor dan Desa Karangsembung Wetan. Pada masa zaman Wali Sanga,Syeh Syarif Hidayatullah,Sultan Gunung Jati Cirebon,sebagai Imam Wali dan sebagai Penasihat Wali ialah Pangeran Cakra Buana alias Embah Kuwu Sangkan alias Embah Kuwu Cirebon. Kisah pada suatu ketika di Keraton Cirebon sedang mengadakan musayawarah yang di hadiri oleh Sultan Kalijaga,para Pangeran Cirebon dan hadiri pula oleh Embah Kuwu Cirebon,dalam musyawarah tersebut sedang memperbincangkan rencana untuk mmembuat suatu kampung/desa/pedukuhan yang akan diberi Gebang Kinatar. Didalam musyawarah mendapat keputusan bahwa Emah Kuwu Cirebon untuk di tugaskan mencari tempat kesebelah timur yang ditemani oleh gadeknya yakni Embah Berai,adapun Sultan Cirebon dan Sunan Kalijaga,serta para Pinangeran ke daerah Lurah Agung Kuningan. Keberangkatan Embah Kuwu Cirebon Giran...
Zaman dahulu Desa Warukawung yang babak yasa ialah Embah Sangkan Kuwu Cirebon . Konon kabarnya beliau tidak mau disebut namanya, tetapi cukup disebut Ki Gede Penderesan saja. Tujuan semula pokoknya beliau bermaksud menyebarkan Agama Islam di pelosok dusun, yang kini tapak petilasannya disebut Ki Buyut Cabuk. Sebenarnya bukan Cabuk tetapi Cisabuk, karena beliau semenjak pindah tempat dari pemukimannya, sabuknya beliau ditinggalkan yakni dekat sungai Cisabuk, adalah tempat pesiaran peribadatan. Tetapi beliau bukan mengembangkan ajaran Agama Islam saja, disamping itu pula beliau berwiraswasta membuat gula aren(enau) dari pohon kawung. Memang ditempat itu banyak pohon Kawung dan Waru yang tumbuh dengan suburnya, maka tepatlah perkampungan itu disebut Desa Warukawung. Pohon waru terkenal sekali dibutuhkan keperluan pertanian atau keperluan perumahan. Lulub waru perlu sekali untuk pemijang, yakni tali pengikat ged...